
Karna ibuku sudah yakin dengan keputusannya membangun rumah untuk adikku Nara.
Ia mencairkan semua barang berharga miliknya.
Bahkan uang yang di hutangkan ke para kerabat ia tagih.
Ibuku bukan orang yang perhitungan dengan kerabat serta saudara.
Ia akan menolong mereka selagi mereka tak berulah dan bertingkah baik pada keluargaku.
Ibuku mengunjungi saudaranya dari pihak ayah tiriku.
Ia memberanikan diri menagih uang miliknya sendiri.
Ibuku memberikan hutang kepada mereka dengan perjanjian jika ibuku membutuhkannya untuk keperluannya, mereka sanggup memberikannya.
"Assalammualaikum", ucap ibuku berdiri di depan rumah saudaranya.
"Walaikumsalam", terdengar seorang wanita menyahut dari dalam rumah.
"Eh mbak, silahkan Masuk", ucapnya ramah.
Mereka pun duduk dan mengobrol sejenak.
Kemudian ibuku mengutarakan niatnya datang ke sana.
"Maaf lhoo ya dek Irma, aku datang kemari ingin meminta uangku kembali, aku lagi butuh untuk membeli tanah dan membangun rumah untuk Nara", ucap ibuku mengutarakan niat kedatangannya.
Wanita yang diketahui namanya Irma itupun terdiam.
Wajahnya yang tadinya ramah berubah sedikit datar dan kebingungan.
"Waduh mbak, aku lagi gak ada uang", ucap mbak Irma pada ibuku.
"Dek, kamu kan sudah janji, jika aku membutuhkannya kamu akan mengembalikannya", ucap ibuku agak tegas.
"Aku lagi banyak tagihan mbak", ucap Mbak Irma pada ibuku.
"Aku gak mau tau, aku butuh uangku segera, kasian Nara jika tidak memiliki rumah sendiri seperti kakaknya", ucap ibuku.
"Akan aku usahakan mbak", ucap mbak Irma.
Mereka pun tidak mengobrol akrab seperti di awal tadi.
Ibuku pun berpamitan pulang.
__ADS_1
Dijalan ibuku bertemu dengan kerabat yang lain.
"Buk, lagi apa..??", ucap ibuku menghentikan motornya dan bersalaman dengan mereka.
"Kamu dari mana..??, dari rumah Irma ya..??", ucap kerabat ibuku.
"Lhoo kok ibu tau..??", ucap ibuku.
"Kamu nagih hutang ya...??", ucapnya lagi.
"lhooo ibuk kok tau lagi..??", ucap ibuku kebingungan.
"Udah jangan lagi hutangin dia ya, kasian kalau kamu harus di bikin ruwet sama dia", ucap kerabat ibu satunya lagi.
"Saya sih gak masalah buk bantu saudara, tapi kalau saya butuh ya saya minta", ucap ibuku.
"Hutangnya udah di mana mana, biaya anak kuliah juga", ucap kerabat ibu.
"Ya sudah buk gak baik ngomongin orang", ucap ibuku melanjutkan pembicaraan dengan topik lain.
___
Sudah lebih satu minggu tak ada kabar dari Mbak Irma.
Yang biasanya ia sering kerumah, sekarang ia tak muncul sama sekali.
"Gimana nih kin, Irma gak ada kabar, ibuk udah terlanjur beli tanah", ucap ibuku.
"Aku telfon gak diangkat angkat buk", ucapku mencoba menelfonnya lagi.
Tiba tiba terlihat di halaman rumah, mbak Irma dan ibunya datang.
Mereka kami persilahkan masuk seperti biasanya.
Menawari mereka makanan dan minuman apapun yang kami punya.
Tiba tiba ditengah pembicaraan mereka mulai bicara dengan nada tak enak.
Mereka bicara dengan nada teriak sampai tetangga pun dengar.
Mereka mengolok ngolok ibuku dan ayah
tiriku.
Mereka bilang yang sebenarnya berhutang dan harus membayar hutang itu ibu dan ayah tiriku.
__ADS_1
Ibuku mencoba membela dirinya, ia merasa tidak pernah berhutang apapun pada mereka.
Ibuku tetap mendengarkan meskipun mereka bentak.
Ibuku tetap memegang pendirian bahwa ia memang tak berhutang.
Di akhir pembicaraan mereka tak sengaja berbicara bahwa hutang itu adalah hutang almarhum orang tua ayah tiriku kepada Mbak Irma cucunya.
Lalu kenapa ibuku yang harus membayarnya..??.
Ibuku tetap membela dirinya tak mau kalah dan di injak injak.
Akhirnya mereka pun pulang dengan tangan kosong.
Mulai hari itu hubungan ibuku dan mbak Irma retak.
Mereka seolah menjauh dari kami.
Saat mengangsur hutang kepada ibuku pun mereka duduk sebentar dan buru buru pulang.
Sungguh sebuah hutang dampaknya sangat dasyat pada sebuah hubungan.
Orang bisa kehilangan saudara hanya karna hutang.
Akhirnya ibuku berinisiatif menjual sebagian sawahnya.
Agar jual beli tanah itu cepat selesai.
Tapi itu tak segampang membalikkan telapak tangan.
Ada saja rintangan dan halangannya.
Terutama dari ayah tiriku sendiri.
Ia selalu mberontak dengan ide ide ibuku, yang tak lain hanya untuk memperjuangkan ia dan anak kandungnya supaya hidup damai dan memiliki rumah sendiri.
___
Bagaimana kelanjutan kisahnya...??
Yukk bantu ceritaku dengan like, komen dan vote.
Dukungan kalian sangat berarti bagi penulis.
Terima kasihhh, semoga kita bisa sukses bersama..🤗
__ADS_1