Dalam Hijrah Ku

Dalam Hijrah Ku
situasi di Rumah sakit


__ADS_3

...----------------...


Setibanya di rumah sakit, Alwan bergegas mengabil kursi roda yang terletak di dekat pintu masuk IGD. faiz dan mang yusuf membopongnya, Setelah fatih duduk, faiz dan alwan mendorongnya keruang IGD, dengan berpakaian santri menggunakan peci, koko dan kain sarung.


"Mang Alwan, mang Alwan temani faiz keruang IGD, Saya akan urus administrasinya dulu nanati saya menyusul. " ujar Yusuf.


"Iyah baik mang" ujar alwan.


setibanya di ruang IGD fatihpun langsung di baringkan di tempat pemeriksaan, agar mendapat penangana dokter dan suster secepatnya.


"Kenapa De, temannya sakit apa..? Dokter bertanya kepada Alwa dan faiz


Alwan langsung menjelaskan.


"jadi begini dok. tadi siang teman saya ini muntah-muntah sampai keringat dingin. terus di kerokin sama temen saya, karena dia fikir masuk angin. dan sorenya dia demam sambil meringis ke sakitan memegangi perutnya." Ujar alwan.


"Oh seperti itu." ujar Dokter. yang mendengarkan penjelasan Alwan, sambil mengecek suhu tubuh fatih dan memeriksa bagian dalam mulut fatih dengan senter. dokter sudah bisa menyimpulkan apa penyakit yang di Idap oleh fatih, di tambah dengan penjelasan yang di sampaikan Alwan.


dokter kemudian memeriksa perut fatih. "ini saki.?" tanya dokter kepada fatih. Fatih hanya mampuh memberikan isyarat dengan mengangguk, tanpa bersuara sedikitpun. dokterpun berdiskusi dengan suster, kemudian suster berlari mengambil peratan yang di perintahkan dokter.


Dokter mengisi sesuatu diatas kertas selembaran, yang di bawa suster. "Ini? yang ini tolong di berikan keruang administrasi di bagian dalam dekat farmasi, untuk di bayar. yang satu lagi di antar keruang Laboratorium, tapi tunggu saya, setelah saya mengambil darah pasien." ujar dokter kapada Alwan.


"baik Dok" ujar Alwan.


Dokter memegang jarum suntik, untuk mengambil darah fatih. Guna mengetahui penyakitnya untuk lebih akurat, Untuk menghindarai adanya komplikasi, yang tidak di harapkan.


Setelah itu Dokter memberikan penanganan pertama, dengan menginfus fatih dan membri obat penahan rasa nyeri Cair, yang di suntikan ke selang infusan.


Setelah Alwa mendapatkan sempel darah fatih. "mang? saya mau kebagian Administrasi farmasi dulu, sekalian keruang Lab" ujar Alwan kepada faiz.


"Iya mang" jawab faiz.


Tidak lama Alwan pergi, Dokter berpsan kepada faiz. "Nanti kalau hasil Labnya sudah keluar, secpatnya beritahu saya?" ujar dokter ke pada faiz.


"Iya dok, bagai mana penyakit dan kondisi temen saya dok.? tanya faiz.


"Untuk lebih jelasnya, kita tungu hasil Labnyah dulu. untuk sekarang, saya sudah membrikan pertolongan pertam, dengan menyuntikan obat penahan nyeri, dan mengganti cairan nutrisi yang hilang dengan cairan infus. agar kondisi tubuhnya kembali setabil. saya tinggal dulu yah.." ujar Dokter seraya tersenyum


"baik dok, terimakasih" ujar faiz


tidak berselang lama, mang yusuf tiba di ruang IGD.


"Bagai mana kondisi fatih manga faiz,? Tanya yusuf yang menghampiri faiz.


"allhamdulilah mang yusuf, setelah tadi dokter memberikan pertolongan pertama, ringisan fatih semakin mereda" ujar faiz


Sedangkan fatih hanya bisa terkulai lemas, setelah berjuang menahan rasa sakit di perutnya. Dia baru bisa tertidur setelah rasa nyeri di perutnya berkurang.

__ADS_1


"Terus Apa kata dokter.?" ujar yusuf.


"Kata Dokter, kita harus menunggu Alwan membawa hasil Labnya, untuk memastikan penyakitnya. Takutnya ada komplikasi". Ujar faiz


***


Beberapa menit kemudian, Alwan datang dengan membawa Amplop putih, yang berisi hasil Lab darah fatih.


"Sudah keluar wan hasil Labnyah.? " tanya mang yusuf yang sedang duduk di samping fatih.


"Sudah mang, Dokternya kemana mang.?" ujar Alwan.


"kata dokter kalau hasil Labnya sudah keluar, antar saja keruanga dokter" ujar faiz


"nih mang yusuf,?" alwan menyerahkan amplopnya ke mang yusuf.


Tapi mang yusuf malah mendorong alwan, mengajaknya untuk menemui dokter. "Ayo saya temenin kamu keruangan dokter" ujar mang yusup kepada Alwan. Alwan hanya menggaruk kepala belakangnya dengan bingung. entah apa yang ada dalam fikiran alwan saat ituh.


