
Beberapa hari berlalu, Anggi telah meninggalkan apartemen milik Alexa dan pindah ke apartemen yang dibelikan oleh Reynan untuk tempat tinggal sementaranya. Reynan menjanjikannya untuk membelikan apartemen mewah dalam waktu dekat dan Anggi memercayai ucapan kekasihnya itu.
“Kamu tempati ini dulu sementara, setelah aku mencairkan depositku maka aku akan membelikan apartemen yang jauh lebih mewah dari yang kau tempati dulu,” pinta Reynan kala itu saat mengantar ke apartemen yang dibelinya untuk Anggi, apartemen biasa yang jauh dari milik Alexa yang ditempati oleh Anggi.
Anggi melihat sekeliling apartemen itu, ia ingin menolak tapi kekasihnya itu telah berjanji akan membelikannya yang lebih mewah dari milik Alexa yang ia tempati dulu.
“Baiklah, tapi jangan lama-lama, aku tak akan sanggup lama-lama tinggal di apartemen kecil ini,” sahut Anggi dengan rengekkan manjanya pada Reynan membuat pria itu tak bisa menahan dirinya.
“Kau selalu saja menggodaku.” Reynan langsung menyerangnya dengan pergulatan panas siang itu.
***
“Ajeng, ini apartemen milikku yang tadinya ditempati oleh Anggi, kini kuberikan padamu. Kamu tenang saja, selama kamu tak mengecewakanku seperti Anggi, maka apartemen ini akan menjadi milikmu seutuhnya. Kau sudah boleh menempatinya hari ini juga,” ucap Alexa kala mengajak Ajeng ke apartemen yang telah ditinggalkan oleh Anggi atas permintaannya.
“Terima kasih banyak, Bu. Saya sangat bersyukur Anda telah memberikan kepercayaan Anda pada saya. Saya berjanji tak akan seperti kacang yang lupa akan kulitnya, tak mungkin saya akan menghianati Anda seperti Anggi,” sahut Ajeng yang merasa bersyukur, Alexa dan Riana tersenyum senang mendengar penuturan dari gadis polos itu.
Riana merasa welcome pada Ajeng karena selama ini sikapnya yang sopan dan juga polos. Satu tahun lamanya Ajeng bekerja sebagai asistennya Michele yang membantu pria bertulang lunak itu dalam make up para model. Riana telah hafal dengan sikapnya, tak seperti saat bertemu dengan Anggi pertama kali, ia sudah tak menyukainya.
“Aku percaya kau akan setia pada Bosmu, Ajeng. Aku pastikan kariermu akan lebih melejit dari wanita tak tahu terima kasih itu. Kamu tenang saja, asal kau menurut pada kami, maka semua yang kau butuh kan akan kami prioritaskan,” ucap Riana menimpali.
“Sekali lagi terima kasih banget yah, Bu. Kalian sungguh baik padaku, aku akan bekerja keras dengan sungguh-sungguh.” Ajeng sangat terharu dan bersyukur.
Hari itu, apartemen itu langsung ditempati oleh Ajeng. Bagaikan mimpi bagi gadis muda itu bisa tinggal di tempat yang mewah dan berAC. Ia tak perlu lagi membayar uang sewa untuk tempat tinggalnya dan ia juga bisa memasak mulai sekarang.
__ADS_1
*
Hari berlalu, Ajeng sudah mulai berlatih bagaimana menjadi seorang model. Alexa dan Riana melatihnya dengan begitu tegas, tak sedikit pun mereka lembek pada gadis muda itu. Namun, tak membuat Ajeng menjadi kesal karena ia telah bertekad untuk menjadi berguna bagi Alexa yang telah memberinya perubahan dalam hidupnya.
Satu bulan berlalu, perkembangan Ajeng sungguh menakjubkan, ia kini sudah siap untuk dipinang kontrak oleh Litto Group untuk menjadi brand ambasador perusahaan perhiasan itu.
“Bu, apakah saya tak akan mengecewakan yah? Ini pertama kalinya saya akan tanda tangan kontrak dan menjadi model brand ambasador dari perusahaan ternama. Biasanya saya hanya akan melakukan pemotretan dan fashion show biasa saja,” tanya Ajeng yang merasa deg-degan.
Alexa dan Riana tersenyum, mereka saat ini tengah berada di sebuah resto ternama untuk pertemuan perihal penandatanganan kontrak antara Vien Group dan Litto Group.
“Kamu tenang saja, aku yakin kamu bisa kok, kan kita sudah berlatih dengan keras selama in,” sahut Alexa meyakinkan Ajeng.
Tak lama Tino datang dengan asistennya, pembicaraan dimulai dan kerja sama pun terjalin dengan begitu lancar sesuai dengan apa yang mereka rencanakan. Tino memang menunggu Ajeng siap untuk menjadi model dari perusahaannya. Sedangkan Floren lebih memilih Anggi yang menjadi modelnya karena ia tak ingin menunggu lama.
