
Alexa sengaja duduk di kursi penumpang karena ia tak ingin berada dekat dengan Arion.
“Kamu sungguh kejam sekali, Lexa. Masa aku suruh jadi sopirmu, tak bisakah kamu duduk di depan bersama denganku?” pinta Arion dengan rengekan manja membuat Alexa memutar bola matanya jengah.
“Tak bisakah kau menyetir saja? Duduk di depan atau di belakang sama saja, jadi tak perlu banyak protes. Aku hanya mewanti serangan mendadak saja,” sahut Alexa santai.
“Kamu sendiri yang mengatakan duduk di belakang atau di depan sama saja, jadi akan lebih baik kalau kau pindah duduk di sampingku, oke.” Arion menaik turunkan alisnya seraya tersenyum lebar, Alexa masih tak menghiraukannya, ia sudah sangat PW dengan posisinya.
“Oke, jika kamu tak ingin pindah, maka aku tak akan membawamu pergi,” sambung Arion yang malah melipat tangannya didada bukannya menyetir.
“Kau mengancamku? Apakah kau tahu jam berapa ini? Kau mau kupecat?” kesal Alexa melihat tingkah Arion yang seperti anak kecil.
“Pecat saja, kau tak akan bisa memecatku karena aku bukanlah karyawan resmi kantor ini. Aku pemegang saham terbesar ketiga setelah kau dan Kak Ri. Aku juga tak pernah melamar pekerjaan di sini, aku datang dengan suka rela dan Nyonya Alexandra yang terhormat menerimaku dengan senang hati,” sahut Arion dengan begitu santainya, Alexa yang kesal langsung turun dari mobil dan berpindah ke kursi samping kemudi, Arion tersenyum lebar penuh kemenangan.
“Yes,” gumamnya dengan begitu semangat.
Braakkk...
__ADS_1
Pintu mobil ditutup dengan begitu kencangnya, beruntung Arion tak memiliki penyakit jantung kronis. Andai saja memilikinya, ia yakin pasti saat ini ia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat karena jantungnya yang koleps.
“Jalan,” pekik Alexa dengan nada sedikit tinggi dan kesal, tanpa bicara banyak Arion langsung menyalakan mesin mobilnya, dan mobil pun melesat meninggalkan area parkir.
Andai saja kunci mobilnya sudah dikembalikan, ia tak perlu repot-repot pergi dengan keponakan lucknut ini, pikir Alexa.
Sepanjang perjalanan Alexa hanya diam dan menatap keluar jendela saja melihat pemandangan jalanan yang begitu padat oleh kendaraan roda empat dan dua.
Tak ada pembicaraan dari kedua orang yang berada di dalam mobil itu, terlihat tampak seperti tak ada kehidupan karena hanya sunyi, sepi, nyenyet yang terasa saat itu, bahkan suara deru napas mereka pun hampir tak terdengar sama sekali.
Sekitar satu jam lamanya karena sempat macet, akhirnya mobil sudah berhenti di tempat yang telah dijanjikan untuk pertemuan dengan rekan bisnisnya. Setelah menengok kanan dan kiri akhirnya mereka ketemu dan rapat pun dimulai.
“Mau makan siang bersama?” tawar Arion setelah klien mereka pergi.
“Karena aku lapar, jadi aku akan menyetujuinya. Tapi kamu yang traktir karena kamu yang menawariku,” sahut Alexa, Arion terkekeh kecil dengan tingkah Alexa yang begitu sangat menggemaskan itu.
Ah, andai saja saat ini mereka sedang berada di dalam mobil, mungkin ia akan menyosornya, pikir Arion.
__ADS_1
“Pilihlah makanan apa yang ingin kau makan.” Arion memberikan buku menunya pada Alexa seraya memanggil pelayan resto itu.
“Aku akan memilih makanan yang paling mahal dengan porsi jumbo,” ucap Alexa tersenyum miring.
Tak butuh waktu lama, Alexa sudah memilih menu yang ia inginkan.
“Silakan dinikmati. Ini pesanan Anda yang akan dibawa pulang.” Seorang pelayan memberikan bungkusan yang ternyata berisi makanan, Alexa sengaja memesan makanan untuk dibawanya kembali ke kantor untuk ia bagikan pada beberapa karyawannya, mumpung gratis pikir Alexa.
“Sungguh sangat licik, kau berencana ingin membuatku bangkrut begitu?” tanya Arion dengan senyuman miringnya.
“Makanan seharga segini tak akan membuatmu bangkrut. Beramal sekali-kali tak masalah. Jangan banyak protes, cepat makan dan kita segera kembali ke kantor,” balas Alexa, Arion makin terpesona pada wanita yang duduk di hadapannya itu, ia tak pernah berhenti peduli pada orang lain.
Selesai makan keduanya segera kembali, Alexa masih memiliki pekerjaan yang belum selesai ia kerjakan dikantornya. Ia ingin segera menyelesaikannya karena ingin pulang lebih awal dan berharap saat pulang suaminya telah berada di rumah. Namun, saat ia baru akan masuk ke dalam mobil, Alexa melihat Reynan berjalan begitu mesra dengan Anggi.
Darahnya berdesir, emosinya memuncak, Alexa ingin segera menghampiri mereka dan menjambak rambut Anggi yang tergerai itu hingga tersungkur mencium lantai. Tapi ketika kakinya akan melangkah, Arion segera menghentikannya.
“Apakah kau ingin mempermalukan dirimu di depan orang lain? Anggi akan sangat senang melihatmu begitu cemburu karena ia merasa menang dapat mengusai suamimu. Biarkan saja mereka, kita harus segera kembali ke kantor,” bisik Arion yang memeluk Alexa dari belakang.
__ADS_1
Memang, di saat genting seperti ini Arion sangat dibutuhkan agar Alexa tak mengambil keputusan yang gegabah. Tapi terkadang pria itu juga membuatnya kesal karena menyosor sembarangan seperti bebek.