Demi Tuhan, Aku Ikhlas

Demi Tuhan, Aku Ikhlas
Bisakah Aku Kembali?


__ADS_3

Setelah mampir ke cafe terlebih dahulu, Alizha dan Ayah pun kembali pulang ke rumah. Tak biasanya, Ayah mengajak Alizha mampir. Biasanya juga langsung pulang, dan tidak diperbolehkan keluar kemana-mana kecuali untuk pergi kerja ke kantor. Hari ini Alizha sangat senang, setidaknya dengan mampir sebentar di cafe bisa membuat penatnya hilang tidak terasa.


"Kalian berdua kok pulangnya jam segini? Ayah lembur atau Alizha?" tanya Bunda seraya mengaduk kopi untuk Ayah.


Ayah pun menaruh tas kerjanya di atas meja makan sambil melepaskan dasi yang terpasang pada kemejanya. "Kita gak lembur kok Bun, cuma kita mampir sebentar tadi ke cafe."


"Loh berarti kalian udah makan dong? Yaudah kalau gitu makanannya Bunda simpen buat besok aja. Lagipula gak ada yang makan, Nenek sama Kakek ke rumah Budhe Ratih. Adib juga hari ini lembur, pulangnya malam nanti," ucap Bunda.


Alizha pun langsung memeluk Bundanya dari belakang, ia sangat tahu bahwa ada rasa kecewa dalam hati Bundanya. "Ihh jangan di simpan dulu, kita belum makan kok ya Yah? Tadi Alizha cuma mampir buat beli ice cream aja kok sama Ayah." Ayah pun tertawa saat melihat raut wajah istrinya. "Bunda, kita tetap makan di rumah kok. Gak mungkin dong kita nyia-nyia in masakan rumah yang paling enak," ucap Ayah sambil mencolek dagu Bunda.


Bunda pun tersenyum dan memberikan secangkir kopi yang dibuatnya tadi untuk Ayah. "Yaudah, ini kopi buat Ayah." Ayah menerima pemberian dari Bunda. "Terima kasih."


"Alizha mau mandi dulu, sholat, habis itu kita makan malam sama-sama," ucap Alizha lalu berjalan ke arah kamarnya.


Setelah Alizha menyelesaikan aktivitasnya, kemudian ia makan malam bersama Ayah dan Bundanya.


Selesai makan malam, keluarga Alizha biasanya menonton siaran televisi di ruang tengah. Seperti biasa, Alizha selalu didampingi dengan ponselnya.


Saat tengah asyik menonton televisi, Ho Alizha berdering dan muncul notification panggilan. Ada sedikit rasa senang juga ada sedikit rasa takut saat ingin mengangkatnya, karena yang menelpon adalah Mama Tiara, mertuanya. Ia takut nanti harus bilang apa jika menanyakan kabar putranya Afif, sedangkan ia istrinya saja tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang.


Alizha terus memperhatikan layar ponselnya, panggilan masih terus memanggil. Kemudian Ayah langsung menoleh ke arah putrinya.


"Siapa yang nelpon? Kok gak diangkat Zha?" tanya Ayah.


"Em-itu Yah, Mama Tiara yang nelpon," jawab Alizha sedikit gugup. Karena ia takut Ayahnya akan marah-marah kembali. "Sini biar Ayah aja yang jawab," ucap Ayah dengan nada dingin. Alizha pun memberikan ponselnya kepada Ayah.


"*Asslamu'alaikum Alizha, nak akhirnya juga."


"Wa'alaikumussalam. Ada apa?"


"Loh ini Pak Nabhan ya? Alizhanya mana?"


"Saya tidak tahu Alizha dimana."


"Pak, saya tahu Alizha sekarang pasti ada bersamamu. Boleh sebentar saya berbicara dengan menantu saya? Sebentar saja, saya mohon."


"Tidak ada*."


