
...****************...
Kembali ke pembicaraan antara Alwan dengan Ibu Aidah.
Bu aidah tersenyum masam. "tuh kaaannn, ketahuan kalau kamu itu kangen sama syila." ujar ibu Aidah
Alwan ketangkap basah, di hanya bisatersenyum dan berkata. "boleh kan bu? Namanya juga sudah lama eggak ketemu." ujar Alwan dengan senyum jahil.
"Boleh." sahut bu Aidah sambil tersenyum.
"Oh iya bu. kalau boleh tau bagai mana kabar syila di sana.? Tanya Alwan
"Alhamdulilah syila disanah dalam keadaan sehat walafiat wan, baru minggu kemarin syila nelpon ibu." ujar ibu Aidah dengan riang
"terus bagai mana mengenai studynya disanah,?" Alwan menggali informasi dari Ibu Aidah, untuk mengurangi kerinduannya terhadap syila.
"kuliahnya alhamdulilah lancar. dan rencanaya setelah lulus S1 syila akan pulang dulu ke indonesia, sebelum melanjutkan ke S2." terang Ibu Aidah.
"oh begitu yah bu.
enggak kerasa ya bu, sudah 3 tahun lebih, sejak terahir Alwan ketemu syila." ujar Alwan dengan senyum hampa. Ibu Aidah melirik alwan dengan tersenyum
"kamu kerja di mana wan,?" Tanya Bu Aidah mengalihkan pembicaraan.
***
Bu aidah tidak mau kalau alwan sampai larut dalam kehampaan. Karena sebenarnya ibu aidah sudah mengetahui hubungan mereka dari fatih, sebelum syila mendapatkan beasiswa dari pihak yayasan.
"Emmm. Alwan belum kerja bu.?" ujar Alwan simple.
"kenapah kamu Engga kerja, atau nyari kerjaan. Kamu enggak kasihan apah sama orang tua kamu.?" ujar ibu Aidah. Alwan hanya menjawabnya dengan senyuman, dia kebingungan, tidak tau harus menjawab apa.
"kamu itu masih muda wan, tenaga kamu masih kuat, IQ (Intelligent Quotient) kamu masih bisa kamu kembangkan. Kenapa kamu eggak memanfaatkan masa muda kamu untuk bekerjaan, dan mencari pengalaman.? Kalau kamu kerja dan punya penghasilan, setidaknya kamu bisa bantu orang tua kamu buat biaya belajar adik-adik kamu. atau palingga, kamu bisa melanjutkan kuliah di Universitas yang kamu mau.
langkah kamu masih panjang wan, untuk masadepan yang lebih baik itu masih bisa kamu kejar." Nasihat Ibu Aidah. Alwan hanya bisa tersenyum malu, tanpa bisa mencela perkataan Ibu Aidah.
***
Sesampainya dirumah,
Alwan merenungkan apa yang di sampaikan Ibunya, dan juga ibu Aidah, dan dia mengambil kesimpulan. Bahwasanya Setiap oranng tua menaruh harapan yang besar kepada setiap anaknya, agar kehidupan anaknya jauh lebih baik di masa yang akan datang. Dan sejak saat itu, Alwan bertekat untuk mencoba peruntungannya.
Sekembalinya Alwan menjemput adik-adiknya dari sekolah. "Assalammualaikum.." ujar Alwan dan kedua adiknya dengan kompak.
__ADS_1
"waalaikumsalam" tumben kalian jam segini baru pulang? " tanya umi Aliya kepada Amira dan Fakih
"tadi Ade nunggu kaka dulu Umi, sampai-sampai Ade ketiduran di ruang guru" fakih mengadu dengan raut wajah yang memperlihatkan kekesalan.
"maaf miii.. tadi ada rapat dadakan di sekeloh, mengenai Ujian nasional.." ujar Amira
"oh, terus apa saja yang di bahas sama pihak sekolah tadi.? " tanya Umi Aliya.
"kata kepala sekolah, di karenakan UN sudah tinggal beberapa bulan lagih, siswa/siswi di usahakan untuk lebih giat belajar di rumah. Dan katanya akan diadakan Les tambahan, beberapa minggu kedepan." ujar Amira.
"emm' untuk Lesnya ada biyaya tambahan juga.? Mengenai biaya ujiannya begai mana? " tanya Umi Aliya
"ennga Umi, untuk Lesnya free. Kalau untuk Mengenai biaya UN, nanti katanya akan di rapatkan langsung dengan wali murid" ujar Amira
"Ohhh.. ya sudah, kamu lngsung mandi. Habis itu sholat, terus makan." ujar Umi Aliya
"iyah umi" sahut Amira.
***
malampun tiba. Amira yang sibuk membolak balikan kertas pelajaran, sedangkan fakih sibuk menonton televisi di temani Umi Aliya yang sedang menyetrika baju.
"tumben kamu gak kelayaban,?" tegur Umi Aliya, kepada Alwan yang menghampirinya.
"Umi,? Tegur Alwan dengan ragu
"Hem, kenapah.? " tanya Umi Aliya yang fokus menyetrika baju
"Emmmm Umi punya simpanan engga.?" tanya Alwan. Umi Alyia menoleh dengan heran, mendengar pertanyaan Alwan.
