
"Kalau kamu capek, aku antar ke kamar saja ayo," ajak Afif sambil menarik pergelangan Alizha menuntunnya ke dalam kamar.
Setelah mengantar Alizha ke kamar, Afif pun kembali ke depan untuk menyambut tamu undangan yang lainnya.
"Alizha mana Fif?" tanya Oma.
"Di kamar, dia kecapekan jadi Afif suruh istirahat."
"Oh yaudah itu teman-teman kamu datang. Sana temuin," ucap Oma.
"Iya."
.
.
.
.
Acara pernikahan dan resepsinya pun telah terlaksana dengan lancar tanpa ada halangan sama sekali. Semua keluarga sudah beristirahat, bahkan keluarga Afif sudah pulang kerumahnya. Sedangkan Afif akan menginap di rumah Alizha selama satu hari.
Capek. Itulah yang dirasakan Afif sekarang, acara pernikahan sekaligus resepsinya begitu melelahkan. Lalu Afif memutuskan untuk beristirahat di kamar Alizha.
Tok Tok Tok
Suara gedoran pintu terdengar di kamar Alizha. Tadinya yang Alizha sedang membuka jilbabnya di depan meja rias langsung bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu.
"Siapa?" teriak Alizha.
"Saya Afif." Segera Alizha membukakan pintu kamarnya untuk Afif.
"Boleh saya istirahat disini?"
"Tentu saja, ini sudah menjadi kamar Mas juga," ucap Alizha sambil menunduk malu. Afif yang melihatnya pun terkekeh dan dengan cepat langsung menutup pintu kamarnya.
Afif berjalan mendekati Alizha. Sedangkan Alizha berusaha menghindar sepertinya ia belum siap dekat untuk Afif.
"Saya hanya membantu membukakan jilbabmu," ucap Afif seraya melepaskan jilbab Alizha yang penuh dengan peniti dan jarum pentul.
__ADS_1
Di lihatlah rambut Alizha yang begitu indah. Tanpa sadar tangan Afif mulai melepaskan gelungan rambut Alizha. Hingga sekarang nampaklah rambut yang panjang tergurai indah dan mulai membelai rambut Alizha dengan lembut. Alizha hanya diam dan menikmati sentuhan suaminya tersebut sambil malu-malu.
"Cantik," guman Afif. Kemudian Alizha mendongak, tiba-tiba ia terpaku melihat wajah suaminya. Matanya tidak berkedip, jantungnya berdebar tak karuan. Ia terlena akan keindahan yang di suguhkan di depannya sekarang.
"Mas," ucap Alizha membuyarkan tatapan Afif yang sedari tadi menatapnya dengan intens.
"Eh-em iya?"
"Mas mau mandi dulu? Itu kamar mandinya di dalam sana. Lalu itu handuk untuk Mas," ucap Alizha sambil menunjuk kamar mandinya.
"Apa kau tidak duluan?" tanya Afif.
"Iya, nanti sehabis Mas selesai saja," jawab Alizha.
"Baiklah."
"Eh Mas," panggil Alizha.
"Iya?" jawab Afif seraya menoleh pada Alizha.
"Mas mau dibuatkan teh hangat atau kopi?"
"Terserah kamu saja," jawabnya.
"Boleh," ucap Afif kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Kemudian Alizha berjalan menuju dapur membuatkan teh hangat untuk suaminya. Ia merasa sangat bahagia sekali hari ini. Mungkin ia telah melupakan masalalunya sekarang.
Bagaimanapun ia sekarang telah resmi menjadi seorang istri. Dan mulai dari sekarang, ia harus mencintai suaminya apapun itu.
Setelah membuatkan minuman untuk suaminya, ia kembali lagi kedalam kamarnya. Di dapati suaminya sedang mempersiapkan sajadah dan mukenah. Entah kenapa hati Alizha tersentuh. Kemudian ia mendekati suaminya tersebut.
"Mas ini tehnya Alizha taruh di atas meja rias ya," ucap Alizha sambil meletakkan cangkir yang di bawanya.
"Iya nanti Mas minum. Sekarang kamu cepetan mandi, lalu sholat sunnah berjama'ah dengan Mas," ucap Afif.
"Iya," sahut Alizha.
5 menit kemudian Alizha sudah mandi dan sudah siap dengan baju tidurnya. Kemudian ia memakai mukenahnya.
__ADS_1
Mereka berdua sholat sunnah dengan sangat khusyuk. Afif yang menjadi imam untuk Alizha.
