Demi Tuhan, Aku Ikhlas

Demi Tuhan, Aku Ikhlas
Bimbang


__ADS_3

---*****---


Hallo Assalamu'alaikum....


Alizha hadir kembali, maaf ya baru update.


Oh ya absen dulu yah, kalian dari daerah mana aja nih? Hehe


Makasih ya yang udah stay sama cerita inišŸ˜


Jangan lupa untuk VOTE dan COMMENT nya Ok? Dan jangan lupa untuk share ke teman atau saudara kalian ya Hehe.


With love,


Meā™”


******


Dua hari telah berlalu, setelah kejadian dua hari sebelumnya kini Alizha benar-benar dilanda rasa bimbang, apalagi waktu keputusannya sudah tinggal satu hari saja.


Jujur, hati Alizha masih menginginkan Afif. Tetapi disisi lain, ia juga takut akan disakiti kembali. Akankah ia kembali lagi kepada Afif untuk memperbaiki rumah tangganya? Ia pun masih berpikir-pikir untuk itu.


Pagi ini, suasananya sangat sejuk. Alizha yang bosan hanya di rumah dan bekerja di kantor saja, ia pun mengajak Abangnya untuk lari pagi. Ia juga ingin merefreshkan pikirannya sejenak agar tidak timbul stress yang berlebihan.


"Bang, ayo buruan. Mumpung masih pagi ini, kalau Bang Adib gak ikut juga gak apa-apa kok. Alizha sendiri aja," ucap Alizha dari balik pintu kamar Adib yang masih tertutup.


Baru saja Alizha beranjak akan meninggalkan Adib, tiba-tiba pintu kamar Adib terbuka lebar dan menampakkan seorang lelaki dengan kaos hitam polos, celana training panjang abu-abu, dan sepatu olahraga yang sudah menempel di tubuhnya. Ya siapa lagi kalau bukan Adib.


Alizha terpengarah ketika melihat tampilan abangnya sendiri, karena memang selama ini Adib jarang sekali untuk berolahraga dan sibuk bekerja.


"Subhanallah keren juga ya ternyata abang ku walau pakai baju seperti ini," ucap Alizha.


"Woo iya jelas dong," sahut Adib dengan percaya dirinya.


"Yaudah ayo berangkat," ajak Alizha.


"Loh, kalian mau kemana ini pagi-pagi?" tanya Bunda yang baru saja pulang dari belanja.


"Eh Bunda udah pulang. Oh ya, Adib mau lari pagi sama Alizha."


"Tumben mau di ajak olahraga?" tanya Bunda mengejek Adib.


"Ya gapapa dong Bun."


"Bunda, Alizha sama abang mau berangkat dulu ya," ucap Alizha.


"Assalamu'alaikum," ucap Alizha dan Adib bersamaan.


"Wa'alaikumussalam," jawab Bunda.


Mereka berdua pun berangkat dan mulai berlari di sekitar kompleks mereka. Dengan santainya Alizha berlari sambil menghirup udara segar di pagi hari yang cerah ini. Sedangkan Adib, ia berlari di belakang Alizha sambil mendengarkan musik dengan handsheet yang sudah dipasang di telinga kanan kirinya.


Biasanya Alizha akan beristirahat di taman kompleks yang tak jarang pula banyak warga yang mengunjunginya, disana juga terdapat banyak penjual makanan. Jadi tempat itu sangat cocok sebagai tempat istirahatnya.


Hampir 10 menit mereka tiba di taman kompleks. Betul saja taman ini sudah ramai pengunjung, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Tamannya lumayan besar, banyak pepohonan yang ditanam disekitarnya membuat suasana menjadi sejuk, ada juga beberapa permainan yang memang sudah disediakan untuk anak kecil, dan disana juga disediakan tempat duduk.


Banyak penjual yang sudah menjajakan makanan dan minumannya di luar taman, atau lebih tepatnya berada di sebelah jalan.


"Masya Allah, badan jadi lebih segar ya bang. Udah lama ya nggak olahraga kayak gini," ucap Alizha.


"Iya benar Zha badan jadi lebih fresh, besok-besok kalu ada waktu kita olahraga bareng kayak gini ya Zha," jawab Adib.