"kamu kira Umi perempuan apaan?" ujar umi Aliya
"engga Umi, maksud Alwan Umi ada uang simpanan lebih atau tidak,?" jelas alwan.
"ohh Umi kira kamu ngomong simpanan apa. makanya lain kali kalau ngomong yang jelas, jangan setengah-setengah, biar umi enggak salah paham." ujar Umi
"maaf Umi, " sahut Alwan.
"Emang buat apa kamu nanya kaya gituh.? Jangan bilang kamu mau pake buat hal yang engga-engga.
Umi ada punya simpanan Uang, cuma uang itu Untuk kebutuhan yang mendesak saja, untuk biaya sekolah adik-adik kamu dan keperluan lainnya." terang umi Aliya.
"oh begitu" sahut alwan
__ADS_1
"emang ada apa?" tanya Umi Aliya
"jadi begini umi,! tadi Alwan nelpon OM iyas. Alawan tanya-tanya soal kerjaan.
Dan kebetulan di kantor OM iyas sedang membutuhkan tenaga kerja, untuk bagian marketing. Dan OM iyas menawarkan ke Alwan, kalau Alwab mau dan bersedia, minggu-minggu ini Alwan diminta untuk berangkat" ujar Alwan
"terus kamu jawab apa.?" tanya umi Aliya dalam keraguan.
"kata Alwan. Iyah OM, insyaallah Alwan siap. kebetulan alwan sedang menganggur. nanti Alwan bicarakan dulu sama Umi, takutnya Umi gak kasih izin. Begituh Umi." jelas Alwan
Umi Aliya langsung menyudahi pekerjaannya, merapihkan sisa baju yang belum selesai di setrika.
"kamu serius, mau kerja sama OM iyas?" tanya umi tegas.
"insya allah umi, Alwan serius mau kerja. Niat Alwan sudah bulat, Alwan mau bantuin Umi sama Abi dan mau merubah keadaan kita. yang mudah-mudahan akan jauh lebih baik kedepannya." ujar Alwan.
"bener kamu sudah memikirkan semuanya dengan matang.?" kembali Umi meminta ketegasan.
"kenapa,? Umi takut kalau Alwan tidak berhasil, dan tidak bisa mengganti Uang simpanan Umi yang alwan pake.? Tanya alwan
"bukan seperti itu, Umi percaya sama kamu. Kalau tekad kamu sudah bulat, mau berusaha dan bersusah payah. Bekerja keras banting tulan, di sertai do'a dan ibadahnya. Umi percaya kamu akan bisa berhasil. Tapi, apa OM iyas sudah tau kemampuan kamu, apa kamu bisa mengisi kursi di bagian marketing.?" umi aliya menatap alwan
"kalau soal itu, Alwan sudah berterusterang sama Om iyas, dan OM iyas mau bantuin alwan secara bertahap" ujar alwa
"Umi hanya menyayangkan, karena selama ini kamu kerja seadanya, meski terkadang pekerjaan yang kamu jalani ada atau tidak. lebih sering kamu berheti ditengah pekerjan kamu, karena bosan dan ketidak nyamanan kamu dalam bekerja. dengan penghasilan yang tidak seberapa, selama ini kamu hanya bisa menggali lubang dan menutupnya sajah.
Umi menyarankan kamu untuk lebih matang, bukan mengenai ke inginan kamu. tapi mengenai konsekuensinya nanti, mungpung masih ada waktu." ujar Umi Aliya
alwan menggenggam dan mencium kedua tangan Umi Aliya dengan membungkuk, seperti dalam keadaan sujud. Dia meminta kesempatan, dengan berharap. "Umiiiii,, Alwan sudah mematangkan semuanya. Alwan tau, kali ini berbeda dari yang sebelumnya. insyaallah Alwan akan siap, dan sudah menyiapkan semmuanya, apapun yang akan Alwan temui nanti. Alwan minta Do'a restu dari Umi, agar perjalanan dan karir Alwan di permudah oleh yang maha kuasa, tanpa suatu hambatan apapun. Terutama untuk kesehatan Alwan di sanah nanti." ujar Alwan kepada umi Alya yang duduk di hadapannya.
Umi aliya mengangkat kepala alwan dan mengusap rambutnya. "inysaallah, ridho allah dan ridho umi bersama mu" ujar Umi Aliya, sambil tersenyum penuh haru.
"makasih umi" ujar Alwan dengan senyum gembiranya.
Umi mengangguk "iyaah, kamu siapin saja apa yang mau kamu bawa nanti," ujar umi aliya.
"iyah umi, kalau begituh Alwan tidur duluan yah Umi" ujar Alwan, seraya berdiri dan melangkah menuju kamar.
"oh iyah wan, rencananya kamu mau berangkat kapan.?" tanya Umi Aliya
"nanti umi, Alwan mau tanya-tanya waktu yang baiknya dulu ke wa Azi" ujar alwan sebelum menutup pintu kamar. umi Aliya tidak berhenti tersenyum menatap pintu kamar, seakan tidak menyangka dengan jalan yang akan di ambil alwan.
...----------------...
__ADS_1