
Alwan dan syila asik mengobrol, karena fatih yang terjaga dalam tidurnya. Sementara tidak berselang lama ibu Aidah kembali, memasuki ruang inap.
Seketika keduanya terdiam, mendengar suara pintu yang terbuka.
Ibu aidah melangkah mendekat.
" kamu sudah makan wan?" tanya bu aidah
"Sudah kok bu " jawab alwan dengan tersenyum
"syukurlah kalau begituh. bagai mana dengan makanannya, enak kan?" ujar bu aidah
"Enak banget bu, saya suka masakan ibu seperti, masakan Umi alwan di rumah" ujar alwan
Ibu aidah tersenyum, sambil mendekati syila. "itu bukan ibu loh yang masak," ujar bu aidah. "tapi syila yang masak buat di bawa kesini," ujar bu aidah sambil tersenyum geli. syilapun mengulum senyum dengan menatap ibu Aidah kesamping kanan atas.
dan alwan terlihat salah tingkah mendengarnya, dengan tersenyum malu.
"tuk tuk tuk" terdengar suara pintu di iringi salam, yang ternyata itu Akang dan eteh yang datang bersama mang yusuf. Alwan merasa lega, dalam fikirnya akhirnya bisa pulang dan beristirahat di pesantren.
***
Singkat waktu. setelah lama berbincang antara Akang, Eteh, mang yusuf dan ibu Aidah. Sedangkan alwan dan syila hanya mendengar percakapan mereka para tertua sampai selesai.
Setelah selesai, Alwan ikut pulang kepesantren bersama mang yusuf, akang dan juga eteh. karena sudah ada pihak keluarga yang mengurus dan menjaga fatih di rumah sakit, Dan kabarnya, kedua orang tua fatihpun akan segera tiba.
Di dalam kobong.
"Heaaah" lirih alwan seraya membaringkan badan di diatas tikar..
"cape ya mang? engga mau mandi dulu apah." tanya lutfi
"nanti saja fi, saya mau istrahat dulu" ujar alwan.
****
malampun mengiringi waktu, satu hari alwan meliburkan diri dari aktifitas mengaji. dan satu orangpun, santri tidak ada yang mempermasalahkan itu. begitu juga dengan mang yusuf, karena merek memahami lelahnya Alwan setelah merawat fatih.
Diselah waktu Alwan mencari suasana yang tenang di lantai Empat, hanya seorang diri dengan membawa buku hariannya. itu sering di lakukan, ketika dia susah tidur atau sedang merenung.
dan di setiap heningnya malam, alwan selalu tersenyum dengan mengenang kejadian di rumah sakit. peristiwa yang tidak sengaja ituh membekas kebahagian di benak alwan, dia sangat mengingat persis senyum dan wajah syila. "ternyata bener apa yang mereka bilang, dia terlihat sempurna. aku harap takdir berpihak pada apa yang aku inginkan" ucap alwan dalam hati.
Semenjak hari itu, kedekatan alwan dan syila semakin akrab.
__ADS_1
samapai-sampai mereka mengembangkan perasaan satu sama lain, meskipun terhalang oleh peraturan pesantren, dan bertukar rasa secara sembunyi-sembunyi.
alwan dan syila lebih sering berkomunikasi lewat buku, ketika bukunyah sudah tidak muat menampung coretan, mereka menggantinya dengan yang baru, dan yang lama di simpan secara bergantian. sedangkan orang yang mengantar buku, menjadi kurirnya tidak lain adalah fatih.
Pertemuan mereka hanya sesekali dalam semingu, ya itu pada waktu alwan mengikuti ekskul yang jadwalnya setelah juhur, beramaan dengan jadwal kelas syila.
...****************...
seiring berjalanya waktu, tanpa terasa 4 tahun berlalu. dan selama itu hubungan syila dengan alwan begitu harmonis, sampai suatu hari syila mengajak alwan untuk bertemu.
"Assalammualiqum..?
Salam sayang untukmu Abyy ku..
Apa kabar Byy,?
makasih buat gelang tangannya, amy sukaaaa banget.
oh iya byy, setelah kelulusan dan pelepasa Aliah besok selesai, amy pengen ketemu sama Abyy.
Ada sesuatu yang mau Amy sampaikan ke Aby, kita ketemu di tempat biasa yah byy.. ?
Amyy tunggu.
^^^teriring rindu^^^
Wassalammualaikum..? "
***
Seperti itulah komunikasi mereka melalui buku, amy dan aby adalah panggilan yang hanya mereka berdua yang tau, Panggilan manja dan sayang.
setelah alwan membalas pesan buku dari syila dengan penuh gembira, tibalah hari kelulusan syila, dan mereka kemudian bertemu di pesawahan. Yang letaknya agak sedikit jauh di belakang sekolah. Karena bentuk pesawahannya menyerupai anak tangga, yang melinkari gunung, entah berapa puluh petak yang berundak. dari ketinggian itu, memperliatkan pemandangan yang sangat sejuk dan tenang. Dari hijaunya hamparan padi yang tertiup oleh semilirnya angin, alwan melihat syila yang tengah duduk di atas batu besar di hamparan tanaman padi itu.
alwan tersenyum riang, kemudian alwan melangkah menghampiri syila.
di hari kelulusan dan kenaikan kelas, pihak pesantren membri kebebasan untuk semua santri. Pengajian di liburkan, santri putra dan putri di perbolehkan pulang untuk berlibur. syila dan alwan sengaja memilih libur, demi bisa bertemu.
