
Ibu merasa sudah semakin tua.
Ia berfikir, untukku sudah tidak ada yang dipikirkan lagi.
Aku sudah memiliki rumah peninggalan nenek dan ayahku.
Aku juga sudah memiliki suami dan anak, dengan kata lain aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku yang lengkap.
Tanpa kekerangan apapun.
Dan tanpa bingung akan sebuah hunian tetap.
Tapi ibu masih bingung dengan nasib Nara adikku.
Ia memiliki ayah yang tak bisa memikirkan masa depan baik, bahkan untuk dirinya sendiri.
Bagaimana dia memikirkan masa depan untuk Nara.
Seperti itulah hal yang terlintas di benak ibuku akhir akhir ini.
"Kin, ibu mau jual sebagian sawah kita dan semua perhiasan ibuk, juga hewan ternak", ucap ibuku ketika kami sedang duduk di teras rumah sore itu.
"Kenapa buk..?", ucapku keheranan.
"Ayahmu tabiatnya seperti itu, bagaimanapun kita merubahnya tetap saja seperti itu, ibu kasian denganmu, setiap hari di olok olok olehnya. lagian kamu sudah memiliki rumah dan suami, hanya tinggal membesarkan Azam saja, tapi adikmu masih belum memiliki rumah, ibu tidak bisa mengandalkan ayahmu, jadi bagaimana masa depan adikmu nanti..??", ucap ibuku mengutarakan kekuatirannya.
Aku sebenarnya sedih melihat semua permasalahan di hidup ibuk silih berganti datang sejak menikah dengan ayah tiriku.
Tapi bagaimana lagi, kami tidak bisa berbuat apa apa, ini demi Nara agar tidak di bawa lari oleh ayahnya dan membuat masa depannya berantakan nantinya.
__ADS_1
"Ibuk yakin ...??", ucapku.
"Iyaaa, nanti hal ini akan ibu utarakan pada ayahmu", ucap ibuku mantap dengan keputusannya.
"Kenapa harus buru buru buk..??, ini kan rumah ibuk juga", ucapku menenangkan kegusaran ibuku.
"Ibu dan ayahmu sudah tua kin, adikmu masih kecil, bagaimana kalau kita sebagai orang tua tidak mampu membangun masa depannya dari sekarang, akan sulit nantinya jika kita semakin tua dan tak ada tenaga lagi untuk bekerja", ucap ibuku dengan mata berkaca kaca.
Aku sebenarnya tau, ibu lelah dengan semua ini.
Semenjak kepergian nenekku, semua ia pikul sendiri dalam pundaknya, hingga ia pernah memusuhiku hanya karna amarahnya dengan keadaan.
Tapi ibuku juga benar, masa depannya harus di tata mulai sekarang.
Aku memang kakaknya, tapi aku juga punya Azam, tidak mungkin untukku yang hanya seorang ibu rumah tangga bisa memperjuangkan masa depannya seperti ibuku memperjuangkan masa depan Nara.
"Ya sudah buk, ibuk rundingkan saja dulu, Kinara sih terserah ibuk saja, kalau itu sudah yang terbaik menurut ibuk , Kinara pasti dukung", ucapku memberi ibuku dukungan.
"Sabar buk, Allah tak pernah tidur", ucapku menghiburnya.
"Jika ibuk punya rumah sendiri, ibuk gak mau jauh dari kamu kin, ibu mau buat rumah sekitar desa ini saja, ibu gak punya siapa pun lagi selain anak anak ibuk", ucap ibuku, suara tangisannya mulai pecah.
"Ya Allah buk, Kinara selalu jadi anak ibuk, Kinara rela di hina seperti apapun demi Nara dan ibuk, jadi ibuk gak sah kuatir Kinara tinggalin ibuk ya..!!", ucapku sambil menangis melihat ibuku yang terlihat rapuh di usia tuanya.
Semoga engkau selalu bersama kami Ya Allah.
___
Malam itu ibu benar benar mengutarakan niatnya pada ayah tiriku.
__ADS_1
Benar juga apa kata ibuk.
Ayah tiriku Marah dan menggebrak meja.
Ia selalu tidak bisa berunding dengan baik, masih sedikit pembicaraan saja emosinya sudah memuncak.
Makian dan hinaan turut keluar dari mulutnya.
Tapi sungguh ibuku sebenarnya wanita luar biasa.
Ia bisa mengontrol emosinya dengan baik.
Aku saja tidak bisa mencontohnya cara meredamkan emosi dengan cepat.
"Tol*l kamu...!!, kita punya sawah, punya ternak, punya perhiasan, enak sekali mau kau jual jual", teriak ayah tiriku dengan menggebrak meja.
"Ini untuk anakmu sendiri pun kamu masih tak terima..??", ucap ibuku tak mau kalah.
"Gakk, aku gak mau..!!, aku juga masih sanggup tanpa harus menjual semua hartaku", ucapnya sambil pergi meninggalkan ibuku.
Ibuku memang marah dengan perkataan suaminya, bahkan aku saja yang hanya mendengarnya ikut sakit hati.
Tapi, berbeda dengan ibuku.
Saat Ayah tiriku pulang, emosi ibuku sudah mereda, bahkan ibuku bersikap seperti tidak terjadi apa apa.
Padahal ia sudah di hina oleh suaminya sendiri.
Ibuku dengan santainya menyiapkan makan malam untuknya dan mengobrol biasa saja.
__ADS_1
Jika seperti itu, ibuku akan membahas malasah itu kembali 2-3 harinya lagi setelah semua emosi mereda.