Dalam Hijrah Ku

Dalam Hijrah Ku
AMARAH UMI ALIYA


__ADS_3

"blug blug blug," suara bantal yang dipukul ke tubuh Alwan.


"Alwaaaan ! Ayo bangun sudah siang, kamu ini mau jadi apa sih jam segini masih saja tidur.


setiap hari bukannya bikin kemajuan malah bikin Umi sama Abi tambah susah " pekik Umi Aliya dengan marah


"BANGUN, AYO BANGUUUUUN !" pekik Umi Aliya sambil menarik telinga Alwan.


"kalau kamu tidak bangun, Umi siram kamu pake air panas." ujar umi Aliya yang merasa kesal


"aduh, adu du duh.. sakit Umi, iya iya Alwan bangun." ujar Alwan. seraya bergegas bangkit dari kasur, sambil mengusap daun telinganya yang terasa sakit.


" Umi heran sama kamu ! Setiap malam kerjaannya bergadang-bergadaaaaang terus. matahari sudah di ubun-ubun kamu baru bangun. kapan sih kamu mau membahagiakan orang tua, mengurangi beban fikiran Umi sama Abi!


bangun saja mesti dibangunin setiap hari." ujar Umi Aliya.


saking kesalnya! sampai-sampai telunjuk Umi Aliya melayang kearah kepala Alwan di samping keningnya.


"sebagai seorang kakak seharusnya kamu bisa kasih contoh yang baik, jadi panutan yang baik buat adik-adik kamu.


Mau sampai kapan kamu seperti ini terus ! apa gunanya Umi sama Abi menyekolahkan kamu, masukin kamu ke Pondok Pesantren?


bukannya Belajar di Pondok dengan sungguh-sungguh, kamu malah berhenti di tengah jalan.


Kalau saja dulu kamu bisa bersabar untuk bertahan lebih lama, mungkin sekarang kamu sudah memiliki pekerjaan yang tetap. paling tidak kamu bisa ikut mengajar jadi guru honorer di sana" pekik Umi Aliya.


Umi mengutarakan semua keluhnya, mengingat kegagalan Alwan yang berhenti menimba ilmu di Pondok Pesantren beberapa tahun yang lalu.


Alwan terdiam dengan bingung, yang bisa dia lakukan hanya memeluk bantal yang tadi digunakan Umi untuk membangukannya. meski masih dalam rasa kantuknya, Alwan sadar, ada rasa bersalah yang mengetuk benaknya.


"Umi sama Abi menyekolahkan kamu mendidik kamu, agar kamu punya pedoman hidup yang lebih baik di masa depan.


Besar harapan Umi dan Abi terhadap kamu untuk menjadi orang sukses, orang yang berguna, syukur-syukur kamu bisa mengangkat derajat kemuliaan Umi sama Abi.


kalau kamu seperti ini terus, bagaimana nantinya kamu punya keluarga !


mau kamu kasih makan apa anak sama istri kamu nanti.?" tanya Umi Alia.


merasa kesal karena terus dimarahi Umi bertubi-tubi, Alwan pun angkat bicara dengan ragu.


"Ya, nasi Umi. masa makan batu." celetuk Alwan dengan nada lirih.


"NASI !" ucap umi terperanga


"Nasi kamu bilang, nasi dari mana ?" Tanya Umi Aliya dengan nada tinggi


"Kalau kerjaan kamu setiap hari malas-malasan terus seperti ini, memangnya nasi bisa menghampiri kamu. Menanam padi enggak, kerja enggak, mau datang dari mana? Turun dari langit ?" pekik Umi Aliya sambil menatap Alwan dengan tajam.


Alwan termenung tak bersuara.


"Jangankan nasi! Perempuan manapun enggak akan ada yang mau dekat sama kamu, kalau kamu menganggur dan malas-malasan terus seperti itu." nasihat Umi Aliya.


Alwan semakin larut dalam dilema, mendengar nasihat dan perkataan Umi yang benar adanya.


"Kamu dengar perkataan Umi baik-baik!"


"Allah menciptakan Alam dan Semesta beserta isinya, Begitu juga mahluknya. dengan berpasang-pasangan.


Apa lagi urusan jodoh, Allah maha tahu apa yang terbaik dan yang tidak baik.


kalau kamu ingin punya Pasangan (istri) yang baik dan saleh, Memiliki Kehidupan yang layak, Masa depan yang baik, kamu harus lihat diri kamu sendiri.