"assalammualikum, amy,,? Tegur alwan.
"wa alaikummsalam,,? jawab syila yang kemudian berdiri sambil melihat alwan dengan penuh senyum kegembiraan.
Alwan duduk diatas batu, di ikuti oleh syila dengan sedikit menjaga jarak mengingat mereka bukan mahram.
__ADS_1
"selamat yah, amy sudah lulus dengan peringkat terbaik. Aby turut bahagia." Ujar alwan sambil memberikan sebuah kado dengan tersenyum,
syila menyipitkan matanya dan menatap alwan seraya tersenyum ragu.
"Ini, ini apa by.? kan amy belum ulang tahun." ujar syila seraya mengambil dan memperhatikan bungkus kado yang ukuranya sebesar bola sepak, tapi bentuknya persegi.
"iya emang amy belum ulang tahun dan engga minta apa-apa, ini hanya inisiatif Aby saja yang pengen ngasih kado ke amy.." ujar alwan.
"Kan kemaren Aby udah ngasih gelang ini ke amy" ucap sila, sambil memperlihatikan pergelangan tangan kanannya, yang di lingkari gelang tasbih pemberian dari alwan.
"Ihhh.. "usil alwan mencubit hidung syila lembut.
"Auhh.. sakit tau byy" ujar syila berpura-pura dengan cemberut
"maaf-maaf my, abis Amy sih ngegemesin.." ujar alwan.
"sinih kalau amy engga mau, biar aby kasih ke orang lai kadonya",, ujar alwan, dengan gerak tangan meminta.
"ih, ya jangan atuh byy, Iya iyah Amy maafin. Ini isinya apaan si byy, Bukan semutkan.?" tanya syila bergurau dengan senyum manja
"Hemmmm... mentang-mentan manis yah, pengen banget di kerumuti semut. Ya enggak mungkinlah Aby kasih semut ke Amy, yang ada yah, kalo ada semut deketin amy, Aby sentil yang jauh. Biar manisnya Amy cukup buat Aby seorang." ujar alwan dengan senyum percaya diri.
"emm mulai gombal." ujar syila sambil mencubit pinggang alwan, alwan haya tertawa sambil memandang senyum syila.
"Coba sekarang Amy buka kadonya, Amy pasti suka." ujar alwan. syila menuruti apa yang di perintahkan alwan, dengan perlahan syila merobek bungkus kado tersebut.
Dan ketika kotaknya terbuka sedikit, syila terdiam sejenak dan langsung membuka semuanya. tanpa sadar dalam senyumnya, berlinang air mata syila.
dan ternyata isi kadonya adalah dua boneka kucing, 1 boneka berukuran besar, berbulu putih dengan nama pupu di kalungnya. sedangkan 1 boneka kecil yang sebesar bungkus roko berbulu putih, dengan corak abu, dengan nama Aby di kalungnya.
syila begitu terharu, tanpa sadar dia bersandar kepundak alwan seraya menitikan air mata sambil memeluk boneka kucing tersebut.
ketika itu terjadi, alwanpun terbawa oleh suasana. seketika alwan mencium rambut syila yang terhalang oleh kerudung dengan perasan amat sayang. dan refleknya alwan mengusap air mata syila yang berderai di pipinya.
Sontak saja syila menyudahi sandarannya, dengan berbalik menatap alwan. dengan jemari alwan yang masih mengelus, mengusap air mata di pipi syila, seraya tersenyum. Syila tidak mengusik, karena sebaliknya syila merasa nyaman dengan tindakan alwan.
"Makasih abyy" ujar syila dengan lirih.
dan alwan menganguk tak bersuara, masih terus tersenyum menatap sila, sampai kemudian tangan syila menggenggam tangan alwan, seraya menurunkannya untuk terlepas dari wajah syila.
"Maaf" ujar alwan merasa apa yang dilakukannya salah, dan sedikit takut kalau syila akan marah, karena fikirnya dia sudah lancang.
Tapi, syila hanya tersenyum. menggenggam tangan alwan sambil menahan air mata. syila sudah terhanyut dalam kemesraan Yang ada, dia masih menggenggan tangan alwan dan menaruhnya diatas boneka kucing, tanpa melepas tangannya.
__ADS_1
Itu pertama kalinya alwan dan syila bersentuhan, satu sama lain. "sejak kapan Aby tau pupu,,?" tanya syila, sambil mengusap air mata.
...----------------...