
“Dari mana saja kau? Apakah pantas istri yang sudah bersuami pulang hingga larut seperti ini? Kau anggap apa kediaman ini? Apakah kau menganggap keluarga Wesley adalah tempat singgah yang bisa seenaknya saja keluar dan masuk?” tanya Ambar yang sedang duduk diruang tamu saat Alexa baru masuk rumah, langkah Alexa terhenti, emosinya yang tadi reda karena Arion yang menenangkannya kini mulai naik kembali, tapi Alexa mencoba untuk meredamnya dengan mengepalkan tangannya erat hingga kukunya menusuk telapak tangannya.
“Mamah bertanya padaku apakah aku pantas pulang selarut ini padahal aku berstatus sebagai istri? Sekarang aku kembalikan pertanyaan itu pada Mamah, apakah pantas seorang Ibu membiarkan putranya terus bermain wanita, padahal putranya sudah menikah. Apakah pantas seorang Ibu menutupi perselingkuhan putranya dan mendukungnya? Bagaimana jika rekan bisnis Mamah mengetahui hal itu, apa yang akan Mamah katakan? Apakah Mamah akan mengatakan kalau aku tak becus melayani suamiku sendiri di atas ranjang? Apakah Mamah akan mengatakan kalau aku bukanlah menantu yang diinginkan sehingga putra Mamah yang berharga itu berselingkuh?” Alexa membalikkan pertanyaan itu berkali lipat pada Ambar, tentu saja Ambar terlihat terkejut, bagaimana menantunya itu tahu kalau dirinya selalu menutupi perbuatan tak bermoral putranya.
“Ap-apa yang kau katakan? Mamah tak mengerti apa yang sedang kau kataka. Mamah hanya tak ingin kau pulang larut karena biar bagaimanapun kau adalah menantu keluarga Wesley,” elak Ambar dengan nada terbata.
“Mamah tak perlu khawatir, sebentar lagi aku sudah tak akan menyandang status itu. Aku akan meninggalkan kediaman keluarga Wesley. Mamah bisa mencari penggantiku sebagai menantu idaman Mamah. Mungkin saja si Anggi akan Mamah angkat sebagai menantu setelah aku pergi, silakan aku tak peduli. Aku ke kamar dulu mau istirahat, selamat malam.” Alexa pergi setelah berucap demikian, ia tak ingin emosinya semakin meluap karena harus berada di tempat itu bersama dengan Ibu mertuanya.
Sampainya dikamar, Alexa langsung masuk ke dalam kamar mandi, ia menatap dirinya di depan cermin dan mulai membuka pakaiannya satu persatu. Tatapannya tajam pada tubuhnya yang sudah polos, Alexa membelai tubuhnya dari atas hingga akhirnya turun pada bagian intimnya.
__ADS_1
“Apa kurangnya aku? Tubuhku masih terlihat kencang, tapi suamiku seakan tak ingin menyentuhnya, ia lebih tertarik untuk menyentuh wanita lain yang bukan istrinya. Apakah memang has*atnya padaku tak ada, atau memang ia penjahat kelam*n sejati yang tak pernah puas dengan satu wanita saja? Huft... Apakah aku harus menyerah? Apakah aku harus melepaskannya? Hati ini bisa memaafkannya jika ia mau berubah, tapi telah lama aku menunggu perubahannya, tapi tak kunjung membuahkan hasil. Diri ini rasa lelah menunggunya, seakan tak sanggup lagi. Semoga saja apa yang menjadi keputusanku benar,” gumam Alexa menghela napasnya berat.
Ia berjalan menuju shower dan membuka kerannya setelah berada di bawahnya. Matanya terpejam merasakan aliran air yang jatuh di atas kepalanya membasahi seluruh tubuhnya.
Ah, rasanya Alexa menginginkan sentuhan saat ini, di bawah kucuran air, ia menginginkan kehangatan yang mampu membuatnya mende*ah berkali-kali. Ia merasa sudah lama sekali tak pernah mendapatkan sentuhan itu, ia rindu, rindu akan kehangatan suaminya, rindu akan belaian manja suaminya, rindu akan pelukan suaminya.
Pagi hari Alexa terbangun, ia merasakan kepalanya sungguh sakit, hidungnya tersumbat dan tubuhnya sangat sakit. Ponselnya berdering sedari tadi, Alexa mengambilnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Arion, pria itu menghubunginya dari tadi tapi tak kunjung ada jawaban dari si pemilik nomor, Alexa melihat jam di ponselnya yang ternyata sudah pukul sepuluh pagi.
Karena tak kunjung berhenti, Alexa akhirnya mengangkat panggilan tersebut, masih dengan posisinya, ponselnya ia pasang pengeras suara dan diletakkan di atas bantal sampingnya.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Alexa dengan suara parau khas orang yang sedang pilek.
“Kau sakit? Aku ke sana yah,” tanya Arion dengan nada khawatir.
“Tak perlu, aku hanya perlu istirahat saja. Lagi pula, kalau kau datang aku tak enak dengan Mamah, semalam dia habis bicara tak enak padaku,” sahut Alexa menolak Arion untuk datang.
“Kau sudah makan?” tanya Arion kembali.
“Belum, sebentar lagi aku akan makan. Aku ingin tidur sebentar lagi.” Alexa menutup panggilannya sebelum Arion sempat berucap, ia memejamkan matanya kembali tanpa mengenakan pakaiannya, ia masih mengenakan handuk yang melilit ditubuhnya.
__ADS_1