Alizha pun mencari tempat duduk untuk beristirahat, namun tempat duduknya sudah penuh dan tidak tersisa lagi. Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di bawah dengan alas rumput hijau yang lebat.


"Oh iya Zha, haus gak?" tanya Adib.


"Emm iya sih. Mau beli minum? Alizha yang beliin deh," ucap Alizha.


Mulut Adib pun tersenyum dengan lebarnya. "Adik yang baik, pengertian. Boleh," ucap Adib sambil mengangguk.


Alizha beranjak dari duduknya dan berdiri sambil menadahkan tangan kirinya tepat di depan abangnya yang sedang duduk.


Adib heran melihat adiknya tersebut. "Kenapa Zha?"


"Uangnya mana?" ucap Alizha yang masih menadahkan tangannya.


"Katanya di beliin, kok malah minta uangnya ke abang?"


"Alizha kan cuma bilang mau beliin, bukan dengan uangnya Alizha," jawab Alizha dengan senyumnya.Adib langsung merogoh sakunya dan memberikan uangnya pada Alizha.


"Makasih," ucap Alizha sambil pergi meninggalkan Adib.


Sesampainya di penjual minuman, ia membeli air mineral. Uang yang diberikan Adib masih ada kembaliannya. Alizha yang melihat ada penjual bubur ayam di seberang jalan, ia berpikir untuk membelinya.


Kemudian ia pun mengahampiri penjual bubur ayam tersebut.


"Uangnya di beliin bubur ayam aja deh dua, bang Adib pasti juga gak bakaln marah kalau sisa uangnya di beliin makanan," ucap Alizha sendiri.


Pembeli yang mengantri cukup banyak. Jadi Alizha menunggu agak reda dulu pembelinya, baru ia akan memesan. Alizha memang tipikal orang yang patuh terhadap budaya mengantri, ia paling tidak suka ramai-ramai dan tidak sabaran.


Kurang lebih 5 menit Alizha menunggu, tinggallah satu orang pembeli laki-laki yang membawa anak kecil perempuan sekitaran umur 4 tahun di gandengannya. Lalu Alizha langsung memesan kepada penjual bubur ayamnya.


"Bang, bubur ayamnya dua ya dibungkus," ucap Alizha.


"Iya neng bentar ya, ini masih lagi buatin pesanannya mas itu," sahut Penjual bubur yang masih sibuk berkutat dengan dagangannya.


"Iya Bang," jawab Alizha.


Lelaki tersebut yang awalnya fokus terhadap aktivitas penjual bubur, lantas ia menoleh kepada Alizha. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Alizha di sampingnya, yang ternyata Alizha sendiri tidak menyadarinya akan kehadiran lelaki tersebut.


"Alizha," ucap Afif seraya tersenyum manis betapa bahagianya ia bisa melihat istrinya.


"Mas Afif?" ucap Alizha terkejut.


'Ya Allah Mas Afif, kenapa bisa bertemu dengannya,' batin Alizha.


Afif langsung menarik pergelangan tangan Alizha dan membawanya ke tempat yang agak jauh dari penjual bubur tersebut.


"Ada apa Mas?" tanya Alizha.


"Saya rindu kamu. Kebetulan sekali kita bertemu disini. Kamu habis olahraga ya?"


"Benarkah Mas Afif merindukan saya?" tanya Alizha to the point.


Afif mengangguk.


"Om-om, dia siapa?" tanya anak kecil tersebut.


Afif pun langsung menunduk mensejajarkan posisinya dengan anak kecil tersebut. "Dia istri nya Om Afif, kenalin namanya Tante Alizha," ucap Afif.


Alizha yang melihat keakraban mereka menjadi kagum, betapa sayangnya Afif melakukan anak kecil tersebut.


"Hai ante Icha..." sapa anak kecil tersebut.


"Hai," sahut Alizha dengan ramah.


"Oh iya aku belum kenalin kamu sama ponakan aku yang dari Yogyakarta, namanya Tiara. Dia sekarang pindah ke Surabaya karena Papanya dipindah tugaskan disini," ucap Afif menjelaskan kepada Alizha.


