Dalam Pelukan Keponakan Suami, Setelah Dikhianati

Dalam Pelukan Keponakan Suami, Setelah Dikhianati
Episode 17 > Kesempatan


__ADS_3

“Ayu pulang,” sebuah mobil menghampiri Alexa yang berjalan ke arah mobilnya, mobil itu adalah mobil milik Arion.


“Tak, aku bisa pulang sendiri,” sahut Alexa.


Arion mengangkat sebuah kunci mobil yang ternyata milik Alexa. “Apakah kau bisa pulang kalau tak ada ini?” tanya Arion dengan senyuman liciknya, wajah Alexa berubah menjadi kesal, ia akhirnya naik ke dalam mobil milik Arion.


“Kembalikan kunci mobilku,” pinta Alexa.


“No, akan kukembalikan nanti, kalau kita sudah sampai rumah,” sahut Arion menaruh kembali kunci mobil milik Alexa ke dalam sakunya, ia mengemudikan mobilnya dengan senyum merekah mengingat saat ia mengambil kunci mobil milik Alexa ketika menciumnya tadi, jika tak seperti iru maka wanita cantik itu tak akan bersedia pulang bersama dengan dirinya.


Hari ini Arion akan mengunjungi Kakek dan Neneknya yang tak lain adalah mertua dari Alexa. Ia berencana menginap malam ini karena esok ia akan mengantarkan Alexa lagi ke kantor sekalian bareng dirinya.


Sampainya di rumah, Alexa turun dengan raut wajah yang cemberut. Ia melewati ruang keluarga begitu saja meski ada mertuanya. Sedangkan Arion langsung menyapa Amber dan Johan, mereka mengobrol bersenda gurau bersama.


“Rion, mau sampai kapan kamu bermain-main terus?” tanya Amber yang tak dimengerti oleh Arion.


“Maksud Nenek?” Arion balik bertanya.


“Kau seharusnya sudah mewariskan perusahaan Papahmu, tapi kau malah terus bermain-main dikantor milik Bibimu. Jika kau tak ingin bekerja dikantor Papahmu, kau bisa bekerja dikantor Nenek. Nenek akan memberikanmu jabatan yang bagus sesuai dengan lulusanmu. Kau itu lulusan dari luar negeri, !asa hanya jadi karyawan biasa di perusahaan kecil milik Alexa, mau ditaruh di mana wajah Nenek dan kedua orang tuamu kalau orang tahu?” ucap Amber langsung pada intinya, ia ingin membuat cucunya itu sadar akan siapa dirinya dan di mana seharusnya ia berada, bukan di tempat Alexa yang masih sebesar biji jagung, pikir Amber.


“Nek, ini kehidupanku, aku yang menjalaninya. Ini adalah pilihanku sendiri, bukan orang lain yang memintanya. Jika sudah saatnya tiba, aku akan kembali pada Red Sky Group. Untuk saat ini aku ingin membantu Vien Group agar berkembang seperti Red Sky Group dan Wesley Group,” ucap Arion menjelaskan.


“Kau ingin perusahaan Bibimu itu berkembang, Rion? Kau jangan gi*a, Vien Group adalah perusahaan pesaing, jika kau membantunya berkembang, sama artinya dengan kau membuat perusahaan orang tuanya menjadi kecil di hadapan perusahaan kecil itu. Nenek tak setuju dengan apa yang kau lakukan. Segera kembali pada perusahaan Papahmu atau-“


“Atau apa, Nek? Nenek mau membuat perusahaan Alexa lenyap, begitu? Jika itu terjadi, maka aku orang pertama yang akan membuat Wesley Group lenyap juga. Aku lelah, ingin istirahat sebentar sebelum makan malam. Malam ini aku akan bermalam di sini.” Arion pergi setelah berucap demikian, ia menuju kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Alexa dan Reynan, Amber tak habis pikir dengan apa yang dilakukan cucunya itu.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, Alexa yang tengah berada di dapur mendengar percakapan cucu dan nenek itu.


*


Di dalam kamar, Arion membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Ia ingin istirahat sejenak sebelum mandi, ia tak ingin memikirkan apa yang dikatakan oleh Neneknya. Baginya kehidupannya bahagia atau tidak, hanya dialah yang tahu dan menjalankan, orang lain meski keluarga sendiri tak perlu ikut campur.


“Aku pasti bisa mendapatkanmu, pasti. Tak lama lagi kau akan jatuh cinta padaku, aku akan membuatmu menjadi milikku. Akan kubahagiakan kau ketika telah menjadi milikku dan tak akan kubiarkan kau lepas dariku,” gumam Arion yang begitu mendamba pada istri pamannya itu.


