Demi Tuhan, Aku Ikhlas

Demi Tuhan, Aku Ikhlas
Kembalinya Masalalu


__ADS_3

Setelah 2 minggu lamanya, Alizha sudah bekerja di perusahaan yang cukup besar, ia menjadi seorang sekretaris yang memang impian Alizha sejak kecil. Ia sangat senang bahkan sangat bahagia, akhirnya pekerjaan yang di impikan tercapai berkat bekal ilmunya selama 4 tahun menjadi seorang sarjana.


Pekerjaan Alizha kini cukup padat dan melelahkan karena harus banyak melakukan tugas pekerjaannya dari membuat laporan hingga mengurus jadwal pimpinannya, padahal ia masih sekretaris baru sudah sebanyak itu tugas yang diberikan, tapi ia tetap proffesional dengan pekerjaannya dan tak mau menyia-nyiakan kesempatan bagus ini.


Sudah seperti biasa Alizha selalu menemani pimpinannya untuk melakukan meeting di luar perusahaan. Biasanya paling sering dilaksanakan di caffe atau restoran ternama di kota Surabaya ini. Karena kebanyakan klien berasal dari luar kota bahkan luar negeri pun ada.


Kini Alizha sudah berada di dalam restoran seafood. Restoran yang begitu mewah dengan desain interiornya. Makanan yang di jual juga sangat mahal dan berkualitas.


Alizha dan pimpinannya sudah berada di meja yang dipesan khusus untuk pelaksanaan meeting siang ini. Alizha sibuk mempersiapkan dokumen dan laptopnya sebagai bahan meeting nanti.


"Zha, udah kamu siapin semua? Tidak ada yang ketinggalan?" ucap pimpinannya yang bernama Bapak Fandi Almahendra, umurnya sudah cukup dibilang tua karena beliau sudah berumur sekitar 65 tahun, dan beliau orangnya penyabar tetapi tegas.


"Sudah siap semua Pak," jawab Alizha.


"Selamat siang," ucap seorang klien bertubuh tinggi tersebut menyapa pimpinannya dengan berjabat tangan.


"Selamat siang," ucapnya kembali pada Alizha dengan menyodorkan tangan, dengan sigap Alizha menyatukan kedua tangannya di depan dada. Sedangkan klien tersebut malu sendiri.


"Siang Pak," jawab Alizha.


"Silahkan duduk," lanjutnya.


Meeting pun telah dilaksanakan dengan lancar, bahkan hasil meeting tersebut membuahkan hasil yang sangat memuaskan.


Selesai itu Alizha dan pimpinannya kembali ke perusahaan.


Saat kembali berjalan menuju ruangannya, Alizha tertabrak seseorang sehingga dokumen yang dibawah jatuh berantakan.


Brukk


"Afwan saya tidak sengaja," ucap lelaki tersebut sambil mengambil dokumen yang sudah tercecer di lantai.


Deg


Jantung Alizha berpacu hebat saat mendengar perkataan tadi. Perkataan tersebut mengingatkan pada seseorang di masa lalunya.


"Ini. Maaf sekali lagi ma-" ucap lelaki tersebut tiba-tiba terpotong saat melihat orang yang di tabraknya.


"Mas Vino?" ucap Alizha saat mendongakkan wajahnya.


'Ya Allah mas Vino? Saya tidak bermimpi bukan?' batin Alizha.


"Alizha? Ya Allah kamu Alizha? Panggling saya liatnya, makin cantik aja," ucap Vino.


'Saya gak nyangka bisa bertemu lagi, Zha saya senang bertemu kamu lagi. Sudah lama saya merindukanmu,' batin Vino.


"Bisa aja Mas ini," ucap Alizha tersipu malu.


"Kamu kerja disini?"


"Iya saya sekretaris Bapak Fandi." jawab Alizha.


"Bapak Fandi? Bisa antar saya ke ruangannya?" ucap Vino.


"Oh mari saya antar."


Sesampainya disana Alizha mempersilahkan Vino masuk keruangan Pimpinannya. Saat hendak pergi, langkah Alizha terhenti karena Pimpinannya memanggil.


"Alizha."


"Iya Pak? Ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong kamu ajak anak saya keliling kantor ini sekalian jelaskan tempat-tempatnya. Kamu sudah mengerti bukan?"


"Maaf anak Bapak?"


"Iya. Perkenalkan ini anak saya sekaligus calon CEO yang baru Alfavino Almahendra Dinata," ucap Pak Fandi.


"Kalian berdua saling kenal?" ucap Pak Fandi sambil tersenyum.


"Kita udah lama kenal Pah. Tapi juga udah lama gak ketemu hehe."


*Flashback On.


Brukk


Buku-buku Alizha terjatuh ke lantai karena tak sengaja tertabrak seorang lelaki.


"Afwan saya tidak sengaja," ucap lelaki tersebut sambil memunguti buku yang terjatuh.


"Iya gapapa."


"Mau saya bantu bawa? Ini sangat banyak untuk kamu. Biar saya bantu bawakan," ucap lelaki tersebut.


