Demi Tuhan, Aku Ikhlas

Demi Tuhan, Aku Ikhlas
Khitbah


__ADS_3

Sudah seminggu sejak pertemuan yang lalu, Alizha mondar mandir mencari pekerjaan dan tak kunjung juga ada perusahaan yang menerimanya. Banyak perusahaan yang tidak membutuhkan tenaga kerja yang baru. Tapi setelah itu ia terus mencoba lagi dan lagi tidak putus asa begitu saja, ia mencari lowongan pekerjaan di beberapa perusahaan dengan menggunakan sepeda motor matic kesayangannya.


Setelah menaruh berkas-berkas lamaran di beberapa perusahaan. Akhirnya Alizha dipanggil untuk melakukan interview di salah satu perusahaan terbesar di Surabaya. Setelah melakukan interview, ternyata Alizha telah diterima dan bisa mulai bekerja besok. Hati Alizha sangat senang, bahkan ia tak henti-hentinya merapalkan hamdalah sebanyak-banyaknya.


Kemudian Alizha memutuskan mampir di rumah makan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi minta di isi, rasanya sekarang cacing-cacing di dalam sana sudah demo minta di isi makanan.


Tak butuh waktu lama akhirnya Alizha menemukan rumah makan yang sederhana dipinggir jalan. Alizha pun memarkirkan sepedanya di parkiran. Lalu ia masuk kedalam dan duduk di bagian dekat jendela. Karena disana terlihat suasana jalanan yang ramai dan juga pemandangan taman yang disuguhkan rumah makan tersebut.


"Mau pesan apa mbak?" ucap pelayan tersebut sambil menyodorkan buku pesanan.


"Em, saya mau nasi goreng sama es teh saja," ucap Alizha seraya menunjuk menu yang tersedia di buku pesanan.


3 menit kemudian pesanan Alizha sudah dihidangkan di depan matanya. Alizha yang begitu kelaparan karena sedari pagi tadi hanya memakan sepotong roti bakar, dengan segera Alizha pun menyantap makanannya sampai habis.


Setelah berada di rumah makan tadi Alizha pergi mencari masjid untuk menunaikan ibdah sholat ashar karena sebentar lagi waktu menunjukkan pukul 14.30 sore. Sesampainya di sana ia mengambil wudhu dan memakai mukenahnya yang selalu dibawa kemana-mana ketika berpergian agar nanti waktu sholat tidak tergesa-gesa meminjam mukena milik masjid/mushola. Bagaimana tidak, mukenah di masjid/mushola biasanya disediakan terbatas.


Adzan pun kini mulai terdengar begitu merdu hingga membuat Alizha yang mendengarkannya di dalam masjid merasa terlena.


'Masya Allah, merdu sekali suara adzan ini,' puji Alizha dalam hati.


Sholat pun dilaksanakan secara jama'ah dengan khusyuk. Selesai sholat, Alizha pun keluar dan saat memasangkan sepatu pada kakinya, tiba-tiba sebuah dompet terjatuh tepat dibawah kakinya. Alizha yang menyadarinya langsung berlari menghampiri pemilik dompet tersebut. Saat dilihatnya hanya ada satu lelaki yang lewat di depannya tadi.


"Mas-mas dompetnya jatuh," teriak Alizha sambil berlarian mengejar seseorang tersebut.


"Mas, tunggu Mas."


"Mas ini dompetnya jatuh."


"MAS," teriak Alizha sekali lagi.


Lelaki tersebut pun yang menyadari dompetnya tidak ada, akhirnya menoleh kearah sumber suara. "Ah iya Mbak, maaf ya merepotkan," ucapnya sambil mengambil dompet yang disodrokan Alizha.


"Iya gak papa kok mas," jawab Alizha seraya berbalik badan untuk mengambil barangnya yang langsung ditinggalkan begitu saja saat mengejar lelaki tersebut.


