Demi Adik Dan Ibuku

Demi Adik Dan Ibuku
Kakek kenapa..??


__ADS_3

Azam seperti biasa bermain bola di samping rumah saat sore hari menjelang.


Banyak anak anak lain pun yang berkumpul disini, bermain bersama sambil menanti waktunya mereka berangkat mengaji.


Azam tak sengaja terlalu kencang menendang bolanya.


Bola itu menggelinding sampai masuk ke tempat ternak ayah tiriku.


Azam segera berlari mengambilnya.


Langkahnya terhenti sejenak, bola itu berada di depan kakeknya yang sedang duduk mengamati ternak ternaknya.


Azam diam tanpa suara, begitupun ayah tiriku.


Azam tanpa basa basi mengambil bola itu dan pergi dari hadapannya.


Azam segera menendang bola itu pada teman temannya.


Permainan pun di mulai lagi.


"Ayo zam...!!", ucap seorang temannya menyemangati Azam.


Terlihat Azam tiba tiba menghentikan permainannya.


Pandangannya mengarah kepada seorang temannya yang melintas di depan rumah bersama kakeknya mengendarai sepeda bersama.


Seketika senyum Azam kian pudar.


"Aku istirahat dulu ya", ucap Azam melemparkan bola pada teman di sampingnya.


Dan berlari menuju ke arahku.

__ADS_1


Ia duduk di sampingku.


Seperti ada sesuatu yang ia pendam.


"Kenapa zam...??", ucapku mengelus rambutnya.


"Gak apa apa kok buk", ucapnya menundukkan pandangannya.


"Jangan bohong kamu", ucapku memancingnya bicara.


Azam pun terdiam sejenak dan memandang ke arahku.


Ia kemudian menunjuk teman sekelasnya yang terlihat melintas di depan rumah.


"Ibu lihat..??", ucap Azam tak lepas pandangannya dari jalan raya.


"Kenapa zam..??, iya ibu lihat, itu teman sekolahmu kan..?, namanya Rosi", ucapku masih tak mengerti.


Aku mulai paham dengan apa yang akan di utarakan Azam padaku.


Wajar saja ia menanyakannya, tohh ia jelas jelas memiliki seorang kakek seperti temannya. Tapi ia tak merasakan apa yang teman teman lainnya rasakan.


Kasih sayang seorang kakek.


"Azam iri sama Rosi..??", ucapku.


"Enggak kok buk, ibuk kan pernah ngajarin Azam harus bersyukur dengan apa yang Azam punya, tapi...??", ucap Azam tak melanjutkan perkataannya.


"Tapi apa Zam..??", ucapku memancingnya agar ia bisa lebih terbuka padaku di setiap hal.


"Azam kan juga punya kakek, untuk iri pun Azam sebenarnya juga punya kakek, tapi kenapa kakek seperti itu..??", ucap Azam.

__ADS_1


Aku bingung ingin menjawab apa, sebenarnya aku sudah tau, saat Azam tumbuh besar ia akan menanyakan hal ini.


"Azam..., tak apa kakek bersikap begitu sama Azam, tapi alangkah lebih baik Azam lebih memikirkan bagaimana menjadi cucu yang baik, terlepas bagaimana sikapnya pada Azam", ucapku menasehatinya.


"Apakah kakek benci Azam..??", ucapnya masih penasaran.


"Tidak zam, kakekmu tidak membencimu tapi membenci ibu dan ayahmu ini", ucapku dalam hati.


Ingin sekali aku mengatakannya.


Tapi hatiku tak sampai, Azam masih kecil, ia tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini.


Aku menghela nafas panjang.


"Tidak Zam, kakek tidak benci Azam, ia mungkin banyak pikiran, lebih baik Azam bermain dengan teman teman lagi ya", ucapku menghiburnya.


Azam pun kembali tersenyum.


Ia menuruti nasehatku, ia berlari dan masuk ke arena permainan lagi.


Ia memiliki keluarga yang lengkap, tapi ia tak mendapat kasih sayang selayaknya dari seorang kakek pada cucunya.


Mataku berkaca kaca.


Seandainya ayah masih hidup, pasti Azam akan kau manja sampai aku pun marah melihat kau selalu memanjakan cucumu itu.


Pasti ibuku tidak akan pernah menangis lagi, ia juga tidak harus bekerja keras sepanjang hari.


Ibu juga tidak harus sendiri memikirkan nasib anak anaknya kedepannya, gumamku dalam hati.


Pandanganku tertuju pada langit senja di atasku.

__ADS_1


Semoga engkau memberikan kebahagiaan selalu kepada keluargaku ya Allah, gumamku dalam hati.


__ADS_2