Dalam Pelukan Keponakan Suami, Setelah Dikhianati

Dalam Pelukan Keponakan Suami, Setelah Dikhianati
Episode 22 > Meluapkan emosi


__ADS_3

Alexa menuruti perkataan Arion, ia kembali ke kantornya untuk melanjutkan pekerjaannya daripada melakukan hal yang konyol yang akan mempermalukan dirinya , begitulah kata Arion.


“Lebih baik kita ke kolam untuk menenangkan pikiran. Sudah lama juga kita tak berenang bersama. Siapa tahu dengan olah raga di dalam air, maka pikiranmu kembali jernih dan segar. Aku akan meminta office girl untuk mengantarkan camilan dan coklat panas kesukaanmu, bagaimana,” saran Arion, ia melihat Alexa yang sedari keluar dari area parkir resto tak fokus pada apa pun.


“Boleh, aku akan berganti pakaian dulu.” Alexa berjalan menuju ruang kerjanya untuk meletakkan berkas dan tasnya.


Setelah semua di taruh di ruangannya, Alexa berjalan menuju kolam yang terdapat di area belakang kantornya. Terlihat Arion sudah berganti dengan celana renangnya, beberapa camilan dan dua gelas minuman juga sudah tersedia di meja. Arion memang selalu bisa diandalkan.


Alexa langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian renang, ia menghampiri Arion yang sudah lebih duku berada di dalam kolam. Alexa membuka jubah mandinya dan terjun ke dalam kolam, ia berenang dengan begitu lincahnya.


“Mau tanding?” tawar Arion.


“Siapa takut,” sahut Alexa, mereka jika sedang akur terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.


Alexa dan Arion berlomba untuk mencapai pada titik akhir kolam tersebut. Dengan begitu penuh semangat, Alexa ingin mengalahkan Arion. Ia begitu bersemangat karena emosinya yang sedang memuncak, ia tumpahkan pada tanding renang ini.

__ADS_1


Dalam emosinya itu, Arion meraih tubuh Alexa dan memeluknya di dalam air, ia memagut bibir merah delima itu dengan lembut.


“Sudah cukup, emosimu sudah cukup kau keluarkan, jangan lagi kau marah karena perbuatan pria br*ngs*k itu,” ucap Arion setelah melepas pagutan bibir mereka.


Alexa tak menjawabnya, ia meletakkan kepalanya di pundak pria tampan yang lebih muda darinya itu.


“Apakah aku kurang cantik? Atau aku tak seksi? Apa yang membuatnya begitu tega bermain wanita di belakangku? Apakah dia tak memikirkan bagaimana perasaanku? Andai dia berada diposisiku, apakah dia akan merasakan hak yang sama seperti yang kurasakan?” Alexa terisak memeluk Arion, ia saat ini membutuhkan tempat bersandar untuk mencurahkan perasaannya dan kekesalannya.


“Kamu tak kurang apa pun, Lexa. Memang sadarnya dia saja yang br*ngs*k menyia-nyiakan berlian indah sepertimu untuk menikmati batu kerikil yang tak berharga. Lepaskan dia, Lexa. Ada aku yang tulus mencintaimu dan ingin membuatmu bahagia,” ucap Arion masih mengusap rambut basah Alexa yang tergerai.


Arion mengangkat tubuh Alexa dari dalam air, ia menggendongnya ala bridal style dan membawanya keluar dari dalam kolam, karena khawatir jika berada lama di dalam kolam maka Alexa akan sakit. Arion mendudukkannya di kursi yang tersedia, ia memberikan jubah mandi milik Alexa padanya. Ia bahkan membantu mengeringkan rambutnya dengan handuk.


“Minumlah, aku yakin coklatmu sudah menjadi dingin sekarang,” titah Arion seraya mengeringkan rambut wanita cantik itu yang tubuhnya sudah menggigil, Arion berubah menjadi dewasa saat Alexa benar-benar membutuhkannya, ia tak terlihat seperti pria yang berumur di bawah tiga puluh.


Hal seperti itu terus berlanjut hingga beberapa bulan ke depan. Reynan akan pulang saat berganti pakaian saja dan setelah itu pergi lagi. Pria beristri itu bagaikan pria lajang yang tengah jatuh cinta. Mengabaikan Alexa dan tak menganggapnya ada.

__ADS_1


Alexa yang selalu memergoki suaminya sedang bermesraan ingin sekali rasanya ia menjambak, menampar dan memukul Anggi jika bukan karena Arion yang selalu mencegahnya. Bagi Arion, melakukan hal itu adalah tindak kekanakan dan Anggi akan merasa senang jika Alexa sampai melabraknya karena itu menandakan kalau ia telah kalah dan Anggilah pemenangnya dalam meraih cinta Reynan. Anggi tak tahu saja kalau ia juga sudah diselingkuhi oleh pria yang tak cukup satu wanita itu.


“Aku ingin keluar dari rumah itu, Rion. Rasanya aku sudah tak sanggup lagi berada di dalamnya. Menjadi bagian dari keluarga besar Wesley sungguh sangat membuatku tersiksa,” isak tangis Alexa terdengar begitu pilu, hatinya telah sakit selalu melihat suaminya yang bermain gila dengan mantan modelnya sendiri, tubuhnya telah lelah karena menangisi pria yang bahkan sudah tak peduli padanya.


“Aku akan mencari apartemen dulu untuk kau tinggal, setelah siap maka kau bisa langsung pindah. Kamu yang sabar dulu sebentar bisa?” tanya Arion, Alexa mengangguk.


“Hm, aku bisa.”


“Ya sudah, aku antar kau pulang yah,” ucap Arion.


“Apakah kau tak menginap?” tanya Alexa, ia sudah terbiasa tidur dengan ditemani oleh Arion, meski tak melakukan apa pun, tapi membuat Alexa merasa suaminya ada bersama dengannya, ia merasa kalau semua yang dialaminya hanya sekedar mimpi meski saat membuka mata nyatanya Arion sudah tak ada lagi di sampingnya dan yang dianggapnya mimpi ternyata nyata.


“Tidak, aku tak enak jika selalu menginap di rumah Nenek. Jenny tahu perasaanku padamu dan dia menerimanya karena dia peduli padamu, tapi jika yang lainnya mengetahuinya, terutama Nenek maka kau akan terlihat begitu buruk di matanya, Nenek akan makin membuatmu sengsara,” sahut Arion dengan pemikiran begitu dewasanya, padahal saat sedang tak serius, pria itu akan bersikap menyebalkan bagi Alexa.


“Baiklah, aku akan pulang.”

__ADS_1


__ADS_2