Alizha dan Bunda hanya diam dan saling memperhatikan Ayah Nabhan yang tengah berbicara di telepon. Sebenarnya Alizha juga sangat merindukan mertuanya. Tetapi kali ini Alizha harus patuh terhadap peraturan Ayahnya setelah apa yang terjadi waktu itu.


"Mas, berikan saja pada Alizha," bisik Bunda pelan agar tak kedengaran di seberang telepon sana.


"Tidak!"


"Kamu terlalu membatasinya, biarkan Alizha menyelesaikan masalahnya. Ingat, Alizha sudah dewasa, sudah berumah tangga. Kalau kamu seperti ini terus, Alizha juga yang akan tersakiti terus," ucap Bunda dengan sabar seraya menggenggam tangan Ayah Nabhan.


Alizha tertunduk, ia hanya bisa diam sambil memainkan ujung khimarnya. Kemudian Ayahnya menoleh ke arah Alizha. Dilihatlah sang putrinya, ada rasa sakit yang dirasakan ketika melihat putrinya dalam kondisi seperti ini. Hatinya tersentuh dan terbuka saat mendengar ucapan istrinya. Bagaimanapun juga ia sebagai seorang Ayah tidak boleh egois dengan egonya sendiri.


Diberikanlah handphone nya kepada Alizha. "Bicaralah," ucap Ayah dengan lembut. Lantas Alizha langsung mendongak dan menerima handphone nya sambil tersenyum.


"*Assalamu'alaikum Ma."


"Wa'alaikumussalam, Ya Allah nak...akhirnya Mama bisa mendengarkan suaramu kembali. Kemana aja kamu sayang? Berminggu-minggu ini Mama selalu cariin kamu dan khawatirin kamu. Kamu ditelpon juga nomornya gak aktif, Mama juga sempat telpon Ayah kamu katanya kamu gak ada di rumah."


"Alhamdulillah Alizha baik-baik aja kok Ma. Bagaimana kabar Mama dan keluarga disana?"


"Kami semua baik-baik saja."


Selang beberapa detik hening tak ada yang bicara, mau menjawab pun rasanya Alizha tak sanggup.


"Nak, Mama tahu kalian sedang ada masalah dalam rumah tangga kalian. Mama mohon agar kamu tetap tabah ya. Mama yakin, kamu pasti bisa melewati ini semua."


"Insya Allah Alizha bisa melewati ini semua. Lantas bagaimana dengan Mas Afif? Ia sudah tak lagi menginginkan kehadiran Alizha," jawab Alizha kemudian dengan perlahan air matanya jatuh.


"Besok Mama akan datang kerumah kamu dan bawa kamu pulang kembali ke Afif*."


Tak kuasa lagi Alizha menahan air matanya, kemudian ia langsung mematikan teleponnya.


Ayah dan Bundanya mendekati Alizha dan duduk di sampingnya. Dengan tangan terbuka, kedua orang tuanya siap menjadi sandaran untuknya.


"Istirahatlah, sudah malam," ucap Ayah sambil mengelus puncak kepala Alizha. Bunda pun memeluk putrinya erat dengan air mata yang mengiringinya. "Yang tabah ya Nak, kamu pasti kuat. Bunda yakin itu, mungkin ini adalah ujian untukmu. Allah tahu kamu pasti bisa melewati semua cobaan ini, maka dari itu Allah kasih kamu cobaan seperti ini. Setiap masalah pasti akan ada penyelesaiannya. Percayalah, ikhtiar, berdoa dan tawakkal. Insya Allah dengan seperti itu, semuanya akan berakhir. Semua akan indah pada waktunya. Kamu putri Bunda yang kuat dan tegar. Bunda percaya kamu pasti bisa. Semangat, jangan putus asa."


Perlahan Alizha pun melepaskan pelukannya dan menatap kedua orang tuanya. "Iya Bunda, Ayah, Alizha gak boleh menyerah gitu aja. Setiap masalah pasti ada ujungnya. Alizha yakin itu. Masih banyak orang yang lebih sulit ujiannya dibanding dengan ujian Alizha. Alizha harus bersyukur, harus semangat gak boleh nyerah." Dengan kalimatnya Alizha berusaha menegarkan dirinya sendiri.


