
...----------------...
"Sama teh syila"
Fatih berusaha bangkit, sambil menahan nyeri di tubuhnya. dia hanya bisa menggertakan giginya.
Alwan menyentuh pundak fatih dengan kaget. "kamu mau kemana tih.?"
"Fatih kepengen duduk mang, rasanya badan fatih sakit banget tiduran terus."
Alwan dan Ibu Aidah membantu fatih, untuk duduk. "pelan-pelan kondisi kamu masih lemah," ujar ibu aidah
"teh syilanya mana wa.?" tanya fatih
mendengar nama syila alwan seperti tidak tenang, selama ini dia tidak pernah tau dengan orangnya seperti apa.
"katanya tadi mau kekamar kecil, sekalian kemusholah untuk sholat Duha" ujar ibu aidah.
"ceklek, permisi" suara seseorang membuka pintu. Terlihat seorang suster yang melangkah masuk sambil membawa nampan.
"pak, Bu" sapa suster sambil tersenyum "dengan Tn. fatih? Ini resep Obat yang harus di ambil di farmasi" Ujar suster.
ibu Aidah mengambil selembaran resep dari suster. "Oh iya sus, makasih sus" ujar ibu aidah.
"Iyah sama-sama mari permisi." pamit suster. Alwan dan bu aidah hannya menganguk
"sinih Bu, biar alwan saja yang ambil obatnya fatih!" ujar Alwan meminta izin.
"engga usah, biar ibu sajah yang ambil." ujar Bu aidah. "kamu istraha saja di sini, sambil sarapan.
ibu juga mau sekalian temuin syila dimusholah, takutnya dia enggak tau ruangan ini." ujar bu Aidah.
Bu Aidah beranjak dari ruang inap, meninggalkan Alwan dan fatih. "wan? Sampai ibu kembali kamu harus sudah sarapan ya, awas kalau kamu enggak makan." ujar bu aidah sebelum menutup pintu, mengancam dengan nada bercanda.
"Iya bu, tenang saja" jawab alwan
Ini kali pertama Alwan akan bertemu dengan syila. Sosok yang pernah di ceritakan oleh teman-temannya di pesantren, Alwan mengulum senyum. "Kok bisa kebetulan beginih? Baguslah, pada akhirnya gua akan tau jelasnya dia orangnya seperti apa, tanpa harus menaruh rasa pnasaran tentang dia." gumam alwan dalam hati.
Alwan berjalan menuju jendela, dan melihat-lihat ke arah jalan raya. "Faiz lama banget sih tih keluarnya?" gerutu alwan
"sudah mang, mang alwan makan saja duluan. kalau mang alwan nunggu mang faiz, yang ada nanti keburu lapar." ujar fatih.
"iya juga, ini juga udah laper tih" ujar alwan.
"Tih, kamu mau makan lagi?"
tanya alwan. sambil membuka bungkus nasi.
"engga mang, fatih masih kenyang." jawab fatih
"ini makanan banyak loh tih, atau kamu mau ngemil.? Tanya alwan
__ADS_1
"nanti saja mang" jawab fatih dengan tersenyum.
Alwan menyantap makanan yang dibawa ibu aidah.
"Faiz kemana lagi.? Katanya mau nyari nasi, sudah hampir 1 jam tapi belum balik juga.?" gumam alwan sambil mengunyah, antara khawatir dan kesal.
***
Sementara itu Antrian di farmasi terlihat padat, karena bercampur dengan pasien yang mau berobat jalan atau cekUp.
membuat Ibu Aidah mendapat no urut paling Atas.
Ibu Aidah menatap no antrian yang dia pegang.
"Hemmmmh no antriannya jauh banget. lebih baik aku temui syila dulu, biar dia langsung naik ke atas." ujar bu aidah dalam hati.
Bu Aidah menghampiri Syila yang tengah duduk di kursi, seraya fokus memainkan hpnya di lorong rumah sakit..
" Ee'em " deham bu Aidah.
Syila yang kaget kemudian mematikan hpnya, dan menyimpanya kedalam tas.
"Eh Umi, umi sudah besuk fatihnya,?" tanya syila
Bu aidah duduk di samping syila."Belum, kamu sudah ke musholahnya?" tanya ibu aidah
"Sudah umi, baru saja selesai" jawab syila
Syila tersenyum. "syila lupa nama ruangannya umi, makannya syila tungguin umi disini." ujar syila
umi tersenyum " umi sudah duga. ya sudah, kamu langsung keatas saja. nama ruangannya Anyelir no 22 Di lantai atas kamu belok kiri, terus belok kanan" ujar ibu aidah.
