Demi Tuhan, Aku Ikhlas

Demi Tuhan, Aku Ikhlas
Pernyataan yang Tak Terduga


__ADS_3

Pernikahan sudah tinggal terhitung hari tak terasa pernikahan Alizha dan Afif akan dilaksanakan minggu depan. Semua persiapan mulai dari gaun, undangan dan konsep pernikahan telah disiapkan dengan rapi.


Setiap pagi keluarga Alizha selalu sarapan bersama di ruang makan dengan penuh khidmat. Selesai sarapan mereka akan pergi melaksanakan kegiatannya sendiri-sendiri.


Alizha beranjak dari kursin makannya. "Semuanya Alizha berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum," ucapnya sambil melambaikan tangan.


"Wa'alaikumussalam," jawab mereka semua kompak yang terdiri dari Ayah, Bunda, Nenek, Kakek dan Abangnya.


"Zha, hati-hati nduk," teriak Nenek.


"Iyah," jawab Alizha teriak sambil berlari menuju motornya.


Alizha seperti biasa akan melakukan kegiatannya bekerja di kantor. Setiap paginya ia selalu menggunakan sepeda motor matic kesayangannya untuk pergi ke kantor.


Alizha mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang. Motor yang dikemudikan akhirnya sampai di depan kantor PT Hendra Surabaya dimana tempat ia bekerja.


Hari ini ia akan berniat memberikan undangan kepada Vino di kantor, bagaimanapun juga dia pernah menjadi orang berharga untuk dirinya dulu. Hari ini di kantor Alizha akan mengadakan pelantikan CEO baru. jadi Vino sudah dipastikan akan datang. Semoga dengan memberikan undangan tersebut, setidaknya perasaan Alizha berkurang dan akan belajar mencintai suaminya nanti.


Alizha memasuki kantornya dan sudah banyak orang yang menyapanya. Padahal baru saja ia bekerja tetapi sudah lumayan banyak orang yang mengenalnya bahkan menyeganinya.


Alizha di kantornya ia terkenal dengan kebaikannya yang suka membantu dan ia juga seorang sekretaris dari bos besar di perusahaan. Jadi tidak heran jika banyak yang mengenalnya.


"Pagi mbak Alizha," sapa seorang resepsionist dengan tersenyum.


Alizha pun membalasnya dengan tersenyum dan mengucapkan salam balik. "Pagi juga mbak."


"Wah mbak Alizha makin cantik aja," ucap seorang laki-laki salah satu karyawan.


"Mas bisa aja," jawab Alizha seraya tersenyum.


Pagi ini acara pelantikan CEO baru akan dilaksanakan. Semua para staf-staf dan karyawan berkumpul di aula kantor tepatnya di lantai 2.


Sedari tadi Alizha sibuk menyiapkan barang-barang yang akan digunakan untuk acara pelantikan. Tanpa disadari ia tengah diperhatikan oleh seseorang di ujung aula dengan menggunakan setelan jas rapi.


.


.


.


.


Acara pelantikan CEO baru telah dilaksanakan dengan lancar dan tak ada hambatan apapun. Alfavino Almahendra Dinata telah resmi menjadi CEO baru di perusahaan PT Hendra Surabaya yang menggantikan posisi Papanya yaitu Bapak Fandi Almahendra. Beliau mundur dari jabatannya karena beliau lebih memilih bergelut di usaha di resto seafood miliknya.


Setelah acara pelantikan, semua karyawan kembali melakukan kegiatannya masing-masing. Kini Alizha menjadi sekretaris Vino.


Saat Alizha melakukan pekerjaanya ia melihat Vino yang tengah berjalan di depan ruangannya. Kebetulan pintunya tidak di tutup, jadi ia bisa melihat orang di luar. Sontak Alizha teringat akan undangan yang akan diberikannya. Segera Alizha menghampiri Vino.


"Pak Vino," panggil Alizha.


Vino pun menoleh dan menghentikan langkahnya. "Iya Zha?"


"Saya mau bicara sama Pak Vino," ucap Alizha.

__ADS_1


'Apa aku bicara saja tentang perasaanku sekarang pada Alizha?' batin Vino


"Bisa ke ruangan saya saja?" pinta Vino.


"Oh iya bisa Pak, mari," jawab Alizha.


Mereka berdua telah sampai di ruangan Vino. Meski ada perasaan gugup pada Alizha, tetapi ia tetap berusaha menetralisir perasaannya.


"Duduk," ucap Vino mempersilahkan Alizha duduk tepat di depan mejanya. Alizha pun menurut.


"Pak say-" ucapan Alizha terpotong.


"Boleh saya bicara sama kamu dulu?" ucap Vino


"Silahkan Pak," jawab Alizha.


"Bagaimana kabar kamu? Baik-baik saja kan?" basa-basi Vino.


"Iya, seperti yang Pak Vino lihat. Alhamdulillah saya sehat," jawab Alizha.


"Saya gak enak kalau di panggil dengan sebutan Bapak."


"Saya yang lebih gak enak nanti nggak sopan."


"Ana uhibukafillah," ucap Vino frontal dengan sekali hembusan nafasnya.


Mata Alizha berkaca-kaca melihatnya. Jantungnya berdegup kencang, darahnya berdesir cepat.


"Maafin kesalahan saya yang lalu. Bisa kita memulai yang baru kembali? Saya mohon. Saya ingin kita mulai yang baru bersama-sama."


"Will you marry me?" lanjutnya sambil mengeluarkan sebuah kotak cincin di sakunya.


Air mata Alizha menetes. Apakah benar Vino mencintai Alizha? Kenapa baru sekarang mengungkapkannya. Kenapa saat ia sudah menerima orang lain bahkan akan segera menikah.