"Eh-maaf," ucap lelaki tersebut sambil memutar bahu Alizha yang kemudian Alizha berbalik kearah semula.


"Alizha?" ucap lelaki tersebut.


"Iya?" sahut Alizha.


"Saya Afif," ucap Afif


"Mas Afif? Ah iya hampir saja saya tidak mengenali Mas," jawab Alizha.


"Tak apa, terima kasih," ucapnya.


"Sama-sama Mas Afif," jawab Alizha.

__ADS_1


****


Pukul 18:00 Alizha sudah berada dirumahnya dan ia sedang membantu Bundanya berkutat di dapur.


"Zha, masukin kecapnya langsung aja," titah Bunda.


"Ok. Kalau garamnya segini cukup gak Bun?"


"Iya dikira-kira aja," jawab Bunda yang masih sibuk memotong sayuran.


"Banyak banget sih Bun, memangnya buat apa?" tanya Alizha heran karena Bundanya kini tengah memasak banyak sekali hidangan, yang tak mungkin bisa dihabiskan hanya dengan keluarganya.


"Ya dimakan lah."


"Ihh Bundaa."


"Nanti bakal ada tamu penting datang kesini. Katanya sih kesini ba'da isya'," ucap Bunda.


"Tamu penting? Siapa?" tanya Alizha kepo.


"Kamu dari tadi kepo mulu. Tunggu nanti aja dan lihat sendiri," jawab Bunda sambil tersenyum menatap putrinya.


Setelah berkutat lama di dapur, akhirnya telah selesai. Makanan pun telah terhidang di atas meja makan dengan rapi. Tak lupa Alizha membantu Bundanya menyiapkannya.


"Wah-wah bakal makan besar nih," ucap Adib yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Selalu saja kalau soal makanan ia terdepan tak mau ketinggalan.


"Abang, gaboleh tau. Ini makanan buat tamu nanti," cegah Alizha sambil menampis tangan Adib yang akan siap mengambil sepotong kue di piring.


"Bilangin Bunda nih ya?!" ancam Alizha sambil tersenyum miring.


"Eh selow dong dek, santai, gausah di aduin dong hehe," ucap Adib akhirnya menyerah.


Alizha yang melihat ekspresi Adib ketakutan, tertawa terbahak-bahak karena saking lucunya ekspresi yang disuguhkan Adib seperti bocah sedang maling.


"Yang waras ngalah, tahu siapa dong yang waras?" ucap Adib karena tak terima ditertawakan adiknya.


Suara adzan pun kini terdengar, dan waktunya menunaikan sholat isya'.


"Iyain. Udah adzan tuh Bang, yuk sholat."


Jelang selama 30 menit setelah sholat isya' terdengar suara ketukan pintu dari luar. Keluarga Alizha pun telah bersiap menerima tamu di ruang tengah yang bahkan Alizha pun tak tahu siapa tamunya dan ia hanya mengikuti titah kedua orang tuanya.


Saat knop pintu dibuka oleh Ayah Nabhan, saat itu pula Alizha terbelak kaget siapa tamunya. Jantung Alizha berdegup tak karuan saat melihatnya, entah apa yang tengah terjadi pada diri Alizha sekarang. Ia terus saja berusaha menetralkan rasanya sekarang.


'Oh Allah, ada apa dengan keluarga mas Afif? Kenapa hamba menjadi gugup seperti ini.' batin Alizha.


Keluarga Afif pun menuju ruang makan. Afif datang bersama Papa, Mama dan tentu saja bersama Omanya juga. Mereka sudah duduk di kursi masing-masing untuk bersiap menyantap makanan.

__ADS_1


"Ayo mangga dipun dhahar," ucap Nenek.


"Iya bu makasih, jadi ngerepotin gini," jawab Mama Qila.


"Aduh kayak sama siapa sih Qil, ayo dimakan keburu dingin makanannya," sahut Bunda Namira.


Sementara Afif dan Adib sedang asyik mengobrol. Tetapi pandangan Afif tak henti-hentinya menatap Alizha yang tengah menyiapkan makanan.


