
Di meja makan, Alexa dengan diam mengambil roti tawar dan mengolesinya dengan selai coklat dan kacang kesukaannya setelah ia membuat teh lemon hangat. Ia makan dengan tenang dan diam meski Ibu mertuanya selalu mengucapkan ucapan yang menyindir tentang dirinya. Ia tak ingin ambil pusing, lima tahun menjadi menantu keluarga Wesley sudah membuat telinganya kebal dengan ucapan sindiran pedas dari mertuanya, bahkan bon cabai level tiga puluh pun kalah pedasnya dari ucapan Ibu mertuanya.
“Aku pergi dulu, permisi.” Alexa bangkit setelah roti ditangannya dan segelas teh lemon hangatnya habis, ia tak ingin berlama di meja makan bersama Ibu mertuanya meski ada kerabat lainnya, telinganya akan panas jika ia tetap berada di sana.
Tak lama Arion datang menyusul Alexa yang berniat berangkat dengan taksi. Sebelum sempat ia memesan taksi dari ponselnya, Arion sudah lebih dulu mengambil ponselnya dan menarik tangannya untuk ikut dengannya menuju mobilnya. Alexa tak bisa berontak karena tak ingin orang rumah yang sedang dalam keadaan tenang datang menghampirinya dan melihat apa yang tengah mereka lakukan. Ia ikut begitu saja saat Arion menggandengnya dan masuk ke dalam mobil.
“Dasar tukang memaksa,” cebik Alexa yang tengah menggunakan seat beltnya, Arion hanya terkekeh melihat Alexa yang kesal karena dirinya.
Cup...
Satu kecupan di pipi Alexa membuat wanita itu tertegun, ia menoleh pada Arion dengan tatapan menusuk.
__ADS_1
“Bagaimana kalau ada yang lihat? Masuk ke dalam mobilmu saja sudah membuatku jantungan, ditambah lagi kelakuanmu yang seperti anak remaja labil. Aku tak ingin ke tangkap basah oleh orang lain, nanti mereka berpikir kalau aku ada affair denganmu, padahal kita tak ada hubungan apa-apa,” protes Alexa.
“Iya-iya maaf, aku tak bisa menahan diri saat di dekatmu. Jangan merajuk lagi nanti aku cium lagi kalau kamu cemberut begitu. Sekarang kita berangkat.” Arion melajukan mobilnya setelah berucap demikian.
Setengah jam perjalanan menuju perusahaan milik Alexa, wanita itu langsung turun begitu mobil berhenti meninggalkan Arion yang masih berada di dalam mobil. Jika ia turun lebih lambat, takutnya pria itu akan menyosornya kembali, dan ia tak ingin itu karena takut ada yang melihatnya.
Arion berlari mengejar Alexa yang sudah lebih jauh, ia memang berniat menciumnya sekali lagi tadi sebelum memulai aktivitasnya. Namun, siapa sangka saat ia sedang membuka seat beltnya, Alexa malah lebih dulu melarikan diri sehingga membuat ia gagal untuk mendapatkan suntikan energi tambahan dari pujaan hatinya itu.
“Pagi.” Alexa memang sangat ramah, ia selalu menjawab sapaan siapa saja yang menyapanya.
Ia sampai di ruangannya, tak lama Riana sebagai wakil presdir dirinya masuk dan memberitahu kalau hari ini seharusnya ia ada rapat tapi tak bisa menghadirinya karena harus mendampingi Ajeng untuk tanda tangan kontrak dengan klien penting. Jadi, Riana meminta Alexa untuk menggantikan dirinya bersama dengan Arion.
__ADS_1
“Apakah tak ada orang lain selain Rion, Kak? Apakah Vanya sangat sibuk?” tanya Alexa yang sebenarnya enggan pergi dengan keponakan suaminya itu.
“Vanya akan ikut denganku, Lexa. Jadi, kamu pergi dengan Rion saja. Aku sudah memanggilnya, dia akan datang sebentar lagi, aku sudah memintanya untuk ke sini,” sahut Riana membuat Alexa lemas karena harus pergi dengan Arion.
Tak lama pria yang disebutkan itu datang dengan wajah penuh senyum yang merekah. Riana melihat wajah Arion yang tak biasa, ia menatap tajam pada Alexa.
“Kau jangan berpikir yang macam-macam yah Kak Ri,” ucap Alexa seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Riana.
“Aku tak mikir apa-apa, Beb. Ya sudah, aku sudah terlambat. Rion, kau temani Lexa untuk rapat di resto X yah, rapat ini sangat penting, tapi teken kontrak untuk Ajeng juga penting. Aku tak sadar kalau waktunya bertabrakan.” Riana pergi setelah berucap demikian, Alexa hanya bisa menghela napasnya berat, sedangkan Arion tersenyum dengan begitu lebarnya.
“Gak usah nyengir-nyengir, gak ganteng juga,” cebik Alexa kesal melihat Arion yang tersenyum terus karena senang.
__ADS_1
“Berarti aku sedang dalam hati yang bahagia, makanya aku senyum terus. Kalau aku sedang emosi, kamu sudah menjadi sasaran empuk untuk meredam emosiku,” sahut Arion dengan santainya. “Ayu pergi, janji temu jam delapan, sekarang sudah hampir jam delapan,” ajak Arion seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Alexa melihat jam dan ternyata benar, ia langsung meraih tasnya dan ponselnya, mau tak mau ia harus pergi dengan pria yang tukang nyosor itu.