
...----------------...
Ustaz Yusuf tersenyum " Panggil saja saya Mamang (mang Yusuf)." ujar mang Yusuf.
"Di sini Kamu juga harus membiaskan diri memanggil mamang kepada santri yang lain, berlaku untuk santri putra. kalau untuk santi putri, kamu harus memanggilnya teteh, mulai dari hari ini. Apa kamu mengerti?" ujar mang Yusuf.
Alwan mengangguk "iya Mang." ucap Alwan.
"bagus. Kamu datang untuk belajar mengaji atau sekalian daftar sekolah juga? " tanya Mang Yusuf.
"sambil sekolah Mang." ujar Alwan.
"kelas brapa?" tanya Mang Yusuf.
"kelas sembilan" ujar Alwan
"Baiklah kalau begitu. sedikit menjelaskan, di sini kamu harus mengikuti setiap kegiatan yang di jadwalkan oleh pihak Pesantren. Dari mulai belajar Berbahasa Arab, Bahasa Inggris, Zikir bersama, mengaji dan gotroy (gotong royong).
Dan untuk kurikulumnya ada Marawis, Pencak Silat, dan ngaji Quri.
kamu boleh pilih salah satu atau semuanya, kalau kamu mampu. dan untuk setiap jadwalnya, nanti kamu bisa tanya kepada teman sekamar atau santri lain. agar kamu bisa lebih mudah berintraksi dengan teman baru kamu di sini. Kalau begitu sekarang Mang Yusuf Antar kamu ke kobong (kamar), biar kamu bisa beristirahat. Ayo ikut Mamang." ajak Mang Yusuf, setelah memberi masukan kepada Alwan mengenai aturan yang ada di Pesantren.
Mang Yusuf memandu Alwan, "Iya mang." ucap Alwan bergegas bangkit.
***
Mang Yusuf berjalan memijaki Anak-anak tangga, di ikuti Alwan yang mengekor dari belakang, menuju lantai ketiga.
Lebih jelasnya !
Ponpes putra memiliki empat lantai. Lantai pertama kamar Mang Yusuf, selaku lurah kobong dan kamar santri-santri yang susah di atur, Lebih tepatnya santri yang sedang dalam pengawasa. dengan harapan, agar santri yang nakal lebih disiplin, dan mudah terpantau oleh mang Yusuf yang mereka segani.
untuk lantai kedua hanya ada Aula, dan Koprasi (warung santri). sebagai titik berkumpulnya para santri putra, untuk kegiatan pengajian, serta kegiatan lainya. dan untuk lantai ketiganya kobong (kamar), yang berdiameter 3x4 untuk setiap ruangannya. di lantai tiga ada Empat kamar, dan setiap kamar memiliki satu ketua (santri senior) dan tertua.
Sedangkan lantai terakhir, lantai keempat. adalah tempat menjemur pakaian untuk para santri laki-laki, dan tempat untuk bermain.
"Assalammualaikum.?" ujar mang Yusup setibanya di kamar yang dituju.
"Waalakumsalam Wr. Wb." jawab para santri dengan kompak.
"Mang Andi! " panggil Yusuf sambil menghampiri para santri.
"Iya mang Yusuf?" Ujar mang Andi.
melihat Mang Yusuf bersama dengan orang yang belum mereka kenal, mereka sudah tahu dengan maksud dan kedatagannya. " Perkenalkan, ini Alwan santri baru. mulai hari ini dia akan tidur di sini, sekamar dengan kalian." ujar mang Yusuf.
"tempatnya masih bisakan untuk nampung satu orang lagih?" tanya mang Yusuf kepada Andi.
__ADS_1
"oh inysallah, insyaallah bisa. nanti saya akan coba atur bersama yang lain. " Ujar Mang Andi seraya tersenyum riang, menyambut kedatangan teman barunya.
Mang Yusuf langsung berdiri, sambil menepuk pundak Alwan. "OKe, Baik kalau begitu saya tinggal dulu, Mang Alwan. Assalamualaikum.?" Pamit Yusuf kepada para santri. Alwan mengangguk dengan tersenyum, mereka menjawab salam dengan serentak. "Waalaikumsalam Wr. Wb."
jawab Alwan, juga para santri.
***
Santri-santri yang tengah duduk di lantai, dengan keramik yang bersih tanpa alas atau tikar.
masing-masing dari mereka memperkenalkan diri, diawali oleh Mang Andi sambil bersalaman. kebetulan hari itu hari libur sekolah, jadi semua santri ada di kamar setelah gotroy. Piket mingguan, membersihkan lingkungan Pondok Pesantren.
Alwan merapikan baju dibantu oleh mang Andi, sedangkan santri yang lain menata letak lemari, dan tempat untuk mereka tidur.
kemudian Alwan meletakan Kulhum, di tengah mereka (nasi, sayur dan lauk). kulhum adalah bahasa santri yang umum di kalangan pesantren, berupa buah tangan dari rumah yang di bawa santri ke pesanter, untuk disantap bersama.