****


Keesokan harinya.


Dipagi yang cerah secerah sinar mentari yang menyinari bumi. Tetapi sayang, tak secerah hati dan perasaan Alizha. Dari bangun tidur hingga kini saat berada di ruangan makan. Hatinya masih saja resah dan merasa takut bila nanti akan kembali pada Afif. Ia takut hatinya akan tersayat lagi.


"Izha, dimakan dong sayang jangan di aduk terus nanti gaenak makanannya," ucap Bunda yang tengah melijat putrinya melamun sambil mengaduk-ngaduk sarapannya. Kemudian refleks Alizha langsung menoleh ke arah Bundanya seraya tersenyum. Lalu diambillah satu suapan ke mulutnya.


"Dek, makanannya itu dimakan bukan dibuat lamunan," ucap Bang Adib yang tengah menuangkan air di gelasnya yang sudah kosong.


"Iya Bang. Ini Alizha makan kok."


Setelah sarapan, mereka kembali ke aktifitasnya masing-masing. Seperti biasa Alizha, Ayah dan Abangnya akan berangkat kerja.


Alizha berjalan sambil merapikan jilbabnya menuju ruang tengah dengan tas selempangnya yang sudah berada di pundak tangan kanannya. Adib pun berjalan di samping Alizha seraya mengenakan jam tangannya.


"Abang kemarin pulang jam berapa?" tanya Alizha.


"Jam sebelas dek, kenapa? Kangen? Kamu sih udah molor duluan," jawab Adib yang berada di samping Alizha kemudian duduk di sofa ruang tengah untuk memakai alas kakinya dan sepatu.


"Ge-er deh."


"Ayo Izha, udah siap?" ucap Ayah yang tiba-tiba muncul bersama Bunda.


"Iya ayo Yah."

__ADS_1


"Mau aku antar aja Dek? Biar Ayah berangkat sendirian," tawar Adib tiba-tiba. "Ga ah lama, pake sepatu aja susah gitu. Gimana mau ngantarin Alizha? Yang ada gak sampe-sampe."


"Udah Alizha biar sama Ayah aja. Kamu berangkat sendiri sana gih," ucap Bunda menepuk bahu Adib. "Hehe iya deh," jawab Adib pasrah.


Setelah berpamitan pada Bunda, Alizha pun berjalan mengikuti Ayahnya menuju mobil. Saat hendak masuk mobil, ada mobil yang berhenti terparkir di depan gerbang rumahnya yang telah terbuka. Lalu keluarlah dua wanita paruh baya yaitu sang Mama dan Omanya Afif dari mobil tersebut.


"Assalamu'alaikum," ucap Oma dan Mama Qila dengan sopannya. Oma berjalan menghampiri mereka dengan membawa paper bag besar.


"Wa'alaikumussalam," jawab mereka berempat serempak. Pandangan mereka tampak bertanya-tanya. Ayah Nabhan sudah nampak akan marah, sedangkan Alizha perasaannya diselimuti dengan rasa khawatir dan takut.


"Maaf, sebelumnya ada apa ya kesini?" tanya Ayah Nabhan yang tak jadi masuk ke dalam mobil dan berjalan menghampiri Mama Qila dan Oma.


"Kita kesini mau membicarakan hal penting dan mau minta maaf atas kejadian yang menimpa Alizha karena ulah Afif." Oma berbicara dan ada rasa bersalah dalam hatinya, rupanya ia gagal menjodohkan cucunya. Seharusnya diharapkan untuk menjadi baik, malah hubungan rumah tangga cucunya kacau balau karena perbuatan cucunya sendiri. Ia menyesal, begitupun dengan Mamanya Afif. Tapi mereka sudah sayang terhadap Alizha, ia tak mau kehilangan Alizha. Bagaimanapun juga mereka ingin Alizha dan Afif tetap utuh.