Sebenarnya Alizha bingung mau menjawab apa. Kalau dia langsung menjawab ia sudah menerima orang lain, ia takut akan mengecewakan Vino yang sudah berharap padanya. Perasaan Alizha untuk Vino masih ada walau sedikit, tapi ia juga tak boleh egois pada perasaanya.


"P-pak Vino gak salah kan? Bapak jangan bercanda ini masih pagi loh," ucap Alizha dengan gugup, jantungnya berdegup cepat. Ia seperti merasakan cintanya kembali, tapi ia sadar. Ia telah di ikat dengan orang lain. Tak mungkin ia bisa menerima permintaan Vino, sedangkan acara pernikahannya akan berlangsung minggu depan.


Ekspresi Vino seolah-olah memperlihatkan keharapannya. Sepertinya Vino sudah berharap banyak dengan Alizha. "Pliss will you marry me Alizha Nur Khairiyah?"


Air mata Alizha masih menetes ia tak kuat membendungnya. Ia biarkan saja air mata itu terus mengalir di pipinya.


"Kenapa Mas? Kenapa Mas Vino baru melamarku? Kemana saja kemarin-kemarin. Andai saja Mas Vino terus mengabariku dulu, mungkin tak akan terjadi seperti ini. Hiks hiks," ucap Alizha meluapkan isi hatinya yang menjadi unek-uneknya selama ini.


Vino yang melihat Alizha menangis, hatinya sesak, perih, dan sakit. Ia merasa bersalah tetapi ia tak tahu apa yang telah menimpa gadis tercintanya sampai menangis seperti ini. Bukankah ia seharusnya bahagia?


"Zha-"


"Maaf Alizha gak bisa. Alizha akan menikah dengan orang lain. Alizha tadinya cuma ingin memberikan undangan untuk Mas Vino," sahut Alizha sambil memberikan selembar undangan untuk Vino. Yang di depannya sudah tertulis nama Alizha & Afif sebagai pengantinnya.


"Ka-kamu? Kenapa tidak menungguku saja Zha?" ucap Vino dengan suara parau. Alizha yang mendengarnya merasakan sakit di hatinya.


"Maafin Alizha. Alizha gak bisa nepatin janji," jawab Alizha sambil menunduk.

__ADS_1


"Kenapa Zha? Apa kamu tidak pernah mencintaiku selama ini? Iya! saya memang salah telah meninggalkanmu lama. Tapi tidak dengan hati saya Zha. Saya masih mencintaimu. Back to me. You just for me," ucap Vino matanya sudah berkaca-kaca, ia masih tak percaya dengan kenyataan ini.


"Saya dijodohkan dengan keluarga saya. Mas gak boleh egois, masih banyak kok perempuan yang lebih baik dari Alizha di luaran sana," ucap Alizha sambil berusaha menenangkan Vino.


"I can't, because I love you," ucap Vino sambil memohon pada Alizha.


"Mas gak boleh seperti itu. Mas gak boleh egois. Mungkin ini sudah takdir."


"Ok, maafin saya. Saya memang egois karena di butakan oleh cinta. Mungkin ini sudah takdir untuk kita. Dan kamu mungkin bukan jodoh untuk saya. Maafin saya sudah egois," ucap Vino sambil berusaha tersenyum dan meredakan emosinya sekarang.


"Iya saya maafin Mas. Kalau begitu saya permisi mau kembali bekerja," ucap Alizha seraya berdiri dan akan meninggalkan ruangan Vino.


Tiba-tiba langkah Alizha terhenti saat mendengar panggilan dari Vino.


"Zha," panggil Vino.


"Iya?"


"Bisa kita tetap menjadi sahabat layaknya sedia kala?" pinta Vino dengan penuh harap.


"Iya bisa," jawab Alizha sambil tersenyum dan meninggalkan Vino di ruangannya.


"Bodoh! kenapa sih aku bodoh banget bisa nelantarin Alizha dulu," maki Vino pada dirinya sendiri.


"Ok ini memang sudah takdir. Tapi dihati aku masih tetap untuk Alizha dan gak boleh seorang pun untuk nyakitin Alizha," ucap Vino sendiri.


Tiba-tiba ponsel Vino berbunyi. Dan telepon masuk dari Papanya.


"Hallo Pah, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Gimana Alizha? Berhasil gak?"


"Maaf Pah, Vino gak bisa."


"Loh kenapa? Kok gak bisa?"


"Alizha udah punya calon suami. Vino gak boleh egois."


"Berarti dia bukan jodohmu Vin. Kamu yang sabar aja ya dan ikhlasin itu semua."


"Iya Pah, Vino ikhlas."


"Tetep semangat jagoan Papa. Masih ada banyak perempuan di luaran sana."


"Makasih Pah udah nyemangatin Vino."


"Yaudah Papa tutup, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Ya memang Papanya dan Vino sudah merencanakan ini semua sebelumnya. Bahkan Vino sudah bercerita tentang perasaannya dengan Alizha selama ini kepada Papanya. Papanya juga sangat mendukung untuk itu, apalagi Alizha adalah perempuan yang baik. Namun sayang, niat baik Vino sudah kedahuluan orang lain.


Setelah mendapat telepon dari Papanya, perasaan Vino sedikit mereda ia sedikit tenang. Setidaknya masih ada penyemangat dalam hidupnya. Sekarang ia akan memulai yang baru dengan Alizha, bukan sebagai pasangan melainkan sebagai sahabat. Bagaimana pun Vino tak boleh egois terhadap perasaannya sendiri, ia juga harus mementingkan kebahagian orang lain, terutama orang yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2