"Tidak usah mas, saya bisa kok."

__ADS_1


"Memangnya itu buku untuk apa?" tanya lelaki tersebut*.


"*Oh ini buku dari kakak senior. Tadi saya telat MOS dan sebagai gantinya saya disuruh bawakan ini ke lantai 3."


"Lantai 3 ya? Jauh loh itu. Saya bantu ya, saya yang maksa," ucapnya sambil tersenyum memandang Alizha yang sedari tadi menunduk.


'Masya Allah, sungguh indah ciptaan-Mu.' batin lelaki tersebut.


"Em iya, tidak apa-apa."


"Nama kamu siapa?" ucapnya.


"Saya Alizha. Kalau mas sendiri?"


"Oh, kalau saya Alfavino Almahendra Dinata. Kamu bisa panggil saya Vino," jawabnya seraya berjalan menuju lantai 3.


"Em taruh disini saja mas," ucap Alizha sambil meletakkan buku-bukunya di atas meja.


"Ok. Sekarang kita keluar," ucapnya.


"Terima kasih," ucap Alizha.


"Mas kuliah disini? Ambil jurusan apa?" tanya Alizha.


"Iya saya kuliah disini, ambil jurusan Manajemen."


"Oh berarti kita sama. Kalau begitu saya permisi ya, assalamu'alaikum," pamit Alizha. Namun langkahnya terhenti saat ada yang memanggilnya kembali.


"Alizha," pangil Vino.


"Iya?"


"Boleh saya minta nomor handphone kamu?" ucap Vino.


"Untuk apa?"


"Untuk menyambung silaturrahmi saja. Kalau tidak boleh ya tidak apa-apa," ucap Vino.


"Ini nomor handphone saya," ucap Alizha sambil menyodorkan ponselnya yang sudah terpampang nomornya.


"Terima kasih," ucap Vino.


Flashback Off*.


"Wah bagus dong kalau begitu saya tidak perlu susah-susah membuat kalian dekat," sahut Pak Fandi sambil tertawa renyah. Lantaran ia sangat ingin Alizha dan putra semata wayangnya memiliki hubungan, lebih tepatnya ingin menjodohkan. Pak Fandi berpikir bahwa Alizha adalah gadis yang baik dan sholehah untuk dijadikan mantu idamannya.


'Apa maksud dari ucapan Pak Fandi? Apakah beliau ingin menjodohkanku dengan Mas Vino?' batin Alizha.


"Zha, kamu antar Vino ya."


'Eh astaghfirullah gak boleh GR,' batin Alizha.


"Oh iya Pak. Mari Mas Vino ikut saya," ucapnya.


"Permisi Pak," lanjutnya.


Kini mereka berdua sudah berada di dalam lift untuk menuju lantai bawah yaitu 2. Di dalam lift suasana tampak canggung dan tidak ada seorang pun yang membuka bicara. Seolah-olah mereka sibuk dengan perasaan dan pikirannya masing-masing.


'Bisakah aku kuat dengan semua ini? Kenapa dia harus datang kembali disaat aku belajar melupakannya.' batin Alizha.


'Akhirnya kita berdua dipertemukan kembali. Saya senang bertemu denganmu,' batin Vino.


Ting


Lift pun sudah sampai di lantai 2.


"Kita kebagian manajer dulu ya Mas, mari ikuti saya," instruksi Alizha.


"Apakah disini lantai khusus manajer?" tanya Vino.


"Tidak juga, disini juga ada staff-staff lainnya," jawab Alizha.


Cukup lama mereka berdua keliling kantor dan menjelajahi semua ruangan yang ada di kantor ini.


"Zha."


"Iya Mas?"


"Saya lapar, boleh temani saya ke kantin?" ucap Vino.


'Kenapa saya harus terjebak dalam situasi ini Ya Tuhan,' batin Alizha. Perasaannya sudah tidak menentu sekarang antara senang dan kecewa yang dirasakannya. Ia senang bisa  bertemu kembali dengan Vino, tapi di lain sisi ia kecewa pada apa yang telah dilakukan Vino padanya.


"Tapi-" ucapan Alizha terpotong sahutan Vino.


"Tidak ada tapi-tapi, saya yang minta kamu. Urusan pekerjaan bisa nanti."

__ADS_1


"Baiklah mari," ucap Alizha menyerah.


Di sebuah kantin perusahaan. Mereka berdua sudah dihadapkan dengan banyak sekali menu makanan yang telah di pesan Vino.


"Mas sanggup makan sebanyak ini?" ucap Alizha heran karena makanan yang di pesan sangat banyak dan bermacam-macam menu hidangan.


"Sanggup asalkan kamu bantu saya. Ayo di makan jangan sungkan-sungkan. Saya yang traktir kamu," ucap Vino.


"Mas lapar atau kelaparan?" ucap Alizha sambil tertawa.


"Hehe dua-duanya. Saya sudah lama tak makan masakan indonesia. Bahkan saya sangat merindukanmu," ucap Vino sedangkan kalimat terakhir sengaja di pelankan.


