
***
Malam berganti pagi.
Pesantren Salapi moderen memperkejakan beberapa orang, untuk memasak nasi dan sayur (Sistem ketring).
namun, untuk ketring sayur dan lauk dipisah, semua santri yang ikut ketring sayur sudah mendapatkan jatah masing-masing dalam porsi yang sama, terkecuali nasi.
Dan ada juga yang tidak ikut ketring, yang memilih membeli sayur dan lauk matang diwarung nasi terdekat.
Untuk semuah santri, nasi disatukan dalam satu wadah (bakul nasi) berukuran jumbo. untuk pengambilannya sendiri tidak diatur atau ditakar. ada yang mengambil banyak, ada juga yang secukupnya atau sedikit.
dan pada pagi itu, Alwan sedikit terlambat untuk mengambil nasi. karena dia harus mencuci dan menjemur pakaian yang sudah direndam sebelum mengaji subuh.
sebelum berangkat kesekolah.
Alwan membawa piring, berniat untuk mengambil nasi. "kok bakulnya kosong? tumben, biasanyakan masih ada lebih buat satu atau dua porsi lagi." Ujar Alwan dalam hati, sambil berjalan membawa piring yang masih kosong.
Sampai dikamar.
"mang. kok bawa piringnya kosong, makan dimana?" tanya Lutfi dengan heran.
"belum juga makan fi, nasi dibakul Habis" ujar Alwan yang sedang membuka lemari, dan mengambil beberapa lembar uang.
"masasih mang?" ujar lutfi
"pasti ada yang ngambil double (dua piring)." sambung hadi sambil makan.
" Coba saja kedapur santri mang, barang kali masih ada sisa nasi dibelakang. biasanyasih mang Ajo kalau masak nasi, nasinya enggak dibawa semua kesini.." ujar mang Andi.
"Iyah juga yah, ya sudah saya cek dulu" ujar Alwan.
***
Dapur santri tempatnya agak sedikit jauh, karena memasaknya dengan menggunakan tungku, bukan kompor gas. Dengan perapin yang menggunakan kayu bakar, Takut asapnya bisa mengganggu aktifitas santri, dan menimbulkan bau. makanya dibuatkan khusus untuk tempat masak nasi, ditempat terpisah.
Mang ajo adalah orang yang memasak nasi untuk kebutuhan santri putara dan putri, pagi mang Ajo masak Nasi empat bakul, sore empat bakul juga. Dua untuk santri putra dan dua lagi untuk santri putri
"Mang Ajo? masih ada nasi tidak disini." tanya Alwan yang dalam tiga menit sudah sampai kedapur.
mang Ajo menghampiri Alwan.
"Engga Ada Wan, emang kamu tidak kebagian Nasi ?" tanya mang Ajo.
"Enggak mang. makanya saya nyamperin kesini, saya kira masih ada sisa." ujar Alwan.
"Ada juga nanti sore, soalnya setok berasnya habis, itu juga cuma sisa setok. Ujar mang Ajo.
"Enggak mau masak lagi apa mang?" Tanya Alwan
"untuk sekarang kayaknya enggak wan, soalnya setok berasnya nanti dikirim sehabis dzuhur. kamu coba saja minta kesantri putri, biasanya santri putri suka ada sisa nasi yang masih banyak" ujar mang Ajo Sambil merapihkan kayu bakar.
__ADS_1
Alwan sedikit murung.
"hemmm, makasih mang." Ujar Alwan. Alwanpun berjalan setengah berlari untuk kembali keponpes, dengan piringnya yang masih kosong.
"mau enggak mau herus beli, aku harus cepat-cepat biar tidak kesiangan" gumam Alwan.
warung dekat pesantren menydiakan bubur ayam, nasi putih, sayur dan lauk.
ketika Alwan tiba digerbang pesantren, langkah Alwan terhenti sejenak. sedikit ragu, melihat ke arah warung yang ternyata ramai dikerumuni santri putri.
"gimna nih? kesanah jangan yah. Enggak kesanah berarti enggak sarapan. kalau kesanah, rame banget santri putrinya". Ujar Alawan dalam hati, dengan bingung.
Masih dalam gumamnya.
"ah bodo amat dari pada enggak sarapan, yang ada nanti malah sakit." ujar Alwan, seraya berjalan ke arah warung. Sampai di sanah Alwan tersnyum kepada semua santri yang melihat kehadirannya, dan semua santri putri membalas senyumnya. tanpa menunggu lama Alwan langsung bertanya kepada pemilik warung.
"Bu, Bubur ayamnya masih ada enggak?"
tanya Alwan sambil melihat etalase (lemari makanan).
"Ada A, tapi kayaknya cuma cukup buat teteh-teteh ini." ujar Ibu warung yang menunjuk kearah santri putri.