***
“Lihatlah istrimu itu, Rey. Sudah menjadi wanita karier sungguh tak menghargaimu sebagai suaminya lagi. Seenaknya saja dia pulang terlambat darimu, harusnya meski ia berkarier, ia juga harus memikirkan suaminya dan pulang lebih awal dari suaminya untuk menyambut kamu pulang kerja. Ini malah hingga malam baru pulang, pasti dia habis bertemu dengan pria lain di luar sana, karena Jenny yang bekerja dengannya saja sudah pulang lebih dulu,” cebik Ambar menatap sinis pada menantunya itu.
“Mah, Kak Lexa banyak pekerjaan, aku bisa pulang lebih awal karena pekerjaanku sudah selesai.” Jenny mencoba membela Alexa.
“Selalu saja kau membelanya, Jenny. Mamah tahu kau menutupi kelakuan bu*uk Kakak iparmu itu kan?” kesal Ambar tak suka putri satu-satunya selalu saja membela menantunya itu.
“Maaf, Mah. Kelakuan bu*uk mana yang harus kututupi? Aku tak pernah melakukan sesuatu yang melewati batasan, aku nyata bekerja. Aku akui kalau memang aku jarang ada di rumah saat suamiku pulang, tapi dulu saat aku belum bekerja, Mas Reynan pun jarang pulang, itulah mengapa aku ingin terjun ke dunia bisnis agar aku tak kesepian menunggu suamiku pulang. Tolong Mamah jika tak memiliki bukti, jangan bicara yang tidak-tidak tentangku.” Alexa angkat bicara karena Ambar selalu saja mencari kesalahan dirinya saat pulang kerja.
__ADS_1
“Kau, dasar menantu kurang ajar, berani sekali kau berkata tak sopan pada mertuamu sendiri,” pekik Ambar yang tak senang Alexa melawan dirinya.
“Mah, sudahlah. Mau sampai kapan Mamah memusuhi menantu Mamah sendiri? Aku lelah jika saat main ke rumah Mamah, selalu saja kalian berdebat. Tak salah Alexa bekerja, Clarisa bahkan bekerja sebagai model di kantorku, aku tak mempermasalahkannya saat ia sibuk dengan jadwal pemotretannya. Mengapa Mamah begitu tak senang melihat Alexa sukses dalam kariernya?” Jimmy ikut angkat bicara membela Alexa dengan menyamakan istrinya yang juga bekerja dalam lingkup modeling.
“Kamu juga sama saja dengan Jenny, selalu membela Adik iparmu itu. Kamu malah membiarkan putramu bekerja padanya bukannya bekerja di perusahaanmu atau di perusahaan keluarga,” kesal Ambar yang melihat putra tertuanya juga membela Alexa.
“Sudahlah, tak ada yang sepaham dan sejalan sama mamah.” Ambar pergi meninggalkan mereka karena kesal kedua anaknya membela Alexa.
Alexa menatap pada suaminya yang hanya diam saja saat ibunya membicarakan sesuatu yang tak enak di dengar olehnya. Ia menghela napasnya dan berpamitan pada yang lainnya.
“Kak Jim, Kak Risa, Jen, Pah, aku pamit istirahat dulu yah, selamat malam.” Alexa pergi setelah berpamitan pada ipar dan mertuanya, ia tak sekalipun menyapa suaminya itu.
Sampainya dikamar, ia langsung membersihkan tubuhnya yang lengket. Setelah segar kembali, ia langsung merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Saat matanya baru saja terpejam, ia merasakan sebuah tangan merayap di tubuhnya. Matanya terbuka perlahan, ia tahu tangan milik siapa itu, seketika Alexa melepaskan tangan tersebut.
“Aku lelah, ingin istirahat. Bukannya kau sudah kenyang dengan servisan ja**ngmu itu.” Alexa bangkit meraih bantal menuju walk in closet, setelah mengambil selimut, ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang.
Reynan berjalan mendekati istrinya dan duduk di meja depan sofa tempat di mana Alexa terbaring.
“Aku rindu padamu, apakah kau tak merindukanku?” tanya Reynan sambil memainkan rambut istrinya itu.
“Tidak, yang kuinginkan saat ini adalah istirahat tanpa diganggu olehmu. Jika kau butuh pelepasan, kau bisa temui ja**ngmu itu untuk memuaskan has*atmu yang penting jangan mengganggu aku,” sahut Alexa, Reynan hanya menghela napasnya berat.
“Inilah yang membuatku mencari wanita lain, kau selalu tak pernah melayaniku dengan baik belakangan setelah kau memulai bisnis,” ucap Reynan mencoba mengatakan keluhan hatinya.
__ADS_1
Alexa bangun dari pembaringannya dan menatap suaminya itu tajam.