
...----------------...
"ya allah" ujar alwan seraya mengusap wajahnya, dengan perasaan campur aduk, ada rasa ragu untuk kembali masuk ke dalam ruangan inap fatih.
Alwan hanya modar mandi di tempat itu saja, dengan detak jantung yang masih berdebar-debar. "jantung ini terasa seperti habis lari maraton. Dia ngerasain engga yah? pada saat tanganya menempel di dadaku tadi." gumam alwan yang menyentuh dadanya.
Sementara syila yang tengah membasuh mukanya dikamar mandi, dengan berharap setelahnya akan merasa sedikit tenang. Sesekali sila tersenyum, teringat akan kejadian yang barua saja dia alami.
"Detak jantungnya, begitu terasa" gumam syila dengan tersenyum, sambil mengingat wajah syila.
Syila yang sudah selesai, menghampiri fatih.
"gimana kondisi kamu, sudah enakan?" tanya syila selepas kembali dari kamar mandi.
"Alhamdulillah, Seperti yang teteh lihat" ujar fatih seraya mencoba untuk duduk.
" eitss kamu mau kemana,,? " tanya syila yang khawatir, menahan fatih dengan kedua tangannya.
"fatih mau tiduran lagi teh." ujar fatih mencoba untuk berbaring. syila kemudian membantu fatih untuk terbaring, dan mengubaah posisi bantal di belakang fatih.
"mang alwan habis dari mana?" tanya fatih, kepada alwan yang sudah kembali berada di ruangan.
"em.. habis buang bungkus nasi bekas semalam, soalnya kalau kelamaan baunya bisa mencemari udara. Karena disini engga ada tong sampah," ujar alwan, Syila hanya menunduk menahan senyum.
"Oh gitu.! Oh iyah mang. kenalin, ini yang namanya teh syila, kaka sepupu aku. orangnya cantikkan mang.?" ujar fatih sambil tersenyum menggoda syila.
Syila kaget dengan pertanyaan yang di ajukan fatih. Tanpa sengaja, dia mencubit lengan fatih dengan reflek, sambil menatap tajam kearah fatih.
"aaaw, sakit teh" fatih mengeluh karena cubitan syila sedikit kencang, samapai meninggalkan bercak merah di lengannya.
"maaf-maaf, teteh lupa kalau kamu lagi sakit. lagian kamu juga sih, lagi sakit juga. masi sempat-sempatnya ngajak becanda." ujar syila yang duduk disamping kanan fatih, sedangkan alwan berdir disamping kiri fatih.
"siapa yang bercanda, emang kenyatannya ka syila cantik, makannya jadi seleb di ponpes, iya kanmang.?" ucap fatih. alwan hanya tersenyum, dia merasa bingung harus menjawab apa.
syila hanya bisa membuang wajahnya kebawah, setelah melihat alwan yang tersenyum kepadanya.
__ADS_1
dia tau, kalau saat ini wajahnya kembali memerah karena di goda terus dihadapan alwan.
"Emmm" deham alwan.
"kok Bu aidah belum balik ya,?" tanya alwan mengalihkan pembicaraan.
"Umi tadi bilang, kalau nomber antriannya paling atas. makannya tadi umi langsung nyamperin saya dan menyuruh saya langsung kesini." ujar syila
"oh begitu" ujar alwan dengan tersenyum. seraya melihat kearah syila, begitu juga dengan syila yang tersenyum melihat alwan. sambil kembali membuang wajahnya.
"Massyaallah senyum dan wajahnyah sangan cantik" bisik alwan dalam hati. dalam sadarnya, sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Aduuuuuh, jantung ku kok berdebar keras gini, wajah ku terasa panas," gumam syila dalam hati, sambil mengulim senyum.
syila masih menunduk, seraya mengambil hp di dalam tasnya dan mengecek layar hpnya, hanya untuk mengalihkan perasaannya yang sedikit canggun agar lebih tenang.
"kok kamu bawa heandphon, emang kamu eggak lagi di pondok,?" tanya alwan
"Iyah, kebetulan sayah sedang libur setelah usai semester kemarin." ujar syila yang so' fokus kelayar hp, padahal dia engga berani melihat wajah alwan
"Oh pantes aja?" ujar alwan.
suasana menjadi hening beberapa saat. Tanpa mereka sadari, ternyata fatih sudah kembali tertidur. Syila melihat fatih, dan syila sekilas mencuri pandang ke Alwan. kemudian kembali melihat layar hpnya lagi sambil tersenyum.
