
Ibu beransur ansur pulih, badannya juga kembali sehat seperti sedia kali.
Tak ada badan yang kurus kering lagi sekarang.
Sejak ibu sembuh, kami semakin akrab lagi, kami bahu membahu membuat suasana rumah tidak seperti neraka, tanpa omongan pedas dan tanpa pertengkaran.
"Kin, biar ibu yang jaga Azam, kamu buat sarapan aja gih..!", ucap ibuku.
"Iya buk", ucapku sambil menyiapkan kebutuhan untukku memasak.
"Ibu berlalu menggendong Azam, mungkin ke rumah kakak, jadi aku bisa cepat menyelesaikan tugasku di rumah", ucapku.
"Anak kok gak ada balas budinya..!!", seru ayah tiriku sembari menyiapkan perlengkapannya bekerja.
Ia terus mengoceh menjelek jelekkan aku.
Aku tahu, sebenarnya maksudnya ialah memancingku agar emosi dan menentangnya.
Agar dia punya alasan menunjukku sebagai anak durhaka.
Tapi ah sudahlah, aku capek bertengkar, aku sudah cukup merasa kuat mendengar ocehannya yang menyakitkan.
Sekarang ibuku telah kembali, kekuatanku dan kesabaranku pun telah kembali, biarlah dia bicara semaunya, Allah tak pernah tidur, gumamku dalam hati.
____
"Buk, sarapan dah siap...", ucapku memanggil ibuku untuk sarapan.
"Iya nanti aja, ibu masih mau sama Azam", ucapnya sambil menggendong Azam di pangkuannya.
__ADS_1
Jarang aku melihat pemandangan seperti ini, walaupun aku punya satu orang tua, tetapi aku bahagia jika kita bisa saling mengerti.
"Nara kemana buk..??", ucapku.
"Dia main di halaman belakang", ucap ibuku.
"Ya sudah aku susul dia dulu, agar sarapan sama kita", ucapku berlalu mencari Nara.
"Nara....??", panggilku tapi tak ada sahutan.
Langkahku terhenti, saat ku lihat dari kejauhan Nara sedang di pangku oleh ayahnya.
"Nara....., jadi anak pinter ya, jangan mbantah ayah kayak kakakmu, ayah kalau tua nanti di rawat ya, jangan malah durhaka kayak kakak", ucap ayahku, seolah olah di sini dia yang maha benar.
Ya Allah, apakah dia tak sadar, siapa yang merawat nara selama ini.
Nara tak tumbuh hanya dengan tangannya saja.
"Kin, mana Nara..??", ucap ibuku mencari cari nara dengan memandang ke belakang tubuhku.
"Katanya Nara belum lapar buk, nanti dia menyusul", ucapku, berusaha tak menceritakan apa yang selalu aku dengar setiap harinya dari bibir ayah tiriku.
"Nara gak akan makan kalau gak sama kamu, satu hari pun dia bakal betah" ucap ibuku.
Ibuku saja tau, jika nara tak bisa lepas dari asuhanku setiap harinya, walaupun aku sibuk dengan bayiku.
Tapi kenapa ayahnya seolah olah menyangkal kebenaran itu, dan selalu berbicara jelek tentangku.
Sungguh aku tak tahu jalan pikirannya.
__ADS_1
Kata dokter ibu tak boleh banyak pikiran, jadi ku sembunyikan semua rasa sakit hatiku darinya.
Dan bisa di bilang aku juga sudah muak dengan yang namanya bentakan serta pertengkaran di rumah ini.
Sudah cukup Satria masih mau tinggal di rumah yang seperti neraka ini.
Sebenarnya keluarga Satria pun tak tega, melepas anak laki lakinya hidup di rumahku.
Di tutupi seperti apapun, pasti kabar sikap ayah tiriku pun akan sampai ke telinga keluarga Satria.
Beruntungnya aku, keluarga Satria masih tetap sayang padaku seperti anaknya sendiri, walaupun mereka tau, Satria tak di hargai oleh ayah tiriku.
"Kin, kamu mau kemana..??", ucap ibuku keluar dari kamarnya.
"Buk aku mau menginap ke rumah orang tua Satria selama 2 hari, makan siang dan makanan untuk Nara sudah aku siapkan, gula ibuk pun sudah aku taruh di tempat biasa", ucapku sambil bersiap siap.
"Jangan lama lama ya...??", ucap ibuku.
"Iya buk...", ucapku.
Sebenarnya aku tau, ibuku tak bisa aku tinggal sendiri, terlebih selama ini yang mengurus keperluan Nara adalah aku.
Sekarang makanan ibu pun harus aku yang kontrol agar gula darahnya tak naik lagi.
Setidaknya ibuku sudah menerimaku kembali sebagai anaknya, tak menganggap aku musuhnya lagi, tinggal aku sekarang untuk berbakti padanya.
Hidupku ini hanyalah urutan ke 2, yang utama bagiku ialah kebahagiaan keluargaku ini.
Semoga aku bisa tetap sabar melaluinya.
__ADS_1
Sampai bahagia itu datang dengan sempurna di hidup kami, gumamku dalam hati.