Demi Adik Dan Ibuku

Demi Adik Dan Ibuku
Penyesalan boleh terlambat, dibandingkan tidak sama sekali.


__ADS_3

Tak terasa Nara dan Azam sudah tumbuh dewasa.


Nara sudah sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang guru.


Ia di beri kesempatan untuk mengajar di salah satu pelosok desa yang sangat membutuhkan sosok pengajar.


Sedangkan Azam masih sibuk dengan kuliahnya yang mengambil jurusan marketing.


Azam memang sepertiku, ia suka berniaga tanpa pantang mundur.


Ia berani berinteraksi dan berbaur dengan banyak orang sejak ia masih di bangku smp.


Ibuku akhirnya tak kuat lagi hidup berjauhan dengan ku, ia putuskan untuk tinggal lagi bersamaku.


Nara pun yang sejatinya anak kandung malah enggan dengan ayahnya sendiri.


Ia berkaca pada kehidupan ayahnya selama ini.


Hidup tanpa saudara, teman bahkan tetangga.


Di hari tuanya bahkan istrinya sendiri tak kuat hidup bersamanya.


Sehari hari ia hanya melamun dan terdiam, seakan ia menyesal dengan masa lalunya yang ia sia siakan.


Ia lebih mementingkan egonya di setiap hal.


Ia yang menebar, ia juga yang akan menuainya.


"Assalammualaikum mbak..!!", seru Nara berlari dari halaman menuju ke dalam rumahku.


"Walaikumsalam, Nara...!!, masyaallah kamu pulang", seruku memeluk adikku satu satunya itu.


"Aku juga kangen lagi sama mbak sama ibuk, apalagi bertengkar sama Azam", ucapnya.


"Emmmm, kamu tuhhh ya..!!, suka banget ledek adikmu", ucapku.


"Mbak, seperti yang mbak bilang, beruntung aku punya adik, jadi gak boleh aku sia sia.in dong momen sama dia, kayak mbak momong aku dulu, makasih ya mbak", ucapnya sambil mencium punggung tanganku.


Tak terasa mataku penuh dengan air mata, sungguh tak kusangka, adikku yang aku harapkan tak menjadi seperti ayahnya ternyata menjadi kenyataan.


"Barakallah", ucapku mengelus wajah cantik Nara.


Seketika mataku tertuju pada tepi jalan tak jauh dari rumahku.


Ayah tiriku dengan sembunyi sembunyi memandang dari kejauhan kedatangan Nara.


Aku memang pernah sakit hati padanya, tapi aku juga tau rasanya menjadi orang tua yang jauh dari anaknya.


"Mbak, ibuk mana...??", ucap Nara clingukan kedalam rumah.


Tiba tiba ibuku keluar dari kamarnya.


"Ehhh anakku pulang", seru ibuku memeluk dan menciumi Nara.

__ADS_1


"Iyaa buk, aku kangen suasana rumah, masa cari uang mulu", ucap Nara mulai bermanja di pelukan ibuku.


"Kamu sehat nak..??", ucap ibuku.


"Alhamdulillah buk, oh ya aku bawa makanan, yukk makan bareng", seru Nara menarik tanganku.


"Bentar Nara", ucapku menahan tarikan tangannya.


"Kenapa mbak..??", ucap Nara heran.


"Kami gak rindu dengan ayah..??", ucapku seketika menghilangkan senyum di wajah ibu dan adikku.


"Kenapa mbak membahas itu sih...!!, yukk ahh kita makan..!!", seru Nara tak mau mendengar tentang ayahnya sendiri.


"Tungguu Nara...!!, coba kamu lihat di depan jalan sana..., ayah memandang kepulanganmu dari jauh, kamu gak kasian..??", ucapku.


Nara dan ibuku memandang sekilas ke arah jalan, mereka melihat sosok lelaki yang bertubuh tak kekar lagi seperti dulu.


"Kenapa kamu masih mempedulikannya Kin..??", ucap ibuku.


"Buk...., dia itu juga ayahnya Nara", ucapku, meskipun aku sadar aku anak yang tak pernah dianggap dan tak pernah dihargai oleh ayah tiriku.


"Mbak, dia udah jahat sama keluarga kita, bahkan sama anak kandungnya sendiri", seru Nara tak terima.


"Dia itu dulu begitu karna tak mau kehilangan anak kandungnya satu satunya Nara", ucapku memberi penjelasan padanya.


"Dengan menjauhkan aku dari mbak, melarangku untuk bertemu mbak, dan membuatku hampir membenci mbak dan keluarga kecil mbak...., mbak....!!!, aku sudah tau semuanya gimana penderitaan mbak saat mbak masih berstatus seorang anak dan butuh bimbingan orang tua, malah ia jadikan mbak musuhnya, dan menjauhkan mbak dari ibu kandung mbak dan adik satu satunya mbak ini", ucap Nara meneteskan air mata.


