
Hari raya menjadi momen berkumpul sanak saudara.
Bersalaman dan saling meminta maaf untuk kekhilafan yang disengaja maupun tidak.
Momen di mana semua keluarga berkumpul.
Menebar senyum dengan sesama.
Tapi tidak dengan keluargaku.
Terlebih setelah nenekku meninggal dunia.
Semua sanak saudara sudah muak dengan sifat ayah tiriku yang tak punya akal dan aturan.
Sungguh aku malu menyebutnya sebagai ayahku.
Pagi itu takbir bergema di setiap penjuru, aku dan ibu sudah berberes rumah sejak hari menjelang subuh.
Kami ingin semua selesai dan rapi, sehingga bisa mengikuti sholat idul fitri di masjid.
"Kin..??, sarapan sudah siap belum..??", ucap ibuku sambil menata toples kue di meja tamu.
"Sudah buk, baju juga sudah selesai ku cuci, tinggal mandi dan berangkat ke masjid, semoga masih sempat", ucapku sambil menengok Azam yang masih tertidur di kamar.
Sementara Satria sudah berangkat duluan ke Masjid.
Dan ayah tiriku..??, entahlah..
Sejak subuh ia sudah pergi berpakaian rapi, tapi entah kemana tak ada yang tahu.
"Azam masih tidur buk, aku mandi dulu", ucapku bergegas ke kamar mandi.
"Ibukkk", Azam terbangun dan memanggil namaku sambil menangis.
Lebaran ini tepat 2 tahun usianya.
Ia sudah bisa lari dengan kencang dan berbicara dengan lancar.
Sungguh itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu, saat melihat anaknya sehat dan tumbuh dengan baik.
"Azam, sini sama nenek..??", ucap ibuku menggendong Azam yang menangis di kamar.
"Setelah aku selesai bersiap, aku menggendong Azam dan memandikannya, memakaikannya baju koko muslim.
"Gantengnya anak ibuk", ucapku menciumi pipinya yang gembul itu.
"Kin udah siap..??", ucap ibuku sudah siap dengan mukenahnya.
"Sudah buk, Azam juga udah siap", ucapku mengambil mukenah di almari.
"Duhh, cucuku ganteng sekali", ucap ibuku menggendong Azam keluar rumah sambil menungguku.
Melihat ibuku bisa bersikap lembut dengan aku, Azam dan Satria, sudah cukup bagiku.
"Nara dah siap buk..??", ucapku mencari nara yang tak terlihat dari tadi.
"Nara sudah berangkat bersama kakakmu tadi", ucap ibuku.
"Ya udah buk yukk berangkat", ucapku mengunci pintu.
Takbir semakin bergema.
Allahh huuuu akbar
Allahh huuu akbarr
Allahh huuu akbarr
Laaa ilaaa..ha illallah..
huwallah huu akbar .
Allah huu akbar..
Walillah hilham..
Lebaran ini pertama kalinya Azam aku ajak sholat di masjid.
Azam sangat girang mendengar gema takbir di masjid.
Ia berjalan sendiri sampai ke masjid.
Karna memang jarak masjid dari rumah juga tak terlalu jauh.
____
Usai melaksanakan Shalat idul fitri.
Aku dan Ibu bergegas pulang.
Sebentar lagi sanak saudara akan berdatangan di rumah.
Kami harus sudah siap menyambut mereka.
Lekas Aku mencium tangan ibuku dan Satria.
Meminta maaf kepada mereka atas salah dan khilafku.
Tak terasa air mataku menetes.
Aku teringat semua perkataan jelekku untuk ibuku, meskipun hanya ku ucapkan dalam hati.
Aku meminta maaf kepada Satria, dalam hati aku mengucapkan maaf jika orang tuaku sempat melukai hatinya dan menghinanya.
Aku bersyukur memiliki suami seperti Satria dan anak seperti Azam.
Kucium Nara adikku.
Nara memang darah daging ayah tiriku, tapi di nadinya juga mengalir darah ibuku.
Dia juga adikku, adikku yang paling ku sayang, meskipun di sisih lain ayahnya tak menganggapku ada.
"Buk, kinara minta maaf ya", ucapku mencium punggung tangan ibuku.
"Maafin ibuk juga ya", ucap ibuku.
"Maafin aku ya buk", ucap Satria mencium punggung tangan ibuku.
"Maafin ibu juga ya Satria", ucap ibuku.
Aku sempat takut, Satria masih sakit hati terhadap kata kata ibuku, tapi ternyata aku salah.
