Demi Adik Dan Ibuku

Demi Adik Dan Ibuku
Sakit membuat ibuku kembali


__ADS_3

Ibu masih sibuk dengan rencananya, mengontrak rumah sendiri, dan keluar dari rumah.


Seoalah olah ia sudah tak sabar ingin tinggal berpisah denganku dan Satria.


Tapi Allah memberinya hidayah pada saat yang tepat.


Semakin hari ibu semakin terlihat lesu dan lemas, ia tiba tiba batuk dan tak kunjung sembuh.


"Bu kita ke dokter..??", ucapku menghawatirkan kondisinya.


"Tak usah, besok pasti sembuh", ketusnya padaku.


Selang satu bulan berlalu, sakitnya tak kunjung membaik, malah terlihat semakin parah.


Ibu semakin pucat dan lesu.


Suatu pagi ia menangis.


"Kenapa bu...???", tanyaku padanya.


Ia menangis dan kulihat ada bercak darah di batuknya.


"Kita ke dokter sekarang", ucapku.


Karna Azam tak mungkin aku bawa ke klinik, dan Satria pun belum pulang dari bekerja.


Aku menelfon kakakku.


Tut.....tutt...


"Hallo, kenapa Kin..??", ucap kakakku, yang langsung mengangkat panggilan telfonku.


"Bisa kesini segera kak..??, aku butuh bantuan", ucapku.


"Okeee, tunggu sebentar", ucapnya sambil menutup telfonnya.


Aku menenangkan ibuku saat itu, ada rasa iba saat melihatnya.


Begitu jarang aku melihatnya menangis, mungkin satu dua kali aku melihatnya menangis karna ulah ayah tiriku.


Tapi hari ini, ia menangis seperti orang yang sedang putus asa.


Grengg...Grengg...


Itu suara motor kakak, ia langsung turun dan menemui kami di dalam rumah.


"Kenapa Kin, kok ibu menangis..??", ucapnya terkejut melihat ibuku yang sedang menangis.

__ADS_1


Aku menunjukkan bekas batuk ibu yang berdarah.


"Ya Tuhan....??", ucap kakakku terkejut melihat bercak darah itu.


"Tolong bawa ibu ke klinik kak, aku tak bisa menitipkan Azam sendiri, kasian, ia juga butuh asi, jika ku bawa, dia masih terlalu kecil untuk ku bawa ke klinik, aku juga tak bisa merawat kebutuhan ibu selama di sana", ucapku.


" Ya udah, ayo buk, aku antar ke klinik, naik motorku saja", ucap kakakku.


Kami memapah ibu berjalan ke arah motor.


Aku menunggu dengan gelisah.


Sudah 2 jam mereka belum kembali, gumamku dalam hati.


Hari sudah menunjukkan sore, mereka juga belum kembali.


Grengg, grenggg....


Suara motor kakak, aku bergegas keluar dengan menggendong Azam.


"Bagaimana kak, bagaimana hasilnya..??", ucapku.


"Ibu terkena Tb paru dan Diabetes", ucap kakakku menjelaskan.


Ibu mulai meneteskan air matanya lagi.


"Ibumu harus minum obat Tb selama 6 bulan tanpa putus, dan harus sering kontrol, untuk diabetesnya harus menjaga makan dan menjaga pantangannya baik baik, kadar gulanya lumayan tinggi, untung saja termasuk diabetes kering, jadi tidak ada luka yang membuatnya makin serius", ucap kakakku menjelaskan.


Ibuku hanya terdiam, apa yang sedang ia pikirkan..??, aku pun tak tahu.


Kemudian ibu berlalu masuk kamar.


"Kin, kakak sudah bicara panjang lebar dengan ibumu tadi, ia sepertinya menyesali perbuatannya padamu, kakak berharap kamu merawatnya dengan baik, obat dan makanan kuserahkan semuanya urusannya padamu, kalau masalah kontrol dan tebus obat, biar kakak yang urus, okey", ucap kakakku sambil berpamitan.


"Baik kak", ucapku.


"Jaga dirimu", ucapnya sambil berlalu menaiki motornya.


Aku menarik nafas panjang.


Aku memang sakit hati dengan sikap ibuku akhir akhir ini.


Tapi aku juga tak mau Allah menghukumnya seperti ini.


Bagaimanapun dia, dia tetap ibuku, dia surgaku.


Semoga kau menyembuhkannya ya Allah,,,aminn, doaku dalam hati.

__ADS_1


____


Pagi itu aku menyiapkan makanan khusus untuk ibuku, sesuai petunjuk kakak.


Kata dokter, ibu tak boleh makan nasi putih sampai kadar gulanya turun, gulanya juga harus khusus untuk penderita diabetes, jangan terlalu banyak minyak, penyedap dan garam.


Semua ku siapkan sesuai arahan.


Ibuku terlihat lebih murung dari biasanya.


Ia pun takut hanya untuk sekedar makan.


"Bukk, ini makanannya, gak usah takut, semua sudah sesuai sama perintah dokter", ucapku menyajikan sarapan padanya.


Ibuku makan dan minum obat dengan teratur.


Dan dalam beberapa hari ini, tak ada omongan pedas yang keluar dari mulutnya.


Masker mulut pun tak lepas darinya, ia tinggal di kamar tersendiri.


Katanya ia takut akan menulari Azam dan Nara jika tak tidur diruangan sendiri.


Aku ikut sedih melihatnya.


Tubuhnya terlihat sangat kurus kering, dan lesu.


__


Sudah 3 bulan berlalu, pengobatan Tb ibu sudah tinggal 3 bulan lagi.


Dan beransur ansur tubuhnya mulai pulih dan tak nampak lesu.


Kadar gulanya juga telah stabil. Tanpa harus suntik Insulin.


"Kin maafin ibuk ya..??", ucap ibuku.


"Sudahlah buk, yang berlalu biarlah berlalu, aku hanya punya satu orang tua yaitu ibuk, tolong jangan berkata kasar lagi padaku, hatiku lebih sakit jika ibu yang mengatakannya, dibanding dengan omongan pedas dari ayah setiap hari", ucapku berkaca kaca.


"Makasih ya Kin", ucapnya sambil memelukku.


Ya Allah sungguh engkau maha membolak balikkan hati manusia.


Engkau memberi sakit pada ibuku sehingga sekarang ia kembali padaku.


Hari ini aku telah mendapatkan surgaku kembali.


Terima kasih Ya Allah, ucapku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2