Tak lama mata Arion terpejam, ia tengah terlelap dalam tidurnya. Mimpi manis ketika bersama wanita pujaannya membuat tidurnya begitu lekap dan indah. Hingga sebuah ketukan pada pintu membangunkan dirinya.


“Masuk ajah, gak dikunci,” ucap Arion dengan suara seraknya.


Tak lama pintu terbuka, Jenny berjalan masuk menghampiri Arion yang masih asyik bergulat dengan tempat tidurnya.


“Nenek dan yang lainnya menunggumu untuk makan malam, cepat bangun,” ucap Jenny.


“Aku malas, katakan saja pada Nenek kalau aku tak lapar,” tolak Arion.


“Yakin kau tak ingin makan masakan Kakak ipar? Dia sudah masak saat lelah, kau tak ingin mencicipinya. Ah, andai ada Kak Reynan, Kak Lexa pasti tak akan kesepian seperti ini,” goda Jenny, dua informasi yang membuat Arion langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


“Katakan pada Nenek, aku akan menyusulnya sepuluh menit lagi,” ucap Arion membuat Jenny terkekeh.


“Kau tak mungkin bisa menolak jika aku membawa nama Kakak ipar. Kakak ipar, maaf aku menggunakan namamu untuk membuatnya bergabung dengan kita, hehe.” Jenny terkekeh dan meninggalkan kamar Arion.


Sepuluh menit, Arion telah bergabung di meja makan. Ia duduk tepat di hadapan Alexa duduk, tatapannya tak lepas dari wanita itu. Ia melihat sekeliling tak mendapati pamannya yang breng**k itu.

__ADS_1


“Apakah Paman tak pulang? Mengapa tak ikut makan malam bersama dengan kita?” tanya Arion basa-basi ingin tahu apakah yang dikatakan Jenny benar atau tidak kalau Reynan tak pulang.


“Pamanmu mungkin tak pulang malam ini, dia sudah biasa tak pulang karena kumpul bersama teman-temannya saat malam. Mungkin ia akan pulang menjelang pagi, atau tidak sama sekali.” Ambar memberitahu, ada raut wajah bahagia dari Arion kala mendengar hal itu, sedangkan Alexa biasa saja, ia sudah terbiasa akan hal itu dan ia sudah dapat menebak di mana suaminya itu berada, bukan sedang kumpul dengan temannya, melainkan sedang kumpul kebo.


“Ada apa memangnya?” Amber bertanya kembali.


“Tidak ada apa-apa, hanya saja malam ini aku menginap di sini, kupikir Paman ada, aku ingin mengajaknya mengobrol,” sahut Arion beralasan, padahal ia sangat senang Reynan tak ada, ia bisa berduaan bersama dengan Bibinya itu meski nantinya Alexa menolak.


Makan malam berjalan dengan lancar dengan sesekali obrolan antara cucu dan Nenek. Setelah selesai, Alexa membereskan semuanya dibantu dengan Jenny dan para pelayan lainnya. Meski Jenny majikan, tapi ia tak sungkan melakukan hal itu karena ada Alexa yang bersama dengannya, baginya bersama dengan Alexa membantu seperti ini lebih menyenangkan daripada mengobrol dengan sang mamah.


Setelah selesai, Alexa berencana kembali ke kamarnya untuk istirahat karena ia merasakan lelah pada tubuhnya.


“Sepertinya dipijat enak juga,” ucap Alexa memegang bahunya yang kaku.


“Bagaimana kalau esok weekend kita ke spa? Aku juga ingin pijat, sudah lama aku tak pijat,” saran Jenny.


“Boleh banget, sekali-kali kita merelakskan dan memanjakan tubuh sendiri apa salahnya. Ya sudah, lusa weekend, kita ke spa yah,” sahut Alexa yang setuju akan saran adik iparnya. “Aku kembali ke kamar dulu, mau istirahat.”


“Bye Kak Lexa, aku juga mau istirahat, lelah sekali, esok Ajeng ada pemotretan soalnya seharian jadi aku harus stay seharian, akan sangat melelahkan esok,” ucap Jenny, dan mereka menuju kamar masing-masing, Alexa naik ke lantai atas, sedangkan kamar Jenny berada di bawah.


Saat memasuki kamar, Alexa terkejut karena ada yang memeluknya dari belakang.


“AH!” pekik Alexa yang terkejut.


“Ssttt...”

__ADS_1


__ADS_2