"Oh, aku kira anak mas Afif," ucap Alizha.

__ADS_1


"Haha bukan Zha. Anak aku sama siapa juga," jawab Afif.


"Om, Tiala lapal. Tiala mau makan," ucap Tiara sambil menarik-narik ujung baju Afif.


"Iya, bentar lagi buburnya udah siap," jawab Afif.


Alizha yang melihatnya hanya tersenyum.


"Kalau gitu kita kembali ke abang buburnya ayo Zha," ucap Afif seraya menggandeng tangan Alizha dan menggendong Tiara.


Alizha hanya diam dan tidak memberontak perlakuan Afif, justru seperti inilah yang dirindu-rindukannya. Ia merindukan sikap hangat suaminya.


"Mas semuanya empat puluh ribu," ucap si Penjual bubur.


"Sama punya mbaknya ini juga Bang, sekalian. Berapa?" ucap Afif, lalu menurunkan gendongan Tiara dan merogoh dompet disaku celananya.


"Semuanya jadi enam puluh ribu Mas," jawab si Penjual bubur. Lalu Afif memberikan uang pas kepada penjualnya.


"Loh Mas, gak usah. Alizha bayar sendiri aja," tolak Alizha ketika menerima pesanannya dari tangan Afif.


Afif pun tersenyum. "Udah gak papa kok."


"Loh enggak, ini kalau gitu uangnya Alizha kasih ke Mas," ucap Alizha sambil menyodorkan uang kepada Afif.


Afif menolak dan malah menggenggam tangan Alizha. "Dibawa aja. Udah Mas bayarin."


Alizha yang sadar sedang dilihati Tiara, ia pun melepaskan genggaman Afif.


"Mas ada Tiara, malu," ucap Alizha.


"Oh iya, kamu kesini sama siapa?" tanya Afif, hampir saja ia lupa menanyakan hal ini.


"Sama Bang Adib," jawab Alizha.


"Oh kalau gitu saya mau balik dulu ya, kamu hati-hati," pamit Afif seraya menggandeng tangan Tiara.


"Om," panggil Tiara.


"Iya, kenapa Ra?"


"Ante Ichanya kok gak diajak pulang baleng kita sih Om? Kan kata Mama Tiala, kalau suami istri itu serumah," tanya Tiara dengan polosnya.


Afif dan Alizha pun saling bertatapan satu sama lain. Entah apa yang harus mereka katakan kepada anak sekecil dan sepolos Tiara. Afif bingung harus menjawab apa, lalu Alizha lah yang bertindak.


Alizha membungkukkan badannya kepada Tiara. "Tante Icha lagi ada urusan sama keluarga Tante. Jadi kali ini Tante gak bisa pulang bareng Om Afif, nanti kalau urusannya udah selesai, In Syaa Allah Tante pulang. Tiara mengerti?" ucap Alizha dengan lembut seraya menghelai rambut Tiara dengan lembut.


"Oh jadi ulusannya harus selesai dulu yah? Kalo gitu cepetan ya Ante, biar bisa main sama Tiala," ucap Tiara.


"Aamiin. Cepat pulang ke saya ya Zha," sahut Afif.


Alizha hanya membalasnya dengan tersenyum, kemudain berpamitan kepada Tiara. "Tante balik dulu ya, sampai jumpa," ucap Alizha sambil melambaikan tangannya kearah Tiara.


Lalu meninggalkan mereka berdua, dan kembali pada Adib. Entah bagaimana nasib Adib sekarang yang telah ditinggal cukup lama oleh Alizha.


"Da dahh," jawab Tiara yang juga melambaikan tangannya.


'Ya Allah apa benar Mas Afif sudah berubah?' batin Alizha.


Alizha berjalan menghampiri Adib yang tengah memainkan ponselnya sendirian di taman.


"Maaf ya Bang lama, tadi habis beli bubur ayam kesukaan Abang. Rame jadi harus ngantri dulu," ucap Alizha. Ia tidak menceritakan kejadian yang bertemu dengan Afif karena takut Adib akan marah jika mengetahui hal tersebut.


