
Malam itu aku dan Satria baru saja menyelesaikan shalat Magrib.
Di luar kamar, terdengar ibuku juga telah selesai melaksanakan shalat magribnya.
Ia membaca surah yasin setiap selesai shalat.
Setidaknya itu menjadikan rumah sedikit tenang dan damai.
Tiba tiba terdengar suara motor berhenti di halaman depan.
Bersamaan dengan itu, terdengar pula ibuku berteriak memanggil manggil ayah tiriku.
Aku dan Satria pun beranjak keluar kamar.
Ku lihat Ayah tiriku dipapah masuk ke dalam rumah oleh kedua orang pria.
Kulihat wajahnya terdapat darah dan luka luka.
Tangannya pun berlumuran darah.
"Astagfirullah", ucapku kaget.
Ibuku ikut memapahnya menuju ke kamar.
Ia dibaringkan di sana.
"Kamu kok bisa bonyok begini yah..?", ucap ibuku khawatir.
Meskipun ibuku selalu di bentak bentak oleh ayah tiriku, tapi sejatinya ibuku sangat sayang dan patuh pada suaminya.
"Aku gpp", ucap ayah tiriku sambil mengeryitkan keningnya menahan sakit.
Aku dan Satria hanya terdiam melihatnya tanpa mau mendekat.
Kami sudah tau reaksinya jika kami nekat mendekat.
Hanya akan ada olok kan dan hinaan yang kami terima.
Ibuku pun tak menuntut lebih dari kami sekarang.
Ia tau bahwa ayah tiriku sangat membenci kami walaupun kami benar sekalipun.
Dari informasi teman ayah tiriku yang mengantarnya pulang.
Ia mengendarai motornya dan tiba tiba jatuh dengan sendirinya.
Padahal jalanan tak ramai sama sekali.
__ADS_1
Dan katanya, ayah tiriku pun jatuh dari sepedanya cukup keras menghantam jalan raya.
Yang mengakhibatkan separuh badannya penuh luka dan darah.
Setelah teman ayah tiriku pulang, sedikit aku mendengar ibuku menasehati ayah tiriku sambil mengobati lukanya.
"Mungkin ini teguran dari Allah yah, tobatlah, perbaiki sikapmu", ucap ibuku sambil memberi obat merah pada luka lukanya.
Bukannya sadar ia malah menjadi jadi dan berbalik marah marah pada ibuku.
"Aku gak salah..!!, ini juga bukan teguran..!!, mengada ngada kamu, kamu cuma mau aku baik baikin anakmu itu tohh..!!", serunya membentak bentak ibuku.
"Astagfirullah, selalu saja pikiran negatif keluar dari otakmu, terserah lah, semoga Allah masih kasih kita umur panjang", ucap ibuku.
"Kamu nyumpahin aku mati...!!", seru ayah tiriku.
Ibuku tanpa bicara meninggalkannya dengan segala ocehannya itu.
Lebih baik menghindar dari pada harus menghadapi orang seperti dia, gumam ibuku dalam hati.
____
Butuh waktu lama untuk ayah tiriku pulih dari musibah itu.
Mungkin sekitar 1 bulan ia hanya dirumah saja.
Sehari saja sudah membuat kuping panas, apalagi satu bulan lamanya.
Aku hanya sabar, mengadu pun tak ada gunanya, gumamku dalam hati.
"Anak gak guna, orang tua sakit gak bisa urus, kurang a*ar", ocehnya setiap aku melintas di kamarnya.
Padahal makanan yang ia makan, pakaian yang ia pakai aku yang urus semuanya.
Hanya saja ia pura pura buta dan menyangkal semuanya.
Selang beberapa bulan setelah ia mulai sehat dan bekerja lagi.
Ada saja musibah yang menimpanya.
Kali ini ia jatuh lagi dari sepedahnya, tapi yang ini ia hanya mengendarai sepeda model onthel kuno miliknya dulu.
Ia tak mau mengendarai sepeda motor lagi karna takut terjatuh lagi.
Tapi Allah tak ridho.
Ia kembali jatuh meskipun memakai sebuah sepeda onthel kuno.
__ADS_1
Bahkan kali ini mukanya penuh luka dan darah saat pulang kerumah.
Belum juga ia sadar, bahwa itu memang teguran seperti yang ibuku peringatkan padanya.
Sikapnya tetap saja tak berubah, terlebih sekarang ia tidak hanya memusuhiku dan Satria, tetapi juga para tetangga.
Sehingga tak ada tetangga yang sudi bercengkrama dengan dia lagi.
Bahkan sekedar menjenguknya ketika sakit.
Beberapa bulan berlalu, ia juga sudah bekerja seperti biasanya.
Tiba tiba suatu sore, ia pulang di bonceng oleh teman kerjanya sampai kerumah.
Ibuku lebih kaget lagi saat itu melihat kondisinya.
Tubuhnya memang dalam kondisi baik tanpa luka, ia pun tak terjatuh lagi dari sepeda.
Tapi lebih parahnya lagi, ia pulang dengan keadaan stroke setengah badan.
Yang membuatnya susah berjalan normal dan susah mengatur setengah dari tubuhnya.
Ibuku berusaha mengobatinya secara medis dan herbal.
Tentu saja, bagian menjaga pola makan dan kebersihannya di berikan kepadaku.
Sebenarnya aku tak sudi, tapi jika ibuku yang meminta aku tak bisa menolaknya.
"Yah, sudah berapa kali kamu di tegur sama Allah, gak kapok kamu..??, semua penyakitmu ini datang tanpa gejala dan alasan", ucap ibuku mencerahkan pikirannya.
"Lebih baik kamu diam dari pada hanya membahas masalah azab saja padaku", seru ayah tiriku beranjak tidur di tempat tidurnya.
"Astagfirullah, sulit sekali merubahmu, tidak sekalipun ingat umur", ucap ibuku pergi meninggalkannya di kamar sendirian.
____
Terkadang teguran dari Allah bisa berupa apa saja.
Tergantung kita peka atau tidak menerimanya.
Jangan acuhkan sebuah teguran.
Karna jika Allah masih mau menegur kita, berarti dia masih berharap lebih pada kita umatnya.
Salam untuk semua, berlomba lombalah kita memperbaiki hidup selagi masih di beri kesempatan.
...Keep strong-jaga imanmu☺️...
__ADS_1