
...----------------...
Pukul 21:00 waktu Rumah sakit.
Setelah selesai mengurus berkas pendaftaran rawat inap fatih, di bagian Administrasi rumah sakit. fatih di alihkan keruangan anyelir (nama ruangan perawatan), ruang rawat inap penyakit dalam.
setelah beberapa saat, memastika kondisi fatih jauh lebih baik. "Mang Alwan tunggu disini, mang Faiz kamu ikut saya kedepan. Saya mau keluar sebentar untuk membel beberapa makanan, untuk kita makan. sekalian saya mau menelphon ke pesantren, untuk menginformasikan tentang keadaan fatih kepada Akang. biar nanti Akang tidak cemas, dan bisa hubungi kedua orang tua fatih'." ujar Mang yusuf kepada Alwan.
"Iyah Mang, jangan lama-lama ya mang.?" ujar Alwan
"Iyah, ayo mang faiz?" ujar Yusuf.
Alwan duduk di samping fatih yang tertidur. "hemmmmmh. semoga kamu lekas sembuh ya Tih, aamin " gumam alwan sambil meregangkan kedua tangannya.
"hoooaaah" suara Alwan yang menguap. Alwan mengondisikan diri untuk tidur dengan posisi duduk, berharap bisa mengurangi rasa lelahnya, Seraya menunggu yang Mang yusuf dan faiz kembalai.
mang yusuf dan faiz berjan menuju jalan raya.
"saya engga nyangka mang, tebakan Alwan sama persis dengan apa yang dikatan dokter Nita." ujar yusuf
"Iyah, fikir saya juga seperti itu mang." ujar faiz.
"kecerdasan dan pengetahuan setiap orang akan suatu Hal, Memang tidak bisa terukur oleh umur.
Dan juga tidak dapat terkira berdasarkan sampulnya.
Ke pribadian seseorang, terutama dengan pengalaman yang baik. cenderung lebih tidak terlihat. Karena umumnya kita lebih sering melihat sisilain dari ketidak baikannya, kekurangannya, bukan kelebihannya.
Meski alwan bukan dokter atau perawat, tapi pengetahuan medisnya patut diacungi jempol. Itulah alasan saya memilih alwan untuk jadi seksi kesehatan, ketimbang yang lain yang lebih senior." jelas mang yusuf.
"Apa kamu ingat, ketika hardian kakinya menginjak pecahan gelas, sampai robek dan mengeluarkan banyak darah.?" ujar mang yusuf
"Iyah ingat" tanggap faiz.
"Apa kamu juga ingat ketika beberapa santri terpapar batuk dan filek.?" ujar mang Yusuf.
"iyah, karena saya juga pada saat itu terpapar." ujar faiz yang berbicara dengan mang yusuf sambil terus melangkah.
"Yang memberikan pertolongan pertama pada hardian adalah Alwan. ketika dia melihat luka hardian dia tidak panik, dia tidak menanyakan betadin. melainkan mengambil air bersih, dan mengunyah daun singkong yang dia petik di belakang kobong.
dia membasuh luka hardian dengan air, dan menempelkan daun singkon keluka hardian. yang sudah dia kunyahnya sampai hancur, Lalu dia mengikatnya dengan kain. seketika aliran darah di luka hardian terhenti.
Alwan memberikan menjelasan kepasa para santri. kalau daun singkong bisa menyumbat aliran darah yang keluar dan memiliki fungsi sebagai anti biotik.
Kemudian, malamnya dia membawa ramuan obat, warnanya hitam dan baunya tidak begitu enek.
Alwang bilang itu campuran bara yang menyala, gula aren, dan bawang merah yang ditumbuk halus. ini seperti salep, pungsinya sebagai kompres dan penawar racun. biar lukanya cepat kering, untuk mencegah pembengkakan dan panas pada luka.
rasanya tidak perih terhadap luka, yang ada terasa dingin kata hardian.." ujar mang yusuf.
"Iyah. dan pada saat santri terpapar filek dan batuk, dia membawa teko yang berisikan air yang sedikit berbau, Alwan bilang itu air sadapan dari batang talas. yang dia ambil di belakang dapur mang ajo jelasnya.
"Ini cobalah, rasanya emang tidak enak, tapi ini akan meredakan batuk dan filek mudah-mudahan lekas sembuh setelah minum ini kata alwan," dan itu bener terbukti setelah meminumnya, rasa gatal di tenggorokan saya berangsur-angsur hilang. **** rasa dari baunya itu tidak enak, saya meminum beberapa tegukan, karena ingin cepat sembuh pada waktu itu." ujar faiz.
__ADS_1
***
setibanya di pinggir jalan. Jalanan terlihat sangat ramai dengan pengendara, dan dipingiran jalan banyak warung-warung kecil. Ada juga penjul makanan dengan gerobak.
"mang faiz? kamu pesan nasi goreng tiga porsi, sekalian kamu beli roti dan air minum yah? Ini uangnya. saya mau menelpon akang dulu " ujar yusuf.
"Iya mang" sahut faiz.
setelah selesai, faiz menghampiri mang yusuf yang sedang menunggunya.
"udah semua.?" tanya mang yusuf.
"Udah mang" sahut faiz.