"Oh kirain kamu hilang. Mangkannya kamu lama banget sampai-sampai Abang jomblo disini sendirian," ucap Adib kemudian mematikan ponselnya dan beranjak dari duduknya.


"Kita pulang aja yuk Zha, keburu siang nanti panas," imbuh Adib.


"Yaudah ayuk," jawab Alizha.


"Izhaaa, Adibbb. Ayo nak sarapan," teriak Bunda yang terdengar dari ruang makan.


Alizha keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan untuk sarapan pagi bersama.


Kali ini dia sudah tampak segar dan bersih, dengan memakai gamis polos berwarna coklat susu dan khimar instant yang warnanya senada dengan gamis yang dikenakan.


"Oh iya Bun, lupa. Tadi Alizha beli bubur ayam, ini," ucap Alizha sambil memperlihatkan bungkusan yang dibawa.


"Wah enak itu, sini in biar Bunda hidangkan taruh di mangkok," ucap Bunda seraya menerima bungkusan yang dibawa Alizha.


Semuanya sudah berkumpul di ruang makan, mereka pun mulai menyantap menu sarapannya.


Selesai sarapan, mereka bersantai dengan aktivitasnya masing-masing. Karena hari ini adalah hari libur, mereka berada di rumah untuk menghabiskan waktu luangnya.


Tok Tok Tok


Bunda Namira mengetuk pintu kamar Alizha.


"Izha, ikut Bunda yuk," teriak Bunda dari luar pintu kamar Alizha.


"Mau kemana Bun?" sahut Alizha yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Ke supermarket mau belanja bulanan. Bunda tunggu di luar ya," ucap Bunda.


"Iya, Alizha siap-siap dulu," jawab Alizha.


Kemudian Alizha menutup laptopnya dan beralih mengambil tas selempangnya. Setelah itu ia keluar untuk menemui Bundanya yang sudah menunggu.


Di kursi depan rumah sudah nampak Bunda yang sedang duduk menunggu, Alizha pun menghampirinya.


"Ayo Bun," ajak Alizha.


"Eh, panggilin abangmu kok masih belum keluar. Tadi udah Bunda bilangin," ucap Bunda.


"Lagi ngobrol sama Ayah tadi Bun. Yaudah biar Alizha panggil," jawab Alizha.


Baru saja Alizha hendak memanggil dan menghampiri Adib, ternyata yang ditunggu sudah datang.


"Ayo," ucap Adib sambil merapikan rambutnya dan membawa kunci mobilnya.


Mereka pun berangkat ke supermarket dengan mobil Adib.


Tak butuh waktu yang lama untuk sampai ke supermarket, mereka hanya menempuh waktu selama 15 menit. Sesampainya disana, Alizha dan Bunda yang hanya turun. Sedangkan Adib menunggu mereka berdua di dalam mobil.


"Zha, kamu cari sabun buat mandi ya. Bunda mau cari sembako dulu disana."


"Iyah Bun, nanti Izha nyusul kesana."


Alizha berjalan menuju dimana tempat produk berkategori sabun-sabun. Sedangkan Bunda sudah berjalan menuju tempat golongan sembako sambil membawa trolli belanja.


Dipilihlah produk sabun yang diperlukan oleh Alizha. Saat memilih produknya, ia sampai harus menunduk dan berjongkok mencari yang cocok. Ketika hendak bangkit dan mendongak, ia tak sengaja menatap tubuh seseorang.


"Aww," pekik Alizha.


"Maaf," ucap seseorang tersebut sambil menoleh kearah Alizha.


"Mas Afif? Maaf Mas, Alizha gak sengaja," ucap Alizha.


Afif pun tersenyum. "Gak pa-pa. Tadi sempat ngira itu kamu Zha, ternyata benar itu kamu. Mau cari apa sampai jongkok gitu? Mau Mas bantu cari?"


"Eh gausah Mas, cari ini. Udah nemu kok," jawab Alizha sambil menunjukkan barang yang dicarinya.

__ADS_1


"Kita ketemu lagi Zha, mungkin kita jodoh. Jadi kamu harus cepat-cepat kembali pulang ke Mas ya?" ucap Afif seraya tersenyum. Sedangkan Alizha hanya merespon dengan senyumannya. Dalam hati ia sebenarnya ingin kembali pada Afif, tetapi dalam logikanya ia tak mau bila disakiti kembali nantinya.