"Kami minta maaf sebesar-besarnya. Saya merindukan menantu saya, pulang kembali ke Afif ya nak?" ucap Mama Qila mendekat kepada Alizha.


Ayah Nabhan pun langsung angkat bicara. "Kalau putri saya kembali lagi kepada putra Anda yang brengsek itu, apakah putri saya akan bahagia?!" Alizha hanya diam dan menunduk.


"Maaf sebelumnya saya menyelah pembicaraan ini. Jika ingin membicarakan hal ini lebih lanjut, ada baiknya bicara nanti saja. Saya, Alizha dan Ayah mau berangkat kerja dulu ini sudah mau siang, bukan maksud saya mengusir, tapi nanti kami bisa terlambat kerja," ucap Adib yang sudah tidak tega melihat Adiknya, mungkin ada baiknya pembicaraannya ditunda dahulu.


"Iyah Bu Qila, kalau mau membicarakan masalah ini ada baiknya nanti malam saja biar lebih enak. Kalau mau mampir dulu silahkan masuk ayo Bu, Oma." Bunda mempersilahkan masuk.


"Ah tidak-tidak usah Nak, kalau gitu saya mau ngasih ini aja untuk Alizha," ucap Oma seraya memberikan paper bag yang dibawanya kepada Alizha. Kemudian Alizha menerima pemberian tersebut. "Terima kasih Oma, maaf ngerepotin."


"Aduh gak ngerepotin sama sekali kok Nak gapapa. Boleh Mama peluk kamu sebentar?" ucap Mama Qila dengan mata berkaca-kaca, sepertinya sudah sangat merindukan Alizha. Lalu Alizha pun berjalan mendekati Mama Qila sambil merentangkan kedua tangannya, kemudian dipeluklah dengan erat dan air mata yang mengalir.


"Maafin Mama, Mama gak bisa jadi mertua yang baik buat kamu. Mama udah berusaha keras untuk bujuk Afif, tapi Afif menolak Mama mentah-mentah. Mama yakin kalau kalian pasti bisa bersatu kembali. Jangan tinggalin Mama, Zha. Mama udah sayang sama kamu," ucap Mama Qila dalam pelukan Alizha. "Udah gapapa kok Ma, biar kami berdua yang nyelesaian masalah ini. Mama gausah repot-repot. Lagipula Mas Afif sudah tidak mengharapkan Alizha lagi kan?" jawab Alizha dengan tersenyum, walau sebenarnya senyumannya itu hanya pura-pura menunjukkan tegar tapi nyatanya ia begitu rapuh.


"Ayo Zha berangkat nanti terlambat," ucap Ayah Nabhan yang sudah membuka pintu mobilnya.


Kemudian Alizha pun berangkat kerja bersama Ayahnya dan Adib berangkat sendiri seperti biasanya. Lalu Mama Qila dan Oma Reni pulang. Ya walaupun mereka belum bisa membawa Alizha pulang kembali ke rumah mereka, setidaknya mereka lega bisa bertemu langsung dengan Alizha yang sudah selama berminggu-minggu tidak mendapatkan kabar dari Alizha sama sekali.


Sesampainya di kantor Alizha langsung melakukan pekerjaannya seperti biasa, ia harus profesional dalam melakukan pekerjaannya walau hatinya sedang dilanda kesedihan. Pekerjaan yang banyak bagi Alizha adalah obat untuk penghilang masalahnya sementara, karena dengan melakukan pekerjaan Alizha lupa akan masalah apa yang sedang melandanya.


"Zha, sudah siap semua bahan untuk meeting nya?" tanya Vino yang kini mereka berdua sedang menunggu kehadiran klien untuk meeting di perusahaan Vino.


"Sudah semuanya," jawab Alizha lalu menyiapkan semua alat presentasi untuk meeting nya.


"Baiklah."


