
Alizha memoleskan make up tipis pada wajahnya hanya dengan bedak dan lipbalm untuk bibirnya agar terlihat lebih fresh. Alizha mengenakan gamis berwarna peach dipadukan dengan khimar yang senada, membuat penampilan Alizha sangat sederhana namun indah.
Akhirnya setelah berbagai macam bujukan dari keluarganya, Alizha pun setuju atas perjodohannya. Malam ini tepat sehabis sholat isya' keluarga Alizha akan makan malam di restoran bersama keluarga calon Alizha.
"Zha, cepet woi ntar kemalaman!" teriak Adib dari balik pintu.
"Iya bawel ini udah selesai," jawab Alizha.
Mobil keluarga Alizha melesat dengan cepat membelah jalanan Surabaya yang lumayan padat.
Tak butuh waktu lama akhirnya mobil mereka sampai didepan parkiran restoran. Alizha dan keluarganya turun dari mobil dan berjalan ke arah restoran.
"Aduh yang mau ketemu sama calon suami, ciee," goda Adib pada Alizha sambil menyubit pipinya.
"Ih paan sih Bang, sakit tahu," sahut Alizha sembari mengelus-elus pipinya.
Adib pun tertawa melihat adiknya memanyunkan bibir akibat ulahnya yang usil.
"Mir, itu mereka disana," tunjuk Nenek.
"Iyah Bu," jawab Bunda. Mereka pun menghampiri meja yang sudah diduduki satu keluarga tersebut.
"Assalamu'alaikum," ucap keluarga Alizha bersamaan.
"Wa'alaikumussalam," jawab keluarga Afif bersamaan.
Alizha memperhatikan satu persatu anggota keluarga yang tengah duduk dikursi masing-masing. Dimeja makan tersebut sudah terhidang banyak sekali makanan dan minuman. Sedangkan Alizha masih belum menemukan seorang laki-laki muda yang akan dijodohkan dengannya.
"Maaf ya kalau nunggu lama," ucap Nenek.
"Kita baru aja datang kok, jadi gak lama," jawab Oma.
"Kenalin ini Alizha cucu aku yang mau dijodohin," ucap Nenek sambil memegang bahu Alizha.
"Alizha," ucap Alizha sambil mengulurkan tangannya pada Mama Afif dan Omanya. Sedangkan untuk Papanya ia hanya menangkupkan kedua tangan didepan dada.
"Aduh cantik sekali kamu Nak," ucap Oma sambil mencium pipi Alizha. Alizha membalas hanya dengan senyuman.
"Iya kamu cantik sekali Nak, masya Allah," puji Mama.
"Eh biasa aja kok tante. Makasih," jawab Alizha sopan.
"Ya ampun gimana keadaan kamu Ren? Makin seger aja deh," ucap Nenek pada Oma Reni.
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat sekarang Num," jawab Oma.
"Loh suami mu kemana? Kok gakelihatan?" tanya Oma sambil celingak celinguk kearah penjuru ruangan.
"Walah dia gak ikut. Takut masuk angin, katanya dirumah aja."
__ADS_1
"Hahaha bisa aja."
"Loh ini Adib kan? Wah udah gede ya sekarang, makin cakep aja," ucap Oma sambil menghampiri Adib yang masih berdiri disamping Alizha.
"Hehe iya," jawab Adib.
"Loh Afif mana? Kok gak kelihatan?" tanya Nenek.
"Afif ke toilet sebentar kok nanti juga datang," jawab Oma.
Kemudian datanglah seorang lelaki bertubuh tegap dan tinggi. Seketika wajah Alizha mendongak dan didapatinya seorang lelaki yang tampan sedang duduk dicelah keluarganya.
Tiba-tiba Alizha terpaku melihat wajah pria itu bahkan matanya tidak berkedip sama sekali. Darahnya berdesir cepat dan jantungnya berdegup kencang saat menatap mata pria tersebut.
"Nah itu dia panjang umur," ucap Mama Qila
'Apa mungkin dia orang yang akan dijodohkan denganku?' batin Alizha.
"Assalamu'alaikum. Saya Afif." ucapnya kemudian mengulurkan tangan pada Ayah Alizha.
"Wa'alaikumussalam Wr. Wb." ucap mereka serempak.
Kemudian Afif melirik wanita didepannya yaitu Alizha. Ia berfikir jika Alizha beda dengan cewek diluaran sana. Sudah terlihat dari penampilan Alizha semuanya serba tertutup dan sangat menjaganya. Afif sempat kagum dan tertarik dengan Alizha. Tapi pikiran itu sejenak ia hilangkan karena ia juga harus menjaga hati sang kekasih.
