
Sudah larut, aku masih menunggu Nara di depan rumah.
Selalu saja aku dan ibu yang gelisah.
Ayahnya sekedar tau anaknya belum pulang pun tak mungkin.
Ia selalu pulang larut malam, nongkrong bersama teman temannya.
Ia lebih terbiasa seperti itu dibandingkan menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Aku mondar mandir di teras depan rumah.
Kutoleh jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam.
"Sudah malam", ucapku makin khawatir.
Usai sekolah Nara tak pulang, kemana dia..??.
Ibuku terlihat sangat cemas, dan sesekali ingin pergi sendiri mencarinya.
"Kin, ibuk tak tahan, ibuk mau pergi mencari Nara", ucap ibuku bergegas memakai sandalnya.
"Jangan buk...!!, Satria kan sudah mencari Nara, kita tunggu saja ya", ucapku mencegahnya.
Tiba tiba Nara masuk dari gerbang depan rumah.
Dengan santainya ia berjalan masuk, seperti tidak terjadi apa apa.
Kupandangi dia.
Ia sudah berpakaian santai, kemana seragamnya, gumamku.
Ku dekati dia.
__ADS_1
"Apa sih mbak..??", ucapnya santai.
"Kamu gak mikir apa..!!, ibuk sampek gelisah nungguin kamu", ucapku marah.
Sedangkan ibuk tak berbicara, ia masih kaget melihat Nara tanpa seragam.
"Aku cuma main bentar mbak", ucap Nara lagi.
"Seenggaknya kamu pulang dulu, pamit sama ibuk", seruku.
"Sorry", balasnya.
"Apa....??, sorry..!!, kamu lagi bicara sama mbak mu lhoo", ucapku makin emosi.
"Mbak kata ayah, mbak tu bukan mbak ku, ya udah lagi, lagian di rumah hawanya gak enak karna ada mbak", ucapnya tak peduli.
Aku terdiam mendengar ucapannya.
Ibu tiba tiba menghampirinya dan mengguncang tubuh Nara sampai terjatuh di Tanah.
"Adik gak tau di untung kamu Nara...!!!, mbakmu sudah berkorban banyak untukmu, cukup ibuk yang pernah khilaf menyakiti perasaannya, kamu jangannn...!!!", teriak ibuku dengan tangis terisak isak.
Aku memandangi ibuku dengan air mata yang tak terasa membasahi pipiku ini.
Ibuku sungguh membelaku kali ini.
Yang bahkan aku sendiri tak sanggup berbicara lagi di depan Nara.
"Ajaran kotor apa yang sudah ayahmu berikan, hahh..!!!, ayahmu lah yang sudah menghancurkan kerukunan keluarga kita, terutama kebahagiaan mbak mu ini..!!, jika bukan karna permintaannya tak menceraikan ayahmu yang kurang"jar itu demi kamu dan ibukmu ini, sudah ibuk ceraikan dia dari dulu..!!", seru ibuku kembali mengguncang tubuh Nara di depannya.
Nara hanya tertegun mendengar amarah ibuk dengan Mata berkaca kaca.
Ia lalu memandangku.
__ADS_1
Aku palingkan wajahku darinya, aku sangat terluka ia tak menganggapku kakaknya.
Memang kita beda ayah, tapi darah ibuk mengalir di tubuh kita, gumamku dalam hati sambil menangis tanpa suara.
"Mbak...??", seru Nara dengan nada gemetar.
Aku pergi masuk ke dalam rumah tak menghiraukan panggilannya.
Ia mengetuk pintu kamarku dan meminta maaf jika dirinya bersalah.
Lalu ibuku menghampirinya sekali lagi.
Ia menatap wajah adikku itu.
"Kamu tau Nara, buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya, sekali hasutan saja, kamu sudah berperilaku seperti ayahmu, ibuk beruntung, Kinara ibuk memiliki sifat almarhum ayahnya yang bisa tulus menyayangi kita, terlebih menyayangi kamu", seru ibuku.
Mendengar itu aku semakin menangis di dalam kamar.
"Bukk, maaf, aku tak tau", ucap Nara menundukkan pandangannya.
"Jika mbak mu itu merawatmu dengan melihat olok olok dan ejekan ayahmu, ibu tak menyalahkannya jika ia menelantarkanmu dan tak menganggapmu adik, ibuk tak pernah berbicara terus terang padamu karna kamu masih kecil dulu, sekarang kamu sudah dewasa Nara...!!", ucap ibuku lalu berlalu meninggalkan Nara yang masih terisak isak.
Aku sengaja tak menolongnya kali ini.
Biar ini menjadi pelajaran hidup baginya.
Tak kan ada yang bisa menyangkal kalau Nara adalah anak kandung Ayahnya.
Tapi dia bisa menolak ajaran buruk dan sifat jelek dari ayahnya itu.
Aku hanya berharap saat ia terjun di lingkungan Masyarakat nantinya, ia akan lebih bisa menghargai orang lain, bukan seperti ayahnya.
Tidak penting kita lahir dari orang tua seperti apa, selagi kita bisa menata hidup kita dan menjadi orang baik, orang akan lebih menghargai kita dimanapun kita berdiri.
__ADS_1