Hari ini untuk pertama kalinya Alizha di imami oleh suaminya. Suara bariton saat mengucapkan bacaan sangat disukai oleh Alizha, suara yang begitu merdu sampai-sampai Alizha ingin meneteskan air mata.
"Assalamu'alakum Warahmatullah," ucap Afif seraya menoleh ke kanan kiri dan di ikuti oleh Alizha di belakangnya. Setelah itu Afif merapalkan do'a dan di amini oleh Alizha.
Afif pun menoleh ke belakang pada Alizha dan mengulurkan tanganya untuk di cium oleh istrinya. Alizha membalas uluran tangan tersebut seraya mencium punggung tangan suaminya.
Saat Alizha hendak melepaskan mukenahnya, tiba-tiba tangan kekar Afif membantu melepaskan mukenah Alizha dengan lembut. Jantung Alizha berdegub dengan kencang, bahkan pipinya sekarang sudah memerah. Walaupun hanya dengan hal kecil bisa membuat Alizha jatuh cinta padanya. Sepertinya Alizha sudah merasakan cinta yang tumbuh di hatinya.
"Saya capek ingin tidur," ucap Afif sambil berjalan menuju tempat tidur. Alizha menjawabnya dengan mengangguk dan ikut berbaring di tempat tidurnya.
Kamar Alizha bernuansa warna pink dengan perpaduan biru muda. Dan banyak furniturenya berwarna pink dan biru. Sedangkan bed cover Alizha berwarna biru muda dengan motif bunga-bunga.
Rasanya sangat aneh, bahkan sangatlah aneh bagi Alizha sekarang tidur bersama lelaki. Terlebih lelaki tersebut telah menjadi suaminya. Ia masih gugup, ia masih takut. Apalagi sekarang jaraknya sangat dekat hanya tersisa beberapa centimeter saja.
Alizha berusaha keras untuk memejamkan matanya, rasanya sekarang tubuhnya capek tapi ia tak bisa tidur dengan pulas. Ia menoleh ke arah suaminya, didapati Afif tidur dengan posisi membelakangi Alizha. Ia berpikir bahwa suaminya tersebut sudah tidur karena kecapekan. Tak lama kemudian ia tertidur.
Mata Afif masih saja setia terbuka, lalu ia melihat jam dinding yang terpasang di atas dinding. Pukul 23.30 malam. Sudah hampir satu jam ia tak bisa tidur.
Kemudian ia berganti posisi dengan menatap wajah Alizha yang menghadap padanya. Dari jarak beberapa centimeter Afif menikmati pemandangan di depannya. Sejenak ia lupakan kekasihnya, walaupun itu pahit baginya. Demi keluarga dan Omanya ia harus siap menjadi seorang suami dari Alizha.
Wajah cantik Alizha terpancar di dalam kamar yang sudah gelap. Kedua mata Afif masih setia menatapnya dengan lekat. Ntah kenapa jantung Afif berdebar kencang. Ini pertama kalinya ia tidur dengan sedekat ini bersama perempuan.
Tanpa sadar ia mengikuti nalurinya sebagai pria yang normal, apalagi ini malam pertama untuknya. Dengan cepat tapi pasti, ia mengecup bibir istrinya dengan lembut.
Seketika Alizha terbangun akibat ulah suaminya tersebut. Ia sadar bahwa ia telah dicium oleh suaminya. Pipinya memanas dan tersenyum manis pada Afif.
"Maaf," ucap Afif seketika gugup ia ketahuan.
Alizha hanya menanggapi dengan tersenyum.
Afif pun ikut tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya sekarang.
'Oh Allah sepertinya hamba mulai mencintai Mas Afif,' batin Alizha.
Tatapan Alizha sangat teduh bahkan sepertinya di penuhi rasa cinta. Afif merasakan hal tersebut, walau dirinya sendiri belum merasakan rasa cinta tumbuh dalam hatinya sekarang.
Kemudian Alizha juga menatap lekat wajah suaminya tersebut, tapi tidak lama kemudian ia merubah posisi tidurnya dengan menyamping memunggungi Afif yang masih terbangun.
__ADS_1
Ntah kenapa hati Afif merasa tidak enak dengan posisi tidur Alizha tersebut. Lalu ia memberanikan diri dengan memeluk tubuh Alizha dari belakang.
Dan akhirnya mereka berdua sama-sama tertidur pulas.