
Afif sedang sibuk melakukan pekerjaannya sebagai dokter. Ia sedang memeriksa pasien. Saat di tengah pemeriksaan ponsel Afif berbunyi. Tapi ia abaikan dan lebih memilih untuk menuntaskan memeriksa pasien. Setelah selesai memeriksa pasien, ia langsung membuka ponselnya yang sedari tadi berbunyi.
Betapa terkejutnya ia mendapat panggilan sebanyak 10 kali dari Karla. Afif menelpon kembai nomor Karla, tapi tak kunjung ada jawaban sama sekali.
****
Karla berjalan di pinggir jalan untuk menuju klinik tempat kerjanya. Tetapi saat di tengah jalan ia dihadang oleh dua preman. Dengan cepat preman tersebut menarik tas yang diselampirkan di bahu sebelah kiri Karla.
"Lepasin tas gue gk?!" ucap Karla sambil berusaha menahan tas miliknya dari tangannya.
"Gak akan."
"TOLONG-TOLONG!!!" teriak Karla.
"Berisik! Diem lo!" bentak seorang preman.
Dengan cepat Karla menendang kaki sebelah preman tersebut. Tetapi satu preman langsung menusuk perut Karla dengan menggunakan belati yang tajam.
Karla terkapar lemah, tubuhnya sudah tidak kuat lagi. Ada darah banyak yang mengalir di perutnya. Untungnya ponsel Karla di simpan di saku celana. Segera Karla mengambilnya untuk menelpon Afif, sudah berkali-kali tidak ada jawaban. Akhirnya Karla pasrah dengan keadaannya.
****
Selang beberapa menit Afif kembali mendapatkan panggilan dari nomor Karla, segera ia mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo Karla apa kau baik-baik saja?" ucap Afif khawatir.
"Maaf apa benar ini dengan saudara Afif sendiri?"
"Iya benar. Dengan siapa ini?"
"Kami dari pihak rumah sakit Medika ingin mengabarkan bahwa saudari Karla baru saja kecelakaan dan sekarang sedang ditangani di ruang ICU."
"Apa?! Em-baiklah saya akan kesana sekarang. Terima kasih untuk infonya," ucap Afif langsung memutuskan panggilannya.
.
.
.
.
.
Afif mengemudikan mobilnya dengan cepat. Perasaannya tiba-tiba tidak tenang. Rumah sakit yang ditempati Karla rumah sakit yang berbeda dengan tempat bekerja Afif. Ia tampak terpukul dan syok atas kabar berita yang menimpa Karla kekasihnya. Yang lebih mengawatirkan lagi perempuan itu masuk ke dalam ruang ICU.
Sesampainya di depan ruangan Karla, ia terkejut. Afif terdiam sejenak. Dengan langkah yang lesu ia mendekati Karla yang terbaring lemas. Ia menggenggam tangan Karla dengan lembut. Ada perban yang sudah membungkus bagian perut sebelah kiri Karla. Sepertinya itu akibat tusukan atau tembakan, ia belum tahu apa yang sebenarnya menimpa kekasihnya tersebut.
"Apa yang terjadi pada Karla, dokter?" tanya Afif pada seorang dokter yang telah menangani Karla.
"Saudari Karla beberapa jam yang lalu telah mengalami kecelakaan. Luka yang di alaminya adalah bekas tusukan yang menusuk pada bagian perut saudari Karla sebelah kiri."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan keadaannya sekarang?"
"Kondisi saudari Karla sudah stabil. Untungnya tusukan yang di alami tidak menembus sampai ke organ dalamnya. Dan untungnya lagi Ibu Karla cepat dibawa ke rumah sakit. Kalau boleh tahu Mas ini siapanya?"
"Saya kekasihnya Dok."
"Kalau begitu tolong segera urus administrasinya agar Ibu Karla bisa cepat dipindahkan ke ruang rawat inap."
"Iya dok, terima kasih."
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu," pamit Dokter yang sudah menangani Karla. Kemudian berjalan keluar dari ruangan.
Kemudian Afif berjalan keluar menuju loket dan melakukan administrasi pembayaran Karla. Setelahnya ia kembali lagi keruangan Karla.
"Kenapa bisa seperti ini Kar? Apa yang sudah terjadi? " tanya Afif khawatir. Pikirannya tidak tenang, ia tidak bisa melihat kekasihnya terbaring lemah di rumah sakit. Bahkan ia rela meninggalkan pekerjaannya begitu saja hanya untuk perempuan yang dicintainya dan tak halal baginya.
"Cepatlah sadar, aku sudah ada disisimu sekarang," ucapnya sambil menggenggam tangan Karla.
Kemudian terdengar suara langkah kaki yang mendekat dan suara deritan pintu yang terbuka. Lalu Afif menoleh ke arah sumber suara, ternyata seorang perawat perempuan dan laki-laki menghampirinya.
"Maaf Mas, pasien ini akan dipindahkan ke ruang rawat inap."
