
Setelah kejadian tadi siang di kantornya, Alizha tampak lesu dan seperti tidak bersemangat. Saat jam kerja berakhir Alizha pun bergegas membereskan yang ada di atas meja kantornya. Setelah selesai, ia cepat-cepat pulang karena nanti malam akan membeli gaun pengantin untuknya. Ia sudah ada janji semenjak minggu lalu, bahkan undangannya sudah jadi dan tinggal menyebarkan saja.
Tak butuh waktu lama, Alizha sudah sampai di rumahnya. Ia langsung bersih-bersih diri dan berdandan untuk malam ini.
Tok Tok Tok
Suara gedoran pintu dari luar kamar Alizha.
"Iya masuk aja," teriak Alizha yang masih sibuk berkutat dengan make up nya.
Adib menggeleng ketika melihat Alizha "Ck,ck,ck. Situ mau konser apa gimana sih? Lama woy, entar keburu malem lagi."
"Afifnya juga belom ngabarin Izha dulu ih. Kok Abang yang rempong sih," ucapnya seraya memakai jilbab. Alizha memakai make up sederhana tidak terlalu menor. Hanya menggunkan bedak dan lipbalm saja sudah cukup untuk Alizha.
Ting
Suara notifikasi dari Handphone Alizha berbunyi.
From: Afif
Sekarang saya otw.
Iya.
Abangnya yang kepo pun merebut Handphone dari tangan Alizha.
"Kepo banget dah jadi orang," ucap Alizha sambil membereskan make up nya yang masih belum tersusun rapi.
"Tuhkan Afif aja udah otw. Sana gih tungguin di depan," ucap Adib sambil mendorong tubuh Alizha keluar dari kamarnya.
"Paan sih. Ihh Izha gigit nih tangannya," ancam Alizha pada Adib.
"Galak amat jadi cewek. Ntar calon suamimu kabur lagi," ejek Adib.
"Enak aja. Gak ya. Wlee," ucap Alizha sambil menjulurkan lidahnya.
"Kalian ini ribut terus," ucap Ayah yang tiba-tiba muncul bersama Bunda.
"Iya nih. Kalian gamalu sama umur?" ucap Bunda.
"Abang nih."
"Enak aja! Kamu duluan."
"Yang goda Izha duluan siapa?"
"Yang bikin Abang kesel siapa hmm?!"
"Dek, maaf ya Bunda sama Ayah gabisa nemenin kamu ke butik," ucap Bunda.
"Ah iya gak pa-pa kok Bun," jawab Alizha.
"Kalau saja Budhe kamu gak sakit di rawat di rumah sakit, kita bisa ikut kamu. Tapi maaf ya Zha, kasihan Budhe kamu sendirian sekarang," ucap Ayah.
"Iya Yah iya. Gak pa-pa kok. Lagian nanti juga ada Mama dan Omanya Mas Afif," ucap Alizha.
Tin Tin
Suara klakson mobil Afif yang sudah berada di depan rumah Alizha.
"Udah kamu berangkat gih," ucap Bunda seraya mencium pipi Alizha.
"Yah, Bun, Abang. Izha pamit ya Assalamu'alaikum," ucapnya seraya berjalan menuju mobil Afif.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, hati-hati dek," jawab mereka semua kompak.
Di dalam mobil Alizha duduk di belakang dan memandangi jalanan Surabaya yang cukup padat jika di malam hari. Berbagai kerlap-kerlip lampu terpampang di pinggir jalan. Sepanjang perjalanan tak ada yang memulai percakapan di antara mereka berdua. Seperti halnya Afif hanya fokus mengendarai mobilnya.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan toko butik yang sangat mewah dan lumayan terkenal di Surabaya.
Ketika turun, Afif hanya mengikuti Alizha dari belakang dan membiarkannya memilih sesuai keinginannya karena pernikahannya nanti tak pernah di inginkan Afif, ia mau menikah dengan Alizha hanya semata-mata ingin membahagiakan keluarganya dan tak ada rasa sama sekali dengan Alizha yang akan menjadi istrinya nanti.
Afif masih terpikirkan oleh kekasihnya yang sudah lama tak menghubunginya semenjak hari ulang tahun Afif yang lalu. Sudah berkali-kali Afif mencoba mengabarinya tapi itu semua hasilnya nihil.
Alizha sangat kagum dengan gaun di depannya tersebut. Terpampang sebuah gaun syar'i yang indah dan sederhana dengan di dominasi warna putih. Hati Alizha tertarik pada gaun tersebut, tapi ia masih ragu. Tiba-tiba terlintas di dalam benaknya, akankah ia sanggup menjalani pernikahannya nanti?
"Mari Mbak, mau gaun yang seperti apa?" ucap seorang pramuniaga.
"Em bentar ya," jawab Alizha masih bingung.
"Mas," panggil Alizha seketika membuyarkan lamunan Afif.
Afif tersentak kaget mendengarnya. "Eh, apa?"
"Boleh saya minta rekomendasi Mas?" tanya Alizha berusaha sabar atas sikap Afif yang sedari tadi bersikap dingin.
"Terserah kamu saja," jawab Afif.
"Tapi saya bingung," ucap Alizha yang masih saja terfokus pada gaun-gaun di sekitarnya.
"Bentar lagi Mama nyusul. Tanyain ke Mama," ucap Afif
Apa yang dikatakan Afif tersebut benar, tak lama kemudian Mamanya datang bersama Oma.
"Assalamu'alaikum," ucap Mama.
"Wa'alaikumussalam," jawab Alizha dan Afif bersamaan.
"Yaudah sekarang kita pilih," jawab Mama.
"Alizha mau gaun yang kayak gimana Nak?" tanya Oma.
"Sederhana saja dan yang penting syar'i Oma," ucap Alizha.
