Demi Adik Dan Ibuku

Demi Adik Dan Ibuku
Apakah ibu membenciku..??


__ADS_3

Beberapa bulan ini tak ada pertengkaran antara ibu dan ayah tiriku.


Ibuku sudah bisa membangkitkan finansial keluarga lagi.


Ia tak perlu meminta uang belanja lagi dari suaminya.


Syukur syukur jika di beri uang belanja tanpa meminta pada suaminya, begitulah ibuku sekarang.


Pengeluaran setiap bulan sudah cukup di tanggung Satria dan ibuku.


Tapi, ibuku semakin seenaknya berbicara padaku dan Satria.


Entah apa salahku dan Satria.


Selalu salah di mata orang tua ku.


"Kin..!!!", teriak ibuku.


"Iya buk, ada apa..??, sahutku, seketika aku langsung menemuinya meskipun saat itu Azam sedang menyusu.


"Kamu tuh ...!!, punya suami gak punya aturan, gak di didik sama orang tuanya ya...??, ucap ibuku, mengeluhkan tingkah Satria.


Saat itu Satria sedang bekerja.


Saat ibuku marah, aku tahu bahwa saat Satria berangkat bekerja, sempat berpapasan dengan ibuku dan terlibat cekcok.


"Astagfirullah, kenapa sihh buk..??", ucapku sambil menggendong Azam.


"Kasih tau tuh suamimu..!!, ibu gak suka kalau perkataan ibuk tuhh di jawab.


Salah benar anak itu gak usah bantah, ngerti ..!!", ucapnya sambil berlalu pergi, tetapi ocehannya tetap terdengar sampai ia ke luar dari rumah.


Lagi lagi air mataku menetes.


Apakah seorang anak tidak pantas berbicara..??.


Apakah hanya karna perbedaan umur, yang muda selalu salah, dan jika benar tak boleh bersuara...??.


Keluarga macam apa ini...??.


Ini keluargaku, aku tumbuh besar di tengah tengah mereka, tapi aku seolah olah kehilangan mereka ketika aku sudah dewasa.


Aku sudah berusaha menjadi anak yang berbakti pada ibuku.


Menjadi istri yang berbakti pada suamiku.


Bahkan menjadi kakak dan ibu yang baik bagi adik dan anakku.


Tanpa memihak ke salah satu peranku.

__ADS_1


Tapi kenapa aku selalu salah di mata orang tuaku sendiri...??, tangisku dalam batin, seolah olah batinku menjerit menahannya.


Dada ku terasa sesak, ingin aku meluapkan semua keluhannku, tapi lagi lagi aku tak berdaya.


Sore itu Satria pulang dari bekerja.


Disambut pertengkaran oleh ibuku.


Dan berakhir dengan berimbas padaku.


"Kenapa mas..??, "ucapku.


"Kasih tau ke ibumu itu, apa seorang anak harus jadi keset orang tuanya..??, apakah kita tak berhak bersuara, apakah orang tua tempat benar dan yang muda tempat salah..??, ucap Satria, lalu berlalu masuk ke kamar.


Ya Allah, ada apa lagi ini, batinku ...


Aku langsung menemui ibuku.


"Ada apa lagi sihh buk...??, ucapku meminta penjelasan.


"Punya mantu kurangajar, ibu gak trima di injak injak, kayak gak punya harga diri.


Lebih baik ibuk keluar dari rumah ini, ngontrak di gubuk pun gak masalah", teriaknya padaku.


Aku menangis sambil menggendong Azam saat itu, aku tahu ibuku yang egois di sini, tapi dia juga ibuku, ini juga rumahnya.


Mana mungkin aku tega membiarkannya hidup mengontrak padahal kita masih punya rumah yang lebih dari layak.


"Tak usahhhh, urus saja suamimu itu", ucapnya sambil berlalu pergi.


Aku terus menangis kala itu.


Aku mengingat almarhum nenek, jika dia masih ada, ibuku tak akan bersikap seperti itu.


Aku tak boleh meninggalkan rumah ini, tapi aku dan suamiku tak di hargai di sini.


Sejak saat itu, tak ada percakapan antara aku dan ibuku.


Ibuku selalu menggerutu setiap saat, mengumbar jika anak dan mantunya sudah tak menghargainya.


Allahu akbar, kuatkan hamba dan suami hamba ya Allah.


Tak apa aku jelek di mata Masyarakat dan orang tuaku, tapi aku masih punya Allah.


Allah tak akan mengujiku lebih dari batas kemampuanku.


Allah yakin aku mampu melaluinya, gumamku dalam hati, menguatkan diriku sendiri yang sebenarnya telah rapuh.


Ayah tiriku semakin senang dengan perselisihan antara aku dan ibuku.

__ADS_1


Ayahku semakin membuat jarak di antara kami.


Semua kerabat tau dengan kondisiku, tapi mereka tak bisa berbuat apa apa.


Menasehati ibuku pun tak menghasilkan apa apa.


Sungguh kali ini hanya Allah yang bisa menolongku.


Setiap hari ibuku hanya mencari rumah kontrakan yang sesuai dengan keinginannya.


Iya tak sudi lagi tinggal bersama aku dan Satria.


"Nara, jajan...??", Satria menyodorkan makanan ringan pada Nara saat pulang bekerja.


"Gak usah", ucap ibuku sambil menarik tangan adikku dan membuang makanan itu.


Satria hanya diam, dia sudah muak membalas setiap perlakuan ibuku. Satria berdiri dan masuk ke kamar.


"Kalau ibuk dah punya rumah sendiri, gak bakal harga diri ibuk di injak injak lagi", ucap ibuku menoleh padaku.


Aku hanya bisa diam.


Di sisi lain ibuku, di sisi lain suamiku.


Jika aku membela Satria, pastilah keadaan akan semakin keruh nantinya.


Kakak sepupuku datang ke rumah untuk yang kesekian kalinya.


Berharap ibuku mau mengurungkan niatnya pergi dari rumah.


"Buk, sudahlah, jangan marah marah terus kasian Kinara sama Azam", ucap kakakku.


"Hatiku sakit nduk, gak di hargai jadi orang tua di rumah ini", ucap ibuku.


"Kinara balik ke rumah Satria gak boleh, tapi di sini di musuhin sama ibuk, trus Kinara harus apa...??", ucap kakakku berusaha menasehati ibuku.


"Ya pokoknya ibu gak suka sama suaminya, salah benar seorang anak gak boleh bantah orang tua", ucap ibuku masih dengan keras kepalanya.


"Jangan nyesel nantinya lhoo buk, saya sudah mengingatkan, Kinara itu dah punya suami, dia bukan hanya anak ibuk sekarang, dia juga seorang istri", ucap kakakku.


"Terserah", ucap ibuku pergi meninggalkan kakakku.


Aku menangis di kamar mendengar semua itu,


sambil menyusui Azam, aku meratapi nasibku sendiri.


Aku di sini, hanya demi ibuku.


Aku tahan dengan tingkah ayah tiriku hanya demi ibuku.

__ADS_1


Apakah ibuku membenciku..??.


Lalu untuk siapa lagi aku bertahan di sini.


__ADS_2