
Afif meninggalkan istrinya begitu saja di kamar. Sungguh kenapa dengan dirinya, ia merasa panas karena api cemburu sedang membakar hatinya. Apakah ia sudah mencintai Alizha? Bukannya ia hanya terpaksa selama ini? Bahkan akan berencana menceraikan Alizha? Tidak, sepertinya tidak akan terjadi perceraian diantara mereka berdua.
Afif lebih memilih tidur di kamar tamu untuk menjernihkan pikirannya. Jangan disangka ia tak mengalami cemburu sama sekali terhadap istrinya, karena pada kenyataannya, ia sedikit demi sedikit sudah mulai takut kehilangan istrinya.
Afif berdebat dengan pikirannya karena didalam otaknya hanya tertuju dan terbayang-bayang wajah Alizha, istrinya. Pertahanan hatinya sekarang sepertinya telah runtuh oleh cinta Alizha.
'Kenapa aku harus cemburu?'
'Aku harusnya tuh seneng kalau ternyata Alizha udah punya cowok lain, jadi gue lebih mudah untuk menceraikannya.'
'Tapi kenapa sekarang aku garela kehilangan Alizha?' batin Afif.
Dikamar lain, Alizha merasa khawatir atas perbuatannya tadi. Ia merasa bersalah, bagaimanapun ini juga salah Alizha karena tidak izin terlebih dahulu kepada suaminya. Pikirannya sudah mulai merasa cemas, ia juga takut akan kehilangan suaminya.
Hal itu membuat Alizha pergi ke kamar Afif dan menggedor pintu kamarnya karena ia benar-benar ingin minta maaf.
Tok Tok Tok
Ketuk Alizha dengan pelan.
"Assalamu'alaikum, Mas Afif?"
"Boleh Alizha masuk?"
"Maafkan Alizha, Alizha salah," ucap Alizha dari luar kamar, suaranya sudah tampak parau. Rasanya ia sudah ingin menangis deras begitu saja. Tetapi ia harus menahannya sebentar untuk memberi penjelasan dan meminta maaf pada suaminya.
Tok Tok Tok
Diketuk kedua kalinya masih tak ada jawaban.
"Apa Mas Afif sudah tidur?" ucap Alizha bermonolog sendiri. Lalu ia bergegas kembali ke kamarnya lagi, tetapi langkahnya terhenti saat terdengar suara pintu kamar terbuka.
Segera Alizha membalikkan badannya. Betapa senangnya saat melihat Afif suaminya berdiri di ambang pintu. Dengan cepat ia langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat. Ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan suaminya.
"Maaf," ucap Alizha ditengah tangisannya.
"Ma-maaf aku salah Mas."
"Mas boleh menghukum Alizha apa saja asal Mas jangan pergi dari Alizha. Asal Mas jangan diemin Alizha kayak tadi, Alizha gak akan sanggup."
"Maafkan aku Mas," ucap Alizha yang masih terisak dalam pelukannya.
"Sudah diam, Mas memaafkanmu," ucap Afif seraya mengelus puncak kepala Alizha dengan lembut.
"Mas memaafkanku?" tanya Alizha sambil mendongak menatap wajah suaminya.
"Iya, tapi jangan pernah diulangi lagi. Mas tidak suka."
Dalam hati Alizha bernapas lega. Alhamdulillah kalau Afif sudah memaafkan Alizha.
"Insya Allah, Alizha gak bakalan ngulangin kesalahan ini lagi," ucap Alizha tersenyum dan tangisannya kini mulai mereda.
"Dan kalau kamu mau pergi kemana-mana, kamu harus minta izin sama aku dulu. Kamu udah jadi istri aku, dan sudah seharusnya kamu juga harus patuh sama suami," ucap Afif sambil memegang kedua pundak Alizha untuk dihadapkan kepadanya. "Mengerti?" lanjut Afif seraya menarik dagu Alizha untuk didekatkan pada wajahnya sambil tersenyum lalu dengan perlahan bibir Afif mendarat pada kening Alizha.
"Yang menyenangkan suami ketika suami memandangnya, menaati suami ketika suami memerintahnya, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya dengan sesuatu yang membangkitkan kebencian suami." (HR. an-Nasa'i, dinyatakan shahih oleh al-Albani)
Hati siapa yang berdegup kencang saat diperlakukan suaminya seperti itu? Betapa lembutnya perlakuan Afif kali ini pada Alizha.
"Alizha akan jelaskan semuanya biar Mas Afif tidak salah paham pada Alizha," ucap Alizha.
"Tidak perlu, Mas percaya padamu."
"Makasih sudah memaafkan dan percaya sama Alizha," jawab Alizha.
