Dalam Hijrah Ku

Dalam Hijrah Ku
Perkenalan


__ADS_3

...----------------...


"Belum juga bermalam sudah punya satu fans, bagaimana kalau sampai sebulan!" ujar Lutfi meledek.


Alwan menatap Lutfi dengan tajam. "Kalau boleh tau, itu kobong bukan?" Tanya Alwan.


"iya. Itu kobong santri putri, dan jembatan itu penghubung dari lantai dua kobong putri ke aula putra." ujar Lutfi.


kobong putra dan putri letaknya bersebelahan, memiliki bentang jarak 25 meter.


Lantai dua dihubungkan dengan jembatan dari Aula putra, ke lorong kobong santri putri.


Arah Jembatan ke Aula lebih terbuka, sedangkan ke arah pondok putri tertutup pintu.


Pondok putri juga mempunyai Aula, hanya letaknya di lantai bawah tempat pertama kali Alwan datang.


dan ruang Aula santri putri adalah halaman rumah pemilik yayasan, yang ukurnnya lebih besar dari Aula putra. Dan kapasitasnya cukup untuk menampung santri putra dan putri, dengan jumlah yang tidak sedikit


Alasan adanya jembatan penghubung ! Bertujuan untuk mengalihkan kegiatan para santri putri ke Aula putra, ketika Aula putri sedang dipakai untuk acara lain atau sedang menerima tamu. seperti kunjungan orang tua dari para santri, penerimaan santri baru putra maupun putri.


tapi sebelum santri putri beralih ke Aula putra, Rohis dari santri putri akan memberi tauhukannya terlebih dahulu kepada Rohis santri putra. Agar santri putra tidak ada yang keluar, yang dapat mengganggu kegiatan santri putri.


tapi ya ! namanya juga laki-laki. apa lagi masih masa-masnya pubertas,


ada yang malu memilih diam di kamar, ada juga yang pecicilan mengintip dibalik tangga atas. Peribahasa orang sekarang, bisa dibilang Cuci mata.


***


"Oh begitu." Ujar Alwan sambil menganguk.


"Tapi Mang Alwan ingat !


jangan sekali-kali nongkrong di jembatan" ujar Lutfi tegas.


Alwan mengerutka keningnya" Kenapa memangnya?" tanya Alwan.


"bukan apa-apa. takutnya ada santri yang Usil,


meski hanya sekedar duduk atau lain sebagainya. nanti tau-tau Mamang dipanggil sama mang Yusuf" ujar Lutfi memperingatkan.


" kok begitu? "


Tanya Alwan heran, sambil memandang ke arah Lutfi dengan fokus. Lutfi tersenyum, lalu dia memberikan penjelasan.


"Ketua Yayasan bersikeras melarang siapapun, untuk bermain di jembatan.


karena dulu ada beberapa Insiden (kejadian), ada seorang Ukhti kepergok ikhtilat sama Akhi." Ujar lutfi.


"Ukhti itu siapa ?


dan Ikhtilat sama yang namanya Akhi.?" tanya Alwan dengan serius.


Lutfi seketika tersenyum lepas, memaklumi ketidak tahuan Alwan mengenai beberapa Bahasa santri. kemudian Lutfi berbalik, menyandarkan punggung ke pagar pembatas, sambil kembali menjelaska.


"Ukhti itu panggilan, bahasa yang dipakai santri. Panggilan dari Laki-laki yang mengatakan dia seorang wanita (Ukhti). ikhtilat itu adalah aktifitas, bisa dibilang pacaran atau nongkrong dengan lawan jenis. Sedangkan Akhi itu panggilan, dari perempuan kepada laki-laki." Ujar lutfi.


"Jadi ada santri putri yang ketahuan mengobrol, berduaan dengan santi purta yang bukan saudara atau mahromnya, begitu?" tanya Alwan.


"tepat sekali" ujar Lutfi.


"emmm " gumam Alwan sambil menganguk.


"seiring berjalannya waktu nanti Mang Alwan juga akan terbiasa dengan ragam bahasa santri, yang penting mang Alwan mau belajar." ujar Lutfi.


"Em' memangnya masih ada ya, yang sering ketahuan atau santri yang ngeyel yang masih suka nongkrong di situ? " tanya Alwan, masih dengan penasaran.


"kadang-kadang. terkadang ada yang sering ketahuan, Yang engga ketahuan juga banyak.

__ADS_1


cuman sekarang lain lagi caranya, tidak seperti dulu. Ujar Lutfi menunjukan senyum jahilna


masih dengan rasa penasaran, Alwan terus bertanya. "cara yang sekarang bagaimna?" ujar Alwan,


Lutfi kemabali menghadap pagar, dan melihat ke arah kobong santri putri. "Caranya pake buku, seperti memberikan nama Al-kitab di sampul buku, atau nama mata pelajaran. Mang yusuf dan pihak Yayasanpu tidak akan mencurigainya, dengan berdalih meminjam buku untuk menyalin ulang materi yang ketinggalan, atau dengan alasan ingin mengoreksi materi pelajaran dari lawan jenis. padahal! isinya curhatan asmara." ujar lutfi sambil mengulum senyum.


Alwanpun ikut tersenyum, sambil melihat ke kobong santri putri. tidak menyangka, ternyata seperti itu pacaran Ala santri.


"Ayo mang kita turun! sudah mau masuk sholat ashar, kita mandi dulu di bawah. " ajak Lutfi.


"Ayo. " sahut Alwan.