Alwan menghampiri perawat laki-laki di bagian farmasi. "Maaf pak, saya mau mengantarkan hasil Lab. Dokternya mana ya?" tanya Alwan.


"oh iyah. tadi Dokter fahmi bilang, antarkan saja ke ruangan Dokter nita. ituh ruangannya sebelah kiri, pintu ke dua" ujar perawat.


Alwan mengangguk sambil tersenyum. "oh, terimakasih pak?" ujar alwan.


"Iyah" ujar perawat sambil mengangguk.


"Tut tuk tuk" Alwan yang mengetuk pintu ruangan Dokter.


"Permisi Dok.?" ujar Alwan.


"iyah Masuk" ujar Dokter.


"Permisi Bu Dokter, saya mau mengantarkan hasil Laboratorium atas nama Tn.fatih." ujar alwan.


"Oh iya silahkan duduk. " ujar Dokter Nita, sambil tersenyum.


"Ini Dok hasil Labnya" ujar Alwan seraya memberikannya kepada Dokter Anita. mang yusuf hanya terdiam dan memperhatikan ke arah lemari berkas, sesekali melihat ke arah Dokter nita.


Dokter Nita mengambil amplop dari tangan Alwan, dan membukanya.


"Saya cek dulu yah hasilnya" ujar dokter sambil tersenyum.


*****


Alwan sangat tidak nyaman. dia merasa gelisah, Karena Dokter yang mereka temui adalah Dokter perempuan, dengan paras yang cantik, muda, kulit putih, dan memiliki tubuh yang seksi. rambutnya terikat kebelakang, sedangkan beberapa helai rambutnya teruarai ke pipi, Dokter nita terlihat sangat mempesona.


"masya allah, Astagfillah halajim, ya allah." gumam Alwan dalam hati. yang sedikit terpesona akan ke cantikan Dokter Nita.

__ADS_1


Sesekali Alwan melirik dokter dengan posisi jemari yang meremas angin. Itu cara alwan untuk mengendalikan kesadarannya.


"Astagfirallah halajim, yang kaya ginih nih? di lihat dosa, engga di lihat mubajir.


tak sengaja terlihat di bilang berkah, kalo di sengaja bisa jadi musibah." gumam mang yusuf dalam hati. Mang yusup juga gelisah, sambil melihat ke berbagai arah di ruangan itu.


mang yusup berbisik kepada Alwan. "kamu tunggu disini, saya mau melihat kadaan fatih takutnya ada apa-apa." ujar mang yusuf.


Saat mang yusuf hendak berdiri Alwan menarik lengannya, yang menyebabkan mang yusuf terduduk kebali ketempatnya. "Udah mang disini dulu, disanahkan ada faiz. Kalaupun ada apa-apa, kan ada suster di bagian farmasi.


Dokter Nita tersenyum, melihat tingkah Alwan dan yusuf yang salting. Namun Dokter Nita berikap seperti dia sudah terbiasa.


secara fisik Dokter Nita lebih tua dari Alwan, namun lebih muda dari mang yusuf.


"E'em. berdasarkan hasil dari Laboratorium, pasien atas nama Tn.fatih. positife terkena infeksi lambung. Untuk itu saya menyarankan agar dia di rawat, samapai luka dari infesi lambunya itu sembuh". ujar Dokter


Secanggung-canggunya Alwan, dia masih bisa mengendalikan fokusnya.


Alwan memandang dokter sambil bertanya.


"engga ada penyakit lain Dok?", ujar Alwan.


Dokter Nita tersenyum.


"Berdasarkan surat dari infoLabnya sih, tidak ada yang menunggangi (penyakit lain)." ujar Dokter sambil mengecek ulang hasilnya, untuk memastikan tidak ada kesalaha.


"Langkah selanjuntnya bagai mana dok.?" tanya Alwan


"seperti yang saya sampaikan tadi, dia harus di rawat.


bapak bisa keruang pendaftaran untuk memeberikan keterangan, dan menanadatangani surat pertanggung jawaban administrasi. Agar pihak rumah sakit bisa menindaklanjuti, untuk penangan yang lebih intensif." ujar Dokter Nita


Alwan melihat mang yusuf.


"Bagai mana mang yusuf,,? " tanya Alwan.


"Iyah, kita ikuti sajah anjuran Dokter, yang terpenting fatih bisa segera sembuh" ujar mang yusuf. Seraya tersenyum malu kepada Dokter nita.


"Kalau begitu, saya akan buatkan pengantar untuk di berikan ke bagian Administrasi, nanti bapak bisa tinggal menanda tanganinya saja." ujar Doktor Nita.


Alwan bertanya, diselah Dokter Nita membuatkan surat pengantar. "Tapi Dok? tidak ada kemungkinan terburuknyakan" ujar Alwan


Dokter tersenyum sambil menjelaskan. "kami akan berupaya semaksimal mungkin, saya tidak bisa mengira-ngira bagai mana kondisi pasien selanjutnya. Kita Do'akan saja, semoga yang terbaik seperti yang kita harapkan" ujar Dokter Nita.


"Iya Dok." ujar Alwan


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2