"Iya," sahut Afif lalu langsung menarik tubuh Alizha kedalam pelukannya kembali. Alizha hanya tersenyum dan tersipu malu didalam dada bidang suaminya.
'Oh Allah, inikah suamiku? Suami yang aku rindu-rindukan?' batin Alizha.
"Aku lapar," ucap Afif merengek dan mulai melepaskan dekapannya.
Alizha tertawa kecil saat mendengar suaminya merengek seperti bayi. "Mau makan?"
__ADS_1
Dengat cepat Afif langsung mengangguk mengiyakan. "Masih ada makanan malam ini?"
"Masih ada, biar Alizha hangatin dulu," jawab Alizha lalu mereka pergi ke dapur bersama-sama.
"Mas, tunggu sebentar ya. Makanannya biar aku hangatin dulu."
"Iya," jawab Afif dengan tersenyum sambil duduk di kursi meja makan.
"Baunya sedap. Mas jadi gak sabar pengen cepet-cepet makan," ucap Afif.
"Sebentar lagi ya sabar."
"Iya sayang."
Deg. Jantung Alizha kembali berpacu cepat, pipinya pun sudah mulai memanas dan sepertinya sekarang sudah memerah.
"Sudah selesai, selamat makan," ucap Alizha sambil menghidangkan makanannya diatas piring suaminya.
"Terima kasih," jawab Afif lagi-lagi dengan tersenyum. Hal itu membuat Alizha semakin jatuh cinta pada suaminya. Betapa bahagianya jatuh cinta didalam ikatan yang sudah halal.
"Iya, ayo dimakan Mas," ucap Alizha sambil bertopang dagu diatas meja makan seraya melihati suaminya makan.
"Kamu tidak mau makan juga? Mau aku suapin? Aaaa," ucap Afif ditengah makannya sambil menyuapkan sesendok nasi di mulut Alizha.
"Lagi?" imbuh Afif.
"Sudah, Mas saja yang makan."
Setelah menunggu Afif makan, Alizha membereskan makanannya dan membersihkan piring yang kotor.
Tiba-tiba ponsel dalam saku Alizha berdering, dan saat dilihat sudah terpampang nama Bunda Namira di layar ponselnya. Segera ia menjawab teleponnya.
"*Hallo, assalamu'alaikum Bunda."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh."
"Ada apa Bunda?"
"Alhamdulillah baik kok, cuma tadi ada ada masalah sedikit salah paham. Alizha juga sudah sangat merindukan Bunda, bagaimana dengan kabar Bunda? Ayah? Dan Bang Adib?"
"Alhamdulillah baik semuanya nak, kapan kamu mau main ke rumah Bunda?"
"Insya Allah kalau Alizha ada waktu senggang, pasti Alizha main ke rumah Bunda sama Mas Afif."
"Iya deh Bunda tunggu loh ya. Eh oh iya, tadi kamu sempat bicara kalau tidak salah dengar, kamu tadi sempat ada masalah dengan suami kamu?"
"Em iya Bunda. Cuma salah paham aja kok."
"Kamu bisa cerita sama Bunda nak, siapa tahu Bunda bisa bantu dan cari solusi buat kamu."
"Iya Bunda makasih. Tadi juga kesalahan Alizha gak izin dulu sama Mas Afif kalau Alizha sama Mas Vino."
"Ingat nak, kamu sudah punya suami. Jadi semuanya apa-apa harus izin dulu sama suami. Telah menjadi fitrah manusia bahwa suami selalu ingin dan senang apabila istrinya menaatinya, menuruti kesenangannya, dan memenuhi kemauannya. Dengan itulah suami akan beroleh ketenangan dan kebahagiaan yang menjadi tujuan pernikahannya." jelas Bunda dengan penuh perhatian menjelaskannya.
"Makasih banyak Bunda untuk penjelasannya. Alizha sayang Bunda."
"Bunda juga sayang Alizha. Sudah dulu ya, Bunda tutup teleponnya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," ucap Alizha sambil mematikan ponselnya*.
Tiba-tiba Afif datang dan langsung memeluk tubuh Alizha daei belakang. Sontak Alizha terkejut dan lagi-lagi pipinya memanas.
"Siapa?" ucap Afif yang masih memeluk pinggang Alizha sambil dagunya di sandarkan di bahu istrinya.
"Bunda telepon, katanya kangen. Kalau ada waktu kita main kerumah Bunda ya."
"Iya sayang. Aku sudah mengantuk, kita tidur ya?"
"Iya Mas," sahut Alizha. Kemudian mereka berdua menuju kamar tidur mereka.