"Maaf, Mas merindukan siapa?" tanya Alizha sebab ucapan Vino yang terakhir tak begitu jelas pada pendengarannya.


"Em-eh maksud saya merindukan masakan indonesianya, gitu," jawab Vino sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Oh," jawab Alizha tersenyum.


"Ayo dimakan Zha," ucap Vino. Alizha membalasnya dengan menganggukan kepalanya.


"Saya suka lihat kamu tersenyum," ucap Vino sambil menatap Alizha selesai makan.


"Mas, kalau sudah selesai cepet balik ya," ucap Alizha mengalihkan pembicaraan. Padahal ia diam-diam tersipu malu mendengarnya.


"Ah oh iya," ucap Vino salah tingkah.


"Alizha?" ucap Vino lagi.


Alizha menoleh ke Vino yang duduk di depannya. "Iya mas?"


"Maaf kan saya."


"Untuk apa?" tanya Alizha.


"Untuk semua yang pernah saya lakukan padamu. Terutama untuk janji saya dulu. Saya minta maaf," ucap Vino sambil menunduk.


Seketika Alizha teringat masa lalu saat Vino mengucapkan janjinya untuk mengkhitbah Alizha. Mengingat perasaannya pada Vino, jujur ia masih mencintainya hingga detik ini.


Semenjak pertemuan pertama, mereka sudah saling jatuh cinta tetapi hanya diam. Dan akhirnya suatu saat dimana Vino telah resmi wisuda ia mengatakan cintanya dan membuat janji pada Alizha sebelum ia akan pergi ke Singapura.


*Flashback On.


"Zha, kamu ditunggu Mas Vino di taman," ucap Kartika sahabat Alizha.


"Di taman? Ada urusan apa?"


"Udah deh kamu kesana aja. Udah ditungguin Masnya," jawab Kartika sambil tersenyum-senyum sendiri, ia tahu bahwa diantara Alizha dan Vino ada cinta.


"Daripada kamu senyum-senyum sendiri. Mending kamu temani saya."


"Aduh maaf ya sayangku, aq lapar mau ke kantin dulu hehe bye," ucap Kartika sambil nyelonong begitu saja.


Kini Alizha telah berada di taman, ia mendapati seorang laki-laki yang tengah duduk di bangku panjang taman. Segera Alizha menghampirinya dengan hati yang begitu deg-deg an.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," ucap Alizha berdiri di depan Vino yang tengah duduk.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wanarakatuh, duduk sini Zha," jawab Vino sambil menggeser duduknya ke pojok agar tidak terlalu dekat.


"Tidak usah. Saya berdiri saja."


"Baiklah kalau begitu saya juga berdiri," ucap Vino seraya berdiri di depan Alizha.


"Zha saya mau bicara penting sama kamu." lanjutnya.


"Mas Vino mau bicara apa? Bicara saja, saya akan mendengarkannya," jawab Alizha.


"Ana Uhibbuka Fillah. Maaf kalau saya bicara lancang," ucap Vino seraya menunduk karena takut jika reaksi Alizha tidak menyukainya.


"Apa Mas Vino serius?" tanya Alizha sedikit menunduk tapi di hati Alizha sangat senang.


Vino pun mengangguk dan menoleh ke arah Alizha yang masih saja menunduk. "Insya Allah saya akan mengkhitbahmu sepulang dari Singapura. Maaf kalau saya mendadak bicaranya. Bisa kamu jaga hati untuk saya? Saya berjanji."


Alizha tersenyum melihat Vino. "Insya Allah jikalau kita memang berjodoh pasti kita akan bersatu kelak. Dan saya akan menunggu Mas."


"Terima kasih. Ini untukmu." mata Vino berbinar saat mendengar Alizha lalu ia memberikan sebuket bunga mawar putih. Yang dimana bunga itu adalah bunga kesukaannya.


****


Sudah 2 tahun lebih ia tidak mendapatkan kabar sama sekali setelah satu tahun yang lalu. Alizha masih saja setia menanyakan kabar Vino, tapi tak kunjung juga mendapat balasan dari Vino. Setiap harinya ia mengirimkan pesan lewat SMS dan e-mailnya dan berharap Vino akan membalasnya.


Setelah kelulusan Alizha ia dijodohkan dengan orang tuanya. Mulai saat itu ia ragu akan janji Vino, sehingga ia menerima perjodohan tersebut.


Flashback Off*.


"Itu semua sudah masalalu. Mas sudah saya maafkan sebelum meminta maaf. Saya permisi masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan," ucap Alizha seraya meninggalkan Vino yang masih di dalam Kantin.

__ADS_1


"Terima kasih," teriak Vino, akhirnya rasa bersalahnya telah selesai.


Tetesan air mata Alizha jatuh begitu saja setelah teringat akan masa lalunya. Ia masih mencintai Vino, tetapi ia tidak bisa karena sebentar lagi ia akan menjadi istri orang lain.


__ADS_2