
Telah masuk bulan puasa hari ke 5.
Sore itu, seperti biasa aku memasak lauk untuk berbuka nanti sekeluarga.
Yang paling kunantikan saat puasa ialah, berbuka bersama di satu meja makan.
Adikku Nara yang paling semangat saat buka menjelang.
Saat berbuka.
Ada aku, adikku, Satria suamiku.
Ibuku biasanya berbuka di meja belakang sambil menunggu ayah tiriku pulang.
Satria bekerja dengan jarak tempuh lumayan jauh, 1 jam perjalanan dari rumah, jika tak lembur ia akan selalu pulang sebelum berbuka puasa.
Beda dengan ayah tiriku.
Ia tak kan datang sampai waktu magrib habis, jika pun dia datang, dia hanya bisa menggertak Nara agar tak makan bersama kami.
Ia tak mau anaknya dekat dekat denganku.
Saat memasak, tiba tiba aku merasa ada yang mengalir di kakiku.
Aku seperti buang air kecil tanpa terasa, setelah ku cek.
Ketubanku telah pecah...
Ku ikuti arahan ibuku.
Aku mandi dan bersiap berangkat ke rumah sakit, semakin lama air ketubanku semakin mengalir deras..
Aku segera menelfon Satria agar cepat pulang.
"Gimana....terasa sakit..??", ucap Satria setelah sampai dirumah.
"Enggak, tapi air ketubannya terus ngalir", ucapku.
Kami pun bersiap, sebelum kami ke rumah sakit, kami mampir ke klinik bu bidan.
Ternyata benar, itu air ketuban.
Aku sudah pembukaan 2.
__ADS_1
Tak lama ambulans datang, membawaku ke rumah sakit.
Saat itu,
Aku tak merasakan apapun, kontraksipun tidak.
Saat sampai ke rumah sakit, aku berjalan sendiri masuk ke ruang persalinan, karna memang tak ada rasa sakit sama sekali.
Aku berbaring di ranjang pasien di ruang bersalin, suster memasang selang infus ditanganku.
Aku dicek pembukaan lagi, dan tensi darahku.
"Masih pembukaan 2 dok", ucap salah satu suster.
"Ya sudah kita tinggal dulu, sambil menunggu pembukaan lengkap", ucap dokter.
Masih 15 menit dokter meninggalkan ruangan bersalin, aku mulai merasakan perutku mulas, rasanya hilang timbul, kontraksiku mulai muncul.
Semakin lama semakin sering.
Akhirnya Satria memanggil dokter lagi.
"Kenapa buk..??", ucap dokter memeriksa perutku, dan mengecek pembukaanku lagi.
"Sudah pembukaan 4 buk, sabar dulu ya" ucap dokter.
15 menit kemudian, dokter kembali dan mengecek pembukaan lagi. Lagi lagi cek, kapan aku melahirkan..??, batinku.
"Buk, mas. Ini masih pembukaan 4, kita tunggu sampai 4 jam lagi, kalau pembukaan tak bertambah akan kami rujuk ke rumah sakit besar" ucap dokter menjelaskan kemungkinan yang ada.
Ku terus melafalkan doa nabi Yunus yang ku lafalkan sejak aku perjalanan ke rumah sakit ini, kulantunkan tak henti.
Untuk mempermudah persalinanku, atas izin Allah tentunya.
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.
Sebagaimana Allah menolong nabi yunus saat diperut ikan paus, semoga Allah menolongku saat persalinan nanti..Aminn....
Aku makin merasa mulas, aku mulai tak tenang, tak tahan rasanya.
Dokter yang melihat aku semakin gelisah, mengecek pembukaanku lagi.
__ADS_1
"Sudah 7, siapkan semua alat alatnya", ucap dokter memberi isyarat pada suster yang membantunya.
Rasanya sudah tak bisa ditahan, tubuhku menggeliat menahan sakit, bahkan Satria pun tak ku hiraukan saat berusaha menenangkanku.
Aku mengerang kesakitan.
"Dokk, sampai kapan harus menunggu lagi..??", tanyaku menahan sakit.
"Sabar buk, kita tunggu bukaan lengkap dulu ya", ucap dokter menenangkanku.
Dokter mengecek pembukaanku lagi.
"Sudah 10..", serunya.
Dokter mulai menata posisi kaki dan tanganku.
"Tunggu aba aba saya ya buk, kalau berasa ada dorongan untuk mengejan, mengejanlah, pusatkan erangan di perut jangan di tenggorokan, bekerja samalah dengan sang bayi", ucap dokter memberi instruksi padaku.
Ku ikuti semua ucapannya, ku berusaha menyatu dengan bayiku, aku pun mengikuti aba aba dokter.
Tak lupa doa nabi Yunus ku panjatkan selalu dalam hati.
Tak butuh lama, 15 menit kemudian tangisan bayiku terdengar tuk yang pertama kalinya.
Seketika rasa sakitku hilang, aku memandang bayi laki laki ku yang lahir dengan sempurna, alhamdulillah ya Allah.
Saat itu semua meneteskan air mata bahagia, terutama ibuku.
Seakan sosok ibuku yang dulu, yang sangat menyayangiku dan sangat lembut padaku hadir kembali saat itu.
Tidak ada sifat pemarah dan ketusnya saat itu.
Suster membersihkan anakku, dan Satria mengazhaninya sesuai ajaran agama kita.
Satria mencium keningku.
"Terima kasih sayang" ucap Satria.
Tak ada yang lebih membahagiakan dari ini, saat kita sedang berjuang melahirkan buah hati, ada suami yang setia menemani, dan menghargai perjuangan kita.
Sungguh itu lebih dari cukup bagi seorang wanita, dicintai dan dihargai oleh suaminya.
Kami menginap 2 hari di rumah sakit.
__ADS_1
Setelah kondisiku pulih, aku diperbolehkan pulang.