Mereka berdua berbaring di atas tempat tidur yang berwarna biru muda. Mereka tidur saling berhadapan bahkan tangan Afif melingkar dipinggang Alizha. Betapa indahnya pemandangan didepan mata Alizha, wajah suaminya yang sangat disukainya akhirnya kembali dalam pelukannya.
__ADS_1
Afif semakin mendekatkan wajahnya pada Alizha hingga membuat pipi istrinya bersemu merah. Sedangkan Afif hanya menikmati wajah blushing milik Alizha dengan tersenyum. Dan Alizha hanya diam dan tak bisa bergerak dalam dekapan Afif.
'Oh Allah, sungguh tampan suami hamba ini,' batin Alizha.
'Cantik,' batin Afif.
"Pipimu merah," ucap Afif.
"Apaan sih Mas," sahut Alizha malu.
"Kamu cantik," ucap Afif sambil menoel hidung Alizha.
"Baru tahu ya? Cantik udah dari dulu kok hehe," sahut Alizha.
"Iyain deh emang iya," jawab Afif.
"Emang iya," sahut Alizha.
"Aku tidur dulu ya. Selamat malam istriku," ucap Afif seraya mencium kening Alizha lalu tertidur.
Afif sudah tertidur pulas, sedangkan Alizha berusaha untuk memejamkan matanya tidak bisa. Dalam pandangannya ia masih tertuju pada wajah suaminya yang tampan. Ia masih terpanah akan keindahan yang tersuguh didepan matanya. Hatinya pun masih berdegup sangat kencang, hingga ia merasa takut bila suaminya mengetahuinya. Betapa malunya jika itu sampai terjadi pada diri Alizha.
Akhirnya Alizha bisa tertidur pulas dengan tubuhnya yang masih mendekap dipelukan suaminya.
.
.
.
.
.
Pukul 3 dini hari, Alizha terbangun seperti biasanya untuk menunaikan sholat tahajud. Tak lupa ia juga membangunkan suaminya untuk ikut sholat tahajud bersamanya.
"Mas," ucap Alizha sangat lembut sambil mengelus puncak kepala Afif yang masih tengah tertidur pulas.
"Mas, sholat tahajud yuk."
"Emm," sahut Afif yang tengah mengumpulkan nyawanya.
"Wudhu dulu nanti ngantuknya pasti hilang. Alizha udah wudhu duluan tadi."
"Iya," jawab Afif seraya berdiri menuju kamar mandi yang kebetulan berada di dalam kamar.
Sambil menunggu suaminya mengambil wudhu, Alizha menyiapkan perlengkapan sholat untuknya dan Afif.
"Mas yang imami, kamu jadi makmumnya ya sayang," ucap Afif begitu lembut sambil tersenyum.
"Iya Mas," jawab Alizha tersenyum juga.
'Oh Allah, beginikah rasanya sholat di sepertiga malam bersama suami,'batin Alizha bahagia.
Afif pun memulai sholatnya, sedangkan Alizha mengikutinya sebagai makmum dibelakangnya. Keduanya tampak khusyu' menjalankan ibadah sholat di sepertiga malam. Hanya orang-orang beruntunglah yang bisa melaksanakan sholat tahajud seperti ini. Memohon dan menghadap kepada Tuhan disepertiga malam. Sungguh nikmat Tuhan yang diberikan kepada Alizha dan suaminya kali ini dapat melaksanakannya.
"Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS. Al Israa': 79)
"Assalamu'alaikum Warahmatullah," ucap Afif salam.
"Assalamu'alaikum Warahmatullah," ikut Alizha.
Kemudian Afif mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa, lalu Alizha mengaminkan doa yang dirapalkan oleh suaminya.
Selesai berdoa Afif memutar badannya menghadap kearah istrinya. Alizha mendekat kepada Afif lalu mencium punggung tangan suaminya. Saat hendak melepaskan ciuman tangannya, Afif langsung mencium kening Alizha dengan lembut dan lumayan lama. Hal tersebut mampu membuat hati Alizha berdebar kencang.
"Baca Al-Qur'an sama sama ya. Sekalian sambil menunggu adzan shubuh berkumandang," ucap Afif sembari mengambil Al-Qur'an diatas nakas dekat tempat tidur.
"Iya mas," jawab Alizha.
Afif dan Alizha pun bersama-sama melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Sungguh sangat bahagianya Alizha bisa mengaji bersama suami untuk yang pertama kalinya. Ia sangat bersyukur bisa mempunyai suami seperti Afif, ya walaupun terkadang sikap dan sifat Afif sering berubah. Tetapi setidaknya kali ini Afif bisa bersikap baik terhadap Alizha.
__ADS_1