"kalau yang lain masih ada enggak bu? nasi putih, nasi uduk, atau lontong sayur?" tanya Alwan penasara. melihat isi etalasenya sudah kosong, mungkin masih ada didapur fikir Alwan.
"itu juga sudah pada abis A, kebetulan tadi bikinnya sedikit" ujar pemilik warung.
meski dengan rasa kecewa, Alwan tetap memperlihatkan senyumnya.
Alwan hanya bisa menelan ludah. "pagi yang tidak begitu baik, mau engga mau harus sarapan roti." gumam Alwan.
Di sekolah, ketika pelajaran berlangsung.
tidak seperti biasanya, hari itu sangat terasa melelahkan bagi Alwan. karena dimalam harinya Alwan kurang tidur, setelah mengurus santri yang sakit. Mungkin karena aktifitas yang lebih dan kurangnya asupan giji, ditambah cuaca yang begitu terik hari itu.
membuat Alwan cepat merasa letih.
raut wajah Alwan tidak begitu bersemangat, dia merasa seperti akan demam. ditambah rasa lapar tidak bisa memompa setaminanya, membuatnya sedikit kehilangan kosnsentrasi saat belajar.
Alwan memegangi perutnya, sambil menaruh kepalanya keatas meja.
"grueek, gruk" bunyi dalam perut Alwan.
"tumben. Enggak bisanya mang Alwan lusuh seperti itu?" gumam khodijah dalam hati, yang sedari tadi memperhatikan Alwan. Yang menulis dengan posisi kepala dibaringkan keatas meja.
"kring kriiing, kring kriiing" bel istirahat berbunyi
"Mang? keluar yuk, waktunya istirahat " ajak bayu dab Budi (ketu kelas) yang mendekati Alwan.
"duluan saja bay, nanti saya menyusul" ujar Alwan yang masih setengah berbaring.
"iya mang. ayo keluar mang. Kita main balbalan (tendang bola)" ujar Andi.
__ADS_1
"Enggak mang, badan saya lagi enggak fit." ujar Alwan. Sambil memaksakan untuk tersenyum.
"aaah ga asik" ujar budi.
"sudah yu, kita biarkan mang Alwan istirahat saja dikelas." ujar Andi.
Mang andi menepuk punggung Alwan. "Ada yang mau dititip enggak mang, barang kali mamang mau minum obat?
biar nanti saya kewarung."ujar mang anadi menawarkan.
"tidak mang. saya mau tidur saja.." ujar Alwan.
"ya sudah kalau begitu" ujar andi. Bayu, Andi dan budipun meninggalkan Alwan diruang kelas.
dalam ruang kelas yang perlahan mulai sepi, Alwan mencoba memejamkan mata untuk tidur, untuk menghilangkan letih dan rasa lapar.
"mang"?? Panggil khodijah seraya menghampirinya.
Alwan sedikit kaget, fikirnya sudah tidak ada orang didalam kelas. "Hemm" sahut Alwan melihat ke arah suara yang memanggilnya.
"Tuben enggak ikut istrahat sama yang lain, lagi sakit buka.."? Tanya khodijah.
"Engga.." sahut alwan simpel.
"kok mukanya pucat kayak gitu? mang Alwan lagi ada masalah ya,?" tanya Dijah
"Engga juga," ujar Alwan, dengan senyum yang dipaksakan
"Sakit bukan, punya masalah engga. hemm diputusin sama pacarnya ya? hi hi hi hayoh ngaku mang." ujar safitri yang menggoda Alwan.
"rese banget sih ini teteh-teteh santri, engga tau apa orang lagi cape. Masa gue harus jujur, kalau gue kagak kebagian nasi di kobong." ujar Alwan dalam hati.
"Engga juga. sayah ngantuk, semalem kurang tidur karena ada beberapa santri yang sakit, yang harus saya urusin" jawab Alwan berAlasan, tanpa mengubah posisi tubuhnya..
"Oh begitu" sahut Ayu.
"Pantesan Ajah mamang, keliatan kaya bunga yang habis masa mekarnya (layu) hi hi.." ujar fitri, seraya menahan tawa.
"Huss... ya udah yu, kita tinggalin mang Alwan. biarin dia Istrahat." ajak khodijah kepada teman-temannya.
"Tapi kasihan mang Alwan sendiian di kelas," ujar Ayu.
" mang Alwan mau di temenin ngobrol engga mang?" ujar fitri yang senang menggoda Alwan.
"engga teh, makasih saya cuman butuh tidur." jawab Alwan simpel, dengan senyum kesalnya.
Dijah menarik tangan ayu dan fitri yang berdiri di samping meja Alwan.
"Aayoooo, birkan dia istirahat.." ujar khodijah
"Iyah iyah, mimpiin fitri ya mang Alwan." ujar fitri..
__ADS_1