"Afif," ucap Afif pada Alizha dan Bundanya dengan menangkupkan kedua tangan didepan dada.
Alizha dan Bundanya hanya membalas dengan anggukan sambil tersenyum.
"Eh makasih loh tante," jawab Afif salah tingkah.
"Oh iya, kamu masih inget Alizha gak? Dia yang dulu itu suka kamu jahilin. Masa kamu gak inget?" tanya Mama Afif pada putranya sendiri.
'Yang suka jahilin aku waktu kecil?' batin Alizha menerka-nerka.
"Yang mana Mah? Afif lupa gak inget."
"Yang waktu sekolah taman kanak-kanak ituloh tetangga sebelah, sebelum kita pindah rumah," ucap Mama Afif.
"Maaf Afif lupa."
"Yaudah sih Qil, maklumi aja toh udah lama banget gak pernah ketemu. Udah bertahun-taahun juga kan," sahut Bunda Alizha.
"Iya sih yaudah lah ya."
"Sekarang, Afif bekerja dimana kamu nak?" tanya Nenek.
"Saya kerja dirumah sakit Nek. Dan alhamdulillah saya seorang Dokter," jawab Afif sopan.
"Wah, hebat ya kamu," puji Nenek pada Afif.
__ADS_1
"Hehe biasa aja kok Nek," ucap Afif.
'Oh jadi dia beneran seorang dokter. Hebat masih muda,' batin Alizha.
"Bagaimana dengan kuliah Alizha? Apakah lancar dan baik-baik saja?" tanya Mamanya Afif pada Alizha.
"Alhamdulillah lancar Tante, dan baru aja kemarin Alizha lulus," jawab Alizha.
"Wah alhamdulillah kalo gitu. Udah kerja atau gimana ini? Apa langsung nikah aja sama Afif? hehe," ucap Mama Afif sambil menggoda Alizha.
"Lihat kedepannya saja Tante. Tapi kalau Alizha sendiri sih pengennya kerja dulu biar bisa dapat penghasilan sendiri," ucap Alizha.
"Iya tuh betul kamu kerja aja biar gak sia-sia sama kuliah kamu," sahut Papanya Afif.
"Iya Om. Doain agar cepat bisa dapat pekerjaan ya Om," ucap Alizha.
Kedua keluarga tersebut berbincang-bincang dengan seru sudah terlihat akrab. Tetapi beda antara Afif dan Alizha yang sedari tadi diam tak ada yang saling bicara kecuali bicara dengan keluarga mereka dan itupun hanya sekedar menjawab pertanyaan yang dilontarkan pada mereka.
Setelah berbincang-bincang, mereka pun menyantap makanan yang sudah dipesan dengan nikmat.
Kemudian keluarga Alizha pamit terlebih dahulu dan tidak bisa malam-malam karena besok Ayahnya Alizha akan pergi keluar kota.
"Kami pamit dulu ya udah malam karena besok saya pergi keluar kota jadi gabisa malam-malam biar bisa istirahat," ucap Nabhan ayahnya Alizha.
"Oh iya silahkan." jawab Papanya Afif.
"Pamit pulang dulu ya Oma, Tante. Assalamu'alaikum," pamit Alizha seraya mencium punggung tangan Oma dan Mama Qila.
"Pulang dulu ya Om, assalamu'alaikum," pamit Alizha lanjut pada Papanya Afif.
"Hati-hati ya," ucap Oma.
"Iya. Terima kasih untuk makan malamnya," jawab Nenek Reni.
Keluarga Alizha pun sudah pulang. Sedangkan keluarga Afif masih didalam restoran.
"Gimana Fif?" tanya Papa.
"Gimana apanya Pa?" tanya Afif balik.
"Ya, calon kamu tadi," jawab Papa.
Afif pun tersenyum saat mengingat wajah Alizha, entah apa yang merasukinya.
Papa Aryo pun ikut tersenyum saat melihat tingkah Afif yang menurutnya ia sudah menyukai gadis yang akan dijodohkan dengannya.
Papanya pun menyenggol lengan Afif. "Cantik kan? Lihat deh tadi aja penampilannya sangat tertutup. Berarti dia bisa menjaga dirinya, apalagi kamu." goda sang Papa.
"Lumayan lah."
__ADS_1
"Yaudah kita pulang yuk, Mama udah ngantuk nih capek," ucap Mama.
"Yaudah ayo," sahut Oma.