Apakah kamu sudah menjadi yang terbaik ? apakah kepantasan itu sudah ada dalam diri kamu?" tanya Umi Aliya mengingatkan Alwan.


"yang memberi kepantasan baik dalam kehidupan itu bukan pengakuan kamu, atau perkataan orang lain.


tapi keadaan dan kebiasaan kamu sendiri, dengan kenyataan kamu yang sebenarnya." Tegas Umi Aliya.


"Mulai besok, coba kamu bangun subuh.

__ADS_1


kalau bisa sebelum Ayam berkokok kamu harus sudah bangun.


sholat tahajud, Mengaji, sholat subuh, dan berdo'a." nasihat Umi Aliya seraya duduk di samping Alwan.


Umi Aliya mencoba menurunkan tensi (nada bicara), perlahan mengatur napas sambil mengusap dadanya.


"Umi harap secepatnya kamu bisa mendapat pekerjaan yang bisa mengusap keringat kamu, yang tidak mengganggu ibadah kamu. Kamu harus banyak bordo'a dan berusah dengan sungguh-sungguh, sebelum penyesalan datang di waktu yang lambat.


...Jadilah kamu seorang raja yang berwibawa. Raja yang bertahta, berkuasa dalam adab, ilmu, dan agama....


...Niscahya permaisuri manapun akan datang kepadamu, Tanpa kamu memintanya, Tanpa kamu harus susah payah mencarinya....


Ingat pesan Umi !" ujar Umi Aliya dengan penuh harap.


" Umi minta maaf, karena sudah bentak-bentak kamu!" ujar Umi Aliya dengan perasan menyesal setelah emosinya redup.


"iya Umi, Alwan maafin" sahut Alwan dengan nada datar.


sambil merekatkan gigi, Alwan bertekad untuk merubah kebiasaan buruknya.


mengejar apa yang selama ini dia tinggalkan, yang sudah dia lupakan.


"cepat sana? kamu mandi. sesudah itu antar Umi ke pasar" ujar Umi Aliya sambil menaruh handuk di samping Alwan.


"iya Umi" sahut Alwan.


***


Alwan Asihab. biasa dipanggil Alwan. dia anak pertama dari tiga bersaudara, adik pertamanya bernama Amira khoirunisa, dan adik keduanya bernama Fakih Alwasyi.


Alwan lulusan SMK, mengambil jurusan Administrasi perkantoran lima tahun yang lalu.


dia tidak melanjutkan kuliah karena terkendala biaya, meskipun dia berkeinginan untuk melanjutkan ke Universitas tinggi, Umi dan Abi tidak memberikan kesanggupan.


Umi dan Abi hanya bisa memberinya saran agar dia bekerja terlebih dahulu, untuk membantu biaya sekolah kedua adiknya.


Tapi, itu hanya berlaku sebagai nasihat dan saran.


Meskipun begitu, sesekali dia bisa bantu Umi dan Abinya untuk mengurus ladang.


Rencananya siang itu dia akan mengantar Umi ke pasar, setelah dia selesai mandi. Dan selepas sarapan, dia langsung menghidupkan motor di halaman depan.


****


"Umiiii ? Ayo... Alwan sudah siap nih." pekik Alwan.


"sebentar, Umi kunci pintunya dulu" ujar Umi Aliya sambil mengunci pintu rumah.


Setelah Umi Aliya mengunci pintu, Umi menyimpan kuncinya di dalam sepatu yang lama, yang sudah tidak terpakai.


ketika adik-adik Alwan pulang, mereka sudah tahu di mana biasanya Umi menyimpan kunci pintu, setiap kali Umi berpergian.


Umi Aliya tidak pernah menitipkan Kunci rumah kepada tetangga, karena tetangganya pagi-pagi buta sudah pergi untuk mengurus ladang dan sawah.


sedangkan Abi (Ayah), pergi merantau jadi kuli Bangunan di kota. Pulangnyapun satu bulan sekali, dan kebetulan baru minggu kemarin Abinya Alwan berangkat.


"Ayo Umi!" ajak Alwan.


"sabar. Bismillahirrahman nirrahim" ucap Umi Aliya, ketika akan menaiki motor.


Di sepanjang perjalanan Alwan mengobrol sama Umi, menyambung omelan Umi tadi pagi. saat keduanya melintasi Pondok Pesantren, terlihat beberapa Ukhti ( santri perempuan ) yang Ayu-ayu.


yang sedang membersihkan halaman depan Ponpes.