Alwan melihat syila yang tersenyum sambil memainkan hpnya, membuat alwan bingung harus membahas apa, dan alwan hanya bisa memperhatikan fatih yang sedang tertidur. meskipun syila masih duduk di bangku kelas 3 smp, tapi tinggi badanya hampir menyamai alwan. tubuhnya bongsor (tinggi, berisi) seperti ibu aidah dan ayahnya, di tambah lagi pembawaan sikapnya yang dewasa seperti remaja putri. jika tidak sedang memakai seragam, dia terlihat seperti sudah kelas 3 sma atau kuliah.
Syila memberanikan diri memulai percakapa, untuk memecah keheninga.
"Makasih yah, mang,?" ujar syila.
alwan mengerutkan keningnya. "makasih buat apah,?" tanya alwan sambil melirik ke arah syila.
"maksaih karena mang alwan sudah menjaga dan merawat fatih, dengan baik." ujar syila sambil melirik alwan, dengan ragu.
"oh, sama-sama itukan sudah tugas sayah." ujar alwan, syilapun tersenyum.
"Oh iya, soal tadi? Sekali lagi saya minta maaf."
__ADS_1
Syila memberikan senyumnya secara terang-terangan. "jangan risau, itu hanya insiden kecil yang tidak kita sengaja. lagi pula tidak ada yang terlukakan,?" ujar syila
"iyah" alwan mengangguk dengan senyum.
"mang alwan sudah sarapan.?" tanya syila.
"alhamdulilah sudah, tadi saya makan nasi yang di bawa bu Aidah." ujar alwan
"mmmmh gimana dengan rasa masakannya mang?" tanya syila.
"masakanya enak. saya suka, rasanya hampir seperti masakan umi dirumah" jawab alwan sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begituh." ujar syila yang tersenyum senang.
"kalau bisa panggil saja saya alwan atau wan? Pinta alwan
"Emang kenapah mang, Bukankah memanggil dengan panggilan mamang itu lebih sopan.? soalnya saya juga tidak terbiasa memanggil orang lain dengan nama. Terlebih usia mamang sudah lebih tua dari saya." ujar syila.
"ya tapikan engga setua itu. terus terang saja, sebenernya saya tidak begitu suka di panggil mamang, begitu juga di pesantren. apa lagi kalau sedang di luar, seperti yang kamu bilang, terkesan lebih tua. Saya lebih seneng di pangil Aa, alwan atau wan. lebih simpel" ujar alwan. yang tersenyum malu, karena meminta syila untuk memanggilnya. Seperti yang dia pinta.
Syila terdiam. "Kalau begitu saya panggil Aa saja terdengar lebih sopan" ujar syila. Alwan begitu gembira mendengarnya, keduanya pun kembali saling menatap sambil memperlihatkan senyum satu sama lain.
"oh iya a, bagai mana dengan mondoknya? Aa betah." tanya syila.
Alwan masih terpanah dengan senyum syila! "insyaallah, apa lagi kalu sudah mengenal lebih deket" ujar alwan tanpa sadar. yang masih terkesima.
syila mengerutkan keningnya. dia sedikit bingung dengan apa yang di ucapkan alwan, meskipun dia tau maksud dari perkataan itu. Tapi syila tidak mudah terbawa perasangkanya sendiri.
"kenal,? maksud Aa, kenal dekat apa ya A?" tanya syila sambil memperhatikan alwan.
Alwan tersadar dengan pertanyaan itu. "oh aaaa mmmm ya kenal, kenal hurup-hurup gundul (aksara tanpa patah) maksudnya. kalau sudah lebih hapal dan faham insyaallah ngajinya pasti lebih mudah dan lebih betah pastinya buat tinggal di pesantren." ujar alwan. yang tertawa kecil sambil meremas jemarinya sendiri, di belakang punggungnya, seraya mengecoh kesalahannya sendiri.
"oh begitu, kirain dekat apa!" syila menutup mulutnya dan ikutan tertawa. Melihat gerak gerik alwan yang sedikit salah tingkah.
"hampir saja keceplosan" gumam alwan dalam hati.
Saya mohon sufortnya, like dan ikuti. untuk mengetahui cerita selanjutnya, yang tentunya akan lebih menarik..
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir
🙏🙏🙏