
Hari itu aku merasa tak enak badan.
Tapi mungkin hanya kelelahan pikirku...
Semakin hari rasanya tubuhku makin tak enak.
"Mas, badanku kok rasanya sakit sebelah kiri ya, ini di bahu atas. Kenapa ya....?", ucapku pada suamiku.
"Lebih baik kita periksakan, itu lebih baik", ucap suamiku memberi saran.
"Baiklah", ucapku sambil mengangguk.
Keesokan harinya, aku datang ke klinik bersama Satria dan Azam.
Aku tak ada firasat buruk apapun saat itu.
Kami duduk di ruang tunggu, menunggu giliran.
"Ibu Kinara....??", panggil seorang perawat dari meja pendaftaran.
"Iya saya buk" seruku, sambil berdiri menghampiri perawat itu.
"Mari silahkan, dokter menunggu di dalam", ucapnya mengajakku masuk ke ruang pemeriksaan.
Sementara Satria menjaga Azam selama aku sedang di periksa dokter.
"Siang ibuk, ada yang bisa saya bantu..?", ucap dokter menyapaku sambil menulis data diriku yang dia terima dari perawat di meja pendaftaran.
"Siang dok, saya mau periksa, badan saya agak sakit di bagian lengan beberapa hari ini.
Dan tubuh saya serasa ikut sakit semua, Kenapa ya dok..?" aku mencoba menjelaskan keluhannku.
"Sebaiknya saya periksa dulu buk, mari berbaring dulu"ucap dokter.
Dokter memeriksaku dengan seksama.
"Nah ini buk, ibuk bisa merasakannya....?", ucap dokter sambil menekan sisi kiri lenganku.
"Terasa agak keras dok", jawabku.
"Saya kasih suntikan dulu ya buk" ucap dokter.
"Ia dok", pasrah dengan apa yang akan dilakukan dokter.
__ADS_1
"Ya udah mari ke meja saya lagi, saya akan jelaskan", ucap dokter membuatku khawatir sambil membuang jarum bekas suntikan tadi di tempat sampah.
"Begini buk, yang terasa keras dan serasa bergerak saat di pegang tadi itu namanya tumor", ucapnya.
"Tumor dok", aku terkejut mendengar penuturan dokter.
Nafasku serasa sesak seketika.
Bagaimana nasib Azam nanti, dia masih kecil.
"Tapi jangan kuatir buk, itu jenis tumor jinak, dan tidak membutuhkan bantuan operasi untuk menyembuhkannya." Terang dokter.
"Lalu gimana dok selanjutnya", ucapku butuh penjelasan lebih.
"Jangan kuatir buk, tumornya masih relatif kecil, untung ibuk cepat memeriksakannya", ucap dokter berusaha menenangkanku yang sedari tadi terlihat khawatir.
"Iya buk", ucapku menyimak kembali apa yang akan disampaikan dokter.
"Ibuk harus jaga pola makan, dan makan makanan yang saya anjurkan saja, dan harus rawat jalan selama 3 bulan, bagaimana buk...?" tanya dokter padaku.
"Baik dok, insyaallah saya akan lakukan semua perintah dokter", ucapku.
Sebenarnya aku sedikit kuatir dengan biayanya. Bicara ke ibuku itu tak mungkin.
Di sisi lain aku ingin minta bantuan ibuku.
Lebih baik aku diam selama aku dan Satria masih mampu...., batinku.
"Ini daftar makanan yang tidak boleh di makan ya buk", ucapnya sambil memberikan daftar itu padaku.
"Baik dok", menerima daftar itu dari tangan dokter.
Aku baca dengan seksama.
Banyak sekali pantangan bagiku..Gumamku dalam hati.
"Dan yang ibuk harus konsumsi setiap harinya itu meliputi, ikan segar laut maupun tawar, lebih baik lagi jika di kukus, menghindari minyak, dan wajib sayuran, serta buah ya buk", ucap dokter menjelaskan sedetail mungkin padaku.
Aku mencoba menanyakan biayanya.
"Dok kira kira biayanya berapa ya..??, tanyaku.
"Biayanya sekitar 250 rb setiap 5 hari sekali", ucap dokter.
__ADS_1
Aku terkejut, bagi ku yang hanya orang desa, itu sudah termasuk mahal, bahkan diharuskan aku menebusnya setiap 5 hari sekali dan harus mendapatkan suntikan juga.
Semoga ada jalannya ya Allah, doaku dalam hati.
______
Setiap 5 hari sekali aku rutin check up dan tebus obat.
Memang Allah tidak akan menguji kaumnya lebih dari kemampuannya.
Pasti ada jalan di setiap kesulitanku., batinku.
Badanku beransur ansur pulih.
Perintah dokter aku patuhi dengan hati hati.
Aku ingin sembuh demi keluargaku.
Setelah 3 bulan aku dinyatakan sembuh, tumor itu sudah lenyap. Alhamdulillah...
Meskipun begitu aku harus menghindari pantangan dari dokter itu selama setahun, agar tumor itu tak kembali bersarang di badanku.
Perawatanku itu sungguh menguras tabunganku.
Hanya tersisa untuk makan sehari hari itu sudah cukup untuk saat ini.
"Uangku tinggal segini, beruntung Azam tak membutuhkan sufor", keluhku dengan memegang sisa uang di dalam kamar.
Satria masuk ke dalam kamar, menidurkan Azam yang sudah tertidur di dekapannya.
"Kenapa sayang..??", ucapnya menegurku.
"Uang tabungan tinggal sedikit, karna terpakai untukku berobat", ucapku hampir menangis.
Satria memelukku, "Sudahlah, yang penting kamu sehat, aku akan bekerja lebih giat lagi demi kita", ucapnya mencoba membuang rasa bersalahku.
Tak terasa air mataku menetes, dalam dekapan Satria.
Aku teringat nenekku, dia yang dulu tempatku mengadu bahkan lebih dekat dari pada hubunganku dengan ibuku.
Saat Allah memanggil nenek ke sisinya, ia mengirimkan Satria sebagai penggantinya.
Saat senang maupun susah, ialah sekarang tempatku mengadu.
__ADS_1
Dia setia di setiap kondisiku, bahkan di tengah tengah hinaan dan cacian dari keluargaku, dia tetap sabar menemaniku.
Terima kasih ya Allah.