Tak lama kemudian, meeting pun dilaksanakan karena klien yang ditunggu sudah datang. Selama 1 jam akhirnya meeting telah terlaksanakan dan berjalan dengan lancar. Lalu kini Alizha akan kembali pada ruangannya. Semua orang sudah keluar ruangan meeting, hanya tersisa dua orang yaitu Alizha dan Vino.


Saat Alizha siap-siap hendak keluar ruangan, tiba-tiba Vino memanggilnya. "Alizha." Refleks Alizha pun menoleh. "Iya Pak?"


"Saya suka kamu," ucap Vino.


"Maksud Pak Vino apa?" tanya Alizha heran.


"Eh maksudnya saya suka presentasi kamu barusan. Bagus dan bisa meyakinkan klien degan cepat. Pertahankan itu," jawab Vino kemudian ia jadi gerogi.


"Oh iya makasih Pak."


"Iya Pak," jawab Alizha kemudian keluar ruangan setelah Vino keluar duluan.


.


.


.


.


.


Sepulang kerja seperti biasanya Alizha dijemput oleh Ayahnya. Setelah sampai rumah, Alizha langsung pergi ke kamar dan membersihkan dirinya agar terlihat segar kembali. Malam ini Alizha mengenakan gamis sederhana berwarna hitam polos dan khimar berwarna senada yang menutupi dadanya. Selepas itu ia pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama keluarganya. Sekarang di keluarga ini tinggal 4 orang saja karena Nenek dan Kakeknya sudah tinggal menetap di rumah Kakak dari Bunda Namira.


Semuanya makan dengan hikmat. Setelah makan, Alizha membantu Bundanya membereskan piring-piring dan sisa makanan di dapur.


"Nak, maafkan Bunda ya," ucap Bunda yang tengah mencuci piring sambil meneteskan air matanya. Alizha pun menghampirinya dan mematikan wastafelnya, kemudian menggenggam tangan sang Bunda. "Bunda gak salah, kenapa minta maaf? Bunda jangan nangis."


"Bunda merasa bersalah Zha, Bunda gagal buat kamu bahagia. Harusnya kamu bahagia dengan dijodohkan sama Afif, tetapi..kamu.." ucapan Bunda terpotong. Alizha langsung memeluk sang Bundanya. "Mungkin ini sudah jalanNya, tak apa Bunda. Tidak ada yang salah disini."


Kemudian datanglah Ayah Nabhan.


"Diluar ada tamu, ayo keluar nanti saja dilanjutkan beres-beresnya."


"Iya Mas. Ini juga hampir selesai kok," jawab Bunda.


"Yaudah ayo Bun," ajak Alizha lalu berjalan mengikuti Ayahnya.


*****


Sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Alizha yang kebetulan terbuka. Lalu keluarlah dua orang wanita dan dua laki-laki yang mengikutinya.


Ayah Nabhan dan Adib yang memang kebetulan bersantai duduk di depan rumah kemudian langsung berdiri.


"Mereka datang," ucap Ayah. Adib pun mengangguk.


"Assalamu'alaikum," ucap mereka berempat.


"Wa'alaikumussalam," jawab Ayah dan Adib.


"Silahkan masuk," ucap Ayah menyilahkan mereka, ya walaupun di dalam hatinya masih tidak terima akan kehadiran Afif. Saat merek hendak masuk, sebuah tangan kekar menyentuh pundak belakang Afif. Lantas Afif pun yang kebetulan berjalan di belakang sendiri langsung menoleh.


"Bisa saya bicara sama kamu sebentar?" ucap Adib yang sepertinya sudah merencanakan bersama Ayah terlebih dahulu. Adib membawa Afif agak menjauh dari pintu agar keluarganya tidak mendengar. Ia membawanya ke depan gerbang untuk berbicara.


"Iya," jawab Afif.


"Begini Fif," ucap Adib sambil menepuk pundak kiri Afif. "Saya mau tanya soal Alizha, boleh?" tanya Afif yang kini suasananya semakin mencekam.

