Demi Adik Dan Ibuku

Demi Adik Dan Ibuku
Keberanianku muncul


__ADS_3

Saat itu emosiku tak bisa terkendali, karena menyangkut kesehatan adikku.


Ku jawab makiannya, ku ungkit semua tingkah buruknya.


Selama ini aku diam karna tak ingin ikut campur rumah tangga ibuku.


Aku diam, karna tak mau emosiku membuat adik ku kehilangan sosok ayah seperti aku dulu, aku tak mau Nara merasakannya juga.


Tapi saat ayahku berani menyepelekan kesehatan Nara dan berani membuat ibuku terus terusan menangis, aku tak bisa diam.


Tanpa pikir panjang, ku beranikan diri berdebat dengannya. Sungguh aku tak tau apa yang ada diotaknya itu.


Aku bertengkar hebat dengannya malam itu. Ibuku hanya bisa menangis dan menangis tanpa bisa membela dirinya sendiri.


Setelah kejadian itu,


Aku semakin tak menghiraukan kehadiran ayah tiriku di rumah.


Ada ataupun tidak, aku anggap dia tak ada di sekeliling kami. Aku capek dengan tingkahnya.


Yang terpenting dia tak berani seenaknya lagi disini.


Semakin aku tak menghiraukannya, dia semakin sedikit bersuara.


Itu lebih baik, dari pada aku dengar ocehan omong kosong dari mulutnya itu.


Dulu sebelum sifat buruknya itu terlihat di depan para tetangga.


Para tetangga seenakknya mengkritikku dan Satria.


Perkataan mereka masih ku ingat dengan jelas....


Aku yang tak berbakti lah..


Aku yang tak mau mengalah lah.


Aku yang tak bisa mengambil hati ayahku sendiri lah.


Satria yang tak bisa menjadi menantu baik bagi ayahku.


Satria yang tak mau membantu pekerjaan ayahkku...


Kami hanya diam menanggapi ocehan mereka, biarlah mereka tau dengar sendirinya..


Tak butuh lama.


Saat sifat jelek ayahku muncul dan terlihat oleh semuanya,


Mereka diam, mereka takut, bahkan hanya untuk sekedar bercengkrama dengan ayah tiriku.

__ADS_1


Mereka menyadari kekeliruan mereka, malah mereka menjadi iba kepadaku.


Bukan aku yang bermasalah disini, tapi ayah tiriku, dengan tabiat buruknya.


Makin tak kenal waktu.


Tinnn.tinnnn...


Terdengar suara klakson motor diluar.


Aku terbangun, jam menunjukkan pukul 12 malam.


Terdengar lagi suara ibuku membuka pintu belakang.


Ku intip dari balik jendela.


Ternyata ayah tiriku...


Siapa yang bekerja diladang, tengah malam begini baru pulang..??.batinku.


Semua juga tau, petani bekerja di ladang tidak ada yang pulang sampai tengah malam.


Sebaiknya aku kembali tidur, gumamku.


Kuperhatikan, makin hari ayah tak pernah ada dirumah, mungkin ia pulang hanya untuk tidur sejenak dan berangkat lagi saat subuh.


Jika bukan karna mereka sudah ku usir dia dari rumahku.


Tempat kerja Satria kebetulan searah dengan ladang ayahku.


Suatu pagi Satria berangkat kerja lebih awal, karna hari masih pagi, ia tak sengaja melihat ayahku nongkrong dengan santainya di sebuah warteg.


Setiap Satria lewat jalan yang searah dengan ayahku, entah pagi, siang atau menjelang magrib ayahku selalu terlihat di warteg bersama kawan kawannya.


Padahal ibuku bangun sebelum subuh, hanya untuk membuatkannya bekal saat bekerja, berharap suaminya tak kelaparan seharian bekerja.


Ibuku dengan polosnya tak tahu kelakuan suaminya,


Entah apa yang dilakukannya seharian di warteg, dengan alasan berangkat kerja.


Alhasil ladang yang di garap ayahku gagal panen terus menerus. Ibuku merugi, bahkan ayahku terkadang hanya memberi nafkah ibuku beberapa kali dalam waktu satu bulan.


Dari pada nongkrong dan makan di warteg, lebih baik jika uang itu diberikan agar dikelolah istrinya.. sungguh ibuku tak beruntung.. Pikirku.


____


Tak kalah dengan tangan nenekku


Karna setiap hari keuangan ibuku makin sulit, ibuku setiap harinya hanya mengandalkan aku dan Satria.

__ADS_1


Alhasil ibuku berinisiatif meneruskan profesi nenekku sebagai tukang urut.


Syukur alhamdulillah, usaha ibuku membuahkan hasil.


Semakin hari pasien ibuku semakin banyak,


Untuk urusan adikku dan rumah itu aku yang urus.


Aku juga berhenti berjualan makanan di warung karna aku ingin program hamil saat itu.


Ibuku semakin mandiri dan kepercayaan dirinya mulai kembali, ia tak lagi meminta uang kepada suaminya hanya untuk sekedar untuk makan dan nantinya pasti akan berakhir dengan pertengkaran.


Pasien ibuku tak jarang yang datang dari luar kota dan desa tetangga.


Mereka kebanyakan ialah pasien nenekku dulu.


Pijatan ibuku tak kalah dengan pijatan tangan nenekku, karna dari remaja ibuku sudah sedikit banyak sudah diajari oleh nenekku sendiri.


Suatu malam.


Saat tepat tengah malam, ada seseorang mengetuk pintu, memanggil manggil nama ibuku.


Kubukakan pintu dan kupersilahkan masuk.


Ia terlihat kesakitan memegangi perutnya.


"Ada apa mbak..??", tanya ibuku menghampirinya, memapahnya agar berbaring di kasur.


"Perut istriku tiba tiba sakit katanya mbah..", jawab suaminya yang mendampingi ia datang saat itu.


Tak lama setelah diurut , wanita itu setidaknya tak merintih kesakitan lagi, walaupun masih terlihat lemas.


"Terima kasih mbah,.. Sudah lama saya tak diutut semenjak mbah Karsi meninggal", tuturnya.


Mbah Karsi adalah nama almarhum nenekku. Itulah sapaan nenekku didesa ini.


"Iya sama sama, saya cuma menolong", ucap ibuku.


"Pijatannya enak lhoo mbah, seperti pijitan mbak Karsi dulu", puji wanita itu.


"Makasih buk, alhamdulillah..", jawab ibuku.


"Ya sudah buk sekali lagi makasih bantuannya, kami mohon pamit, maaf mengganggu malam malam", sambil menyodorkan sebuah amplop pada ibuku sebagai tanda terima kasih.


"Assalammualaikum", ucap lelaki itu.


"Walaikumsalam", jawabku sambil menutup pintu depan .


Beginilah resiko menjadi tukang urut, kapanpun orang membutuhkan, entah malam ataupun siang, ibuku harus siap menolongnya.

__ADS_1


__ADS_2