__ADS_1
Satria tanpa ragu meminta maaf pada ibuku terlebih dahulu.
Lain dengan ayah tiriku.
Setelah ia kembali entah dari mana, ia tak mau masuk rumah.
"Kin, minta maaf sama ayahmu, untuk hari ini saja", ucap ibuku.
"Iyaaa buk", ucapku mengalah dengan keadaan.
Aku dan Satria pun bersalaman dan mengucap maaf pada ayah tiriku.
Tapi dia seolah acuh, tak peduli.
Biarlah, yang terpenting aku hanya mengikuti saran baik dari ibuku tak lebih.
Para saudara berdatangan hari itu, bertegur sapa dan saling meminta maaf.
Tapi tak seramai dan seakrab sewaktu nenek masih hidup.
Sekarang kerabat dekat pun datang hanya untuk formalitas belakang.
Mereka sebenarnya sudah muak dengan ocehan dan tingkah ayah tiriku.
Demi menghargai ibuku, semua mereka pendam dalam hati.
Sesuai tradisi, setelah shalat idul fitri selesai dan para saudara sudah datang kerumah.
Kini giliran kami yang harus berkunjung ke rumah mereka, untuk sekedar menyambung silaturahmi dengan mereka.
Umumnya, setiap keluarga bersilaturahmi bersama anggota keluarga yang lain, anak beserta orang tuanya.
Tapi berbeda denganku.
Ibuku, Nara dan ayah tiriku pergi tanpa aku.
Ayah tiriku tak mau bersama ku mengunjungi para saudara.
Sehingga setiap tahun, aku dan Satria berlebaran hanya berdua, terpisah dari orang tua, kami mencari semua saudara sendiri.
Menyambung silaturahmi kami sendiri.
Setiap kerabat yang kami kunjungi selalu mengeluh akan ayah tiriku.
Aku dan Satria hanya bisa diam.
Kami anak anaknya pun tak bisa berkutik di buatnya.
Dilawan salah, di biarkan juga malah keterlaluan.
Seperti berhadapan dengan orang yang sudah putus akal pikirannya.
Bagiku sudah biasa.
Yang terpenting keluarga kecilku rukun.
Itu sudah cukup bagiku.
Lagi dan lagi.
Allah itu tak tidur, gumakku dalam hati.
Hari raya menjadi momen berkumpul sanak saudara.
Bersalaman dan saling meminta maaf untuk kekhilafan yang disengaja maupun tidak.
Momen di mana semua keluarga berkumpul.
Menebar senyum dengan sesama.
Tapi tidak dengan keluargaku.
Terlebih setelah nenekku meninggal dunia.
Semua sanak saudara sudah muak dengan sifat ayah tiriku yang tak punya akal dan aturan.
Sungguh aku malu menyebutnya sebagai ayahku.
Pagi itu takbir bergema di setiap penjuru, aku dan ibu sudah berberes rumah sejak hari menjelang subuh.
Kami ingin semua selesai dan rapi, sehingga bisa mengikuti sholat idul fitri di masjid.
"Kin..??, sarapan sudah siap belum..??", ucap ibuku sambil menata toples kue di meja tamu.
"Sudah buk, baju juga sudah selesai ku cuci, tinggal mandi dan berangkat ke masjid, semoga masih sempat", ucapku sambil menengok Azam yang masih tertidur di kamar.
Sementara Satria sudah berangkat duluan ke Masjid.
Dan ayah tiriku..??, entahlah..
Sejak subuh ia sudah pergi berpakaian rapi, tapi entah kemana tak ada yang tahu.
"Azam masih tidur buk, aku mandi dulu", ucapku bergegas ke kamar mandi.
"Ibukkk", Azam terbangun dan memanggil namaku sambil menangis.
Lebaran ini tepat 2 tahun usianya.
Ia sudah bisa lari dengan kencang dan berbicara dengan lancar.
Sungguh itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu, saat melihat anaknya sehat dan tumbuh dengan baik.
"Azam, sini sama nenek..??", ucap ibuku menggendong Azam yang menangis di kamar.
"Setelah aku selesai bersiap, aku menggendong Azam dan memandikannya, memakaikannya baju koko muslim.
"Gantengnya anak ibuk", ucapku menciumi pipinya yang gembul itu.
"Kin udah siap..??", ucap ibuku sudah siap dengan mukenahnya.
"Sudah buk, Azam juga udah siap", ucapku mengambil mukenah di almari.
"Duhh, cucuku ganteng sekali", ucap ibuku menggendong Azam keluar rumah sambil menungguku.