__ADS_1


"Iya Bang silahkan."


"Sebenarnya kamu mencintai Alizha apa tidak?"


Afif terlihat gugup dan kebingunan saat mendengar pertanyaan Adib, ia bingung harus menjawab apa. Bila ia menjawab mencintai, rasanya bohong. Bila ia menjawab tidak mencintai, ia tak enak hati. "Maaf, kenapa Abang bertanya seperti itu?" ucap Afif seraya tertawa berusaha mencairkan suasana.


"Ada yang lucu?! Sampai kamu tertawa seperti itu? Saya bertanya serius, jangan main-main kamu. Apalagi mempermainkan perasaan Adik saya Alizha."


"Jujur Bang, saya waktu itu salah. Saya memang salah, dulu saya belum bisa menerima kehadiran Alizha. Bahkan saya belum bisa mencintainya. Perasaan saya tidak bisa di paksa Bang. Apalagi pernikahan kami hanya karena perjodohan, dan itupun saya menikahinya secara terpaksa karena Oma saya dulu," ucap Afif yang benar-benar keterlaluan seperti tidak punya perasaan berkata seperti itu di depan Abangnya Alizha sendiri. Ia tak memikirkan sama sekali perasaan orang yang berada di sekitarnya, ia benar-benar egois.


"Oh jadi kamu tidak mencintai Adik saya? Lantas mengapa kamu masih mempertahankan Alizha? Toh sekarang kamu bisa melepaskan Alizha pada kami. Alizha tidak butuh seorang suami yang dzolim seperti kamu!" seru Adib yang kini emosinya sudah memuncak.


"Tapi satu hal saya mau jujur sama Bang Adib."


"Apa?! Mau ngomong apa kamu?"


"Semenjak kejadian itu, saya benar-benar bersalah. Saya merasa menyesal menyia-nyiakan Alizha. Saya benar-benar merasakan kehilangan dia. Dada saya seperti sesak saat Alizha tidak ada di dekat saja. Jujur bang, saya tidak bisa seperti ini, saya benar-benar merindukan Alizha, Bang. Saya mau minta maaf," ucap Afif mengutarakan isi hatinya. Memang benar yang dikatakan Afif saat ini, ia benar-benar merasa hampa semenjak kepergian Alizha.


"Lalu bagaimana dengan urusan mencintai Adik saya? Bukankah kamu tidak mencintainya?"


"Untuk masalah itu cinta akan tumbuh dengan seiring berjalannya waktu. Saya juga tidak tahu apa yang sedang saya rasakan saat ini. In Syaa Allah pelan-pelan saya akan berusaha menerima kehadiran Alizha sebagai istri saya."


"Izinkan saya memperbaiki ini semua Bang," imbuh Afif memohon.


Adib pun langsung meninggalkan Afif. Ia percaya antara tidak percaya dengan ucapan Afif. Rasanya ia sangat kesal dan ingin menonjok muka Afif habis-habisan.


*****


Sesampainya di ruang tamu, ternyata ada Mama, Papa dan Omanya Afif, tak hanya bertiga saja. Ternyata masih ada dua orang laki-laki di depan rumah. Alizha merasa penasaran siapa lelaki tersebut? Yang jelas ia bisa mengenali satu laki-laki yaitu Adib abangnya sendiri. Tetapi siapakah yang satunya? Ia tak bisa mengenalinya, wajahnya tak nampak karena terlihat dari belakang. Apalagi dibalik kaca jendela yang gelap berwarna hitam.


'Ya Allah siapa lelaki tersebut? Mungkinkah Mas Afif? Ya Allah kenapa saya merasa takut sekali bila bertemu dengannya kembali,' batin Alizha.


Keluarga Afif menyambut dengan senyuman hangat saat melihat Alizha hadir di depannya. Senyuman mereka tampak seperti ada sesuatu yang membawanya kemari. Alizha pun membalas dengan senyuman juga, tapi ia tak berani mendongakkan kepalanya, ia hanya menunduk.


