
Tahun ini Nara telah selesai di bangku sekolah menengah pertama.
Ia semakin dewasa dan bijaksana.
Sejak kejadian Nara menghinaku dan ibu memarahinya habis habisan, ia mulai merubah tingkah dan sifat buruknya.
Ajaranku dan ibuku ia pakai, sehingga di usianya yang sekarang ia lebih bersikap dewasa dari sebelumnya.
Perkataan ayahnya tidak terlalu ia hiraukan.
Ia tak mau salah sangka padaku seperti dulu.
Ia mengaku sangat menyesal kala itu.
Pagi itu wisuda Nara di sekolah.
Ayahku bersiap ingin menghadiri acara anak kesayangannya itu.
Kutatap ia dari kejauhan.
Sudah lama aku tak memandang dengan jelas wajah ayah tiriku itu.
Seingatku dulu ia tinggi dan Gagah, kekar dan di takuti semua orang.
Tapi sekarang, rambutnya sudah berwarna putih sebagian.
Badannya agak kurus.
__ADS_1
Wajahnya keriput dan sinar matanya seakan tak ada.
Kusadari satu hal.
Ia sudah tua, tenaganya pun tak seperti dulu, dalam usianya kini seharusnya ia sudah beristirahat di rumah menikmati masa tuanya.
Tapi ia tetap harus menyekolahkan adikku yang masih lulus smp.
Bagaimana tidak, di usia mudanya ia tak pernah langgeng dengan urusan pernikahan, pernikahan yang di bangunnya tak tahan lama, bahkan tidak ada seorang anak pun yang terlahir dari pernikahannya sebelumnya.
Mungkin istrinya yang dulu tak tahan dengan sifat dan perilakunya dan memilih untuk bercerai di pernikahan yang masih seumur jagung.
Hanya dengan ibuku lah ia memiliki anak, dan anak itulah yang menjadi kunci ibuku bertahan meskipun sebenarnya rumah tangganya sudah hancur dari dulu.
Jadi ketika pada usia tua seperti itu anak anak seharusnya sudah dewasa dan menggantikan peran orang tuanya, di kasus ini, orang tua masih banting tulang karna anaknya masih butuh sekolah dan belum dewasa.
Terkadang rasa ibaku muncul.
Tapi kemudian ingatan tentang ucapan buruknya padaku dan sifatnya itu kembali menyadarkanku.
Aku tidak pernah dianggap anak oleh nya, mana mungkin dia mau kurawat saat tua nya, gumamku dalam hati.
Mungkin jika ia sudah tak bisa berbicara dan tak bisa apa apa lagi, ia tak akan bisa mengelak dan bersuara saat kurawat nanti, gumamku lagi dalam hati yang terpancing amarah yang ku pendam selama ini.
Aku menghela nafas panjang.
Aku beristigfar atas doaku yang buruk pada ayah tiriku.
__ADS_1
Bagaimanapun ia juga ayah dari adikku, bagaimana nasib adikku nanti jika ayahnya harus terbaring tak bisa apa apa saat ia masih membutuhkan figur seorang ayah.
Semoga ia di berikan kesehatan selalu, kasiahan adik dan ibuku, jika nantinya dia hanya menjadi beban mereka jika ia sakit sakitan.
"Kin..!!", seru ibuku membuyarkan lamunanku.
"Ya buk", ucapku menaruh sapu yang ada di tanganku.
"Ibuk berangkat dulu ya, jaga rumah", ucap ibuku berangkat ke acara wisuda adikku nara.
"Dah ayo berangkat, ini acara Nara, tak ada urusan dengannya", ketusnya berlalu melaluiku
Astagfirullah, gumamku dalam hati.
"Sabar ya kin, bentar lagi kalau rumah ibuk selesai kamu bakal terbebas dari dia", ucap ibuku menghiburku.
"Iya buk", ucapku mencium punggung tangan ibuku.
"Assalammualaikum", ucap ibuku berjalan pergi.
"Walaikumsalam", ucapku memandangnya yang kian tak terlihat dari tempatku berdiri.
Memang benar kata ibuk, aku akan terbebas darinya saat rumah baru itu selesai.
Tapi itu juga berarti aku akan jauh dari ibu dan adikku, harusnya aku mengurus ibuku di usia tuanya.
Aku tiba tiba menangis memikirkannya.
__ADS_1
Tubuhku seketika terduduk di lantai.
"Semoga ada kebahagiaan di hari tua ibuku nantu ya Allah", ucapku lirih sambil mengusap air mataku yang jatuh.