Mereka lalu kembali kerumah sakit, dan setibanya di tempat parkir.
"mang faiz boleh minta nasi gorngnya satu porsi?" ujar yusuf.
"iyah,," ujar faiz sambil memberikan semuanya. Tapi mang yusuf hanya mengambilnya satu.
"ini saya minta satu porsi" ujar mang yusuf.
faiz heran maksudnya apa.
"Ko di pisah mang, mang yusuf mau makan disini.?" tanya faiz.
"engga, saya mau makan di pesantren." ujar yusuf
"loh kenpa? Emang Mang yusuf mau balik ke pesantren sekarang?" tanya faiz.
"terus fatih gimna, kalau ada apa-apa nanti bagai mana.?" tanya faiz
"jangan risau. Kalau akang dan Eteh sudah kembali kepesantren, saya pasti kesini lagi." ujar yusuf
"tapi benerkan mang yusuf akan kesini lagi?" tanya faiz.
Mang yusuf membuka pintu mobil, dan langsung masuk.
"iyah tenang saja. Nanti kalau ada panggilan dari pihak rumah sakit, kamu suruh saja Alwan. dan kalau ada apa-apa sama fatih, panggil suster atau Dokter" ujar yusuf sambil menutup pintu mobil.
"ya sudah mang, hati-hati di jalan" ujar faiz.
"iyah." mang yusuf memberi isyarat untuk pamit.
"Tidd tidd" suara kelakson mobil yang di kendarai mang yusuf.
***
Faiz kembali kedalam rumah sakit seorang diri, dengan membawa makanan untuk dimakan bersama Alwan.
"Kreeek, cekleek" suara pintu yang terbuka dan tertutup lagi.
Alwan yang tertidur, kemudian terbangun karena itu.
__ADS_1
Faiz mengeluarkan nasi goreng dalam kantong pelastik. "nih mang kita makan dulu"
"Iyah, mang yusuf mana." tanya alwan.
"mang yusuf balik dulu kepesantren, tapi katanya secepatnya akan kembali"
Alwan duduk menghampiri faiz, yang duduk di lantai dengan beralaskan karpet yang di bawanya dari pesantren. "Oh gitu".
***
Pagi yang sibuk di rumah sakit, faiz seorang diri keluar untuk memberi sarapan pagi.
"Kreaaak," terdengar suara pintu yang terbuka.
"Assalammualaikum" suara yang membuka pintu.
"Waalaikumsalam wr, wb" jawab Alwan dan fatih yang sudah dalam kondisi membaik. alwan kaget dan heran melihat gerangan orang yang mengucapkan salam. "Ibu Aidah?" alwan beranjak dari tempat duduknya sambil terperangah.
Ibu Aidah tersenyum dan menghampiri mereka, dengan membawa bingkisa yang dibungkus dengan kantong pelastik.
"bagai mana keadan kamu sekarang fatih?" tanya Ibu Aidah seraya menghampiri keduanya.
"Alhamdulilah bu. sekarang kondisinya sudah sedikit membaik, seperti yang terlihat" ujar Alwan sambil mencium tangan ibu Aidah.
"Syukur Alhamdulilah, makasih yah wan. maaf kalau ibu sudah banyak ngerepotin kamu.." ujar Bu Aidah.
"Iyah bu Sama-sama, lagi pulakan sudah tugas Sayah mewakili pesantren." ujar Alwan
"Ini ibu bawain nasi sama cemilan, pasti kalian belum pada sarapankan?" ujar Ibu Aidah.
"makasih banyak bu." pekik alwan.
"Kalau Fatih tadi udah sarapan, di kasih setaf rumah sakit sekalian minum obat" ujar fatih.
"syukur kalau begituh. Ini wan, biar kamu saja yang sarapan, ibu udah cape-cape masak loh untuk dibawa kesini." ujar bu Aidah.
"nanti saja bu, saya tunggu faiz dulu."
"emangnya faiz kemana?" tanya bu aidah
"kedepan beli buat sarapan. ngomong-ngomong kok Ibu bisa tau kalau fati dirawat.?" tanya alwan.
Ibu aidah tersenyum. "Fatih itukan keponakan ibu, Uwa tadi subuh dapat telphon dari mamah kamu, katanya mamah sama ayah kamu belom bisa kesinih. mereka masih menghadiri acara pernikahan di solo, sedari kemaren kamu pasti sudah taukan? tapi mamah kamu bilang setelah izabnya selesai, mamah kamu akan langsung pulang kebogor secepatnya. Makannya mamah kamu nyuruh Uwa kesinih buat mastiin kondisi kamu.." Ujar Ibu Aidah ke fatih. Alwan hanya bisa menggaruk kepalanya.
"Iyah, makasih uwa sudah mau kesinih gantin maah." ujar fatih dengan nada yang masih lemah.
"Oh jadi fatih ini keponakan Ibu.?"
Rasa penasaran Alwan terjawab sudah, setelah mendengar penjelasan Ibu Aidah tadi.
"Iyah, mamahnya fatih adalah Adik Ibu,," ujar Ibu Aidah ke pada alwan
"uwa kesini amah siapa?" tanya fatih memotong percakapan.
__ADS_1
...----------------...