***


Waktu di pesantren terasa begitu cepat. selepas sholat isya berlalu di pesantren, semua santri berkumpul di Aula santri putri termasuk Alwan. Alwan ikut bersila di Aula, di tengah-tengah santri putra.


Dan ini adalah kali pertama, alwan mengikuti kegiatan di Pesantren.


ketika yang lain mengaji kitab setelah ba'da ashar, Alwan diperbolehkan untuk diam sambil beristirahat di kobong. karena, kalaupun Alwan ikut mengaji, pasti dia hanaya akan membuat dirinya bingung sendiri, melihat keberbagai arah tidak karuan. karena Alwan belum memiliki kitab, yang harus dia coret (diisi).


Setelah semuanya berkumpul, ketua Yayasan memberi Mukhodimah terlebih dahulu. untuk mengawali kegiatan Riadoh atau zikir bersama.


setelah Mukhodimah selesai, ketua Yayasan (pimpinan pesantren) memanggil Alwan.


"Sebelum Dzikir kita mulai, Akang ( pak kiai ) ingin menyampaikan kabar gembira untuk semua santri.


Alhamdulilah, hari ini kita kedatangan teman baru, saudara baru." ujar Akang (K.H. Baharudin Abdullah).


"Sok jang Alwan kadieu, ka payun sakedap (silahkan Alwan maju ke depan sebentar)?" panggil Kang Haji sambil tersenyum.


Alwan kaget ketika namanya dipanggil untuk maju ke depan, wajahnya perlahan mulai memerah. bukannya berdiri, Alwan malah menunduk.


Akang melihat-lihat ke arah santri putra.


"Alwan!" panggil Akang


tiba-tiba.!!


sepasang tangan seseorang mengangkat tubuh Alwan dari belakang, seakan membantunya untuk berdiri. Dan kemudian orang itu mendorongnya Untuk maju ke depan, untuk berdiri di samping Kang Haji.


"Ayo Mang Alwa, antum harus berani" Ujar Lutfi mensufotnya.


Riuh suara para santri terdengar dari belakang, sangat bising memekik di telinga. ada yang bertepuk tanganan, ada juga yang sorak.


"huhhhhhh,,,,,"


"yeeyyyyhh,,, "


pekik para santri putri dan putri.


" aduh, " gumam Alwan dalam hati.


pandangan Alwan terlihat tidak karuan. wajahnya merona kemerah-merahan,


saking geroginya, Alwan samapai berkeringat dingin. apa lagi melihat ke arah samping kanan!


Di samping kiri ada Kang Hj dan Eteh (istri Akang). Kepala Yayasan yang duduk di kursi, Sedangkan di samping kanan ada banyak santri putri.


semuanya melihat ke arah Alwan dalam satu pandanga, yang membuatnya Alwan tidak bisa memikirkan apapun.


****


Tempat duduk santri putri bersebelahan dengan tempat duduk santri putra, hanya saja terhalang oleh dingding pembatas setinggi setengah meter.


ditambah lagi tempat duduk santri putri lebih rendah, kurang dan lebihnya sekitar 80 Cm, dari tempat duduk santri putra.


"Silahkan perkenalkan diri kamu, tempat tinggal, hobi kamu apa, dan cita-cita kamu mau jadi apa.? beri tepuk tangan untuk Mang Alwan?" ujar Akang menggunakan speaker.

__ADS_1


" PRUK "


" Pruk "


" Pruk "


" pruk "


" pruk "


Antusias parasantri.


"Assalammualaikum Wr. Wb.!" sapa Alwan.


"Waalaikumsalam Wr. Wb.." jawab Akang dan para sanrtri secara bersamaan.


suara yang terdengar begitu menggema, membuat Alwan semakin panik.


"Pe, perkenalkan, Nama saya Alwan Asihab. saya berasal dari :


*KP. Sukajadi


Ds. Sukamaju.


Kec. leuwiasih.


Kab. Bogor*.


Hobi saya membaca, menulis dan melukis. em' em' " ujar alwan terbata-bata.


kalimatnya terpotong-potong sambil sesekali melirik ke arah santri putri dan santri putra. melihat ke atas dan ke bawah, sampai dia mencoba mengepalkan tangan untuk mengumpulkan keberanian.


dengan berharap sedikit mendapat ketenangan.


banyak pasang mata yang memandangnya membuat Alwan semakin tersipu malu, dan kehilangan fokusnya.


Sampai-sampai kalimatnya diulang kembali.


"Hobi saya membaca, menulis dan melukis. cita-cita saya ... Ingin menjadi orang sukses sudah!." ujar Alwan yang sedikit gemetar, sambil mengulum senyum.


"Kabogoh? pacar-pacar?" gurau Kang Haji dengan jahilnya.


"Em' eeeee... " nada Alwan tertahan sambil melihat ke arah Akang, dan dengan berani Alwan menjawab.


"Belum. "


"Belum ada" jawab Alwan sambil mebasuh keringat di keningnya.


"OKe, bagus" ujar Akang.


"nah, teteh-teteh sok saha anu bade (siapa yang minat) ?" ujar Akang.


santri putri begitu antusias menyikapi penawaran Akang. Ada yang berteriak !


"Anti-anti (saya-saya), "


"Hoyong, Palai (mau)."


Samapai di antara mereka ada yang mengacungkan telunjuk dan melambaikan tangan.


 


***


saya menunggu komentar dan masukan dari teman-teman pembaca, jangan lupa like dan ikuti Untuk mendapat up terbaru.


Karena insyaallah episod-episod Selanjutnya akan lebih menarik.

__ADS_1


*Terima kasih* 🙏🙏🙏


__ADS_2