
Saat rasa penat akan pertengkaran di rumah yang tak ada habis habisnya.
Aku mendapatkan kado terindah dari yang maha kuasa.
Sudah satu tahun aku dan Satria menanti kabar bahagia ini.
Mendampakan kehadiran seorang anak, adalah impian semua pasangan.
Termasuk diriku dan Satria.
Kini impian itu sudah terwujud.
Ada malaikat kecil dalam rahimku ini, buah cinta kita.
Pagi itu aku agak cemas di dalam kamar mandi, dengan memegang alat tes pack.
Aku tak sabar menunggu hasilnya.
Aku takut kecewa lagi, sudah berulang kali ku coba, tetapi hasilnya selalu negatif.
Tanpa berpaling, aku memandangi tes pack itu.
Dan hasilnya....
Alhamdulillah...ku hampir menangis saat itu.
Garis dua terlihat jelas didepanku.
Aku hamil..!!!.., dalam hati aku kegirangan.
Pasti Satria juga akan bahagia mendengar berita ini.
Aku menghampiri Satria yang sedang bersiap berangkat bekerja.
"Mass....", ucapku sambil menyembunyikan tes pack itu di punggungku.
"Iya sayang, ada apa..??", ucapnya memelukku.
Kutunjukkan hasil tes itu padanya.
Dia tersenyum, dan menciumku.
"Kamu hamil sayang..??", ucapnya bahagia.
Aku tak kuasa menahan kegembiraan ini.
Terima kasih atas pemberianmu ini ya Allah..., batinku.
"Jaga baik baik anak kita ya", ucap Satria mengelus perutku.
"Iya Mas, aku akan jaga sebaik mungkin", ucapku.
__ADS_1
Saat itu aku membagi kabar gembira itu pada ibuku.
Ibuku memang ikut senang akan kabar kehamilanku.
Tapi perasaanku mengatakan, sejak ibuku menjadi mandiri dan memiliki pekerjaan sendiri dan memiliki penghasilannya sendiri, dia seakan ada jarak denganku dan Satria suamiku.
Dia tidak seperti ibu ku yang ku kenal dulu.
Orang yang lembut dan menyayangiku.
Ternyata perasaanku tidak salah, ibuku mulai berubah..
Seolah olah kabar gembira dan kabar duka datang secara bersama sama.
Di sisi lain, aku mendapat kabar gembira atas kehamilanku, tapi di sisi lain, karna perubahan sikap ibuku, duka dalam hidupku pun muncul dan kian bertambah.
Aku sudah mempunyai ayah tiri yang tak menghargaiku. Aku mencoba tetap tegar dan bertahan demi ibu dan adikku.
Lalu, jika ibuku menjadi seperti ayahku, apakah aku kuat menghadapinya..??..gumamku dalam hati.
Ibuku mulai sering berkomentar buruk atas semua tingkah laku ku dan Satria.
Semua yang kami lakukan salah.
Tak jarang perkataan buruk dan mengejek pun keluar dari mulutnya.
Aku dan Satria semakin tertekan setiap harinya.
Padahal saat itu posisiku sedang mengandung.
Karna sikap ibuku yang semakin hari semakin menyudutkan kami.
Hal itu memancing pertengkaranku dengan Satria.
Lama lama Satria tak tahan hidup di rumah ibuku.
Ia ingin kita pergi dan pulang ke rumah Satria.
Tapi keegoisan ibuku selalu menang.
Hatiku dibuat menangis setiap hari, aku diejek dan semua yang kukerjakan salah, tapi aku tak boleh pergi dari rumah ini, meskipun itu pulang ke rumah mertuaku.
Aku memang sakit hati, tapi jujur ibuku dan adikku lah prioritasku, meskipun harga diriku telah diinjak injak, bahkan luka hati Satria yang dihina di rumahku ini, aku kesampingkan dan selalu memintanya untuk sabar.
Suatu hari emosi Satria meluap di hadapanku. Ia berulang kali ingin pergi dari rumah ini. Tapi karna dia berat meninggalkanku yang tak mau ikut dengannya, akhirnya meskipun dia marah tapi dia tetap bertahan demi aku.
Kami saling menguatkan.
"Sabar Mas, semua ini pasti ada hikmahnya", ucapku sambil menangis di pundaknya.
Semenjak itu Satria terlihat agak cuek dengan sikap orang tuaku.
__ADS_1
Ia mengabaikan setiap hinaan sebagai angin lalu, agar tak menyakitkan di hati.
"Hey, anak kurang ajar, punya menantu tak punya aturan", ucap ayah tiriku ketika Satria pulang kerja sore itu.
Satria bahkan tak menoleh, kami sepakat menganggapnya tak ada.
Ibuku hanya diam, dan selalu seperti itu.
Akupun tak berani bersuara, aku hanya bisa mengelus dada.
Kondisiku sedang hamil, dan aku sudah bosan dengan namanya pertengkaran.
Yang terpenting rumah tanggaku tentram dan damai.
"Andai saja kau tak meminta ibumu agar tak jadi bercerai, mungkin saja hidup kita akan damai damai saja, rumah seolah seperti neraka", ucap Satria padaku.
"Sabar mas, sabar", ucapku, hanya itu yang bisa kukatakan, akupun tak berdaya, hanya demi adikku tak kehilangan sosok ayah, aku mengorbankan hidupku sendiri.
Memang, saat acara pernikahanku dengan Satria setahun yang lalu.
Saat ibuku menghina habis ayahku di sana, sampai ibuku pingsan.
Saat itu, ibuku telah bertekad untuk bercerai dengannya.
Tapi aku menghalanginya.
Karna ku tahu, itu akan berakhibat fatal untuk adikku.
Kondisi adikku sakit sakitan, bagaimana jika ia di bawa pergi jauh oleh ayahnya..??.
Aku tak bisa lagi memantau kesehatannya, kejangnya bisa kambuh kapan saja, dan akan fatal jika tak ditangani dengan benar.
Ayah tiriku hanya punya satu anak, yaitu anak dari pernikahannya dengan ibuku saja.
Tanpa berfikir, pasti dia akan membawa pergi adikku.
Dan ibuku akan hidup menjanda lagi, aku tak tega jika hidup ibuku kembali seperti dulu.
Terkadang di ejek dan di jadikan gosip oleh tetangga, karena iya seorang janda, dan seorang janda identik dengan sebutan perebut suami orang. Allahhu akbar, begitu hina status janda di masyarakat.
Tapi karna mementingkan hidup adik dan ibuku.
Sekarang hidupku lah yang jadi taruhannya, kesengsaraan dan hinaan yang kudapat dari pengorbananku itu.
Kuatkan aku Ya Allah ....batinku.
Mulai dari aku hamil muda, bahkan sampai hamil besar, aku tetap aktif mengerjakan semua pekerjaan rumah.
Mulai memasak, merawat adikku, cuci piring, bahkan mencuci pakaian, yang saat itu kondisi kami masih belum memiliki mesin cuci.
Beruntungnya aku, janinku sangat kuat dan sehat, tak ada keluhan ataupun nyeri saat aku beraktifitas.
__ADS_1
Bahkan aku lebih sehat dari sebelum aku hamil, makanku pun lebih lahap dari sebelumnya.
Alhamdulillah.......