Alwan tersenyum menikmati aura kesejukan yang terlihat, sampai dia tidak menyadari kalau Umi memperhatikannya dari kaca sepion.


"e'ehem ehem"


Umi Aliya dengan sengaja berdeham, sambil tersenyum

__ADS_1


"Umi itu kepengen banget Al, melihat kamu sukses?


punya Istri yang cantik, pintar mengaji, bisa bantuin Umi masak, pasti Umi sama Abi bahagia kalau punya menantu seperti itu, apa lagi kalau nanti punya cucu." Curhat Umi Aliya


Seketika perkataan Umi Aliya menusuk relung hati Alwan, membuat senyum yang berkembang di bibirnya perlahan memudar.


"Maaf Umi ! Maafin Alwan, selama ini Alwan belum bisa membahagikan Umi sama Abi." ujar Alwan dalam hati, dengan air mata yang keluar dari sudut matanya.


"Umi ! " panggil Alwan sambil mengusap air matanya


"iya, kenapa Al?" sahut umi.


"boleh tidak, Alwan tanya sesuatu ?" sambung Alwan


"boleh, memangnya kamu mau tanya apa ?" Umi kembali bertanya, sambil mengerutkan keningnya dengan rasa penasaran.


"Umi ke pasar mau beli apa ? tumben siang-siang begini. bukanya pasar sayur itu kebanyakan pagi ?" tanya Alwan.


"Oh, Umi fikir kamu mau tanya soal apa." balas Umi Aliya.


"memangnya Umi fikir Alwan mau tanya apa ? Soal calon mantu, begitu ! " tanya Alwan.


"Yaaa.. fikir Umi begitu, hi hi" ujar Umi Aliya sambil menutup senyum.


"Umi..! untuk sekarang, Alwan enggak mau lebih ngerepotin Umi sama Abi.


Lagi pula menikah itu kan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, setidaknya buat lamaran, ijab kabul, mahar, juga buat biaya hidup sehari-hari setelah menikah.


Untuk sekarang Alwan tidak begitu tertarik untuk membahas calon istri dan pernikahan, lebih tepatnya belum ada." ujar Alwan


"belum ada apa?" tanya Umi Aliya dengan heran.


"emmmm ya, belum ada tabungan Umi." ujar Alwan mengeles.


"Iya, Umi juga paham." ucap Umi Aliya.


"hampir saja keceplosan" bisik Alwan dalam hati, sambil mengembungkan mulutnya.


"Umi ke pasar mau beli apa?" Alwan mengulangi pertanyaan yang tadi dia lontarkan.


"Umi ke pasar mau jual tabungan Umi, ke toko perhisan." jawab Umi Aliya.


"memangnya gaji Abi yang kemarin sudah habis ya Umi ? Apa tidak cukup buat resiko makan kita sampai nanti Abi teransfer lagi ?" tanya Alwan.


"insyaallah cukup" jawab Umi Aliya sambil tersenyum.


"terus, Umi mau jual perhiasan Umi buat apa ?" Alwan tidak bisa berhenti untuk tidak bertanya, sampai Umi Aliya menjelaskan alasannya.


"buat biaya tambah sekolah Adik kamu.


membayar biaya Ujian Nasional Amira, dan Ujian Akhir Semesternya fakih.


Belum lagi Umi harus bayar tunggakan SPP tahun lalu, membayar Administrasi perpisahan sekolah dan menebus ijazahnya nanti. Awal tahun ini banyak sekali pengeluaran, kalau hanya mengandalkan gaji Abi saja itu enggak akan cukup, kamu tahu sendirikan gaji Abi di peroyek tidak seberapa.? " ujar Umi Aliya


Alwan terdiam, dia tidak menyangka untuk kebutuhan sebesar itu ? Umi Aliya selalu berusah dan mencoba untuk mencukupi, bagai manapun caranya.


***


Di saat Alwan menunggu Umi di lahan parkir, Alwan kembali tenggelam dalam fikirannya sendiri.


Dia mencoba berfikir sekeras mungkin, memikirkan bagaimana caranya untuk membantu mengurangi beban Umi Aliya. terutama untuk mengatasi kerisis ekonomi yang sedang menimpa keluarganya saat ini.


***


Semoga semuanya suka dengan karya pertama saya, mohon sufortnya untuk like dan koment.


Di babaw ini ⬇


Dan ikuti terus, biar nanti tidak ketinggalan cerita selanjutnya..

__ADS_1


Terimakasih 😉 🙏🙏🙏


__ADS_2