Adib pun masuk ke dalam dengan ekspresi wajah yang kesal, sudah nampak dari raut wajahnya. Alizha sangat paham betul apa yang telah terjadi pada Abangnya.


'Ya Allah Bang Adib kenapa? Pasti habis marah,' batin Alizha.


Lalu tak lama dari Adib, seorang laki-laki pun masuk mengikuti. Betapa terkejutnya Alizha saat itu. Perasaan hatinya benar-benar campur aduk saat ini. Ada rasa senang, tetapi juga ada rasa takut dan khawatir. Alizha mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Kemudian Ayah Nabhan pun langsung duduk di sofa dan menggenggam tangan putrinya di sampingnya. Kini Alizha suduk ditengah-tengah orang tuanya. Sedangkan Adib duduk di sofa sebelah Bundanya.


"Ada apa datang kemari? Masih tidak puas dengan menyakiti putri saya?"


"Saya mau minta maaf Yah, saya akui saya memang salah. Saya mau minta maaf," ucap Afif yang tengah duduk di seberang sofa yang didampingi oleh keluarganya.


"Dengan mudahnya kamu meminta maaf, dan dengan mudahnya kamu akan menyakiti putri saya lagi? Begitu?! Saya benar-benar kecewa sama kamu, saya menyesal menjodohkan kalian. Saya pikir kamu laki-laki baik yang bisa membimbing dan menjaga putri saya dengan baik. Tapi kamu malah menyakitinya," ucap Ayah Nabhan tegas seraya menguatkan genggaman tangan Alizha. Afif pun kemudian menunduk dan merasa bersalah.


Sedangkan Alizha hanya diam dan menunduk. Ia benar-benar seperti tak siap harus menghadapi masalah seperti ini.


"Kami minta maaf Bhan. Aku akui ini memang salah Afif, tapi In Syaa Allah dia tidak akan mengulanginya lagi. Kami kesini bermaksud untuk menjemput Alizha untuk pulang kembali ke Afif," sahut Papa Aryo.


Bunda Namira pun yang duduk di samping Alizha, mengelus punggung sang suami berusaha untuk menyabarkan. "Mas tenang."


Omanya Afif pun angkat bicara. "Mereka kan sudah dewasa, saya yakin mereka bisa menyelesaikan ini semua. Ini masalah rumah tangga mereka, biarkan mereka yang mengambil keputusannya."


Ayah Nabhan yang akan bicara pun terdiam, ia berpikir untuk itu. Memang ada benarnya seharusnya mereka yang menyelesaikan masalah rumah tangga mereka. Ia sadar, ia terlalu mengekang Alizha semenjak kejadian yang lalu. Ia melakukan hal tersebut karena sayang kepada Alizha dan takut akan putrinya tersakiti kembali.


"Iya saya tahu mereka pasti bisa menyelesaikan masalahnya. Tetapi saya benar-benar tidak bisa bila putri saya disakiti seperti itu, saya sebagai orang tuanya juga merasa terkhianati. Bagaimana dengan perasaan putri saya? Alizha sampai jatuh sakit karena ulah Afif, berhari-hari ia menangis terus. Saya tidak tega melihatnya hancur seperti itu," ucap Ayah Nabhan yang masih terus menggenggam tangan putrinya. Begitu pun dengan Alizha, ia juga sampai meneteskan air matanya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


Alizha masih kecewa dengan Afif, ia benar-benar takut akan tersakiti lagi. Tapi perasaannya berteriak ingin kembali kepada Afif. Jujur ia sebenarnya masih mencintai suaminya kini dan ingin memperbaiki semua ini. Alizha tak kuasa berada di hadapan keluarganya kini. Alizha pun beranjak dari duduknya dan berlari menuju kamarnya.