Afif berdiri menjauh dari tempat Karla untuk mempersilahkan para perawat menjalankan tugasnya.
"Oh iya silahkan."
Sudah hampir 8 jam Afif menemani Karla yang terbaring tak sadarkan diri sedari tadi. Semua pekerjaannya ia tinggalkan dan sudah meminta izin untuk pulang lebih awal. Sekarang sudah pukul 20.00 WIB.
From : Alizha
Assalamu'alaikum, Apa Mas hari ini lembur?
Read
Alizha cuma mau ngingetin, kalau Mas lembur jangan lupa untuk makan malam ya.
Read
Afif tak membalas satupun pesan dari Alizha, ia hanya membacanya saja. Menurutnya itu tidaklah penting. Yang terpenting sekarang adalah keadaan Karla. Ponselnya dimatikan begitu saja, ia tak mau Alizha mengganggunya lagi.
Tangan Karla bergerak sedikit. Sontak Afif langsung terkejut. Mata Karla sedikit demi sedikit mulai terbuka. Afif tersenyum melihatnya, Karla akan sadar.
"Aww," rintih Karla sambil memegangi bagian perut yang tertusuk.
"Jangan banyak bergerak dulu," cegah Afif.
"Kepalaku pusing," keluh Karla.
"Dibuat tidur saja. Apa kamu mau makan sayang? Biar aku suapin ya."
Karla pun mengangguk. Lalu kini tangan Afif beralih menyuapi makanan ke mulut Karla.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa seperti ini? Kau tidak berhati-hati."
"Aku dicopet," jawab Karla lalu melanjutkan suapan Afif.
"Bagaimana bisa kamu tertusuk?"
"Aku sedang berjalan menuju klinik. Tapi ada preman yang menghadang. Saat aku mau melarikan diri, tangan si pencopet yang satunya langsung menusuk aku. Dan tas aku udah berhasil dibawa copet pergi. Setelah itu ada seorang pedagang yang kebetulan lewat, Bapak itu langsung nolongin aku," ucap Karla menjelaskan kronologisnya.
"Awalnya ketika aku sudah tertusuk, aku sempat nelpon kamu berkali-kali. Tapi kamu gak angkat telpon aku sama sekali. Untungnya aku segera di tolong," lanjut Karla.
"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati. Kau sempat membuatku khawatir sayang. Dan maafkan aku saat kamu telpon aku sedang sibuk. Aku janji akan selalu ada buat kamu," ucap Afif seraya mendekap tubuh Karla.
"Kau janji?"
"Iya."
"Sebentar, kau tadi bilang berjalan? Mobilmu kemana?"
"Mobilku mogok, waktu itu aku baru saja dari minimarket. Saat kembali lagi ke klinik ditengah perjalanan mogok, untungnya ada bengkel terdekat. Lalu aku berjalan untuk menuju klinik lagi."
"Lain kali kamu harus berhati-hati."
"Iya-iya kamu udah dua kali loh bilang seperti itu," sahut Karla. "Sayang, boleh aku minta sesuatu ke kamu?"
"Boleh, apa?"
"Temani aku disini sampai besok, aku takut sendirian disini. Lagipula kamu tahu sendiri kan kalau orang tua aku berada di Singapura?"
"Tapi-" ucapan Afif terpotong.
"Katanya akan selalu ada buat aku?" ucap Karla dengan manja. Masih saja sempat-sempatnya ia bersikap seperti itu di tengah keadaannya yang seperti ini.
"Baiklah Aku akan menghubungi istriku dulu," ucap Afif. Kemudian merogoh ponselnya di dalam celana, lalu mencari nama Alizha dikontaknya dan melakukan panggilan suara.
"*Hallo, Assalamu'alaikum Mas?" ucap Alizha diseberang telepon.
"Wa'alaikumussalam. Aku hari ini lembur, mungkin akan pulang pagi."
"Mas lembur? Em yaudah deh, semangat ya kerjanya," jawab Alizha suaranya sudah tampak kecewa.
"Iya. Aku tutup teleponnya," ucap Afif, lalu mematikan panggilan suara tersebut*.
Karla sedikit tampak kesal terhadap Afif yang telah barusan diperbuat. Ia cemburu pada istri Afif. Ia tak suka jika Afif harus bersama Alizha, walaupun itu hanya sekedar mengobrol. Karla tidak suka. Alizha memang masih menjadi tanggung jawab Afif, bagaimanapun juga Afif berhak memberi kabar pada Alizha.Tetapi ia harus sabar. Toh tidak lama lagi ia akan menjadi istri sahnya Afif.
"Bagaimana?" tanya Karla.
"Beres. Aku akan disini menemanimu sampai besok. Tidurlah ini sudah malam, lagipula kamu juga butuh istirahat."
"Aku mencintaimu."
"Aku juga. Good night, have a nice dream," ucap Afif seraya mencium kening Karla dengan lembut.
__ADS_1