
Azam terlihat sedang memasang sepatunya di depan teras rumah.
Ia mengambil tasnya dan bersiap mengayuh sepedanya untuk berangkat menuju sekolah.
Terlihat teman sekelasnya Arka datang masuk ke halaman rumah mendekati Azam dengan tergopoh gopoh.
Ia menghentikan sepedanya dengan tergesa gesa.
Ia merobohkan sepedanya begitu saja.
Lalu berlari menuju belakang badan Azam.
Aku yang melihatnya lalu menghampirinya.
"Kenapa Arka..??", ucapku penasaran.
Aku dan Azam saling pandang kebingungan melihat Arka yang masih ngos ngosan.
"Ibukkk, ibukkk..!!, Arka lari dari ibuk", ucapnya ngos ngosan.
"La kenapa lari dari ibuk...?", ucapku bingung.
Seketika ibu Arka datang masuk ke halaman rumah mendekati Arka.
Arka yang tau ibunya masih marah, sembunyi di belakangku.
"Sini....!!, sini..!!", serunya menarik tangan Arka dan menjewernya.
"Mbak, kenapa sih, kasian Arka nya", ucapku melerai ibu dan anak itu.
"Ya ampun mbak, nih anak nih keterlaluan banget", ucap ibu Arka dengan menjewer kuping anaknya lagi.
"Duh buk ampun buk", ucap Arka kesakitan.
__ADS_1
"Ia ia lepasin dulu kupingnya ya kasian", ucapku berusaha melepas tangan mbak desi dari kuping anaknya.
Mbak desi pun menceritakan apa yang terjadi.
Aku dan Azam bukannya simpati malah menahan tawa dan akhirnya kelepasan.
"Mbak kok malah ketawa sih..??", ucap mbak Desi.
"Maaf maaf buk, lagian kamu ngapain sih Arka usil banget ambil kebaya ibumu, buat orang orangan sawah", ucapku menahan tawa.
"Katanya orang orangan sawah depan rumah bisa nangkal jin masuk rumah buk", ucap Arka dengan polosnya.
"Ya kamu itu jin nya, wong ya ibuk baru beli kebaya itu kemarin kok yah udah kamu bolong bolongin gitu, aduhhhh..!!, batal kan ibuk pamer ke bu rt", ucap bu Desi menepuk jidatnya.
"Enak aja Arka jin nya, ya berarti ibu mbok nya jin dong", ucap Arka sambil tetawa.
Aku dan Azam di buat terpingkal oleh perkataan Arka.
"Ya, nanti pulang ibuk gak masak, bunga di halaman depan tuh makan siang kamu, okeee..!!, dannnn(menarik uang saku dari seragam anaknya), ini ibuk sita", ucap bu Desi berlalu pergi dari rumah kami.
"Yah yahhh, masak aku makan kembang sih, trus uangku", seru Arka pasrah melihat ibunya keluar dari halamanku.
Aku menghentikan tawaku.
"Ya udah Arka, ini ibuk kasih uang saku, tapi inget jangan jaili ibu kamu kayak gitu lagi ya..??", ucapku mengelus rambutnya.
"Alhamdulillah, makasih ya buk", ucap Arka mencium uang yang ku kasih dan memasukkannya ke saku bajunya.
Aku pun melirik ke arah tasnya.
Terlihat sebuah pistol mainan di saku samping tas sekolahnya.
"Arka, kesekolah bawa mainan..??", ucapku.
__ADS_1
"Oh, ini buk, ini pistol selalu Arka bawa kemana mana buk, buat latihan jadi polisi", ucap Arka dengan berlagak memainkan pistol mainannya.
"Emmm emang itu cita cita kamu ya..??", ucapku.
"Iya buk", ucap Arka dengan senyum lebarnya.
"Buk jangan tanya kenapa, perut kita nanti sakit, jangann..!!", ucap Azam melarangku.
Aku yang penasaran tak menghiraukan peringatan dari Azam.
"Emang kenapa Arka mau jadi polisi
.??", tanyaku penasaran.
"Biar bisa pegang pistol, buat nembak ayah kalau lagi ngumpet ngumpet sambung ayam gak ngajak Arka buk", ucapnya tanpa rasa bersalah.
Aku dan Azam pun tertawa tanpa bisa berhenti mendengar pengakuan Arka.
"Ya ampun Arka, kamu itu apaan sih", ucapku menahan tawaku.
"Udah deh buk kita berangkat dulu ya, kalau dengerin Arka, keburu telat nanti.
Mereka pun bersalaman denganku.
Ku lihat mereka yang mengayuh sepeda menjauh dari halaman rumah.
Polosnya anak anak, mereka tak tahu kerasnya hidup setelah mereka dewasa, bahkan berumah tangga.
Senyum yang tanpa beban dan tertawa tanpa batas.
Semua memang akan ada fase nya sendiri sendiri.
Jalani saja, dan rendah hatilah.
__ADS_1