Demi Tuhan, Aku Ikhlas

Demi Tuhan, Aku Ikhlas
Kesepakatan Masalalu


__ADS_3

🌼Gausah ngeluh, Allah tahu kamu rapuh. Tapi Allah titipkan cobaan itu agar kamu menjadi lebih tangguh🌼


****


Sepulang dari wisuda, keluarga Alizha kembali kerumah. Disana sudah disambut oleh kakek dan nenek Alizha.


"Aduh....cucunya nenek selamat ya atas kelulusanmu," ucap Nenek Hanum sambil memeluk dan mencium pipi cucu kesayangannya.


"Selamat ya Zha," ucap Kakek seraya mengelus puncak kepala Alizha.


"Terima kasih nek, kek," ucap Alizha.


"Ehem." suara deheman Adib pun memecahkan keharuan keluarga Alizha.


"Eh Ya Allah cucuku yang satunya juga udah pulang."


"Gimana pekerjaanmu le? Apa udah selesai? Kabarmu baik to le? Udah ada calon belum?" tanya Nenek Hanum.


"Ih Nenek kalo tanya itu satu-satu," sahut Adib.


"Haha iya deh iya."


"Alhamdulillah pekerjaan Adib udah kelar di luar kota, Adib juga sehat-sehat aja. Kalau yang calon masih belum hehe," jawab Adib sambil cengengesan.


"Iya Dib, calon kamu ana? Cepet kenalin Bunda gih," sahut Bunda sambil tertawa.


"Bunda, Izha mau ganti baju dulu gerah mau mandi sekalian," ucap Alizha pada Bunda Namira.


"Yaudah sana," jawab Bunda dengan halus.


Alizha pun menaiki tangga kekamarnya. Ia pun segera membersihkan dirinya. Lima menit sudah berlalu akhirnya Alizha keluar dari kamar mandi. Setelah itu ia memposisikan tubuhnya diatas tempat tidur, tak lupa ia juga membuka ponselnya. Saat mengaktifkan data selulernya ternyata banyak notifikasi yang masuk dari grup squadnya.


**Muslimah Squad😲


Hilmi : "Alhamdulillah akhirnya kita lulus bareng ya guys."

__ADS_1


Dinda : "Iya Alhamdulillah. Kalian sekarang mau ngelanjutin apa guys? Kerja apa naik pelaminan nih?"


Riska : "Kalo aku sih mau kerja dulu terus naik pelaminan deh hehe."


Dinda : "Duh duh duh emang udah ada calonnya teh?"


Riska : "Oh ya ampun aku lupa gaada haha."


Hilmi : "Aduh dek tolong ya ini dunia nyata jadi tolong kesadarannya."


Kartika : "Kalo aku sih mau kerja dulu deh hehe."


Hilmi : "Betewe mana nih sih Alizha?"


Alizha : "Hai Assalamu'alaikum maaf ya baru buka. Kalau aku sih maunya kerja dulu, ntar kalo udah ada jodoh baru deh naik pelaminan."


Dinda : "Wah sama tuh."


Kartika : "Nemplok aja lu**."


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 15:00 Alizha pun terbangun untuk menunaikan sholat dzuhur. Aliza beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelahnya ia pun melaksanakan sholat dzuhur dengan khusyuk. Sehabis sholat ia berdzikir untuk mengingat kekuasan Allah, sudah menjadi kebiasaan Alizha setiap sehabis sholat.


Pukul 18:30 kini keluarga Alizha sedang berkumpul di ruang keluarga. Suasananya terlihat bahagia penuh dengan canda tawa. Ditambah lagi kebiasaan Alizha dan Adib sering berantem membuat para keluarganya bergeleng-geleng melihat aksi kakak beradik tersebut.


"Ehem." deheman Ayah Nabhan memecahkan suasana yang tadinya ramai mendadak sunyi, karena sudah dipastikan jika Ayah sampai berdehem seperti itu tandanya akan ada hal yang penting.


"Izha," panggil Ayah.


"Iya ,ada apa Yah?" jawab Alizha.


"Kita ada suatu hal penting yang harus diomongin. Kita cuma berharap kamu bisa menerimanya," ucap Ayah tegas namun dengan nada lembut.


"Jika itu memang baik Insya Allah Izha terima," jawab Alizha lembut.


"Nduk, jadi gini. Nenek dan Kakek sudah menjodohkanmu dengan cucunya temen Nenek, kami harap kamu bersedia menerimanya," ucap Nenek Hanum.

__ADS_1


Sontak Alizha kaget bukan kepalang. Memangnya siapa yang tak terkejut saat mendengar berita akan dijodohkan dan itupun dengan orang yang dikenal sama sekali.


"Ne-nenek serius?"


"Kek pasti Nenek bercanda kan?"


"Aduh udah deh Alizha gasuka bercandanya yang kayak gitu," ucap Alizha tak percaya.


"Zha, Nenekmu benar. Kami memang sudah menjodohkanmu dengan cucunya teman kami. Karena mereka sudah banyak membantu keluarga kami dulu, dan sebagai balas budinya kami sepakat untuk menjodohkan cucu kami," ucap Kakek Nizar.


"Nggak kalian pasti bercanda kan? Lagian Izha masih belum siap untuk menikah apalagi Izha belum bekerja. Izha baru aja lulus," ucap Alizha lagi-lagi tak percaya.


Hati Alizha sakit begitu mendengar kabar perjodohannya, ia tak sanggup menghadapi kenyataan ini. Disisi lain Alizha juga sedang menjaga hati untuk seseorang yang telah dicintainya semenjak 4 tahun terakhir ini.


Ia tak kuat bila harus menikah dengan orang yang tak dicintainya. Hati Alizha kini sedang rapuh. Ia masih tak percaya akan semua ini.


"Bang, ini bercanda kan? Izha gamau nikah sama orang yang nggak Izha cinta apalagi belum kenal," ucap Alizha pada Adib.


"Abang juga gatau Dek, kamu yang sabar aja dulu," jawab Adib seraya mengelus punggung Alizha untuk menenangkannya.


"Bun-bunda kok diem aja sih. Pokoknya Izha gamau," ucap Alizha pada Bunda.


"Maaf dek, janji tetaplah janji," jawab Bunda Namira.


"Pokoknya Izha gamau!" ucap Alizha sambil menangis dan berlari kekamarnya.


Didalam kamar, Alizha menangis sesenggukan. Ia sudah tak lagi kuat menahan air mata yang sedari tadi membendung dimatanya. Kini air mata tersebut mengalir deras dipipinya.


'Ya Allah, kenapa ini semua terjadi pada hamba?'


'Jika ini memang terbaik untuk hamba, bisakah hamba menerima ini semua?'


'Ya Allah, berikanlah kekuatan iman hamba, berikanlah kelapangdadaan hati hamba.'


Tak lama kemudian Alizha akhirnya terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2