***
"Ini Mang dari umi." ujar Alwan seraya membuka ikatan pelastik.
biasanya nasinya terbungkus daun pisang, untuk menjaga agar nasi tidak cepat basi. sedangkan sayur dan lauknya dimasukan ke dalam pelastik bening berukuran setengah kilo, yang diikat. "Umi bilang, ini untuk dimakan bersam-sama " Ujar Alwan.
"aduh mang Alwan? terima kasih banyak udah repot-repot, jadi enak ke kita nih.. hi hi... " ujar mang Andi, dengan tawa kecil sambil menoleh kepara santri.
"Alhamdulilah...
"Ayo ayo, " ujar santri yang lain dengan antusias.
"sebentar-sebentar, makannya di atas saja. Ayo mang Andi ? " Ujar Hadi.
"Ayo, sekalian ngadem." sahut mang Andi.
"Ayo mang Alwan, kita ke lantai Empat. Di atas lebih enak, lebih terbuka? " ajak Andi, seraya berjalan membawa kulhumnya. Alwan dan santri yang lain mengekor dari belakang, menuju lantai terakhir.
***
Tidak berselang lama.
Alwan selesai makan lebih Awal, mendahului santri lain.
"Mang Alwan? Kok sudahan makannya? ini nasi sama lauknya masih banyak mang?." ujar Mang Andi sambil menoleh ke arah Alwan, yang ke luar dari lingkaran (kerumunan).
"tau tuh Mang Alwan, sedikit banget makannya." timpal hadi, sambil makan dengan lahapnya.
"mungkin belum terbiasa makan bareng kita." Ujar lutfi.
"Iya mang. engga kok mang? saya masih kenyang, soalnya tadi sebelum ke sini saya sudah makan di rumah." Ujar Alwan, seraya mencuci tangan dekat pagar pembatas. Yang letaknya berada di sebelah timur.
__ADS_1
karena dari ke tinggian lantai empat, di tambah letak ponpes yang berada di dataran tinggi.
menyajikan pemandangan yang sangat indah, yang memperlihatkan besarnya gunung salak, dari tempat Alwan berdiri. juga terlihat gunung geude, yang letaknya lebih jauh di belakang gunung salak.
suasananya sangat menenangkan, di tambah hembusan angin yang membelai lembut tubuh Alwan. Di tengah cuaca yang sangat cerah, Alwan begitu terbawa suasana dan sangat menikmati panoramanya. sampai Alwan tidak menyadari, senyum di bibirnya mengembang dengan alami.
Tiba-tiba !
Alwan di sadarkan oleh sebuah tangan yang melambai ke aranya, dari lubang jendela.
lubang itu bekas kaca yang pecah, ukuran lubangnya hanya masuk untuk satu tangan.
Alwan mengerutkan kening, sambil bergumam dalam hati.
"itu tangan siapa ya ?" yang terlihat samar. tangannya putih seprti tangan seorang wanita.
Alwan terus melihat tangan yang berada di jarak 30 meter darinya. kalau di lihat dari setruktur bangunannya, Tangan itu berada di lantai dua, lebih renda dari tempat Alwan berdiri. Alwan berdiri tepat merapat ke pagar pembatas. tidak lama kemudian, Lutfi menghampirinya..
"bagaimana mang, Indah bukan ? " tanya Lutfi.
"Indah siapa? " ujar alwan lirih, dalam kebingungan.
Lutfi kemudian menepuk pundak Alwan "Plak." suara tepukan.
"Mang? " tegur Lutfi.
"Emmh. oh iya indah, iya indah namanya" ucap Alwan dengan gerogi. Alwan dikagetkan oleh ke datangan Lutfi. Lutfi menggaruk kepala belakangnya, merasa heran melihat reaksi Alwan. "Indah yang mana Mang?" tanya Lutfi.
"yaa... " suara alwan tertaha sejenak. " itu namanya Indahkan ! yang tadi melambai-lambaikan tangan di lubang jendela." ujar Alwan.
"ha ha ha ha ha.." suara tawa Lutfi terdengar sangat keras.
"O iya, saya baru paham mang.!"
saking kencangnya, tawa lutfi sampai menyita perhatian santri yang lain, yang masih menikmati makanannya. semuanya menoleh ke arah lutfi dan Alwan.
"Kenapa! ada apa fi? " tanya Mang Andi dan santri lain.
Alwan berkata " enggak mang, enggak ada apa-apa kok" ujar Alwan.
Lutfi tersenyum dan menggelengkan kepala, ke kiri dan ke kanan. "Mang! sebenernya saya tadi tanya bagaimana pemandangannya, indah bukan.?
bukannya memberitau, kalau orang yang melambaikan tangan di lubang kaca tadi namanya indah." ujar Lutfi, sambil menahan tawa.
Alwan mengusap kepalanya dari depan ke belakang, "Oh saya fikir itu! " Ucap Alwan, mengulum senyum dengan sedikit malu.
__ADS_1
...----------------...