
Azam tumbuh semakin sehat dan lucu.
Usianya sudah menginjak 4 bulan di bulan ini.
Aku selalu merawat Azam sendiri,
Terbayang kan jika memiliki anak bayi repotnya seperti apa.
Tapi aku tetap mengurus adikku Nara.
Serta mengurus rumah.
Seakan aku sudah beranak 2.
Tapi tetap saja, aku dimata ayah tiriku hanyalah anak kurang ajar, tak tahu diuntung, dan tak berguna.
Padahal yang merawat darah dagingnya satu satunya ya aku.
Yang memasak untuknya ya aku.
Yang mencuci pakaiannya aku.
Hanya semata mata demi baktiku pada ibuku, jika tidak sudah ku lempar cucian kotornya ke tempat sampah, tak sudi rasanya.
Ya sudahlah...aku anggap angin lalu...batinku.
Azam hanya mengenal satu sosok laki laki yaitu ayahnya Satria, ia tak pernah mengenal bahkan tak tahu wajah kakeknya.
Tak sudi mungkin dia menggendong anakku ini, yang bukan berasal dari keturunannya.
Saat Azam mulai mengenal orang orang disekitarnya.
Ibuku mengenalkannya dengan ayah tiriku.
Hasilnya nihil......
Ayah tiriku tak respek dengan anakku.
Bahkan adikku nara diajarinya agar menjauh dariku.
"Nara.....sini..!!.disana terus, gak kelihatan apa kalau ayah dah pulang kerja.(teriak dan melotot).
"Aku main sama adek Azam", ucap Nara menunduk.
"Sini .... Mau ku seret kau", teriak ayah tiriku.
Hanya karna tak suka denganku, dia berkata kasar setiap harinya pada Nara.
Kemana ibuku..?
Hanya diam dan diam......
Suatu hari Nara demam.
__ADS_1
Dia memanggil manggil namaku.
Jam menunjukkan pukul 1 malam.
Tokk..tokkk..
"Kin..kin....adekmu demam",seru ibuku dari balik pintu kamarku.
"Iya buk,(keluar dari kamar, mencari obat demam).
Aku tensi tubuh Nara, aku kompres dia, aku beri dia obat sesuai resep dokter yang di berikan padaku.
Ayah tiriku hanya diam di luar kamarnya.
Iya melihat semuanya, tapi buta dan menyangkal semua yang ku lakukan untuk Nara.
Aku hanya diperlukan saat butuh, dan di olok olok saat tak ada perlunya.
Sungguh, apa yang bisa ku contoh dari ayah seperti itu.
Seharusnya orang tua menjadi panutan anaknya saat memulai bahtera rumah tangganya sendiri.
Tapi di rumahku, tak ada panutan itu.
Yang ku saksikan hanya pertengkaran dan pertengkaran.
"Sudah 3 hari panas Nara tak turun", ucapku sambil ku tensi suhu badannya...38 derajat celcius.
Aku panik, ini suhu yang rentan Nara bisa kejang.
"Kita bawa ke dokter buk", ucapku.
Sesampai disana, klinik tutup.
Aku langsung menuju rumah sakit.
Antrian lama, aku makin kuatir dengan Nara, panasnya makin tinggi.
"Nara .......", perawat memanggil.
"Iya sus", ucapku.
Kami masuk ke ruang periksa, karena Nara sering demam, dokter menyarankan untuk tes darah.
Kami pun menurut.
Nara pun belum dapat obat selama hasil tes darah belun keluar, untuk berjaga jaga aku hanya memberinya obat turun panas dari rumah sambil menunggu obat resep dokter yang baru.
Setelah tes darah dilakukan, kami dibuat menunggu cukup lama lagi dan lagi.
Tiba tiba..
"Naraaaa...", aku teriak dan berlari ke arah ugd, Nara kejang lagi, ibuku berlari di belakangku.
__ADS_1
Sampai di ruang ugd, Nara di bantu oksigen dan di suntik obat, tak lama kejangnya reda.
Allahhu akbar, tubuhku gemetar setiap nara seperti itu, tak tega rasanya melihat adikku kesakitan.
Dokter juga pernah memperingatkan jangan sampai nara kejang di atas 10 menit lamanya karna akhibatnya bisa sangat fatal.
Ya Allah lindungilah adikku..doaku dalam hati.
Saat itu ruang inap sedang penuh, dan kami harus menunggu sampai sore, bergantian ruangan dengan pasien yang pulang hari ini.
Nara selalu ingin bersamaku, ia minta aku menemaninya tidur di ruang ugd.
Satria bertugas menjaga anak kami dirumah, ia tak ku bawa kerumah sakit karna rentan pemyakit bagi bayi seumurannya di sini.
Saat ayah tiriku datang, ia mengobrol dengan ibuku di sudut ruangan.
"Nara, terserah kita, dia anak kita", ucap ayah tiriku, hanya itu yang sempat aku dengar saat itu.
Jika tak demi adik dan ibuku, tak sudi aku merawat darah dagingmu, dalam darah Nara mengalir darah ibuku, jadi dia bagian dariku juga, aku akan merawatnya seperti anakku..terserah kau mau bilang apa.. Gumamku dalam hati.
Sore itu Nara sudah bisa pindah ke ruang rawat inapnya.
Tak mau lepas dia dari gendonganku.
Tidur pun harus seranjang denganku.
Ayahku juga menyaksikannya, tapi ia menolak menerima kenyataan itu.
Ia manusia buta bagiku.
Dalam tidur, saat kugendong, tiba tiba Nara kembali kejang.
Aku berteriak memangil perawat.
Perawat berlari tergopoh gopoh.
Nara ditelantangkan dan bajunya di sobek.
Perawat coba membuka mulutnya agar Nara tetap bisa bernafas, dan menekan lidahnya.
Mulutnya mengeluarkan busa.
Semua menangis di sana.
Saat Kejangnya berhenti, perawat memasang oksigen pada Nara selama semalam.
Ayah tiriku hanya bisa menangis di tepi ranjang.
Seakan ingin ku tampar mukanya.
Orang yang hanya bisa marah, dan mengolok olok orang lain.
Tapi tak becus merawat anaknya sendiri.
__ADS_1
Ya Allah kuatkan hamba.....