Demi Adik Dan Ibuku

Demi Adik Dan Ibuku
Aku rindu ibuku yang dulu


__ADS_3

Pukul 11 siang, kami sudah sampai di rumah.


Ibuku yang bertugas memandikan Azam, anak kami yang baru lahir.


Ketika aku belum melahirkan, semua tugas rumah aku kerjakan sebisaku.


Tetapi setelah aku melahirkan, sampai anakku berusia 1 bulan, ibuku yang mengurus semua urusan rumah.


Satria tak mau menyusahkan ibuku memasak buka puasa untuknya, jadi Satria lebih sering membeli lauk di luar untuk berbuka di rumah, jadi ibuk jarang memasak untuk berbuka.


Saat merawat anak kami pun, kami usahakan tidak merepotkan ibuku.


Meskipun ibu tidur di depan tempat tidurku, tapi aku dan Satria tak pernah mengganggu tidurnya, saat Azam bangun untuk ganti popok atau minum susu, kami bekerja sama merawatnya, memenuhi keperluannya.


Padahal Azam menyusu satu jam sekali, dan ganti popok setiap 3 jam sekali.


Saat itu dia masih minum sufor, asiku belum keluar.


Kebayang kan Satria setiap satu jam sekali merebus air, mencuci botol susu dan menyeduhnya.


Satu minggu Azam minum sufor, itu sudah membuat Satria nampak kelelahan dan kurang tidur.


Ibuku mulai dengan celotehnya.


Satria dan aku tak pernah di anggap benar mengurus Azam.

__ADS_1


Suatu malam ketika Azam tiba tiba menangis, ibuku kaget dan keluar dari kamarnya memarahiku dan Satria.


Memang Azam jarang sekali menangis, hanya saat mandi dan haus saja dia menangis.


Saat itu entah kenapa Azam menangis cukup kencang, saat itu sebenarnya aku dan Satria juga sudah menggendongnya, tapi kami tetap terkena amukan ibuku.


"Kalau gak mau ngurus anak, gak usah punya anak, anak nangis enak enak tidur, g bisa urus..!!", ucap ibuku di hadapanku yang saat itu sedang menyusui Azam.


Astagfirullah.., batinku. Dia juga pernah melahirkan, dia juga pernah mengurus anak tapi kenapa ucapannya begitu tega padaku, hanya karna anakku menangis.


Ibuku marah terus menerus, semua ejekan keluar dari mulutnya, saat Satria ingin menjawab aku sengaja mencegahnya dengan meremas tangannya.


Tapi semakin lama omelan ibuku semakin tak beralasan, seakan kami tak mau mengurus Azam.


Satria pun tak tahan.


Dengan melotot ibuku tak terima dengan ucapan Satria yang berani menjawabnya.


"Aku bicara dengan anakku bukan denganmu, tak pernah di didik kah kau oleh orang tuamu, berani menjawabku, kurang ajar", bentaknya.


Astagfirullah, kenapa ibuku jadi begini...??, aku rindu ibuku yang dulu...batinku dan mataku menangis saat itu. Aku iba pada Satria, tapi aku juga tak berani melawan ibuku.


Satria pun berlalu pergi, ia tak tahan dengan ucapan ibuku.


"Bu, Azam sudah kugendong saat menangis, kenapa engkau masih marah", ucapku mencoba menjelaskan.

__ADS_1


Tiba tiba kepalaku di dorong dengan tangan.


"Anak kurang ajar, berani jawab kamu" ucapnya.


Semua omongan buruk diberikannya padaku.


Padahal hari itu lebaran kurang 1 minggu, dan kami sekeluarga tak banyak bicara satu sama lain setelah kejadian itu.


Saat takbir bergema, shalat idul fitri dilaksanakan. Hanya aku dan ibuku yang ada dirumah.


Iya dengan mudahnya tanpa rasa bersalah berbicara padaku.


"Jika Satria tak mau disini lagi, biarkan pergi, kamu tetap di sini dengan ibuk",ucapannya.


Sungguh teganya dia berbicara begitu padaku, itu seakan memintaku untuk bercerai dengan suamiku.


Astagfirullah ya Allah. Semoga kami di beri kekuatan.


Syukur alhamdulillah suamiku tak seperti dugaan ibuku, dia malah meminta maaf pada ibuku setelah pulang dari shalat idul fitri.


Padahal dia tidak bersalah dalam hal ini.


Aku hanya bisa menangis dalam diam.


Entah cobaan apa lagi ini..,??.

__ADS_1


Dimana ibuku yang dulu...??, gumamku dalam hati.


__ADS_2