
Pembangunan rumah baru sudah berjalan selama 2 bulan.
Kini rumah itu siap di huni.
Ayah tiriku sangat senang melihat rumahnya telah berdiri kokoh sekarang.
Padahal sebelum pembangunan ini dimulai, ia yang paling menentang pembangunan itu.
Semenjak ibu dan Nara pindah ke rumah baru, mereka tak bisa leluasa menemuiku.
Bukan karna terhalang jarak yang jauh, tetapi karna terhalang izin ayah tiriku.
Saat ia berkerja saja, Nara dan ibu bisa bertemu denganku.
"Nara, ayah mau kerja dulu ya, jangan ke rumah kakakmu, jaga rumah kita sendiri", seru ayah tiriku setiap ingin berangkat bekerja.
Nara hanya mengangguk di depannya, tetapi ia tetap menemuimu setiap harinya.
"Mbak, aku makan disini ya..??", ucapnya saat masuk ke dalam rumahku.
"Sana cari sendiri di belakang, lauk ada di kulkas", ucapku padanya sambil meneruskan aktifitasku.
"Ibuk kemana Nara..??", ucapku.
"Lagi pergi kak, ada panggilan pijat di luar" ucapnya sambil terlihat melahap makanannya.
__ADS_1
Aku melihatnya dengan rasa iba, seharusnya dia tak perlu meminta hanya untuk sekedar makan disini, saat dia masih tinggal di sini, semua yang ada bisa langsung ia makan.
"Mbak jangan bilang ayah ya kalau aku kesini..??", ucapnya.
"La kenapa ...??", ucapku memancing kejujurannya.
"Ya nanti aku gak boleh kesini lagi, gak bisa makan masakan mbak", ucapnya sambil terus makan.
"Iyaa, iyaa, dah selesai.in makannya, nanti ini bawa pulang ya buat ibuk", ucapku membungkuskan lauk untuk ia bawa pulang.
"Ayah itu cuma gaya nya aja mbak, kalau aku bawa masakan mbak pulang lhoo yang paling lahap makan ya ayah", ucap Nara.
"Iyaa kah..??", ucapku heran.
"Iyaa mbak, kalau bilang sama ibuk sih, gak mau masakan mbak, mending lauk sambalnya ibuk aja, tapi kalau di sodori ibuk masakan mbak ya habis tu, aku sampek gak kebagian", ucap Nara lagi.
"Ya begitulah Nara, kita jadi orang harus berkaca dulu sebelum mencela orang, kita gak tau kedepannya kita butuh orang itu gak nantinya", ucapku menasehati Nara agar tak seperti ayahnya.
"Aku juga denger lhoo mbak, sejak pindah ke rumah baru, ayah jelek jelekin mbak terus, kayak mbak tuh gak ada benernya", ucap Nara mencuci piringnya.
Aku menghela nafas panjang.
Kamu gak tau Nara, sejak belum ada kamu pun mbak sudah tiap hari di jelek jelekin ayahmu, gumamku dalam hati.
"Ya sabar aja Nara, Allah gak tidur, mbak masih punya Allah", ucapku.
__ADS_1
"Kok mbak gak nglawan sih..??", ucap Nara.
"Biarin aja, mbak gak butuh terlihat baik dimatanya", ucapku mencoba memberikan arahan hidup juga pada Nara, agar ia tak mudah terpancing amarah nantinya.
"Kapan kapan bawa Azam kerumah ya mbak, sepi banget di sana, aku juga belum akrab sama tetangga sebelah rumah", ucap Nara memintaku mengunjungi rumah barunya.
"Insyaallah, emang mbak kamu kasih apa kalau kesana..??", ucapku meledeknya.
"Yang pasti bukan sindiran kayak ayah mbak", serunya sambil tertawa.
Aku pun turut tertawa.
"Huss, kamu nih..!!, jangan gitu ah gak baik", ucapku sambil menahan tawaku agar tak kebablasan.
"Emang iya kan mbak..??", ucapnya memelukku yang sedang menjahit baju Azam.
"Iyaaa iyaa adikku sayang, kamu udah gede, mbak gak jelasin pun kamu udah ngerti hubungan mbak sama ayahmu, lebih bijak lagi ya sayang, jangan membesar besarkan masalah, yang penting kamu sama ibuk sayang mbak kan..??", ucapku mendekapnya.
"Iya mbak, selalu", ucap Nara memandangku.
"Makasih ya Nara", ucapku mengecup keningnya.
Memang adikku dominan memiliki sifat seperti ayahnya sejak kecil, tapi ia juga bisa memilih bagaimana ia harus bersikap, ia mau menjadi seperti apa.
Apakah seperti ayahnya..??, dan akhirnya dijauhi saudara.
__ADS_1
Apakah mengolah sifat dan perilakunya lagi agar jauh lebih baik dari ayahnya dan di sayangi saudara.
Semoga didikanku dan nasehatku ia pakai selamanya, doaku dalam hati.