"Ayo di makan ini keburu dingin," titah Kakek.


Usai makan malam selesai, mereka semua pindah di ruangan tengah. Kini Alizha duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya. Entah apa yang akan dibicarakan, Alizha masih tak mengerti sejauh ini.


Setelah berbincang-bincang sedikit, kemudian Papa Aryo membuka suara sehingga membuat suasana sedikit hening.


"Langsung saja, kedatangan saya dan keluarga kesini bahwa kami ingin meminang putri Pak Nabhan yaitu Alizha Nur Khairiyah untuk disandingkan dengan putra kami yang bernama Muhammad Afif Ahwal Said," ucap Papa Aryo.


"Meskipun sebelumnya sudah diterima, tapi kami sekeluarga ingin mendengar ucapan putri Bapak sendiri. Maukah kamu menjadi istri saya dan melengkapi separuh agama saya dan menjadi pendamping hidup saya?" ucap Afif sedikit gugup pada Alizha.


"Bagaimana nak?" tanya Ayah Nabhan pada putrinya.


Alizha yang diberikan pertanyaan pun menoleh pada Bundanya seolah memberi kode. Dan dijawablah anggukan oleh Bundanya. "I-iya saya mau menerima," ucap Alizha gugup pasalnya ia terkejut jikalau kedatangan keluarga Afif ingin mengkhitbahnya hari ini. Namun Alizha sebelumnya memang telah menyetujuinya, jadi sekarang ia menerimanya. Meskipun sedikit hati Alizha yang tersakiti, ia tetap berusaha untuk tegar demi kebahagiaan keluarganya dan juga dirinya sendiri.


"Alhamdulillah," ucap mereka kompak yang berada di tengah ruangan tersebut.


"Lalu bagaimana untuk rencana pernikahannya? Bagaimana kalau pernikahannya dilaksanakan 2 minggu lagi?" ucap Papa Aryo.


"Em maaf sebelumnya, apakah tidak terlalu cepat? Menurut saya terlalu cepat. Bagaimana dengan persiapannya nanti?" Alizha angkat bicara.


"Bukankah lebih cepat lebih baik nduk?" tanya Oma pada Alizha.


"Kalau begitu Alizha ambil baiknya saja," ucap Alizha.


"Pah, bagaimana kalau satu bulan lagi? Biarkan Alizha menyiapkan mentalnya untuk itu. Mungkin untuknya ini sangatlah terburu-buru," ucap Afif membela Alizha.


"Iya Pak Aryo, kalau 2 minggu lagi terlalu grusa grusu nanti takutnya berantakan," ucap Ayah Nabhan.


"Baiklah kalau begitu pernikahannya dilaksanakan satu bulan lagi. Dan untuk tema pernikahan dan sebagainya serahkan saja pada Afif dan nak Alizha, karena ini acara mereka berdua," ucap Papa Aryo.


Kedua keluarga pun nampak bahagia di wajahnya. Kecuali Alizha dan Afif yang masih ragu akan pernikahannya sendiri.


Setelah berbincang-bincang, akhirnya keluarga Afif pun pamit untuk pulang. Saat hendak naik mobil, Afif pun kembali menghampiri Alizha yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Boleh saya meminta nomer handphone mu, emm untuk menghubungi sewaktu-waktu saya butuh kamu untuk persiapan pernikahan nanti?" ucap Afif lancar pada Alizha seraya menyodorkan handphone miliknya didepan Alizha.


Alizha pun menerima handphone yang disodorkan dengan mengisi nomernya untuk Afif. "Ini, sudah saya beri nama," ucap Alizha sambil mengembalikan handphone milik Afif.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama. Hati-hati."


Afif pun tersenyum mendengar ucapan Alizha. Lalu masuk ke mobilnya. Mobil keluarga Afif pun telah pergi dari halaman rumah Alizha.


__ADS_2