Demi Adik Dan Ibuku

Demi Adik Dan Ibuku
Anak remaja.


__ADS_3

Pagi itu aku sibuk menyiapkan bekal untuk Nara dana anakku Azam.


Sekarang mereka sudah beranjak dewasa, Nara sudah masuk sekolah menengah pertama tahun ini.


Sedangkan Azam sudah kelas 5 sekolah dasar di tahun ini.


Mereka semakin dekat denganku, dari urusan makan, belajar, dan bermain.


Karna setiap mereka butuh sesuatu hanya aku yang siap dengan mereka.


Ibu dan ayah Nara sibuk dengan urusan mereka sendiri sendiri.


Satria pun sibuk bekerja.


Setiap pagi.


Bekal makanan dan sarapan tak pernah terlewat olehku.


Ibuku sudah biasa dengan kesibukannya sebagai seorang tukang pijat.


Untuk anak anak dan rumah menjadi tanggung jawabku.


Dulu, saat Nara masih di kelas 2 sd dan Azam belum sekolah.


Aku terbiasa memasak pukul 5 pagi.


Sebelumnya ibuku lah yang bangun sebelum subuh untuk menanak nasi.


Saat aku bangun, tinggal memasak untuk lauknya saja.


Sengaja aku melakukan itu, bukan untuk bermalas malas mengandalkan tenaga ibuku.


Apalagi keadaan ibuku tak sesehat dulu.


Tapi karna Ayah tiriku.


Jika aku bangun waktu subuh dan langsung memasak di dapur, ia akan puas menyindir dan mengejekku saat ia ingin berangkat bekerja, ia tau ibuku sibuk dengan pasiennya, tak mungkin ia mendengar anaknya di ejek ejek di dapur.


Padahal makanan yang jadi bekalnya ialah masakanku.


Karna itu aku tak mau masak pagi pagi buta.


Hanya untuk menyiapkan bekal bagi orang yang tak bisa menghargai orang lain.


"Mbak, bekalku mana..??", ucap Nara beranjak dari meja makan.


"Nih, masukin tas biar gak lupa", ucapku memberikan kotak bekal Nara yang telah ku siapkan.


"Buk, aku berangkat dulu ya..??", ucap Azam mencium punggung tanganku sambil berlari dan langsung mengayuh sepedanya.


"Kebiasaan deh tuh anak..!!", seru Nara mencium tanganku dan mengayuh sepedanya mengikuti Azam.


"Assalammualaikumm..!!", teriakku mengingatkan mereka bahwa salam itu penting.


"Walaikumsalam..!!", teriak mereka dari kejauhan, membalas salamku yang lupa mereka ucapkan sebelum pergi.


Ibu masuk ke dapur dan mengambil air minum.


Ia merebahkan badannya duduk di sofa dekat dapur.

__ADS_1


Melepas lelah setelah hampir 3 jam memijat pasien tanpa putus.


"Ibuk capek..??, mau sarapan dulu..??", ucapku membereskan piring kotor di meja makan.


"Bentar Kin, ibuk mau istirahat dulu, capek", ucap ibuku menghabiskan air di gelasnya.


"Kadang pasien ibuk juga terlalu semangat ya buk, masak belum subuh dah datang minta urut", ucapku sambil mencuci piring.


"Ya, namanya orang kerja kin, syukuri aja", ucap ibuku.


Ku lihat Satria sudah bersiap rapi akan berangkat bekerja.


"Sayang, ibuk, aku berangkat kerja dulu", ucap Satria mengeluarkan motornya dari bagasi.


"Kok buru buru..??", ucapku mencium tangannya.


"Iyaaa, ada mobil mogok yang harus aku parasi", ucap Satria memakai helmnya.


"Hati hati nak", ucap ibuku.


"Iya buk, assalammualaikum", ucap Satria berlalu keluar dari halaman rumah.


"Walaikumsalam", ucapku kembali masuk ke dapur.


"Kin, ayahmu tak bawa bekal..?", ucap ibuku memijat tangannya sendiri.


Aku terkadang kesal dengan pertanyaan pertanyaan ibuku.


Kenapa ia harus selalu menanyakan ayah macam dia, yang menoleh padaku saja pun tak sudi.


"Enggakk buk", ucapku acuh.