Afif yang mengetahui Alizha meninggalkannya, ia pun mengejar mengikuti Alizha di belakangnya. Semua keluarga hanya diam dan membiarkan pasangan tersebut menyelesaikan masalahnya sendiri. Mereka sebagai keluarga hanya bisa mendukung dan mendoakan agar cepat selesai masalah ini.


Saat Alizha hendak memutar knop pintu kamarnya, sebuah tangan kekar menarik tangannya dan membalikkan tubuhnya menghadap sang pemilik tangan tersebut.


Betapa terkejutnya Alizha saat yang didapati ternyata suaminya. Ia benar-benar masih takut, ia masih kecewa. "Lepaskan Alizha, Mas."


"Alizha, dengarkan aku dulu." kini kedua tangan Afif berada di pundak Alizha.


"Lepas Mas," ucap Alizha memberontak, tapi tenaganya kalah kuat dengan Afif.


"Tenang Zha, saya mau menjelaskan semuanya. Tolong dengarkan saya dulu."


"Apa yang perlu saya dengarkan Mas? Bukankah semuanya sudah jelas?!" ucap Alizha yang sedang menangis sambil tertawa menertawai hal tersebut.


Afif pun membawa Alizha masuk ke kamar Alizha. Ia ingin menyelesaikan masalah ini berdua dan tidak mau keluarganya terganggu.


"Kenapa Mas? Kenapa? Mas kemarin meninggalkan saya bukan? Kenapa Mas datang kembali? Berbahagialah sama selingkuhan Mas yang itu. Bukankah Mas tidak mau diganggu dengan saya kan? Saya akui saya kalah, ya Mas berhasil membuat saya terjatuh. Sudah Mas, pergi. Saya mau sendiri," ucap Alizha mengungkapkan isi hatinya yang sudah berminggu-minggu ini tertahan dalam hatinya.


Afif pun langsung memeluk tubuh sang istri. Rasanya ia juga ikut merasakan kesedihan Alizha. Ia benar-benar luluh hatinya sekarang. Ia tak tega melihat istrinya dalam keadaan seperti ini. Namun kenapa ia dulu memperlakukan Alizha seperti sampah? Sudah sadarkah ia sekarang?


Afif masih memeluk Alizha yang sedang menangis terisak-isak. "Maafkan saya, maafkan saya. Saya minta maaf, saya salah. Sudah tenanglah Zha, saya minta maaf." Sedangkan Alizha yang dipeluk hanya bisa diam dan menangis sejadi-jadinya dalam dekapan suaminya. Ia merindukan kehangatan ini, ia sangat merindukan suaminya yang hangat.


Perlahan Afif melepaskan pelukannya dikala tangisan Alizha mulai mereda. "Saya minta maaf, izinkan saya untuk memperbaiki ini semua. Saya mau baikan sama kamu. Jujur, saya tidak bisa seperti ini. Saya sadar, mungkin saya sudah benar-benar mencintai kamu."


Alizha mendongak menatap mata Afif dengan lekat. Ia berusaha mencari titik kebohongan yang ada di mata Afif. Afif pun yang dilihati Alizha seperti itu merasa heran.


"Kenapa?" tanya Afif.


Alizha memundurkan langkahnya menjauh dari Afif sambil menatap gelapnya malam dari jendela kamarnya. Ia pun berpikir akankah ia kembali pada suaminya atau tidak. Ia masih bimbang.


'Bisakah aku kembali?' batin Alizha.


"Berikan saya waktu terlebih dahulu 3 hari. Saya masih ingin sendiri disini," ucap Alizha yang kini berada di dekat jendela kamarnya.


Afif pun mendekat. "Saya harap kamu bisa menerima saya kembali Zha."


Alizha terdiam hanya mendengarkan perkataan Afif dan tak membalasnya.


"Baiklah jika itu keputusan kamu, saya akan beri waktu. Saya pulang dulu, permisi. Assalamu'alaikum," ucap Afif kemudian keluar dari kamar Alizha dan membiarkan istrinya tersebut tenang.

__ADS_1


__ADS_2