Demi Adik Dan Ibuku

Demi Adik Dan Ibuku
Indah, walau hanya dalam mimpi


__ADS_3

Aku membuka mata,


Ada pemandangan di depanku yang membuatku tertarik untuk mendekatinya.


Kulihat dengan seksama,


Seorang gadis kecil tidur dengan nyamannya ditempat tidur.


Wajah yang terlihat tenang dan tanpa beban.


Sinar cahaya pagi masuk melalui sela sela jendela.


Udara yang masih terasa segar dan dingin.


Membuat si gadis menarik selimutnya dan kembali tidur.


Disisi lain terlihat seseorang membuka pintu kamar dari luar kamar.


Klikkkkk....


Terlihat lelaki yang samar samar ku ingat wajahnya.


"Ayah..!!", seruku mendekatinya, yang sepertinya ia tak bisa melihatku.


Lelaki itu mendekati Kinara kecil, yaitu aku.


Yang kusadari bahwa gadis kecil yang sedang tertidur pulas itu ialah aku semasa kecil.


Ia mengelus rambut Kinara kecil.


Mencoba membangunkannya.


Terlihat Kinara kecil tak bereaksi dengan elusan Ayahnya.


Ayahnya mulai menciuminya agar Kinara kecil segera bangun.


Kinara kecil mulai terusik dan akhirnya membuka matanya.


"Ayahhhh...??, hari ini kan hari minggu..", ucap Kinara kecil kembali memejamkan matanya.


"Ehhh, anak ayah jangan tidur lagi, memang ini hari minggu, tapi bukan alasan kita harus tidur seharian kan...??", ucap Ayah membuka selimut Kinara kecil.


Aku hanya tersenyum melihat pemandangan itu.


Entah ini pemandangan apa, tetapi aku sangat menikmatinya.


"Ayah mau ajak kamu berjualan, mau..??", ucap Ayah berbisik ketelinga Kinara kecil.


Dengan segera, Kinara kecil membuka matanya dan bergegas duduk dengan senyum manisnya.


"Benar yah..??, naik gerobak motor..??", ucap Kinara kecil memeluk ayahnya.


"Hahaha, yuk siap siap, kita berangkat sebentar lagi, okee", ucap Ayah mengajak Kinara kecil keluar kamar untuk mandi.

__ADS_1


Sementara terlihat Kinara terus bercerita apapun disepanjang jalan menuju ke kamar mandi pada Ayah.


Aku tersenyum dan tak terasa air mataku menetes.


Betapa terlihat bahagianya aku waktu itu.


Aku pun mengikuti mereka.


Ayah memandikanku, menyisir rambutku, bercanda denganku, bahkan menyuapiku makan.


Kami pun bersendau gurau dengan ibu yang masih beraktifitas di dapurnya.


Sungguh saat saat yang indah.


Ayah menggendong Kinara kecil, mendudukkannya di tengah tengah gerobak motor milik ayah.


Hari ini mereka akan berdagang kerupuk keliling desa desa sekitar.


Walaupun bukan liburan istimewa tapi Kinara kecil sangat terlihat bahagia di sepanjang jalan.


Mereka menjajahkan kerupuk di warung warung sampai akhirnya tak tersisa satu pun.


"Yah kerupuknya habis", ucap Kinara kecil terlihat lelah dan menguap.


Tak terasa hari sudah sore.


"Alhamdulillah rejeki kita hari ini, yukk kita pulang", ucap Ayah mengendarai gerobak motornya sampai ke depan rumah.


"Assalaammualaikum", ucap Ayah membuka pintu rumah.


"Walaikumsalam, sudah pulang pak", ucap ibu keluar dari arah dapur.


"Sudah buk", ucap Ayah menuju ke kamar Kinara kecil.


Ibu mengikuti dari belakang.


Ayah menidurkan Kinara kecil di ranjangnya.


Nampak gadis kecil itu terlihat bahagia walaupun dengan hal yang sederhana.


"Pak, Kinara udah Makan..??", ucap ibu.


"Udah buk, tadi bapak belikan nasi goreng untuknya, dia makan saat bapak tinggal melayani pelanggan", ucap ayah.


"Lalu bapak sudah makan..??", tanya ibu menutup korden kamar.


"Belum buk, tadi gak sempet", ucap ayah menyelimuti Kinara kecil.


"Ya udah, yukk ibu siapin, kebetulan ibu sudah siapkan makan malam" ucap ibu keluar dari kamar Kinara kecil.


"Tumbuh besar ya sayang, jagain ibuk kalau bapak mungkin gak ada lagi", ucap ayah mengecup kening Kinara kecil dan keluar menuju ruang makan.


Aku sesenggukan mendengar perkataan ayahku.

__ADS_1


Betapa aku ingin memeluknya lagi.


Betapa aku sangat merindukannya.


Betapa aku rindu suasana seperti itu.


Aku tak tau apa rencana Tuhan padaku, hingga ia harus mengambil ayahku secepat itu.


Bahkan aku masih membutuhkan sosok ayah sampai sekarang ini.


Dalam tangisku aku mendengar suara Satria.


"Sayang...??, hey bangunnn.!!!" ucap Satria mengagetkanku.


Aku seketika membuka mataku.


Aku pandangi sekelilingku.


Aku menyadari bahwa tadi hanyalah sebuah mimpi.


Mimpi dari kenangan masa laluku yang indah bersama Ayah.


Tangisanku kemudian pecah.


Satria ketakutan dan memelukku.


"Heyyy, Kinara...??, istigfar, kamu kenapa..??", ucap Satria menenangkanku.


"Jangan tinggalkan aku dan Azam, seperti ayah meninggalkanku dan ibu dulu" Seruku sambil menangis.


"Ya Allah, kamu mimpi apa sih..!!, ucap Satria mengusap air mataku.


"Aku gak mau Azam merasakan apa yang aku rasakan Mas", ucapku sesenggukan.


"Udah ya sayang, gak usah nangis, aku janji gak bakal ninggalin kamu sama Azam, berdoalah semoga umurku panjang dan bisa sama sama kalian terus ya" ucap Satria kembali memelukku.


"Sangat menyakitkan rasanya mas", ucapku masih sesenggukan.


"Udah, lebih baik kita shalat tahajud ya, mumpung masih jam 1 malam, kamu tenangin diri kamu dengan shalat, oke", ucap Satria memapahku berdiri dan mengajakku mengambil air wudhu.


Aku shalat dan memohon keselamatan bagi keluargaku.


Hanya ini harta yang ku punya.


Jangan sampai ada seorang anak lagi yang merasakan tumbuh tanpa sosok orang tua, terlebih hidup dengan orang tua sambung.


Cukup aku saja.


Mimpiku memang sebatas mimpi.


Tapi itu sungguh indah.


Seakan Allah mengobati kerinduanku pada Ayah dan kasih sayangnya.

__ADS_1


__ADS_2