
***
Alwan merasa heran ! mengingat kedua adiknya yang belum pulang dari sekolah. kebetulan keduanya dalam satu sekolah yang sama, Di Yayasan Nurul Iman Alhasanah, sekolah berPesantren.
"Tumben Amira dan Fakih jam segini belum pada pulang, ada apa ya?" Bisik Alwan dalam hati.
Alwan tiba di pesawahan milik Uminya, yang tidak begitu jauh dari jalan lintas desa. Dari ke jauhan sudah terlihat Uwa Aji yang sedang duduk melepas lelah, di pinggiran sawah di bawah pohon pisang, seraya berteduh.
"Assalammualaikum Uwa?" Ujar Alwan.
"Waalaikumsalam " jawab Uwa Aji
***
Nama lengkapnya Ajiz ahmmad, bukan Aji mungpung.
Beliau adalah kaka tertua dari Umi Aliya, dari lima bersaudara Dan yang tiga lainnya tinggal di luar kota. yang terdiri dari tiga Saudara laki-laki dan Dua Saudara permpuan.
yang pertama, kedua dan keempat adalah laki-laki termaksud Uwa Aji, sebagai Anak tertua. Sedangkan yang ketiga dan kelima itu perempuan, termaksud Umi Aliya sebagai anak ketiga.
Beliau berprofesi sebagai guru ngaji di kampung, dan beberapa murid di antaranya adalah Amira dan juga Fakih. Semua keluarga Umi Aliya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang ilmu Agama islam.
"Eh maneh (kamu) AL?"
ucap Uwa Aji.
"ini Uwa, Alwan bawa nasi sama kopi." ujar Alwan, seraya menaruh rantang di samping Uwa Aji.
"kata Umi, Umi Minta maaf sudah buat Uwa Menunggu lama,
soalnya tadi Alwan sama Umi ke pasar dulu." ujar alwan.
"Wiyos teu nanaon (iya enggak apa-apa)," ujar Uwa Aji sambil membuka rantang yang dibawa Alwan..
"Sok atuh calik (Ayo duduk),
rencangan Uwa tuang (temani Uwa makan). "Ajakan Uwa Aji untuk makan bersama kepada Alwan.
"Oh iya Uwa, sok mangga (silahkan uwa) Alwan masih kenyang." ujar alwan.
***
Mengurus sawah dan kebun adalah pekerjaan Uwa Aji sebagai kuli hari. di samping itu, Uwa Aji juga punya sawah dan kebun sendiri. meskipun begitu, Uwa Aji selalu mengesampingkan urusan pribadinya, dan memprioritaskan kalau ada Orang yang membutuhkan jasanya sebagai kuli. sebagai tambahan penghasilan untuk menyambung hidup.
Begitulah kehidupan di kampung Alwan, jika tidak merantau ke kota, kebanyakan Penduduk memanfaatkan lahan untuk bertani dan berternak.
"sudah mau selesai ya Uwa?" Tanya Alwan.
"Alhamdulilah Al, enjing oge tos tiasa ditanduran ( besok juga sudah bisa ditanami padi )." ujar Uwa Aji.
"syukurlah kalau begitu, ya sudah atuh Uwa. Alwan pamit dulu, bade ka sakolaan (mau ke sekolahan). " ujar Alwan.
"Maneh bade sakola deui (Kamu mau sekolah lagi )? " tanya Uwa Aji dengan guraunya, sambil menahan tawa.
"Sanes atuh Wa (bukan Wa). Alwan mau jemput Amira sama Fakih, Soalnya enggak biasanya jam segini mereka belum pada pulang !" ujar Alwan..
"Emm.. sok atuh gancang ( ya sudah cepetan), bilih aya nanaon (takut ada apa-apa)." ujar Uwa Aji sambil mengunyah.
"Muhun atuh Uwa (iya wa), Asslammualaikum?" ujar Alwan bergegas pergi.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. nanti timbelnya (rantangnya) Uwa antar sendiri, jadi nanti kamu enggak usah ke sini lagi!"
teriak Uwa Aji..
"Iya Uwaaaaa." pekik Alwan sambil berlalu.
***
"Tid tiiid.. "
"trak trek "
"ceklek."
Suara klakson dan setandar ketika Alwan mau mengunci setang motornya.
"Asalammualaikum IBu Aidah?" ujar Alwan kepada ibu warung, dengan tersenyum lebar.
"Waalaikumsalam " ujar ibu Aidah, sang pemilik warung.
"Ehhhhhhh kamu Wan, ibu fikir siapa. sudah lama banget ibu enggak melihat kamu, bagai mana kabar kamu Wan?" Ujar ibu Aidah yang tidak kalah riangnya, seraya mengulurkan tangan kepada Alwan.
"Alhamdulilah, Alwan sehat Bu. IBu sendiri bagaimana kabarnya?" Alwan balik bertanya.
"Syukur alhamdulilah" ucap bu Aidah sambil tersenyum
"alhamdulilah ibu juga sehat Wan. Tumben kamu mampir ! ada gerangan apa? Biasanya Ibu lihat kamu lewat-lewat terus, kayak sudah enggak kenal sama ibu" Sindir ibu Aidah sambil merapikan jualannya.
"memang kenapa Bu? enggak boleh ya kalau Alwan sesekali mampir ke warung ibu?" tanya Alwan.
"boleeh, siapa bilang enggak boleh, ibu hanya bercanda kok." ujar bu Aidah
"Hemmm kamu tuh, sama orang tua masih suka ngajak bercanda.
