Dalam Hijrah Ku

Dalam Hijrah Ku
rasa penasaran


__ADS_3

***


waktu berlalu.


tanpa teras setelah Alwan memperkenalkan diri kepada teman sekelasnya, dan menyelesaikan dua mata pelajaran dihari pertama.


"Kring kriiiiiiing?" Suara Bell berbunyi, menandakan waktu istrahat tiba.


"Ayo mang kita istirahat." ujar Andi.


"Ayo. Memang kantinnya sebelah Mana Mang Andi?" tanya Alwan. Andi tersenyum seraya menjelaskan.


"Disini belum ada kantin mang, ruang kelas saja masih dibagi sama kelas siang. sekolah ini baru berdiri tiga tahun sampe sekarang. Awalnya hanya ada SMP, sedangkan SMK baru dibuka tahun kemarin." terang Andi.


"Oh begitu. Terus kita mau jajan kewarung mana? " Tanya Alwan.


"Itu, Yang paling dekat. pemiliknya juga ramah" ujar Andi, sambil menujuk kesebrang jalan didepan pintu gerbang sekolah.


Alwan dan andi bersam temanya yang lain bergegas kewarung, terlihat suasan warung yang lumayan ramai dikerumuni anak-anak sekolah.


setelah Andi dan Alwan memilih beberapa jajanan?


"IBu?" panggil Andi kepada ibu warung.


"Eh, iyah Andi kenapa?" sahut ibu warung.


"Ini saya beli Tehgelas satu, gorengan dua, ketelanya satu. jadi berapa semuanya bu?" Tanya andi


"itu jadi lima ribu rupiah Andi. ini siswa baru yah?" Tanya Ibu warung seraya menunjuk orang disamping Andi.


"Iya bu, baru kemarin masuk pesantren." Ujar Andi sambil membayar dengan nominal uang yang pas.


"Ooooh? " pekik Ibu warung dengan Bimolinya (bibir menonjol lima mili).


"makasih ya Andi." ujar Ibu warung.


"sama-sama Ibu. " ujar Andi sambil melangkah mundur kebelakang, agar Alwan lekas bisa membayar jajanannya.


"Kamu mau beli apa A' (kaka)? " Tanya Ibu warung.


***


A' atau Aa. adalah panggilan orang sunda kepada seorang laki-laki, menggantikan kata lain seperti. Abang atau Kaka.


"Ini Bu?" ujar Alwan seraya menunjukan apa yang dipegangnya.


"Air mineral satu, roti satu, sama kripik kentangnya satu." ujar alawan.


"Em engga sama gorngannya sekalian? " tanya IBu Aidah (pemilik warung) menawarkan.


Alwan tersenyum. "Enggak Ibu makasih, kan sudah ada roti sebagai gantinya." ujar Alwan sambil mengangkat tangan kirinya, yang memegang roti.


"totalnya berapa bu..??" tanya Alwan.


Ibu Aidah menghitung jumlah harga yang mesti dibayar oleh Alwan.


"tujuh ribu rupiah A'


air mineral tiga ribu, rotinya dua ribu, keripik kentangnya juga dua ribu. " Ujar Ibu Aidah menjelaskan secara ditail.

__ADS_1


"Nama Aa siapa.? " Tanya Ibu Aidah seraya tersenyum melihatnya.


Alwan mengambil uang disakunya. "Ini Bu Ungnya? panggil saja saya Alwan bu." ujar Alwan sambil mengulurkan uang, dengan nominal dua puluh ribu.


"Oh Alwan. Semoga Alwan betah ya mondok disini? kalau nanti kamu butuh apa-apa, selagi belum mendapat kiriman uang bulanan dari orang tua. Alwan jangan sungkan-sungkan kesini, ambil jajan atau keperluan terlebih dahulu buat di pondok." Ujar ibu Aidah sambil menghitung Uang kembalian untuk Alwan.


"Oh iya Ibu, insyaallah. makasi, ibu Udah mau baik sama saya. " Ujar Alwan sambil tersenyum.


Ibu Aidah membalas senyum Alwan, sambil berkata "Iyah, Yang lain juga pada begituh? Kalau butuh apa-apa mereka suka kesini. Dan membayarnya sesudah mereka dapat kiriman dari rumah." Ujar IBu Aidah sambil Memberikan uang kembalian.


Alwan mengambil dan menghitung kembali uang kembaliannya. sambil alwan menghitung uang, IBu Aidah masih terus bicara. karena IBu Aidah orang Bawel, ramah dan juga baik. apa lagi sama anak-anak santri, sudah seperti anak sendiri."


IBu Aidah memberitau Alwan. "Anak IBu juga Mondok disitu wan, di ponpes kang Haji. mungkin kamu belum kenalkan? " Ujar Ibu Aidah.


"O yah. siapa bu? barang kali Alwan sudah mengenalnya." ujar Alwan.


IBu Aida tersenyum. "memangnya kamu sudah ada kenalan santri putri.?" tanya Ibu Aidah.


"Belum bu. memang anak Ibu perempuan ya?" tanya Alwan.


"Iya. anak IBu perempuan, sekarang dia masih kelas tiga SMP, biasanya masuk siang. Nanti kalau sudah lama disini kamu juga kenal. " Ujar IBu Aidah.


Alwan tersenyum lalu berpamitan. "mudah-mudahan begitu Bu. kalau begitu Alwan pamit dulu Bu, takutnya mang Andi sama yang lain nungguin Alwan.


Assalammualaikum." ujar Alwan.


Ibu Aidah mengangguk. "iya, Walaikummsalam Wr. Wb." jawab Ibu Aidah.