"Aku belum masak pun dia dah berangkat buk, walaupun lauk dah matang, kalau aku yang bungkusin ya pasti gak bakal di bawa lah", ucapku kesal.


"Ya udah ya udah, biarin ayahmu itu, dia gak mikir apa, kalau tua mau ikut siapa, ya pasti anak lah yang di cari, yuk ah kita makan", ucap ibuku mengambil nasi dan lauk pauk di meja makan.


"Ya ngandelin Nara lah buk", ucapku dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal.


"Nara itu masih kecil, buang ingusnya aja belum bisa, sedangkan ayahnya sekarang aja dah tua, mau ngandelin apa sama Nara..??", ucap ibuku mengambilkanku nasi dan lauk.


"Ya gak tau lah buk", ucapku duduk di kursi samping ibuk dan memulai menyantap sarapan.


Ibuku menggeleng gelengkan kepala melihat wajah cemberutku.


Ibuku tak seperti dulu lagi, ia lebih bisa mendengarkan keluh kesahku dari pada dulu.


Jika dulu ibuku hanya emosi dan membentakku saat aku berbicara.


Sekarang ia menjadi ibu bahkan teman bagiku.


Inilah yang ku harapkan darinya.


____


Sore itu Nara pulang dari sekolah.


Ia berjalan pelan masuk ke kamarnya.


"Nara .....!!, kamu dari mana aja..??", ucapku yang sedari tadi menunggunya di ruang tamu.

__ADS_1


Nara langsung berbalik badan dan kebingungan melihatku ternyata ada di rumah.


"Ehhh mbak, tumben mbak, gak jemput Azam..??", ucap Nara mencari alasan.


"Kamu kira ini jam berapa..??, jam 4 sore Nara, sekolah udah bubar dari siang tadi", ucapku memarahinya.


"Maaf kak, aku nongkrong dulu sama teman teman", ucap Nara memelukku, mencoba merayuku.


"Apa nih...!!, ngrayu..!!", ucapku melepas pelukannya.


"Mbak kok gitu sih..!!", ucap Nara cemberut.


"Ayahmu tuh bentar lagi pulang, buatin apa gitu kek, ya kalau dia mau suguhan buatan mbak sih mbak gak bakal nyuruh nyuruh kamu", ucapku menjelaskan.


"Ya mbak aku capek, biarin deh ayah gak minum teh sama makan camilan malam ini, oke", ucap Nara berlari masuk kamar.


"Ehhh, dasar..!!", ucapku menggerutu.


Nara yang belum berpikiran dewasa.


Bahkan sejak usianya baru 5 tahun aja sudah di sanjung sanjung dan di bangga banggakan oleh ayahnya.


Yang anak perempuannya bakal pinter lah.


Bisa semua lah.


Nurut lah.


Bakti sama ayahnya lah.


Nyatanya, siapin kopi aja gak mau.


Akhirnya aku Juga yang harus siapin kopi buatnya, gumamku dalam hati sambil menuju dapur dengan terpaksa.


Jam menunjukkan pukul 6 petang.


Terdengar suara motor memasuki halaman rumah.


"Nara, ayah pulang, mana anak perempuanku ya..??", teriaknya sambil masuk rumah mencari Nara anak kesayangannya.


"Dia di kamar", ucap ibuku masih sibuk menjahit baju di sofa ruang tamu.


Beberapa menit berselang, Nara keluar dari kamarnya.


"Nara, ayah dah pulang, yuk jalan jalan..!!", ucap Ayah tiriku mendekatinya.


"Maaf yah, aku dah janji mau ke warnet sama temen temen, bye yahh", ucap Nara sambil berlalu pergi.


Aku hanya tersenyum melihatnya.


Anakmu sendiri, yang kamu bangga banggakan, menolakmu sendiri saat dia sudah beranjak remaja, teruslah berharap dari anak remajamu itu, ia yang masih memikirkan nikmatnya masa remaja dengan teman temannya bukan dengan ayahnya, gumamku dalam hati.


Aku pun berlalu masuk ke kamar mengajak Azam.


Tak mau aku diam di sini dan hanya dijadikan olok olok dia saja.


Ku biarkan dia mengerti dengan keadaanya sendiri, mungkin keajaiban datang dan ia bisa saja berubah.


Di usia yang sudah tua, dan anak masih remaja, apa yang ia harapkan..??.

__ADS_1


__ADS_2