"Ibuk pindah kesini, karna Nara sudah dewasa Kin, yang kita takutkan dulu sekarang sudah tak kan terjadi karna Nara sudah dewasa dan bisa melindungi dirinya sendiri, ibu selalu ingin bersamamu, biarkan dia menanggung dosanya sendiri", ucap ibuku mengelus rambutku membujukku ajar melupakan ayah tiriku yang kejam itu.


"Mbak gak inget rasa sakit mbak.....??", ucap Nara.


"Ingat sekali Nara, sangat ingat, tapi mbak gak mau jadi seperti dia dulu, dan akhirnya di hari tuanya hanya tinggal penyesalan yang tak ada gunanya, jangan sampai kamu menyesal Nara, mbak sudah merasakan bagaimana tidak memiliki seorang ayah selama hidup mbak ini, kamu jangan...", seruku menangis dihadapannya.


Nara dan ibu pun memelukku, dan Nara pun bersedia menemui ayahnya.


Ayahku berdiri di pinggir jalan begitu lama, hanya untuk memandang anak kandungnya dan istri yang ia selama ini sia siakan.


"Bodohnya aku..!!", ucapnya berbalik badan dan ingin melangkah pulang.


"Yah...??", seru Nara menghentikan langkah kaki ayahnya.


Dengan berlinang air mata, ia membalikkan badannya lagi dan memandang puas Nara di depannya.


Ia tak kuasa menahan tangisnya, melihat anak satu satunya memanggilnya ayah tuk yang pertama kali setelah beberapa tahun terpisah.


"Anakku..!!", serunya memeluk erat tubuh Nara.


Ibuku yang melihatnya dari dalam rumah menangis tersedu sedu memegang tanganku.


"Andaikan dia bisa jauh lebih baik kepadamu, ibuk dan kepada adikmu pasti kita akan bahagia bersama kin", ucap Ibuku ditengah tangisannya.


Aku hanya bisa mengelus bahunya.

__ADS_1


Itulah yang ku dambakan selama hidupku buk, tapi mungkin Allah tak mengabulkannya di kehidupannku yang sekarang, gumamku dalam hati.


"Ayo yah kita kerumah mbak", ucap Nara menghapus air matanya dan menarik tangan ayahnya.


Ayah tiriku tetap diam ditempatnya berdiri, seakan berat untuk kakinya melangkah ke rumahku.


"Ayah tak sanggup memandang mbak mu Nara", ucap ayah tiriku menunduk.


"Mbak baik kok yah, ia sudah maafin ayah dari dulu", ucap Nara.


"Mungkinkah..??, setelah apa yang ayah lakukan..??", ucap Ayahku menatap dalam dalam wajah Adikku dengan penuh keraguan.


"Kalau mbak gak suka ayah, gak mungkin mbak suruh aku buat nemuin ayah, dan gak mungkin mbak mencukupi semua kebutuhan ayah selama ini", ucap Adikku membuat ayah tiriku terkejut.


"Apa maksudmu Nara..??", seru Ayah tiriku.


"Ayah fikir siapa yang mengirimi ayah uang bulanan setiap bulannya..??, bukan aku yah tapi mbak, mbak tak tega melepas ayah sebatang kara sendirian di masa tua", ucap Nara membuat ayah tiriku menangis semakin menjadi.


"Ayah tak berguna nara", ucapnya memukuli kepalanya sendiri.


"Sudah yah sudah, lebih baik kita kerumah dulu ya, ayah bisa ngobrol sama mbak sama ibuk di sana", ucap Nara menghentikan kepalan tangan ayah tiriku yang memukuli kepalanya sendiri.


Akhirnya ia setuju dan pulang bersama Nara ke rumahku.


Awalnya ia menunduk malu berada tepat dihadapanku.


Tapi setelah kupeluk dia.


Akhirnya dia tersenyum dan mengakui ke khilafannya.


"Maafkan Ayah kin", ucapnya sambil memegang erat kedua tangankku.


"Sudahlah yah, yang lalu biarlah berlalu, aku dan keluarga sudah memaafkan kekhilafan ayah, sekarang izinkan Aku sama Nara mengurus ayah dan ibuk di masa masa tua kalian , ya...??", ucapku menatap wajahnya yang telah keriput dan rambutnya yang sudah putih seluruhnya.


Akhirnya sejak saat itu, ayah mau serumah denganku lagi, meminta maaf kepada suami dan juga anakku.


Ia meminta maaf karna tidak bisa menjadi mertua dan kakek yang baik untuk suami dan anakku.


Hari hari berikutnya ia semakin dekat dengan Azam, bahkan setiap waktu mereka habiskan bersama.


Disela sela permainan sepak bolanya dengan kakeknya, ia mendatangiku dan memelukku.


"Kenapa sayang..?", ucapku heran.


"Benar kata ibuk, cukup jadi cucu yang baik saja, dan pada akhirnya kakek menyayangiku dan mengajakku bermain bersama juga, makasih ya buk", ucapnya berlari lagi menendang bolanya ke arah kakeknya.


"Alhamdulillah", ucapku.


Hanya itu yang bisa kuucapkan kali ini.


Kebahagiaanku tak bisa di lukiskan dengan kata kata.


Terima kasih tuhan...

__ADS_1


.


__ADS_2