Meskipun Alwan sudah tidak terlihat, Ibu Aidah terjaga dalam senyumnya. Entah apa yang ada didalam benak ibu Aidah itu?


***


ketika Alwan akan masuk pintu gerbang.


"Mang, mang Alwan? " teriak Lutfi, dari sebrang jalan. Lutfi terihat sedang duduk bersama santri lainnya, juga mang Andi.


Lutfi berdiri, agar Alwan bisa lebih jelas melihatnya.


"Sebelah sisni? " lanjut lutfi sambil melambaikan tangannya."


Alwan menghampiri Lutfi dan kawan-kawan.


"Mang, lama amat bayarnya?" tanya Andi. Mereka duduk dibawah Pohon mangga yang rimbun, beralaskan kursi dari anyaman bambu. kalau kata orang sunda tepas (bale), yang artinya : tempat yang pas.


Alwan kemudian duduk diantara mereka. "Pasti diintrogasi ya sama Bu Aidah ? hi hi " ujar Lutfi dengan tawa kecilnya.


Alwan mengerutkan keningnya. "Enggak juga, kami cuma berkenalan. " ujar Alwan.


"Jangan gituh fi? nanti saya aduin sama Ibu loh, biar lue tidak dikasih ngebon (casbon) baru taurasa lue!" ujar mang Bayu, mengancam.


Bayu adalah temen sekelas Alwan, hanya beda kamar saja waktu dipesantren. bahasanya memang lue/gua, maklumlah anak kampung geude (jakarte).


"Ya janganlah mang, orang cuman bercanda," ujar Lutfi sambil tersenyum.


"Mang Andi? Memang bener ya, Anak Ibu warung itu mondok juga.?" Tanya Alwan. Andi menoleh kearah Alwan.


"Oh, anak Ibu Aidah?


Iyah Dia mondok juga. dia masih kelas tiga SMP mang, dan masuk siang. Anaknya cantik loh Mang?" ujar Andi.

__ADS_1


ketika alwan mengangguk sambil meminum air mineral. "geluk gluk gluk.. " suara tegukan air.


"Waduh? belum apa-apa udah dikenalin, jangan-jangan mau di jodohin lagi " Ujar Lutfi, seolah kaget.


Refleks Alwan menyemburkan air dari mulutnya. "burrrrr" suara air yang menyembur.


Lutfi yang saat itu duduk berhadapan dengan Alwan, turut menjadi korban.


Dalam keterkejutannya, Alwan menahan tawa


"Maaaf maaf fi? saya tidak sengaja." Ujar Alwan sambil menyeka baju lutfi, yang terkena cipratan air.


Mang Andi, Bayu dan Hadi, semunya tertawa lepas.


"Hahahaha " menertawakan lutfi.


Lutfi menyeka bajunya yang sedikit basah. "Wah, kebangetan mang. kalau kaget bialang-bilang dong?" ujar litfi sedikit kesal.


"Hahaha rasain lue Fi. makannya Fi, lain kali kalau bercanda harus tau situasi dan kondisi. orang lagi minum lue bercandain." Ujar Bayu


"sorry Fi, sayakan sudah bilang saya tidak sengaja." Ujar Alwan sambil menahan tawa.


"Iya iya. Hemh apes banget, untung aja air mineral.?" Ujar lutfi sedikit tertawa.


"Salah lue sendiri Fi, bencanda mulu." ujar Hadi, sambil memakan cemilannya.


"Mang? Kalau Mau tanya-tanya anak nya Ibu Aidah. nihhh? Tanya sama ini madesu-madesu (masadepan suram)." Ujar Bayu. menunjuk lufi dan hadi, sambil meledek keduanya yang seangkatan dengan Anaknya IBu Aidah.


"Ogahh" sambung Hadi.


"nanti saingan saya tambah banyak mang, semakin banyak saingan nantinya" ujar hadi. Mang Andi tersenyum mendengar obrolan mereka.


"Jangan begitu Die, jodoh enggak akan kemana. kalau memang dia jodoh kamu, siapapun tidak akan ada yang bisa melarang atau menghalangi. melainkan Allah yang Mahakuasa atas segalanya." Ujar Bayu, tertawa kecil sambil meledeknya.


Hadi mengunyah cemilan sambil berkata. "Lah iya kalau jodoh saya mang. kalau nanti kepincut sama mang Alwan, sampai dia bejodoh bagai mana? bisa kiamat deh ini dunia." Ujar hadi.


"Hemmm dunia lue aja sonoh sama Lutfi, dunia kitamah enggak, hahaha iya enggak mang Andi?" Ujar bayu, sambil menyidir mang Andi.


Alwan ikut menertawakan


"memang dia pacar Hadi ya mang? " Tanya Alwan kepada Bayu. Sedangkan Andi yang duduk disamping alwan, hanya ikut menyimak.


"Iyah pacarnya."ujar Bayu sambil menoleh kaarah Hadi dan Lutfi.


"Pacar dalam khayalan " lanjut bayu.


Andi, Lutfi dan bayu tertawa


"hahahahahaha" tawa mereka.


Alwan hanya menahan tawa dengan ragu, menyikapi candaan Bayu yang mengolok-ngolok hadi.


tapi hadi tidak marah, atau meras tersinggung. Yang ada Hadipun ikut tertawa bersama mereka.


Litfi terdiam mnaha tawa. "kalau mang Alwan mau kenal, engga apa-apa. yang terpenting jangan naksir aja.!" ujar Lutfi tersenyum kepada Alwan.


Alwan tersenyum mendengar kalimat Lutfi. "kenapa memangnya?" tanya Alwan sambil menyipitkan matanya.


 

__ADS_1


__ADS_2