Melihat ibuku bisa bersikap lembut dengan aku, Azam dan Satria, sudah cukup bagiku.
"Nara dah siap buk..??", ucapku mencari nara yang tak terlihat dari tadi.
"Nara sudah berangkat bersama kakakmu tadi", ucap ibuku.
"Ya udah buk yukk berangkat", ucapku mengunci pintu.
__ADS_1
Takbir semakin bergema.
Allahh huuuu akbar
Allahh huuu akbarr
Allahh huuu akbarr
Laaa ilaaa..ha illallah..
huwallah huu akbar .
Allah huu akbar..
Walillah hilham..
Lebaran ini pertama kalinya Azam aku ajak sholat di masjid.
Azam sangat girang mendengar gema takbir di masjid.
Ia berjalan sendiri sampai ke masjid.
Karna memang jarak masjid dari rumah juga tak terlalu jauh.
____
Usai melaksanakan Shalat idul fitri.
Aku dan Ibu bergegas pulang.
Sebentar lagi sanak saudara akan berdatangan di rumah.
Kami harus sudah siap menyambut mereka.
Lekas Aku mencium tangan ibuku dan Satria.
Meminta maaf kepada mereka atas salah dan khilafku.
Tak terasa air mataku menetes.
Aku teringat semua perkataan jelekku untuk ibuku, meskipun hanya ku ucapkan dalam hati.
Aku meminta maaf kepada Satria, dalam hati aku mengucapkan maaf jika orang tuaku sempat melukai hatinya dan menghinanya.
Aku bersyukur memiliki suami seperti Satria dan anak seperti Azam.
Kucium Nara adikku.
Nara memang darah daging ayah tiriku, tapi di nadinya juga mengalir darah ibuku.
Dia juga adikku, adikku yang paling ku sayang, meskipun di sisih lain ayahnya tak menganggapku ada.
"Buk, kinara minta maaf ya", ucapku mencium punggung tangan ibuku.
"Maafin ibuk juga ya", ucap ibuku.
"Maafin aku ya buk", ucap Satria mencium punggung tangan ibuku.
"Maafin ibu juga ya Satria", ucap ibuku.
Aku sempat takut, Satria masih sakit hati terhadap kata kata ibuku, tapi ternyata aku salah.
Satria tanpa ragu meminta maaf pada ibuku terlebih dahulu.
Lain dengan ayah tiriku.
Setelah ia kembali entah dari mana, ia tak mau masuk rumah.
"Kin, minta maaf sama ayahmu, untuk hari ini saja", ucap ibuku.
"Iyaaa buk", ucapku mengalah dengan keadaan.
Aku dan Satria pun bersalaman dan mengucap maaf pada ayah tiriku.
Tapi dia seolah acuh, tak peduli.
Biarlah, yang terpenting aku hanya mengikuti saran baik dari ibuku tak lebih.
Para saudara berdatangan hari itu, bertegur sapa dan saling meminta maaf.
Tapi tak seramai dan seakrab sewaktu nenek masih hidup.
Sekarang kerabat dekat pun datang hanya untuk formalitas belakang.
Mereka sebenarnya sudah muak dengan ocehan dan tingkah ayah tiriku.
Demi menghargai ibuku, semua mereka pendam dalam hati.
Sesuai tradisi, setelah shalat idul fitri selesai dan para saudara sudah datang kerumah.
Kini giliran kami yang harus berkunjung ke rumah mereka, untuk sekedar menyambung silaturahmi dengan mereka.
Umumnya, setiap keluarga bersilaturahmi bersama anggota keluarga yang lain, anak beserta orang tuanya.
Tapi berbeda denganku.
Ibuku, Nara dan ayah tiriku pergi tanpa aku.
Ayah tiriku tak mau bersama ku mengunjungi para saudara.
Sehingga setiap tahun, aku dan Satria berlebaran hanya berdua, terpisah dari orang tua, kami mencari semua saudara sendiri.
Menyambung silaturahmi kami sendiri.
Setiap kerabat yang kami kunjungi selalu mengeluh akan ayah tiriku.
Aku dan Satria hanya bisa diam.
Kami anak anaknya pun tak bisa berkutik di buatnya.
Dilawan salah, di biarkan juga malah keterlaluan.
Seperti berhadapan dengan orang yang sudah putus akal pikirannya.
Bagiku sudah biasa.
Yang terpenting keluarga kecilku rukun.
Itu sudah cukup bagiku.
Lagi dan lagi.
__ADS_1
Allah itu tak tidur, gumakku dalam hati.