Afif yang sedari duduk akhirnya berdiri dan menemani mereka mencari gaun yang cocok untuk Alizha.
Lumayan lama mereka mencari dan mencoba beberapa gaun, tapi tak menemukan satu pun yang cocok dengan Alizha. Sebenarnya Alizha sudah terikat hatinya pada gaun di depan tadi dan sepertinya harganya sangat mahal, jadi ia sungkan untuk memilih gaun tersebut.
Afif yang sudah menyadari Alizha semenjak tadi, ia pun menuju tempat dimana gaun yang Alizha sukai. Ia pun mengajak mereka semua untuk melihat gaun tersebut.
"Mah, gaun yang disana bagus. Mama bisa lihat," ucapnya.
"Oh ya? Mana? Ayo-ayo," ucap Oma semangat.
"Gimana Alizha? Kamu suka toh nduk?" tanya Oma pada Alizha yang kini matanya kembali terpanah saat melihat gaun tersebut.
"Ini sepertinya terlalu mahal untuk Alizha," ucap Alizha sungkan.
Afif pun langsung menyuruh Alizha mencoba gaun tersebut. Afif tahu bahwa Alizha sudah terpanah dengan gaun tersebut sejak mereka berdua datang. Tetapi Alizha masih sungkan untuk memilihnya.
"Mbak, saya mau gaun yang itu," ucap Afif mbak-mbak pelayannya.
"Oh iya Mas."
"Kamu coba ini," titah Afif pada Alizha.
"Tidak usah Mas. Yang lain saja," tolak Alizha dengan halus seraya memberikan balik gaun tersebut pada Afif.
__ADS_1
"Sudahlah Alizha kamu coba saja. Untuk biayanya tidak perlu khawatir," bujuk Mama.
"Tapi Ma-" ucapan Alizha terpotong begitu saja saat Oma langsung menyahutnya.
"Dicoba saja Nak. Kamu kayaknya cantik deh pakai gaun itu," sahut Oma.
"Iya ayo Alizha. Gaunnya juga sama persis bukan dengan keinginanmu?" ucap Mama berusa membujuk Alizha agar mau mencobanya.
"Baiklah Alizha coba."
5 menit kemudian, Alizha sudah tampak cantik dengan mengenakan gaun yang dipakainya. Begitu indah dan cantik untuk Alizha.
Seketika Afif terpanah akan penampilan Alizha, apalagi jilbab yang dipakai Alizha kebetulan sama dengan warna gaunnya yang putih.
Afif memandangi Alizha dari atas sampai bawah. Matanya kagum dengan sesosok Alizha yang tengah berdiri di depannya.
Alizha yang sadar tengah diperhatikan Afif dengan sebegitunya merasa tidak pantas. "Apa Alizha tidak cocok dengan gaun ini ya?"
"Tidak. Kamu cantik," ucap Afif tanpa di sadarinya. Ia mengungkapkan apa isi hati dan pikirannya sekarang.
Alizha yang mendengar ucapan Afif langsung tersenyum dan tersipu malu.
Oma dan Mamamya hanya bergeleng kepala dan tersenyum saat melihat aksi calon pengantin di depannya.
"Nah sekarang kita cari kemeja yang cocok untuk Afif," ucap Mama.
"Iya ayo. Kemejamu nanti motifnya disamain saja ya sama gaunnya Alizha?" ucap Oma tak henti-hentinya semangat.
"Bagaimana dengan ini Fif?" tanya Oma sambil memilih salah satu kemeja di depannya.
Afif menggeleng.
"Kalau yang ini Fif? Kayaknya lebih persis motifnya sama gaun Alizha," ucap Mama sambil membawa kemeja dan mencoba mencocokkan dengan gaun Alizha.
Afif masih menggeleng tidak setuju. "Terlalu rame Mah."
Mata Alizha pun menangkap sebuah kemeja yang sederhana tetapi terlihat mewah dan kebetulan motif dan warnanya sangat cocok untuk gaunnya. "Kalau yang ini bagaimana Mas?" ucap Alizha sambil memberikan pada Afif kemeja yang diambilnya.
"Boleh juga," ucap Afif sambil mengangguk.
"Wah kamu pinter deh pilihnya. Oma juga suka," ucap Oma.
"Yaudah yang itu aja bagus. Ayo ke kasir buruan," sahut Mamanya Afif.
Setelah mereka melakukan pembayaran di kasir, mereka pulang bersama di dalam mobil Afif. Dan memang tadi Mama dan Omanya Afif datang menggunakan taxi online.
30 menit kemudian mereka telah sampai di depan rumah Alizha. Alizha pun turun dan berpamitan.
"Oma, Tante, saya pamit dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Oma dan Mamanya Afif bersamaan.
Sedangkan Afif sedari diam dan tak bicara lagi selama perjalan pulang.
"Em, Mas-Afif, saya pamit ya terima kasih. Assalamu'alaikum," ucap Alizha sedikit gugup.
"Iya. Wa'alaikumussalam," jawab Afif.
"Alizha sayang, jaga kesehatan ya," teriak Oma sambil melambaikan tangan. Alizha pun membalas dengan senyuman dan lambaian tangan juga.
Perlahan mobil Afif sudah tidak nampak lagi, akhirnya Alizha pun masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang begitu senang. Entah apa alasan yang menjadi Alizha senang seperti ini, bahkan pipinya sekarang blushing.
Ia masih bingung dengan perasaannya sekarang. Ataukah ia sudah mulai mencintai Afif, ataukah hanya sekedar mengagumi saja. Jujur Afif orangnya tampan dan bentuk tubuhnya yang begitu ideal, bisa membuat banyak kaum hawa terpanah akan ketampanannya.
__ADS_1