Kamu Kangen sama ibu, apa sama Syila?" ujar bu Aidah yang ikut bergurau, sambil menaikan alisnya dengan tersenyum.
"MEMANG SYILA ADA BU ?" tanya Alwan dengan nada terkejut.
***
Warung ibu Aidah berhadapan langsung dengan sekolah, tempat di mana dulu Alwan menghabiskan masa SMKnya. Yang kini menjadi tempat belajar kedua adiknya.
( SYILA ). Dia adalah seseorang yang pernah mengisi relung Hati Alwan, Anak bungsu IBu Aidah. Usianya terpaut dua tahun dengan Alwan, parasnya cantik dan berkepribadian baik. Bisa dibilang mereka pernah Berpacaran, tapi
hubungan keduanya tidak terlalu lama.
***
Di mulai dari selesainya penyerahan Alwan kepada pihak Pesantren.
"Terima kasih Ustazah atas semua Penjelasnya! kalau begitu Kami mohon pamit.
kami titip putra kami Alwan, Kalau dia nakal, Ustazah jangan sungkan untuk memarahi dan menghukumnya." Ujar Abinya Alwan (pak Rohman), seraya mendekap putra sulungnya.
"Insaya allah kami akan menjaga dan memberi panutan yang baik semampu kami. semoga Alwan betah dan nyaman belajar di sini?" Ujar ustazah Fatimah (wakil dari pada pemilik yayasan) yang tersenyum kepada Alwan, Alwan meliriknya dengan enggan.
"Aamiin."
tutur Pak Rohman dan Umi Aliya.
__ADS_1
"Al. Umi sama Abi pulang dulu ya, kamu yang betah di sini, jangan nakal !" ujar Umi Aliya sambil menggenggam erat tangan Alwan penuh harap.
"Belajar yang rajin, patuhi tata tertib Pesantren. cermati setiap materi yang dikasih sama guru-guru di sini. semoga kamu bisa jadi manusia yang berahlak, berilmu, dan bisa mengankat derajat kemuliaan Umi sama Abi." nasihat Umi Aliya yang tidak kuasa menahan tangis seraya memeluk Alwan.
Alwan hanya terdiam dengan menahan tangisnya, tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.
"jaga diri kamu baik-baik? Pluk pluk, " ujar Abi sambil menepuk pundak Alwan.
Abi tersenyum, melihat Alwan membasuh tangisnya. "jadi laki-laki enggak boleh cengeng, OKe ? " ujar Abinya Alwan.
Alwan hanya bisa mengangguk. "Alwan pingin ikut pulang sama Umi, Sama Abi !" gerutu Alwan dalam hati.
Alwan sebenarnya tidak mau jauh dari kedua Orang tuanya, namanya juga anak sulung yang manja.
***
Setelah melepas kepulangan Umi sama Abi, Ustazah Fatimah mengantar Alwan ke kobong santri putra, Untuk menyerahkannya kepada lurah Kobong laki-laki.
lurah kobong atau Rohis ? adalah seseorang yang diberi mandat oleh pemilik Yayasan sebagai ketua atau pemimpin. yang bertanggung jawab atas santri-santri juniornya, atau santri baru.
"Tuk tuk tuk." ketukan pintu
"Assalammualikum? " ucap Ustazah Fatimah.
"Waalaikumsalam Wr. Wb." jawab Ustaz Yusuf dari balik pintu.
"Ustazah Fatimah? silahkan, silahkan masuk ustazah." ujar Ustaz Yusuf.
"terima kasih Ustaz , saya cuma sebentar kok. saya ke sini hanya untuk mengantar santri baru." ujar Ustazah Fatimah dengan senyumnya yang menawan.
***
Ustazah Fatimah memiliki ciri fisik yang semampai, paras yang cantik, dengan senyum yang menawan. tidak heran kalau kaum Adam seusia Ustaz Yusuf, banyak yang mengagumi dan mendambakannya.
"Oh, begitu!" ucap ustaz Yusuf dengan senyum yang mengembang.
"kalau begitu saya permisi dulu. mari Ustaz ! Alwan, saya tinggal ya. Assalammualaikum?" ujar Ustazah Fatimah seraya menunduk, tanpa lupa untuk tersenyum.
"Terima kasih Ustazah, walaaikumsalam Wr. Wb." Ujar Ustaz Yusuf dan Alwan.
angan Ustaz Yusuf sejenak melayang. "subhanallah (maha suci Allah), semoga Allah memperkenankan kamu untuk ku, untuk menjadi bagian dari hidup ku." bisik Ustaz Yusuf dalam hati.
Senyum kasmaran tertuang di wajahnya "Astagfirallah halazim?" ucap Ustaz Yusuf yang tersadar, dengan sura yang samar sambil mengelus dada.
Alwan sedikit bingung melihat gelagat Ustadz Yusuf. "silahkan duduk, kamu siapa namanya?" tanya Ustaz Yusuf sambil mengepalkan tangannya. dengan ibu jari menunjuk, mengisyaratkan Alwan untuk lekas duduk di atas sopa.
"Nama saya Alwan pak Ustaz," ujar Alwan dengan lantang.
***
Mohon dukunganya like dan komentnya,
Dan klik ikuti. untuk mendapat kelanjutan ceritanya, Agar tidak ketinggalan.
setiap masukan kaka akan sangat membantu. untuk Meminimalisir kekuranga serta kesalahan di dalam kata, atu alur cerita.. 😊😊😊
Saya mohon Maaf, Bila ada kesalahan dalam kata dan penyampaian dalam kalimat yang kurang baik.
TERIMAKASIH 🙏🙏🙏
__ADS_1