"Kamu kesini sama siapa?" tanya Afif.


"Bunda sama Bang Adib, cuma Bang Adibnya nunggu di mobil," jawab Alizha.


"Bunda dimana? Kok Mas gak lihat dari tadi," tanya Afif lagi.


"Bunda disana, Mas sendiri mau beli apa?" jawab Alizha seraya menunjuk kearah tempat dimana Bunda berada.


"Mau beli makanan instant, dirumah udah habis soalnya," ucap Afif.


"Owh, jangan sering-sering makan makanan instant Mas, gak baik buat kesehatan."


"Iya tahu. Maka dari itu kamu harus cepat-cepat pulang ke saya Zha, biar saya ada yang masakin," ucap Afif sambil tersenyum manis. Di dalam hati Afif ia sangat berharap bisa kembali lagi tinggal bersama istrinya. Ia sekarang tahu mana yang tulus dan mana yang tidak.


"Izha mau nyusul ke Bunda, Mas. Mau bantuin belanja disana, permisi assalamu'alaikum," pamit Alizha. Bukannya merespon ucapan Afif, ia malah berniat meninggalkan Afif.


Afif langsung menarik pergelangan tangan Alizha ketika hendak pergi. "Wa'alaikumussalam. Saya ikut kamu," ucap Afif.


"Mas mau apa ikut saya? Mas urus saja dulu keperluan Mas sendiri."


"Mas perlunya kamu, maka dari itu Mas mau ikut kamu. Mau nemenin istri Mas belanja."


"Nanti merepotkan Mas Afif, tidak usah Mas," ucap Alizha. Namun Afif tetap saja kukuh pada kemauannya, ia pun langsung menggandeng tangan Alizha dan membawanya berjalan menuju tempat yang ditunjuk Alizha tadi dimana Bundanya berada.


Nampaklah Bunda yang tengah sibuk memilih belanjaannya sendirian, mereka pun menghampirinya dengan tangan yang masih menggandeng.


"Assalamu'alaikum, Bunda," ucap Afif sambil tersenyum.


"Wa'alaikumussalam, Loh Afif? Kok tiba-tiba kamu disini?" ucap Bunda terkejut.


"Iya tadi pas mau belanja makanan, eh kebetulan saya lihat Alizha. Jadinya saya hampiri dia, saya juga udah kangen sama istri sendiri."


Alizha yang mendengar penuturan Afif barusan ia tersipu malu.


"Bunda berharap kalian bisa cepat-cepat kembali bersama ya Nak, tetap sabar dan selesaikan masalah kalian dengan baik-baik."


"Iya Bun, semoga."


"Oh iya, Bunda mau cari apa lagi ini? Biar Alizha bantu cariin," ucap Alizha.


Mereka melanjutkan belanjanya, dan Afif pun juga ikut membantu membawakan barang belanjaannya. Setelah itu mereka pergi ke kasir untuk pembayaran.


"Totalnya semua jadi satu juta tiga ratus ribu rupiah Bu," ucap Petugas Kasir.


Saat Bunda hendak memberikan kartu ATM nya, tangan Afif lebih dahulu memberikan kartu ATM nya kepada Petugas Kasir. "Biar saya aja Bun. Gapapa," ucap Afif.


"Loh jangan Nak, Bunda aja. Ini kan belanjaan Bunda, masa kamu yang bayarin sih."


"Gapapa kok Bun, Afif kan juga udah jadi anak Bunda," jawab Afif.


"Kita jadi ngerepotin Mas," sahut Alizha.


"Gapapa kali Zha, udah kita pulang," ucap Afif sambil membawakan barang belanjaannya.


"Terima kasih ya Fif, udah bayarin belanjaan Bunda," ucap Bunda kepada Afif.


"Makasih Mas," ucap Alizha seraya mengambil barang belanjaan yang di bawa Afif.


Afif pun tersenyum. "Sama-sama."