" syila sendiri umi, Emang umi mau kemana? Tannya syila.
"umi lagi nunggu obatnya fatih di farmasi, setelah selesai nanti umi menyusul keatas." terang bu aidah. "kalau begitu umi kembali kefarmasi, takut keburu di kepanggil." sambung bu aidah
Saat bu aidah akan meninggalkan syila.
"Umi? di atas ada siapa.?" tanya syila.
"Ada mang alwan. kamu kenalkan?"ujar bu Aidah.
Syila hanya menggaguk sebagai tanggapan.
***
syila berjalan kearah Ramp (jalur sirkulasi dari lantai satu ke lantai dua), sebagai pengganti tangga atau lif di rumah saki.
dan setibanya di depan pintu no 22 R. Anyelir, entah kenapah langkah syila tiba-tiba terhenti. Syila terkatung sejenak, berdiri sangat rapat dengan pintu.
syila sedikit ragu untuk masuk, tapi kemudian dia memberanikan diri untuk membuka pintu.
__ADS_1
"ahh" pekik syila
syila mendorong pintu dengan kaget. dia kehilangan keseimbangan
Karena kedua kakinya berdiri sejajar, dan kebetulan pada saat yang bersamaan, pintu itu ditarik dari dalam oleh alwan.
Alwan berniat membuang bungkus nasi bekas semalam, ke tong sampah yang ada di lorong rumah sakit, diluar ruang inap samping pintu.
Alhasil, syila yang kaget tanpa bisa menahan pegangannya, dan kehilangan keseimbangan. tanpa sengaja syila menabrak alwan. alwan yang kagetpun tidak bisa menjaga keseimbangan, ketika dia ingin mundur kakiki kananya tersandung dengan kaki kirinya sendiri.
sehingga mereka berdua terjatuh bersamaan, yang mengakibatkan syila bertumpu terbaring di atas tubuh alwan.
entah sejak kapan? Tangan kanan syila digenggam oleh Alwan dengan tangan kirinya. Dan tangan kiri syila menempel didada alwan. Keduanya saling bertatapan satu samalain, dengan tangan kanan alwan yang melingkar dipinggang syila.
masih dalam keadan terkejut. Bebrapa detik alwan terperanga, tanpa sadar menatap paras syila dan sebaliknya juga dengan syila yang menatap alwan.
"Dug Dug Dug Dug Dug Dug" detak jantung alwan bergemuruh dengan kencang. Syila yang tengah berada di atas pelukan alwan, tersadar oleh itu dan langsung berdiri.
"astagfirallah haladjim" ucap syila seraya merapikan bajunya.
"Astagfirallah haladjim, maaf-maaf saya tidak sengaja." ujar alwan yang merasa canggung.
"emm teteh tidak apa-apa kan? Tanya alwan.
Syila menunduk dengan tersipu malu, sambil merapikan pakaiannya.
"eem Tidak, tidak apa-apa. saya yang seharusnya minta maaf, karena tidak mengetuk pintu terlebih dahulu." ujar syila
"saya yang salah ko, karena menarik pintu terlalu kencang. Saya fikir tidak ada orang yang mau masuk" ujar alwan.
Keduanya terdiam sesaat.
"kalau begitu saya mau permisi keluar" ujar alwan sambil membungkukkan tubuhnya.
"iyah" ujar syila yang masih menekuk wajahnya, yang sedikit memerah.
Karena kejadian ituh fatih sedikit mendapat hiburan, Dia tersenyum sendiri melihat apa yang sudah terjadi dihadapannya.
"kenapa kamu tersenyum?"
tanya syila kepada fatih.
"Engga ko, teteh sendiri kenapa mukanya merah..?" ujar fatih.
Syila sedikit salah tingkah, ke bingungan menjawab pertanyaan fatih.
"masa sih" ujar syila yang mengulum senyum.
Syila menyentuh wajahnya sendiri. "oh, ini kayaknya make up teteh yang ketebalan" sambung syila.
"Masa sih teh, kok fatih enggak tau ya kalau teh syila sudah bermake up, dan sejak kampan?" tanya patih seraya menggoda kaka sepupuya.
__ADS_1
"kalau begitu teteh mau kekamar kecil dulu, mau cuci muka" syila melangkah menuju kamar kecil. fatih hanya tertawa kecil, melihat kaka sepupunya yang terlihat seperti orang linglung.