Adib yang melihat Bunda dan Alizha bersama seorang lelaki yang dikenali, ia pun keluar dari mobil dan menghampiri mereka. "Udah Bun?" tanya Adib.


"Eh, udah Dib. Nih kamu bantu bawa masukin ke mobil," ucap Bunda sambil menyerahkan barang belanjaannya.


"Bang apa kabar?" ucap Afif berbasa-basi untuk mengakrabkan suasana.


Adib pun menoleh ke arah sang pemilik suara. "Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat."


"Mau saya bantu Bang?" tawar Afif kepada Adib.


"Oh gak usah Fif, makasih. Kita pulang dulu ya, assalamu'alaikum."


"Assalamu'alaikum," ucap Bunda dan Alizha bersamaan.


"Wa'alaikumussalam," jawab Afif.


"Alizha pulang dulu Mas," pamit Alizha kemudian menyalami punggung tangan suaminya.


"Iya, hati-hati Zha."


Adib, Alizha dan Bunda pulang. Sedangkan Afif kembali ke dalam supermarket untuk melanjutkan belanjanya.


Sesampainya di rumah, Alizha membantu Bunda membereskan barang belanjaannya di dapur.


"Zha," panggil Bunda.


Alizha yang dipanggil pun menoleh ke arah Bunda. "Iya Bun?"


"Kayaknya Afif bener-bener udah berubah deh."


"Bunda tau dari mana?"


"Ya dari cara dia, sikap dia itu yang bikin Bunda yakin. Kamu harus pikirin yang mantap buat kembali sama Afif. Bunda percaya sama kamu."


"Sebenarnya Alizha masih bimbang," ucap Alizha seraya menunduk.


Kemudian Bunda mendekati Alizha sambil menggenggam kedua tangan putrinya. "Minta petunjuk sama Allah."


"Iya Bun," ucap Alizha seraya tersenyum. Ia bangga sekaligus bersyukur bisa mempunyai seorang Bunda dan keluarga yang selalu mendampinginya dan mendukung.


Hari berganti malam, selesai makan malam keluarga Nabhan selalu berkumpul di ruang keluarga. Mereka menyempatkan untuk mengobrol ataupun bercanda menghabiskan waktunya bersama keluarga.


Seperti biasa kali ini mereka sedang asyik menonton televisi. Kemudian Alizha bergabung dengan mereka, di dalam kamar saja rasanya bosan. Apalagi saat sendirian, ia pasti akan terpikirkan Afif.


"Sini Dek, duduk deket Abang aja," ucap Adib yang tahu kedatangan Alizha dari kamarnya.


Alizha pun menurut dan memilih duduk di sebelah Adib.


"Biarin Ayah sama Bunda pacaran, kita anaknya ngalah aja ya, hehe."


"Hem iya Bang, bisa aja," ucap Alizha.


Lalu mereka pun menikmati acara siaran televisi. Saat sedang jeda ada iklan, Ayah Nabhan pun mengangkat bicara.


"Zha,"


"Iya Ayah? Mau dibuatin minuman? Atau cemilan?" ucap Alizha.


"Enggak, Ayah ga mau dibuatin apa-apa," jawab Ayah.


"Terus ada apa?"


"Gimana sama keputusan kamu? Besok hari terakhir buat nentuin keputusan. Kamu harus benar-benar mantap sama keputusanmu, jangan sampai kamu menyesal nantinya," tutur Ayah.


Suasana pun menjadi hening, Alizha berpikir akan pertanyaan itu. Ia masih benar-benar bimbang saat ini. Di satu sisi, ia ingin kembali dengan suaminya Afif dan memulai lembaran baru. Tapi di sisi lain, ia takut nantinya akan kecewa dan sakit hati atas perbuatan suaminya.


"Jujur Izha masih bimbang Ayah. Izha masih bingung. Tapi insya Allah besok Izha akan memantapkan keputusannya," jawab Alizha seraya tersenyum untuk meyakinkan.

__ADS_1


"Kami semua akan terima apapun keputusan kamu Nak," sahut Bunda.


"Iya Dek, kami bakalan ngedukung kamu kok," ucap Adib seraya mengelus puncak kepala Alizha.


__ADS_2